Mag-log in"Mengonsumsi biskuit atau kraker gandum kering sebelum bangun dari tempat tidur pada pagi hari bisa membantu mengurangi rasa mual, Tuan Javendra," jawab Dokter Rini dengan sabar. "Menjauhkan makanan dengan aroma terlalu tajam dari Nyonya Sasa juga merupakan langkah yang baik. Untuk porsi makan, gunakan prinsip porsi kecil tetapi lebih sering, misalnya lima sampai enam kali sehari." Sasa segera menyela sambil tertawa kecil, menatap Dokter Rini dengan pandangan memohon. "Dokter, tolong jangan buat aturan yang terlalu ketat, ya. Saya tidak ingin Mas Javen mengubah seluruh rumah kami menjadi seperti dapur rumah sakit yang serba steril cuma karena saya hamil." Dokter Rini terkekeh. "Tentu tidak, Nyonya Sasa. Yang penting adalah kenyamanan ibu." Namun, rasa ingin tahu dan perhatian Javendra belum berhenti sampai di situ. Pria tegap itu kembali condong ke depan. "Bagaimana dengan aktivitas fisiknya, Dokter? Apakah Sasa masih boleh berjalan-jalan di dalam rumah? Bagaimana dengan menaik
Bagi Javendra, selama ini kabar kehamilan Sasa masih terasa seperti mimpi indah yang belum sepenuhnya ia pahami. Namun, saat suara detak jantung kecil itu terdengar jelas di ruang pemeriksaan, ia mulai menyadari betapa nyatanya kehidupan baru yang sedang mereka nantikan. Suara itu menjadi bukti bahwa di dalam rahim wanita yang paling ia cintai, ada kehidupan kecil yang terus berkembang. Anak mereka. "Mas Javendra?" panggil Sasa dengan suara pelan. Javendra tidak menjawab. Matanya yang biasanya menunjukkan ketegasan kini berkaca-kaca. Tenggorokannya terasa tercekat karena terharu. Pria tegap itu mengepalkan jemari tangannya yang bebas, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Sasa dengan erat. "Suara yang kita dengar ini adalah detak jantung calon bayi kalian," tutur Dokter Rini dengan lembut, memberi waktu bagi pasangan itu untuk menikmati momen tersebut. "Detak jantungnya terdengar kuat dan teratur." Sasa tersenyum semakin lebar. Air mata kebahagiaan menetes perlahan di
Javendra membimbing Sasa untuk duduk di kursi empuk di hadapan meja dokter, sebelum ia sendiri duduk di kursi tepat di samping istrinya dengan posisi tubuh tegap. "Bagaimana kondisinya selama beberapa hari terakhir ini, Nyonya Sasa?" tanya Dokter Rini memulai konsultasi sambil membuka berkas rekam medis di layar komputernya. Sasa meletakkan kedua tangannya di atas paha, lalu tersenyum ramah. "Terkadang saya merasa mual, Dok, terutama di pagi hari. Tubuh juga terasa lebih mudah lelah, dan sesekali saya merasa ingin tidur lebih lama dari biasanya. Tapi secara umum, saya merasa baik-baik saja." Dokter Rini mengangguk memahami, jemarinya mengetik beberapa catatan di papan ketik. "Bagaimana dengan pola makan, waktu tidur, dan aktivitas sehari-hari? Apakah Nyonya Sasa pernah mengalami nyeri hebat di perut bagian bawah, pendarahan, pusing berlebihan, atau keluhan fisik lain yang mengganggu?" Sebelum Sasa sempat membuka mulut untuk menjawab, Javendra sudah memajukan posisi tubuhnya da
"Lantai di luar kamar dingin. Aku juga tidak mau kamu terlalu banyak berjalan sebelum perjalanan dimulai," jawab Javendra santai. Ia membawa Sasa keluar dari kamar. Di sepanjang lorong vila, belasan pengawal pribadi berjas hitam berdiri dengan sikap siap. Mereka menundukkan kepala ketika melihat Javendra berjalan sambil menggendong istrinya. Sasa merasa malu karena diperhatikan banyak orang. Ia akhirnya menyembunyikan wajah di dekat leher Javendra. Dari sana, ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang teratur. Entah kenapa, hal sederhana itu justru membuatnya merasa tenang. Begitu tiba di area parkir utama, sebuah MPV mewah berwarna hitam sudah menunggu. Pintu gesernya terbuka. Javendra membawa Sasa masuk ke dalam kabin yang hangat dan nyaman, lalu mendudukkannya di kursi captain seat yang sudah diatur kemiringannya. Javendra memastikan posisi duduk Sasa nyaman. Ia memasangkan sabuk pengaman dengan hati-hati agar tidak menekan perut istrinya. Setelah itu, ia meletakkan ba
"Tetap saja kamu tidak perlu berdiri sendiri tanpa memberitahuku," jawab Javendra. Pria itu berdiri, berjalan menuju meja rias, lalu mengambil tas kecil milik Sasa. Ia membawanya kembali dan meletakkannya di pangkuan istrinya dengan sangat hati-hati. Sasa memperhatikan gerakan suaminya. Ia kemudian menghela napas panjang dan mengusap bahu Javendra yang kembali duduk di sampingnya. "Mas Javen." "Hm?" "Cara Mas menatap dan memperlakukanku dari tadi benar-benar berlebihan." Javendra mengerutkan alis. "Berlebihan bagaimana? Aku hanya memastikan kamu dan anak kita aman." "Aman memang penting, Mas. Tapi Mas memperlakukanku seperti barang porselen mahal yang sedikit tersenggol langsung pecah." Sasa tersenyum sambil menatapnya. "Aku cuma sedang hamil muda. Tubuhku masih sehat. Aku masih bisa berjalan sendiri, mengambil tas sendiri, dan berdiri beberapa menit. Mas jangan terlalu tegang seperti itu. Nanti Mas sendiri yang sakit karena terlalu banyak pikiran." Javendra terdi
Atmosfer di area vila perbukitan yang semula tenang dan sejuk seketika berubah lebih serius. Ketegangan itu bukan disebabkan oleh ancaman musuh atau persaingan bisnis, melainkan karena instruksi baru dari pemilik tunggal Maheswara Group. Sejak kehamilan Sasa dipastikan melalui dua garis merah di kamar mandi pagi tadi, seluruh staf, pelayan, hingga belasan pengawal pribadi di vila tersebut langsung berada di bawah arahan Javendra. Langkah kaki Javendra terdengar teratur di lantai marmer yang melapisi lorong di luar kamar utama. Pria tegap itu berdiri di dekat pilar kayu ukir dengan mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di hadapannya, lima orang pengawal pribadi berdiri dengan sikap siap, menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Di tangan Javendra, sebuah tablet tipis menyala. Layar itu menampilkan peta digital yang menunjukkan rute perjalanan dari vila perbukitan menuju kediaman utama Maheswara di Jakarta. Selain rute perjalanan, berbagai informasi m
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel







