LOGINApartemen Rezon kini terasa seperti gua yang dingin dan hampa.Rezon menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap langit-langit ruangan yang biasanya ia anggap sebagai tempat istirahat paling tenang. Akan tetapi, sejak kepergian Izora pagi tadi, keheningan itu justru terasa mencekik. Hanya ada suara denting jam dan langkah pelan perawat serta pelayan yang diutus oleh Dastan.Ponsel di genggaman Rezon terasa berat. Berkali-kali jemarinya membuka aplikasi pesan, mengetikkan beberapa kalimat, lalu menghapusnya kembali. Sungguh, ia merindukan Izora, merindukan omelan gadis itu, sentuhan tangannya yang telaten saat mengganti perban. Bahkan, ia merindukan tatapan tajamnya yang selalu berusaha menjaga jarak. Rasanya, ia ingin menelepon Izora sekarang juga. Namun, Rezon takut jika Izora akan merasa terganggu atau marah karena ia melanggar kesepakatan."Dokter, Anda perlu sesuatu?" tanya sang perawat.Sambil menegakkan posisi duduknya, sebuah ide muncul di benak Rezon. "Bantu saya sambungkan
Langkah kaki Izora terasa berat, saat ia kembali memasuki area Instalasi Gawat Darurat. Bau antiseptik yang biasanya membangkitkan semangat, kini terasa menyesakkan di dada.Izora menghampiri Bayu, rekan dokter magangnya, yang sedang sibuk memeriksa pasien penderita demam berdarah bersama seorang perawat. "Bayu, aku ingin bicara sebentar," panggil Izora dengan suara parau.Bayu menoleh, alisnya bertaut melihat ekspresi Izora yang tidak biasa. "Eh, Izora. Syukurlah kau sudah kembali. Ada pasien rujukan kecelakaan di bilik tiga, bisa bantu aku?"Izora menggeleng pelan, sebuah senyum pahit terukir di bibirnya. "Maaf, Bayu. Mulai hari ini dan mungkin seterusnya, aku tidak bisa bertugas di IGD. Aku tidak bisa membantu kalian di sini."Ucapan Izora membuat Bayu terkesiap. Spontan, pria itu memegang lengan Izora. "Maksudmu apa? Kau akan cuti panjang?”"Bukan. Status magangku dinonaktifkan dari rumah sakit ini oleh Dokter Handoko," jawab Izora lugas. Kalimat tersebut meluncur seperti belati
Hati Izora terasa lapang dan tenang, saat ia memarkirkan sepeda motornya di pelataran parkir rumah sakit. Izora melepas helm dengan gerakan perlahan, sengaja membiarkan angin menerpa wajahnya.Pagi ini, saat ia meninggalkan apartemen Rezon, suasana di sana jauh lebih terkendali. Ia sempat bertemu seorang perawat berseragam dan dua pelayan yang datang membawa bahan makanan. Izora yakin itu adalah utusan dari Dastan Limantara, kakak kandung Rezon. Kehadiran mereka bak jawaban doa bagi Izora. Dengan adanya tenaga profesional yang merawat dan melayani kebutuhan Rezon, maka tugas "daruratnya" telah usai.Izora menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kegelisahan yang menggelayuti benaknya. Bayangan ketika bibir Rezon menyentuh miliknya masih terus berputar seperti kaset rusak. Tidak, cukup sampai di sini. Izora memutuskan bahwa sepulang kerja nanti, ia tak perlu lagi menginjakkan kaki di apartemen Rezon. Bagaimanapun, ia harus menjaga jarak. Ciuman itu adalah kesalahan, sebuah a
Di dalam kamar yang temaram, Moza membimbing Reva menuju tepi ranjang. Suasana sunyi apartemen, seolah menjadi pelindung bagi dua wanita ini dari bisingnya dunia luar. Moza mendudukkan Reva dengan hati-hati. Sementara Reva menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dengan ujung piyamanya, ia menyeka sisa air mata yang mengering di pipi."Keju Mozarella... maaf ya, aku jadi cengeng begini," ucap Reva dengan suara serak. Ia mencoba menyelipkan sedikit candaan, lewat nama panggilan kesayangan mereka.Moza tidak tertawa. Ia justru meraih kedua pipi Reva, menangkupnya dengan telapak tangan yang hangat."Tidak apa-apa, Va. Kau memang seorang wartawan investigasi yang tangguh. Tapi, kau juga seorang wanita biasa. Siapapun pasti akan gemetar jika mengalami penculikan dan pelecehan."Reva menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan. "Sejak memilih profesi ini, aku sudah tahu risikonya, Moza. Aku tidak takut mati, tapi aku paling takut kehilangan martabatku. Kau tahu kan, alasan utam
Reva menyuap mi ramen di hadapannya, meski tenggorokannya masih terasa perih. Setiap kunyahan adalah bentuk perlawanan untuk membangkitkan keberanian yang sempat padam. Kali ini, ia bersumpah akan tegar. Reva sudah mengambil keputusan di dalam hati. Jika keadilan nanti berhasil ditegakkan, ia akan berterima kasih kepada Elbara atas semua yang telah dilakukan pria itu. Setelahnya, ia akan kembali menjadi Reva yang dulu. Seorang wartawan lapangan yang tangguh, pemburu berita yang tak kenal takut. Ia akan mengubur dalam-dalam debar jantungnya yang liar, setiap kali bersentuhan dengan Elbara Limantara.Bagaimanapun Elbara pantas menemukan kebahagiaan bersama wanita yang tepat. Seorang wanita yang tidak membawa beban trauma dan bahaya seperti dirinya.Selesai makan, Reva melangkah ke kamar. Ia mengganti bathrobe dengan piyama katun bersih dari dalam koper. Suasana apartemen Elbara yang sunyi mulai terasa mengintimidasi. Reva pun meraih ponselnya, duduk meringkuk di atas ranjang.Dalam k
Kelembutan yang ditunjukkan Elbara kepada Reva, sangat kontras dengan amarah yang ia tunjukkan pada para penculik. Dengan hati-hati, pria itu mendudukkan Reva di kursi penumpang depan. Memastikan punggung sang wanita bersandar nyaman pada jok kulit.Tubuh Reva masih bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal di antara sisa tangis yang belum usai.Tanpa suara, Elbara kemudian meraih sebotol air mineral. Ia membukanya dan menyerahkan ke tangan Reva yang dingin. "Minumlah sedikit, Reva. Tenangkan dirimu.”Saat Reva meneguk air dengan tangan gemetar, Elbara mencondongkan tubuhnya. Dengan telaten, pria itu melingkarkan sabuk pengaman di dada Reva.Sentuhan jemari Elbara yang tak sengaja menyapu lengannya, membuat Reva berdesir. Berada di dekat pria ini, membuat seluruh ketakutan yang ia rasakan sirna dalam sekejap.Tak cukup sampai di situ, Elbara lantas mengambil selembar tisu. Tanpa ragu, ia menyeka jejak air mata yang membekas di pipi Reva. Reva terkesiap, matanya yang sembap menatap







