LOGINKira-kira siapa yang lebih dulu mendapatkan data tentang Kayden? Jangan lupa berikan gems dan like ya. Terima kasih
Dengan napas yang memburu, Kageo melangkah lebar menuju pintu kamar. Pikirannya masih tertuju pada Dastan yang sedang ia hancurkan di layar laptop. Namun, gedoran di pintu terasa seperti gangguan yang tidak bisa dimaafkan.Cklek!Kageo membuka pintu hingga terbuka lebar. Di ambang, Pak Dani berdiri dengan wajah seputih kapas. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya."Apa yang kau lakukan, Pak Dani?!" bentak Kageo, suaranya melengking rendah, penuh ancaman."Sudah kubilang jangan pernah menggangguku! Kau ingin aku memecatmu sekarang juga?"Pak Dani menelan ludah, suaranya bergetar hebat. "Maaf... maaf, Tuan Muda. Tapi di depan... ada tamu yang bersikeras ingin bertemu Anda. Dia tidak mau pergi."Kageo menyipitkan mata. "Siapa? Polisi?""Bukan, Tuan Muda. Itu... Dokter Cahaya."Jantung Kageo terasa berhenti berdetak. Nama itu terdengar seperti dentuman keras di kepalanya. "Kau yakin itu Cahaya? Jangan berbohong padaku!""Saya yakin, Tuan Muda. Saya hafal wajah Dokter Cahaya. Dokte
Dastan merasakan keringat dingin mengucur di punggungnya. Ancaman Kageo tentang "menyuntikkan sesuatu" terasa sangat nyata. Meski terjadi pertarungan batin dalam dirinya, Dastan meraih pena yang disodorkan pria bermasker. Dengan napas tersengal, ia terpaksa menggoreskan tanda tangan di atas materai.Sret! Sret!Usai menyerahkan miliknya, Dastan melempar pena itu ke lantai. "Sudah! Elan Medical sudah menjadi milikmu sekarang! Apa syarat ketiganya?!"Seringai tipis terbentuk di sudut bibir Kageo. Jemarinya tampak mengetuk-ngetuk meja. "Syarat ketiga adalah yang paling menarik,” pungkas Kageo. “Moza tadi mengirim pesan padaku, bahwa dia rela menukarmu dengan Kayden. Tapi, aku ingin memastikan secara langsung bahwa kalian benar-benar berpisah.”Dastan terperanjat. "Apa maksudmu? Kau masih menginginkan Moza?”"Tujuanku adalah mengambil semua yang kau miliki, karena semua itu lebih pantas menjadi milikku," ujar Kageo dingin."Telepon Moza sekarang juga. Katakan pada istrimu, kau akan menc
Mobil Elbara menderu di atas jalanan aspal yang mulai berlubang.Elbara mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol. Sementara di sampingnya, Aya menggenggam sabuk pengaman dengan wajah tegang. Kecepatan mobil itu nyaris menyentuh batas gila untuk ukuran jalanan luar kota yang berkelok.Akan tetapi, Elbara tidak peduli pada risiko kecelakaan. Di kepalanya hanya ada gambaran Kayden yang ketakutan, serta Dastan yang mungkin sedang mempertaruhkan nyawa."Sedikit lagi, Dokter. GPS menunjukkan koordinatnya berada di balik tikungan jalan ini," pungkas Elbara.Begitu mereka melewati sebuah tikungan tajam, tampak area perumahan sederhana dengan latar belakang pemandangan bukit. Dan di posisi paling ujung, berdiri sebuah bangunan rumah bercat putih. Elbara segera mematikan lampu utama dan menginjak rem dengan halus. Ia sengaja menghentikan mobilnya di balik pohon beringin besar, sekitar lima puluh meter dari rumah itu.Aya memajukan tubuhnya, menatap melalui kaca depan yang mul
Detik berikutnya, salah satu pria bermasker melangkah menjauh. Bayangannya memanjang di lantai semen yang retak.Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel dan menekan beberapa digit angka.Dastan tidak melepaskan pandangannya sedikit pun. Ia yakin, di balik sambungan telepon itu, si dalang sedang memantau setiap gerakannya.Benar saja, setelah berbisik singkat, pria itu menghampiri rekannya yang menjaga laptop. Sebuah anggukan kecil diberikan sebagai kode. Pria di depan meja segera mengetik di atas keyboard. Ia membuka aplikasi rapat online lantas mengetikkan serangkaian password. Detik berikutnya, layar laptop yang tadinya hanya menampilkan pendar biru kosong, kini berubah menjadi sebuah jendela visual yang menghantam jantung Dastan."Kayden...." bisik Dastan, suaranya tercekat.Di layar itu, terlihat sebuah kamar yang cukup nyaman dan terang. Dekorasi kamar itu terlihat cocok untuk anak lelaki. Kayden sedang tertidur nyenyak di atas ranjang empuk, memeluk sebuah bonek
Berusaha mencari jalan keluar, satu nama mendadak terlintas di pikiran Elbara. Lekas saja ia meraih ponselnya, mencari kontak Thalia. Ia yakin kepala pelayan kepercayaan sang kakek itu mengetahui alamat rumah masa kecil Kageo."Halo, Bibi Thalia! Ini Elbara," ujar Elbara begitu telepon diangkat. "Katakan padaku, di mana alamat rumah masa kecil Kageo? Seingatku, ibunya Kageo punya dua rumah yang berbeda. Satu harus ditempuh dengan pesawat, dan satu lagi cukup dekat dari ibu kota."Suara Thalia terdengar ragu di seberang sana. "Tuan Muda... Tuan Besar berpesan agar tempat itu dilupakan saja.""Bibi, ini situasi genting. Tolong, beritahu aku alamat rumah ibunya Kageo yang terdekat," desak Elbara.Setelah hening yang menegangkan, Thalia akhirnya memberitahukan sebuah alamat, tempat Kageo dibesarkan."Terima kasih, Bibi Thalia." Elbara mematikan ponselnya. Ia menatap layar GPS, memasukkan alamat tersebut. Sebuah titik merah segera muncul. Itulah petunjuk penting yang akan menjadi p
Di dalam kabin mobil, udara terasa lebih dingin daripada hembusan AC. Elbara mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih. Tangan kirinya terus menekan tombol panggil di layar dasbor, mencoba menghubungi Dastan."Angkat, Kak... Angkat!" desis Elbara. Suaranya serak karena frustrasi.Setelah lima kali percobaan yang gagal, ia beralih menghubungi Moza. Hanya butuh dua nada sambung, sebelum suara sang kakak ipar yang parau menyambutnya.“Moza, apa Kak Dastan masih bersamamu? Aku ingin bicara.”"Dastan sudah pergi, Bara. Tolong... tolong susul dia," balas Moza. Suaranya terdengar begitu rapuh di seberang sana."Moza, tenanglah. Aku sedang di jalan bersama psikiater yang menangani Kageo," balas Elbara berusaha menenangkan. "Katakan padaku, di mana Kak Dastan sekarang?"Moza menyebutkan sebuah nama daerah, yang berjarak dua jam perjalanan dari ibu kota."Si penculik mengirimkan koordinat ke sana. Dastan pergi sendirian untuk melakukan pertukaran dengan Kayden,” tutut Moza parau.
Ditanya begitu oleh Elzen, Moza langsung gelagapan. Matanya berkedip cepat, mencari-cari alasan yang masuk akal di kepalanya yang mendadak kosong. Sungguh, ia tidak tahu harus menjawab apa."Saya...," gumam Moza terbata. Tangannya tanpa sadar berusaha menutupi bibirnya.Beruntung, suara langkah ke
Sebelum Dastan bereaksi, Moza sudah menunduk dan menyambar bibirnya. Ciumannya tidak ahli, tetapi penuh dengan intensitas dan keinginan untuk menaklukkan. Dengan mengandalkan insting, Moza menghisap bibir atas dan bawah Dastan, menirukan cara yang dipakai pria itu semalam.Saat merasakan bibir Dast
Mobil segera melaju meninggalkan keramaian mall, menuju mansion keluarga Limantara. Di dalam kabin, Elzen mengajak Abigail bernyanyi lagu ulang tahun. "Abi harus rajin berlatih," kata Elzen sambil tersenyum pada keponakannya. "Minggu depan ulang tahun Paman Elzen dan Paman Elbara. Paman ingin Abi y
Sebelum Elzen melontarkan pertanyaan yang lebih menggoda atau lebih berbahaya, Moza segera menunduk dan berkata sopan.“Maaf, Tuan Muda Elzen. Saya harus melanjutkan tugas.”Tanpa menunggu jawaban dari Elzen, Moza meninggalkan meja makan. Tepat saat itu suara Thalia memanggil dari ujung koridor"Moz







