LOGINAnin masih berdiri mematung di teras samping rumah. Jantungnya masih berdebar setelah tak sengaja mendengar pembicaraan tentang pembatalan pernikahan dari calon istri Arka. Lelaki itu yang menyedihkan, tapi hati Anin yang ikut bersedih.
“Kenapa masih di sini? Kamu mau pergi kuliah kan?” Suara Alaric membuat Anin terkesiap kaget. dia sampai terlonjak karena begitu terkejutnya. "Tuan." "Kenapa belum pergi?" tanya lelaki itu lagi. Dia sudah rapi dengan kemeja kerjanya. "Tidak. Saya cuma menunggu tuan Arka, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi." "Tidak perlu. Dia sudah tidur." Anin mengernyit. "Tidur?" “Dia memang tukang tidur. Gak usah heran. Memang begitu. Dia bakalan bangun kalau hari udah sore atau malam.” Anin mengernyit. “Bukannya tadi dia ...” Alaric menghela nafas panjang. “Ya. Karena calon tunangannya membatalkan pernikahan mereka, Arka jadi makin gak mau bicara. Dokter bilang dia depresi. Maka dari itu dia lebih memilih tidur lama untuk melupakan semua rasa sakitnya. Begitu bangun, dia pasti ngamuk lagi." Anin tertegun. Hatinya iba. Entah seberapa sakit yang Arka rasakan di saat seperti ini. Lumpuh, calon istri pergi, dibenci keluarga, astaga. “Sudah sana pergi. Aku juga mau ke perusahaan. Kamu datang lagi sore nanti kan?” “Iya tuan. Tapi kalau tuan pergi, siapa yang menjaga tuan Arka di rumah?” tanya Anin penasaran, sejak kemarin. “Tidak ada. Maka dari itu pintu dikunci.” “Jadi bagaimana dia mau makan dan ke kamar mandi?” “Dia tidak akan bangun sebelum hari sore. Kenapa kamu cerewet sekali,” gerutu Alaric. Anin mengerucutkan bibirnya sekilas. “Saya cuma kasihan, tuan.” “Kamu tidak mengenalnya, Anin. Kalau kamu tahu bagaimana sikapnya saat dia sehat, kamu pasti tidak akan pernah mengasihaninya seperti ini.” Anin memandang Alaric bingung, namun tak lama, dia langsung memalingkan wajah. Tak berani menatap terlalu lama karena peraturannya seperti itu. “Memangnya tuan Arka kejam?” “Ya. Sangat kejam. Dia itu monster yang tidak punya hati. Dan keadaannya yang sekarang adalah hukuman atas keangkuhan dan kejahatannya di masa lalu.” Anin terperangah mendengar ucapannya. Rasanya tidak ingin percaya, tapi kenapa Alaric berbicara dengan tatapan mata yang menyimpan luka dan dendam seperti itu? Apa memang benar Arkalana adalah pria kejam dan tak punya hati hingga Tuhan menghukumnya dengan cara yang menyedihkan seperti ini? Pembicaraan tak berlangsung lama, karena setelah itu Alaric langsung pergi ke perusahaan keluarga Vayudipta, sedangkan Anin pulang ke rumahnya sebelum nanti dia ke kampus. Di rumah, Bu Asnah menyambutnya dengan senyum lembut seperti biasa. “Ibu … Anin kangen. Gimana keadaan ibu? Tadi malam nggak sakit lagi kan?” Anin langsung memeluk ibunya saat dia tiba di rumah. “Nggak, nak. Ibu baik-baik aja kok. Kan udah ada obatnya. Gimana hari kedua? Kamu betah? Kalau nggak betah, jangan dipaksain.” Anin mengerucutkan bibirnya, dia membawa Bu Asnah duduk di kursi panjang rumah mereka yang kecil. Meskipun sederhana, tapi rumah itu terasa hidup. Sangat jauh berbeda daripada suasana di rumah keluarga Vayudipta. Yang meskipun mewah, tapi terasa menyesakkan. Anin memandang wajah pucat ibunya dengan senyum lembut. “Bu … kerja di sana nggak capek kok. Seperti kata ibu kalau kerjaannya cuma masak. Tuan besar juga suka sama masakan Anin,” ucapnya sembari menggenggam tangan Bu Asnah yang terasa dingin. Wanita paruh baya yang terlihat sudah letih karena sakitnya itu tampak tersenyum. “Alhamdulillah. Ibu senang mendengarnya kalau memang tuan besar menerima kamu, nak.” “Iya. Tapi banyak hal yang bikin Anin penasaran.” Bu Asnah menggeleng sambil tersenyum. “Kan sudah ibu bilang kalau apapun yang terjadi, jangan ikut campur urusan mereka.” “Tapi sekarang tuan Alaric dan tuan besar minta Anin untuk bantu merawat tuan Arka, Bu.” Bu Asnah langsung terdiam. Senyum lembut yang semula menghiasi wajahnya kini langsung meredup. “Anin penasaran tentang tuan Arka. Tadi pagi gak sengaja Anin melihat kedatangan keluarga calon istri tuan Arka. Mereka datang membatalkan pernikahan.” Bu Asnah tampak terkejut. “Mereka membatalkan pernikahan?” Anin mengangguk. “Iya. Kasihan kan, Bu. Harusnya di saat-saat seperti ini tuan Arka butuh support supaya dia bisa sembuh dan mentalnya sehat. Tapi malah ditinggal sama tunangannya.” Bu Asnah masih diam. “Dan yang paling bikin Anin penasaran, setiap Anin datang ke kamarnya, tuan Arka selalu tanya ibu." Ucapan Anindya benar-benar membuat Bu Asnah terdiam. Hanya matanya saja yang tampak berair mendengar cerita puterinya ini. “Sebenarnya, seberapa dekat ibu sama tuan Arka sampai yang dia cari itu selalu ibu,” tanya Anin lagi. Sungguh, dia benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya. Bu Asnah terlihat menghela nafas panjang. Untuk beberapa saat dia memandang keluar pintu rumah yang terbuka. Hari sudah jam sembilan pagi. Suasana halaman rumah terlihat tenang dan segar. Tapi tidak dengan pembicaraan mereka yang menyimpan sesak di dada. “Kamu benar mau dengar cerita tentang tuan Arka, nak?” Bu Asnah kembali memandang putrinya. Anin mengangguk cepat. “Anin penasaran. Kata tuan Alaric kalau tuan Arka seperti ini karena karmanya.” Bu Asnah tersenyum getir. Dia menggeleng pelan. “Karma itu hanya rahasia Allah. Gak semua masalah hasil dari karma seseorang. Bisa jadi itu ujian untuk menguji iman dan ketegaran kita sebagai manusia.” Wanita itu mengusap wajah Anin lembut. “Tuan Arkalana Sigrid Vayudipta, dia lelaki yang hebat dan kuat. Tapi mentalnya yang rapuh.” Anin terpaku. “Dia cucu pertama dari tuan besar Vayudipta. Di usianya yang masih muda dia sudah harus mengemban tanggung jawab yang besar untuk meneruskan bisnis keluarga ningrat itu. Dia dituntut untuk menjadi sempurna, dia dituntut hanya untuk menjadi seorang pemimpin yang tegas, ditakuti dan dihormati. Sejak kecil dia hanya diajarkan caranya untuk dihormati, bukan disayangi. Maka dari itu dia tumbuh menjadi lelaki yang angkuh, lelaki yang merasa jika dirinya harus terlihat sempurna di mata dunia. Hingga akhirnya, kecelakaan itu merenggut segalanya.” “Tapi bukankah dia punya dua adik laki-laki? Harusnya bisa berbagi kan, Bu?” Bu Asnah tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. “Pewaris keluarga Vayudipta hanya boleh berasal dari darah suci keluarga itu.” “Maksud ibu?” “Tuan Arka, tuan Alaric dan juga tuan muda Kaizar satu ayah, tapi berbeda ibu.” “Wow? Kok bisa?” tanya Anin terkejut. Bu Asnah sampai terkekeh melihat raut terkejut puterinya. “Ya bisa kalau ayah mereka punya wanita lebih dari satu.” Anin meringis. “Tunggu, Bu. Anin tuh heran, kalau misalnya ibu mereka itu ada tiga, kenapa di rumah itu cuma ada mereka?” “Tuan Banyu Vayudipta sudah meninggal sebelas tahun lalu. Tepat tiga bulan setelah ibu kerja di sana. Ibu cuma tahu kalau istri sahnya itu cuma ada satu, ya itu ibu kandung dari tuan Arka. Hanya saja, ibu gak tahu dimana beliau sekarang. Ada kabar yang bilang kalau beliau sudah meninggal, ada juga yang bilang kalau beliau sudah berpisah lama dari ayah tuan Arka.” “Terus ibu dari tuan Alaric dan tuan Kai kemana?” “Ibu tuan Alaric sudah meninggal. Sedangkan ibu tuan Kai tinggal di kota lain. Tuan Vayudipta tidak bertanggung jawab atas mereka. Dia hanya bertanggung jawab untuk cucunya.” Anin mengangguk mengerti. “Jadi maka dari itu kalau tuan Arka lah yang jadi pewaris utamanya.” “Benar.” “Dan maka dari itu pula setiap orang yang bekerja di rumah itu harus disumpah? Apa karena tuan besar gak mau kalau orang-orang luar tahu tentang keadaan di rumah itu.” “Ya benar. Banyak rahasia yang tersembunyi di rumah itu. Terutama setelah tuan Arka jatuh sakit.” “Rahasia apa, Bu?” Bu Asnah terdiam. Dia malah memandang puterinya lekat. “Bu …” Anin sungguh penasaran. “Ibu gak mau kasih tahu Anin?” “Kamu berjanji untuk menjaga rahasia ini, nak?” Anin mengangguk cepat. “Iya, mau. Ayo bilang sekarang Bu, biar Anin gak bingung lagi.” “Tapi janji harus jaga rahasia ya. Kamu tahu konsekuensinya kan?” “Anin janji.” Bu Asnah terlihat menghela nafas panjang. “Sebenarnya ….Anin masih berdiri mematung di teras samping rumah. Jantungnya masih berdebar setelah tak sengaja mendengar pembicaraan tentang pembatalan pernikahan dari calon istri Arka. Lelaki itu yang menyedihkan, tapi hati Anin yang ikut bersedih.“Kenapa masih di sini? Kamu mau pergi kuliah kan?” Suara Alaric membuat Anin terkesiap kaget. dia sampai terlonjak karena begitu terkejutnya."Tuan.""Kenapa belum pergi?" tanya lelaki itu lagi. Dia sudah rapi dengan kemeja kerjanya."Tidak. Saya cuma menunggu tuan Arka, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi.""Tidak perlu. Dia sudah tidur."Anin mengernyit. "Tidur?"“Dia memang tukang tidur. Gak usah heran. Memang begitu. Dia bakalan bangun kalau hari udah sore atau malam.”Anin mengernyit. “Bukannya tadi dia ...”Alaric menghela nafas panjang. “Ya. Karena calon tunangannya membatalkan pernikahan mereka, Arka jadi makin gak mau bicara. Dokter bilang dia depresi. Maka dari itu dia lebih memilih tidur lama untuk melupakan semua rasa sakitnya. Begitu ban
Tangan Anindya sedikit bergetar saat dia membuka pintu kamar. Apalagi saat melihat kamar itu gelap gulita tak ada cahaya sedikitpun yang menerangi. Hanya bayangan Arkalana yang terduduk di sisi ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah, itu pun bisa terlihat karena cahaya dari luar ruangan yang pintunya Anin buka sebelum akhirnya dia tutup kembali.“Permisi, tuan. Saya masuk ya. Saya bawa makanan,” ucap Anindya pelan sembari meraba saklar lampu yang berada di dalam kamar itu.Aroma tak sedap sudah menyusup masuk ke hidungnya. Bau amis, bau keringat, dan juga bau air seni terasa begitu menyengat. Jujur saja, perut Anin terasa mual saat masuk lebih dalam. Entah kenapa bisa sekotor dan sebau ini. Kemarin juga sudah seperti ini, hanya saja tidak terlalu buruk. Namun sekarang, rasanya bertambah parah. Apa memang tidak ada yang membersihkan?‘Astaghfirullah.’ Anindya terkejut setengah mati saat melihat kondisi kamar. Begitu lampu hidup, suasana kamar langsung bisa terlihat jelas. Apalagi
Ini hari kedua Anindya bekerja di rumah keluarga Vayudipta. Sesuai perjanjian jika dia akan menginap dan pulang di pagi hari. Dan ketika sore hari, Anin akan datang lagi untuk memasak makan malam keluarga ini. Sejak malam tadi, Anin tak lagi mendatangi kamar Arka. Alaric berkata jika dia tidak perlu mengantar makanan sebab Arka masih tertidur. Pun begitu dengan pagi tadi dia masih tidak dibiarkan melihat lelaki itu. Tak ada yang bisa Anin lakukan selain hanya menurut.Setelah dari ruang makan untuk menyiapkan tempat makan, Anin kembali ke dapur. Di sana, bibi Maria, salah satu ART yang bekerja di rumah itu langsung menyambutnya. Dia langsung bertanya banyak hal pada Anin. Mungkin dia mencemaskan pekerjaan Anin selama satu hari semalam. Apakah bisa membuat tuan Vayudipta puas atau tidak. Tapi ternyata, jawaban yang Anin berikan bisa membuat dia lega. “Syukurlah. Pokoknya jangan sekali-kali membuat ulah di rumah ini ya. Apalagi sampai berbicara kalau nggak diminta,” ujarnya.Anin menga
“Tuan mau saya suapi atau makan sendiri?”“Yang lumpuh itu kakiku, bukan tanganku!” dengus Arka kesal. Dia merebut mangkuk bubur yang diberikan Anin dengan kasar. Matanya menatap mangkuk itu dengan dada yang bergemuruh. Entah kapan terakhir kali dia makan, Arka bahkan lupa. Merasa perutnya sudah benar-benar perih dan lapar, Arka langsung menyantap buburnya dengan lahap.Anin yang semula terkejut, kini langsung tersenyum tipis saat melihat Arka yang langsung makan dengan lahap.“Enak tuan?”Arka diam. Dia hanya terus memakan buburnya.“Itu resep dari ibu. Semoga tuan suka ya.”“Diamlah!”Anin langsung terdiam saat mendengar gerutuan lelaki itu. Di dalam hati dia mengumpat, tapi sebenarnya hatinya juga senang melihat Arka makan dengan lahap. Ah tidak, bukan lahap tapi dia makan seperti orang yang kelaparan. Anin memandang Arka heran. Buburnya yang enak, atau karena Arka kelaparan hingga dia makan seperti orang yang sudah beberapa hari tidak ada menyentuh makanan. Tangan Arka gemetar s
"Buang obat itu, atau aku patahkan tanganmu!” teriak Arkalana begitu murka.Gelas kaca berisi air jatuh pecah ke lantai usai dilemparkan oleh Arka yang menolak meminum obat.Alaric hanya tersenyum tipis, dia merapikan kerah kemeja putihnya yang tak berkerut sedikit pun. "Kak Arka makin hari makin emosional. Ini obat dari dokter khusus yang dipanggil Kakek. Kalau tidak diminum, bagaimana Kakak bisa sembuh?" ucap Alaric, dia adik kedua Arka."Dokter pilihan Kakek? Kau pikir aku tidak tahu apa isi kapsul itu?" bentak Arka dari atas kursi roda. Matanya merah, tajam menembus manik mata adiknya. Badannya tegap, tetapi kedua kakinya terkulai layu di atas kursi roda."Kakak mulai paranoid. Depresi akibat vonis lumpuh memang berat. Kakek sampai prihatin melihat Kakak yang selalu mengamuk setiap hari,” sahut Kaizar, adik ketiga Arka yang berdiri bersandar di ambang pintu, bersedekap dada sambil terkekeh pelan menatapnya."Kalian berdua..." Suara Arka berat, penuh akan amarah yang tertahan di t







