Share

81. Siasat

Author: Rosa Rasyidin
last update Last Updated: 2026-02-06 13:24:31

Seorang anggota Pasukan Phoenix berlari menuju paviliun Permaisuri di malam hari dengan terburu-buru. Ia mengetuk pintu dan ketika Momo keluar, langsung membisikkan sesuatu.

Momo masuk dan memberi hormat pada Permaisuri yang sedang menyisir rambut panjangnya.

“Biarkan dia masuk,” kata Permaisuri tanpa mengalihkan pandangannya.

Tak lama kemudian seorang pasukan itu memasuki kamar pribadi Permaisuri.

“Katakan apa yang kau lihat.” Permaisuri meletakkan sisir emasnya dengan perlahan.

Pasukan itu me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   84. Tandu Pengantin

    Ye Lin sedang berpatroli seperti biasanya. Namun, firasat gadis itu sedang tidak enak ditambah ia merasa bahwa Pangeran Api sedang merintih kesakitan.“Ah, mungkin hanya perasaanku saja,” gumamnya menepis kegundahan. “Tapi sejak kapan aku punya perasaan?”Dengan langkah ragu-ragu ia melompat dari atap ke atap lainnya tanpa menimbulkan kebisingan. Saat melewati paviliun milik Pangeran Shen Yuan, suasana di sekitarnya begitu hening dan tenang. Lalu ia mengambil lompatan lebih jauh hingga jubah hitamnya terbang terkena angin.Ye Lin seperti berlari di atas udara lalu ia turun di halaman belakang paviliun Shen Yanzuo. Kamar terlihat gelap dan tidak ada pergerakan sama sekali. Para penjaga Pasukan Phoenix kalau ditanya juga pasti jawabannya tidak tahu. Lalu ia putuskan untuk mengetuk pintu.“Pangeran, kau baik-baik saja?” tanya Ye Lin. Tidak ada jawaban, ia mengetuk lagi. “Pangeran, jika kau baik, aku pergi dulu.”Ia mengakhiri pencarian, tetapi sesaat kemudian ia mendengar suara erangan.

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   83. Tembus Pandang

    Lian Ruo sedang membuat obat untuk kekasih hatinya—sang Pangeran Salju yang kini duduk dalam posisi semedi. Gadis itu mengipasi bara api dengan sabar, menjaga panasnya tetap stabil agar tidak merusak khasiat obat.Tangannya yang cekatan mulai memilah bahan-bahan langka yang sebagian dibawa dari Istana Utara, seperti Bunga Hati Salju. Satu per satu, bahan-bahan itu masuk ke dalam air mendidih.Ada irisan Ginseng Merah yang telah direndam dalam arak beras selama semalam. Ginseng ini berfungsi untuk menghangatkan aliran darah dan meningkatkan energi Yang, sangat cocok untuk melawan hawa dingin di tubuh Shen Yuan.Kemudian, ia menambahkan Jamur Lingzhi Ungu, kelopak Bunga Hati Salju, dan tak lupa pula, A Ruo menaburkan segenggam Buah Goji kering dan Biji Teratai yang sudah dibuang bagian pahit di tengahnya. Kedua bahan ini akan memberikan rasa sedikit manis sekaligus menutrisi hati dan ginjal."Baunya seperti sup ayam, tapi rasanya pasti pahit minta ampun," gumam A Ruo pelan sambil mengad

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   82. Diagnosa Sementara

    Ye Lin masuk perlahan sekali ke dalam kamar Yanzuo pada malam hari. Sebelumnya ia telah memastikan lelaki itu tidak ada di tempat.Entah ke mana perginya sang Pangeran Api itu, bukan urusannya juga. Yang jelas ia harus menjalankan perintah dari Permaisuri langsung.Jubah itu ia letakkan di atas ranjang. Kamar sang Pangeran sangat gelap tanpa ada sumber api sama sekali.Ye Lin menoleh ke sekelilingnya dan ia pastikan kalau Yanzuo memang tidak ada. Namun, ketika ia bergerak satu langkah saja, sebuah sinar di sudut ruangan menyala dengan terang. Bentuknya menyerupai mata api.“Untuk apa kau mengendap-endap masuk ke dalam kamarku?” Sosok di sudut ruangan itu berdiri dan dari sekujur tubuhnya menyala api yang sangat terang walau tak terasa panas di dekat Ye Lin.“Pangeran, maafkan atas kelancangan hamba. Hamba datang hanya untuk mengantar jubah dari Permaisuri.”“Oh, ibuku baik hati sekali. Kira-kira apa yang dia inginkan dariku?” Yanzuo memadamkan api di tubuhnya setelah ia menghidupkan b

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   81. Siasat

    Seorang anggota Pasukan Phoenix berlari menuju paviliun Permaisuri di malam hari dengan terburu-buru. Ia mengetuk pintu dan ketika Momo keluar, langsung membisikkan sesuatu.Momo masuk dan memberi hormat pada Permaisuri yang sedang menyisir rambut panjangnya.“Biarkan dia masuk,” kata Permaisuri tanpa mengalihkan pandangannya.Tak lama kemudian seorang pasukan itu memasuki kamar pribadi Permaisuri.“Katakan apa yang kau lihat.” Permaisuri meletakkan sisir emasnya dengan perlahan.Pasukan itu menunduk dan memberi hormat dengan sangat dalam. Ia menceritakan apa yang ia lihat di kediaman Pangeran Api.“Ini menarik, aku memang meminta Jenderal Ye secara khusus untuk mengawasi putra pertamaku. Tapi aku tidak pernah memikirkan kalau keduanya akan memiliki kedekatan yang sangat intim.”Permaisuri diam sejenak. “Apakah setiap hari Jenderal Ye memasuki kamar Yanzuo?”“Tidak selalu, Yang Mulia Permaisuri, tapi setiap kali memasuki kamar Pangeran Pertama, keluarnya bisa sangat lama.”“Hmm, apa g

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   80. Rasa Permen

    Ye Lin kembali datang mengunjungi Yanzuo. Ia masuk ke kamar seperti biasa dan tidak dihalangi.“Kenapa, merindukanku?” tanya Yanzuo yang sedang baring-baring di ranjang.“Aku tahu kau memiliki niat jahat datang kemari, kau dan adikmu itu.” Ye Lin duduk di kursi dekat meja bundar.“Lalu kalau kau tahu, kenapa tidak melaporkan pada ibuku saja? Bukankah kalian sangat dekat.” Yanzuo duduk dan menatap wajah datar Ye Lin yang kini memandangi seluruh isi kamarnya.“Tidak ada bukti, tapi aku membaca niat saja.”“Oh, ya? Kalau begitu kejahatan apa yang akan aku lakukan, juga adikku yang baik itu? Aku sangat penasaran mendengar jawabanmu.” Yanzuo bertopang dagu, ia memutar giok papan namanya dan sangat menanti jawaban Ye Lin meski hanya sebatas dugaan saja.“Kau berniat merebut takhta kekaisaran, bahkan sejak kau membakar para prajurit yang tidak bersalah, benar tebakanku bukan?”Yanzuo bertepuk tangan. Ia sama sekali tidak menyangkal karena memang tebakan Ye Lin benar.“Lalu kenapa kau tak mer

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   79. Jebakan Manis

    “Ibumu bukan wanita kuat, Pangeran. Dia tidak sekuat yang kau bayangkan. Karena itu jangan pergi dari sini.” Tatapan mata Ye Lin jadi lebih mendalam pada Yanzuo.“Kau ingin aku tidak meninggalkan ibuku, atau kau tidak ingin aku meninggalkanmu?” Yanzuo—lelaki dengan rambut merah itu menatap Ye Lin sambil tersenyum.Ye Lin tidak langsung menjawab. Jenderal wanita yang biasanya tegas itu kini tampak sedikit goyah. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Yanzuo dan beralih menatap langit yang malam itu tidak berbintang."Tugasku adalah memastikan senjata terkuat kekaisaran tidak hancur sia-sia, Pangeran," jawab Ye Lin kaku. Ia berusaha memasang kembali tembok pertahanannya."Jawaban yang membosankan. Itu lagi, itu lagi. Tidak bisakah kau menikmati hidupmu sebentar saja?” Yanzuo meniup anak rambutnya yang jatuh ke mata.Ye Lin kembali tidak menjawab. Diamnya membuat Pangeran Api itu geregetan setengah mati.‘Mungkin aku harus mencobanya lagi,’ batin Yanzuo tidak menyerah.Tangan Yanz

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status