MasukKamar utama mansion Maheswara dipenuhi pendar cahaya lampu gantung yang terang. Sasa berdiri kaku di depan cermin tinggi berukir, memandangi pantulan dirinya dalam balutan gaun pengantin berwarna putih gading. Potongan gaun itu sangat anggun, membingkai tubuhnya dengan sempurna namun tetap menutup dengan sangat sopan. Jemari Sasa bergerak perlahan, meraba lipatan kain renda bermotif rumit di bagian dadanya. Pintu kamar terbuka tanpa suara. Javendra melangkah masuk dengan kemeja hitam yang gulungan lengannya dinaikkan sampai siku. Langkah kaki pria itu terhenti tepat di ambang pintu saat matanya menangkap sosok Sasa. Sorot mata hitam kelam yang biasanya dingin itu mendadak mengunci bayangan Sasa di cermin tanpa berkedip. Sasa menoleh pelan, menangkap tatapan intens calon suaminya dari cermin. Merah muda tipis seketika merayapi kedua pipinya. "Mas Javen..." tegur Sasa pelan dengan suara bergetar kaku. "Kenapa... kenapa melihatku seperti itu? Apa ada bagian yang aneh dari gaun ini?"
Suasana di dapur bersih mansion Maheswara terasa hangat. Sasa sedang sibuk menata beberapa piring masakan di atas meja marmer. Udara di ruangan itu dipenuhi aroma gurih sup ayam kampung dan tumis sayuran segar yang baru saja matang. Sasa merapikan celemek yang terikat di pinggangnya. Jemari lentiknya tampak sedikit gemetar saat meletakkan piring terakhir. Raut cemas belum sepenuhnya sirna dari wajah cantiknya. Sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar hangat di pinggang Sasa dari belakang. Javendra menyandarkan dagunya di bahu Sasa, menghirup aroma harum tubuh calon istrinya. "Pagi-pagi sekali sudah sibuk di dapur, sayang," bisik Javendra lembut dengan suara parau khas bangun tidur. Pria itu mendaratkan kecupan hangat di pipi Sasa. Sasa menoleh pelan, mengulas senyum tipis. "Mas Javen sudah bangun? Aku cuma menyiapkan sarapan. Aku buatkan sup ayam kesukaan Nyonya Amara." Javendra merenggangkan pelukannya sedikit, menatap wajah Sasa dengan pendar mata lekat. "Kamu benar-benar tida
"Papa tidak sedang membuat alasan!" tegas Aldebaran, melangkah satu senti mendekati Kenzo dan menatap mata putranya dari jarak sangat dekat. "Ada rahasia ... ada sesuatu yang tidak boleh kamu langgar, Kenzo! Kalau kamu terus memaksa mendekati Sasa, kamu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri dan membawa hal buruk untuk keluarga kita!" Kenzo mundur satu langkah, menatap ayahnya dengan pendar mata tidak percaya dan penuh rasa curiga. "Rahasia? Papa bicara apa, sih? Jangan mencoba membodohiku dengan kalimat-kalimat tidak jelas!" "Kamu tidak perlu tahu detailnya sekarang," potong Aldebaran cepat, suaranya kembali dingin meski penuh kepedihan. "Yang perlu kamu tahu, Sasa adalah garis batas yang sama sekali tidak boleh kamu lewati. Dia bukan milikmu, dan dia tidak akan pernah bisa menjadi milikmu!" "Aku tidak peduli!" teriak Kenzo seraya menepis udara di depannya secara kasar. "Aku tidak peduli dengan cerita rekaan Papa! Aku tidak peduli dengan takdir atau rahasia konyol apa pun ya
Amara berdeham kencang, sedikit tersentak melihat reaksi Javendra. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, memegang cangkir teh porselen itu meski jemarinya sedikit gemetar. "Kamar di atas sudah siap, kan? Aku mau langsung istirahat. Aku lelah." "Kamar di sebelah kanan lantai dua sudah disiapkan, Nyonya," jawab Sasa tetap sopan dan tenang. Amara berdiri dari kursinya tanpa mengucap terima kasih sedikit pun, melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan gaya anggun dan angkuh yang dipaksakan. Begitu sosok Amara menghilang di lorong tangga, Javendra langsung memutar tubuh Sasa dan mendudukkan gadis itu di kursi ruang makan. Javendra berlutut di hadapan Sasa, memegang kedua tangan calon istrinya itu. "Kamu lihat sendiri kan, Sasa?" ujar Javendra dengan nada kesal yang tertahan. "Ibu masih saja bersikap angkuh dan tidak tahu terima kasih padamu." Sasa mengulas senyum tipis yang amat lembut. Ia membawa tangan besar Javendra ke pipinya, mengusapnya perlahan. "Tidak apa-apa, Mas
Javendra melangkah lebar menyusuri koridor utama mansion Maheswara yang megah, lalu menghentikan langkah tepat di dekat pintu depan yang terbuka lebar. Di pelataran luar, Nyonya Amara berdiri kaku di samping koper-kopernya. Langkah wanita paruh baya itu tertahan ragu di ambang pintu, tampak enggan dan sarat akan kecanggungan setelah pertengkaran hebat yang sempat terjadi di antara mereka. Javendra menyilangkan kedua tangannya di dada. Sorot matanya sangat dingin dan tajam, menatap lurus sang ibu tanpa riak emosi berlebih. "Kenapa masih berdiri di luar, Ibu?" tegur Javendra dengan suara berat dan datar. "Bukannya Ibu sendiri yang memutuskan untuk kembali kemari?" Amara berdeham pelan, merapikan selendang mahalnya dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi untuk menutupi rasa canggung. "Javendra... Ibu hanya kembali agar perayaan pernikahanmu tidak menjadi bahan hujatan orang-orang. Jangan berpikir Ibu pasrah atau bertekuk lutut dengan keputusanmu menikahi gadis tidak jelas itu." Javen
Di ruang kerjanya yang megah, Javendra berdiri menatap ke luar jendela. Tatapan matanya yang dingin menerawang jauh, namun benaknya sepenuhnya dipenuhi oleh wajah Sasa dan raut memohon calon istrinya malam itu. Janji yang ia ucapkan untuk menuruti keinginan Sasa terus bergaung di kepalanya. Demi Sasa, demi ketenangan dan kebahagiaan wanita yang sangat dicintainya itu, Javendra membuang jauh-jauh egonya. Javendra memutar tubuhnya perlahan lalu menekan tombol interkom di meja kerja. "Bram, masuk ke ruanganku sekarang." Hanya dalam hitungan detik, pintu kayu jati tebal itu terdorong terbuka. Bram melangkah masuk dengan tegap dan membungkuk hormat di hadapan tuannya. "Ada instruksi baru, Tuan Javen?" Javendra merapikan lengan kemejanya yang digulung sebatas siku. Tangannya mengepal pelan sebelum memberikan perintah. "Malam ini aku harus bertemu dengan Ibu. Siapkan mobil." Bram sedikit tersentak, raut terkejut sempat melintas tipis di wajahnya sebelum ia kembali menguasai diri. "B
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel







