공유

Bab 6

작가: Velune
last update 게시일: 2026-09-18 15:00:39

“Sebenarnya ibu juga gak yakin dengan apa yang ibu dengar. Tapi di satu waktu, saat ibu mengantar makanan untuk tuan Arka, ibu pernah mendengar pembicaraan tuan Arka dan adiknya_Alaric.”

Anindya terdiam tegang mendengar ucapan ibunya. Tatapan matanya begitu serius hingga tanpa sengaja tangannya sudah mencengkram tali tas yang belum sempat dia lepas.

“Tuan Alaric menyimpan dendam pada tuan Arka.”

“Dendam, Bu?”

Bu Asnah mengangguk. “Iya. Ibu tuan Alaric meninggal karena tuan Arka.”

Hah? Anindya terkejut. “Kenapa bisa?”

“Ibu gak tahu, nak. Mereka bertengkar di dalam kamar itu. Ibu cuma dengar kalau tuan Alaric berkata jika sampai kapanpun dia gak akan pernah memaafkan tuan Arka. Karena selain membuat ibunya meninggal, tuan Arka juga sudah merebut kekasih tuan Alaric. Iyalah dia nona Viona.”

Astaga.

Anindya benar-benar tak habis pikir. Dia langsung geleng-geleng kepala mendengar cerita yang rasanya tidak masuk di akal ini.

Tapi, pantas saja Alaric membenci Arkalana kalau ternyata dia punya dendam yang bahkan sangat menyakitkan untuk dia. Ibunya meninggal karena Arkalana. Bahkan kekasihnya juga sempat menjadi tunangan Arka meskipun pagi ini pertunangan itu telah dibatalkan.

“Nak …” Bu Asnah meraih tangan Anin. Genggaman yang terasa dingin itu membuat Anindya tersadar dari lamunan.

“Tolong jangan ikut campur apapun yang terjadi di rumah itu. Kalau memang tuan besar meminta kamu untuk merawat tuan Arka, cukup rawat. Jangan pedulikan apapun yang terjadi.”

“Tapi, Bu.” Anin menatap ibunya bimbang. “Anin lihat sendiri kalau kemarin tuan Arka langsung kejang setelah minum obat yang diberikan oleh tuan Alaric. Itu bukan obat kan? Ibu pasti tahu itu apa.”

Bu Asnah menggeleng heran. “Ibu gak tahu, nak. Kamu jangan asal bicara.”

“Loh, tapi katanya ibu juga mengantar makanan untuk tuan Arka? Kenapa ibu bisa gak tahu?”

“Tugas ibu cuma memasak dan juga menyiapkan makanan untuk keluarga itu. Ibu gak pernah menunggu tuan Arka makan di dalam kamarnya. Sudah ada perawat yang mengurus tentang tuan Arka.”

“Tapi sepertinya tuan Arka begitu dekat dengan ibu.”

“Iya. Sebelas tahun ibu di rumah itu. Jelas saja tuan Arka mengenal ibu. Sesekali kami berbicara, dan tuan Arka memang hanya mau berbicara dengan ibu dibanding pelayan lain.”

“Apa dia benar-benar jahat, Bu?”

Bu Asnah tersenyum tipis. “Di mata semua orang dia memang jahat. Tapi jika kamu melihatnya dari hati, dia bukan lelaki yang jahat, nak.”

“Maksud ibu apa?”

“Nanti kamu pasti tahu. Tapi apa tuan Arka menerima kamu sebagai perawatnya? Ibu takut dia malah menolak dan mengasari kamu.” Bu Asnah terlihat khawatir.

“Awalnya iya, Bu. Tapi Anin akan berusaha untuk membuat tuan Arka menerima Anin di sana. Anin gak tega, kasihan. Terlepas gimana pun masa lalunya, tapi dia tetap manusia kan.”

“Anin.” Bu Asnah semakin mengeratkan genggaman tangannya.

“Dengarkan ibu ya, nak.” Matanya menatap Anin lekat.

“Tuan Arka itu tempramental. Apalagi sekarang mentalnya juga sudah terganggu. Jangan sekali-kali kamu membuat dia marah. Dan lagi, bukan hanya untuk dia, tapi juga kedua adiknya.”

Anin mengangguk pelan.

“Dan yang paling penting, ibu ingatkan sekali lagi. Jangan pernah ikut campur masalah di rumah itu. Tentang obat, tentang pertengkaran mereka, atau tentang apapun. Biar kan, biarkan apapun terjadi di sana yang terpenting kamu jangan sekali-kali ikut campur,” ucap Bu Asnah begitu serius.

“Iya, Bu. Anin akan selalu ingat pesan ibu,” jawab Anin dengan senyum tipisnya.

Tapi di dalam hati, dia tidak bisa berjanji. Justru karena semakin diberi tahu, Anin malah semakin penasaran. Apalagi tentang obat itu.

Hanya saja, Anin pun tidak akan melakukan sesuatu yang mengancam pekerjaannya di sana karena dia butuh uang untuk pengobatan ibunya.

Hari itu Anin berada di rumah hanya sebentar. Setelah memastikan keadaan ibunya baik-baik saja, dia langsung pergi ke universitas tempat dia kuliah. Anin meninggalkan ibunya di rumah bersama sepupunya. Jadi Anin bisa dengan tenang kuliah sambil bekerja di luar.

Besok, adalah jadwal kontrol Bu Asnah. Semoga saja Anin bisa mendapatkan uang secepatnya agar ibunya segera dioperasi.

“Anin!”

Suara Diana terdengar melengking memanggil namanya.

Anin yang baru tiba di depan lobi gedung Fakultas seni langsung menoleh. Dia tersenyum saat melihat sahabatnya itu keluar dari kelas mereka.

“Aku pikir kamu nggak masuk. Kamu dicariin pak Hartono tadi.”

Anin langsung meringis. “Tentang pembayaran ya?”

Diana tersenyum getir. “Ya gimana lagi, Minggu depan kita udah ujian. Harus bayar kan.”

Anin menghela nafas panjang. “Ya udah deh, aku ke ruangannya dulu.”

“Mau ditemani?”

Anin menggeleng lirih. “Nggak usah, Di. Aku sendiri aja.”

Langkah kakinya berbalik, dia langsung berjalan menuju gedung lain.

Rasanya benar-benar menyedihkan jika sudah seperti ini. Ada tunggakan yang harus dibayar, tapi uang di tangan sudah habis untuk membeli obat ibunya.

Anindya berdiri cukup lama di depan pintu ruang Wakil Rektor Bidang Akademik dan Keuangan. Jemarinya menggenggam map berisi berkas-berkas pembayaran yang sudah mulai kusut karena terlalu sering dibuka. Napasnya terasa berat, sementara rasa malu dan cemas bercampur menjadi satu.

Cukup ragu untuk masuk ke dalam.

Dan sialnya, di tengah keraguannya pintu tiba-tiba terbuka. Bukan pak Hartono yang keluar, melainkan Kaizar.

Anindya terkejut melihat adik tuan barunya itu ada di sini. Buru-buru dia menundukkan pandangan. Sementara Kaizar menatapnya lebih lama. Sudut bibir lelaki itu terangkat sinis. Apalagi saat melihat map yang Anin genggam.

“Kenapa? Kamu menunggak he?”

Anin diam. Jantungnya berdenyut nyeri saat tiba-tiba Kaizar mendekat dan berbisik di telinganya.

“Kalau butuh uang banyak, kamu cukup rayu saja kak Alaric. Atau mungkin kamu bisa tidur dengannya. Di jamin, semua hutangmu akan lunas. Tidak perlu lelah lagi menjaga orang cacat itu.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 20

    Malam itu, Anin kesulitan memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang didengarnya di ruang kerja Alaric. Ada sesuatu tentang kecelakaan Arka yang sengaja disembunyikan, dan dia merasa rahasia itu berkaitan dengan kebencian Alaric terhadap kakaknya.Namun, semakin dia memikirkannya, semakin dia teringat pada sebuah kejadian beberapa waktu lalu.Saat itu, Anin sedang berada di rumah sakit untuk mengurus keperluan ibunya. Dia melihat Alaric datang menjemput dua orang wanita paruh baya. Satu masih sehat dan satu lagi duduk di kursi roda.Saat itu, Anin mengira perempuan tersebut adalah kerabat keluarga Vayudipta. Namun, sekarang dia mulai bertanya-tanya.Mengapa Alaric menjemput perempuan itu sendirian? Mengapa tidak ada anggota keluarga lain yang menemaninya?Dan mengapa dia tidak pernah mendengar kabar tentang perempuan tersebut setelah kejadian itu?Anin membalikkan tubuhnya, lalu menghela napas panjang."Jangan-jangan ..." gumamnya pelan.Pikiran itu terasa mustahil

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 19

    Malam mulai larut ketika Anin kembali ke dapur untuk mengambil nampan makan malam. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan menyiapkan makanan di meja makan untuk Kaizar. Dapur sudah sepi. Mungkin Bibi Maria sudah pulang ke kamarnya, sementara sebagian lampu di area dapur sudah mulai dimatikan. Seperti biasa, rumah ini akan semakin menyeramkan ketika malam hari.Setelah menyiapkan makan malam untuk Arka, tanpa menunggu waktu lama, Anin langsung pergi menuju kamar lelaki itu di lantai dua.Sekarang dia sudah tidak takut lagi. Sepertinya, dia mulai terbiasa dengan suasana di rumah ini. Dan juga, mulai terbiasa dengan Arka.Saat melewati ruang kerja kecil di dekat tangga, langkah Anin mendadak terhenti. Dia mengernyit, lalu menoleh ke arah sebuah ruangan.Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Awalnya dia tidak berniat menguping. Namun, sebuah suara dari dalam membuatnya mengurungkan langkah.Setan dalam dirinya menggoda Anin untuk harus mendengarkan pembicaraan itu. Dia memasang telinga

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 18

    Arka terdiam cukup lama setelah mengatakan bahwa dirinya membenci aturan keluarga ningrat yang sudah turun-temurun itu. Tatapannya beralih ke arah jendela yang tertutup rapat, seolah ada sesuatu di balik sana yang lebih menarik daripada percakapan mereka.Anindya tidak berusaha memotong keheningan. Dia hanya berdiri di dekat meja, merapikan gelas kosong yang tadi sempat dilihatnya.“Kalau tuan nggak mencintai Nona Viona, kenapa tuan tetap menerima pertunangan itu?” tanyanya kemudian.Arka meliriknya sekilas. Dia menghela nafas panjang. “Karena sejak kecil aku sudah diajari bahwa keinginanku tidak pernah lebih penting daripada nama keluarga.”“Bahkan untuk urusan pernikahan?”“Hmm. Terutama untuk urusan pernikahan.” Arka tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana. “Di keluarga ini, semuanya punya aturan. Siapa yang pantas menjadi pewaris, siapa yang berhak mengambil keputusan, bahkan siapa yang boleh menjadi pasangan hidupku. Kakek menyebutnya tradisi. Bagiku, itu hanya cara

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 17

    Anindya tidak tahu apa yang dibicarakan Arka dan Ziyan melalui ponselnya. Pasalnya lelaki itu hanya berbicara sebentar untuk meminta Ziyan datang ke rumah sore nanti untuk menemuinya. Setelah itu, dia memberikan lagi ponselnya pada Anin.Hanya saja Anin merasa jika Arka memang sedang merencanakan sesuatu. Tatapan matanya tak lagi kosong seperti saat pertama kali Anin datang ke rumah ini. Arka yang sekarang seperti menemukan sesuatu untuk membuat dia bisa lebih bersemangat untuk sembuh. Meskipun tetap saja, ada banyak hal yang membuat Anin bertanya-tanya.Arka tidak pernah mau berbicara dengan orang lain. Tapi dengannya, Arka tidak seperti itu. Meskipun dia pemarah, namun tetap saja banyak kata yang keluar dari bibirnya.Anin menghela nafas panjang. Dia menatap wajah ibunya yang masih tertidur dengan tenang di atas ranjang. Hari ini kesehatan ibunya sudah lebih baik. Hanya tinggal menunggu kondisi stabil untuk memasang ring jantung. CupAnindya memberikan kecupan hangat di wajah pucat

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 16

    Sejak enam bulan lebih setelah kecelakaan parah itu, malam tadi adalah malam pertama Arka tidak merasa sakit dan ketakutan sedikitpun. Dia tidak harus makan dengan rasa takut karena obat itu, dia tidak harus makan sambil menahan rasa yang tak bisa diterima lidah hanya karena dia kelaparan.Malam tadi Arka makan dengan tenang. Malam tadi malam pertamanya makan dan menikmati makanan yang benar-benar terasa nikmat setelah enam bulan lebih dia tersiksa. Dan semua karena Anindya. Gadis pelayan yang datang tiba-tiba dan merubah sedikit rasa takut di hidupnya. Gadis lugu yang membuka mata Arka agar dia harus tetap hidup dan menyelesaikan semuanya.CeklekPintu kamar tiba-tiba terbuka. Mata yang semula terbuka, langsung terpejam lagi. Ada langkah kaki yang masuk ke dalam. Dan Arka tahu kalau itu adalah langkah kaki Alaric. Lelaki ini pasti datang untuk memastikan kalau Arka meminum obatnya malam tadi.“Aku senang melihatmu tenang seperti ini kakakku. Daripada kau sehat, tapi kau selalu membua

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 15

    “Coba saja … aku ingin tahu, apakah bagian itu masih berfungsi atau tidak.”Ucapan Arka membuat Anin langsung menelan ludah. Dia memandang benda menggantung yang layu dan tersandar lemas di dua bongkahan bulat yang keriput. Matanya mengerjap, degup jantungnya tiba-tiba saja bergemuruh kuat. Untuk pertama kali dalam hidup dia malah diberikan ujian seperti ini. Memegang benda yang seharusnya tidak dia pegang.Ya Tuhan. Mata sucinya benar-benar ternodai.“Kau tidak mau?” tanya Arka sekali lagi ketika Anin malah hanya diam dan membatu di tempatnya.“A-anu, tuan. Bukan saya tidak mau. Ta-tapi …”“Aku hanya ingin tahu. Kalau itu tidak lagi berfungsi, maka hidupku juga pasti tidak akan lama lagi.”“Eh … kenapa begitu? Memangnya berpengaruh, ya?”“Ya jelas. Kenapa kau bodoh sekali. Itu juga bagian dari nyawa laki-laki. Setidaknya dia terasa ketika disentuh, tidak harus bangun sempurna.”Lagi … Anin menelan ludah. Wajahnya sudah memerah. Haruskah dia menurut? “Kalau tidak mau, jangan kau li

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status