Share

Bab 157

Author: Apple Cherry
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-17 00:19:53

Javendra tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan menuju meja kerjanya, membelakangi Claudia sejenak untuk meletakkan kedua tangannya di dalam saku celana. Gerakannya yang tenang justru membuat suasana di dalam kamar terasa semakin mencekam.

"Aku ini pria yang sangat logis, Claudia. Kamu tahu itu," ujar Javendra, membalikkan badan dengan gerakan lambat. "Aku tidak pernah percaya pada hal yang tidak masuk akal, termasuk perubahan sikapmu yang mendadak menjadi sangat pemaaf dan menerima."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (9)
goodnovel comment avatar
Huzi_toys
hiii aku aja takut sama ancman Javen bgtu, mending jujur lahh dr oada hncur
goodnovel comment avatar
Huzi_toys
wis mundur aja Claudia, dr pada hdupmu hncur ditangan Javen
goodnovel comment avatar
NenengYhara
ayo jawab Claudia, jgn sampe kamu salah jawab tar kamu plg yg susah.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 611 — Bisikan di Balik Kaca Gelap

    Sedan hitam mewah berpelat khusus itu meluncur mulus membelah jalan raya Bogor menuju arah Jakarta. Hujan gerimis mulai turun membasahi kaca luar, membiaskan pendar lampu jalanan menjadi deretan titik cahaya yang samar. Di dalam kabin mobil, suasana terasa begitu hangat dan tenang. Javendra menekan satu tombol di panel samping pintunya. Seketika, kaca pembatas tebal berwarna gelap perlahan terangkat naik dari batas kursi depan, menutup rapat akses pandang maupun pendengaran dari pengemudi dan pengawal yang berada di balik kemudi. Kabin belakang kini sepenuhnya menjadi ruang privat yang kedap suara. Sasa menyandarkan kepalanya di dada bidang Javendra. Rasa lelah bercampur lega membuncah di dalam dadanya usai melewati sesi makan siang yang penuh emosi dan adu gengsi sepanjang hari. "Mas..." panggil Sasa pelan, memainkan kancing kemeja Javendra dengan ujung jarinya. "Aku senang sekali hari ini." Javendra yang sedang mengusap bahu istrinya melirik ke bawah. "Senang karena apa, Sayang

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 610 — Panggilan Baru dan Perpisahan di Bogor

    Panggilan itu mengudara begitu halus di antara gemericik air kolam di luar paviliun. Sasa menunduk sebentar, meremas ujung porselen di tatakan cangkirnya dengan pipi yang mendadak bersemu hangat akibat rasa canggung yang mendadak menyerang. "I-iya... Kak Kenzo," bisik Sasa pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin sore. Kenzo mendadak kaku di tempat duduknya. Tubuhnya tegap seketika, dan matanya membelalak kecil menatap adiknya. Pria yang biasanya amat tenang memimpin ribuan karyawan itu mendadak mengedipkan mata beberapa kali, seolah telinganya baru saja menangkap hal asing yang belum pernah ia dengar sepanjang hidupnya. "Kamu... memanggilku apa tadi?" tanya Kenzo memastikan, suaranya sedikit terbata-bata. "Kak... Kak Kenzo," ulang Sasa, kali ini mendongak dengan senyum malu-malu yang makin lebar. "Kan tadi Kak Kenzo sendiri yang minta?" Sebuah tawa canggung namun sarat bahagia lolos dari bibir Kenzo. Pria itu membasahi bibirnya, berdeham pelan untuk menutupi rasa canggu

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 609 — Kakak Adik yang Saling Bicara

    Javendra meletakkan cangkir porselennya ke tatakan dengan denting halus. Pria itu merapikan kerah kemejanya yang rapi, lalu bangkit berdiri dari kursi kayu berukir. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Sasa dengan usapan lembut yang teramat protektif. "Aku ke ruang kerja paviliun dulu untuk memeriksa laporan pengamanan Tuan Aldebaran bersama pengawal," ujar Javendra santai. Sasa yang baru saja hendak menyendok potongan buah mendadak menghentikan gerakannya di udara. Matanya membelalak lebar, menatap suaminya dengan raut tidak percaya yang amat polos. "Mas... kamu serius?" tanya Sasa terbata-bata. "Kamu tinggalkan aku berdua saja dengan Kenzo? Tidak salah dengar?" Bukan cuma Sasa yang terkejut. Kenzo yang sedang memegang cangkir tehnya juga sempat tersentak kecil. Alis tebalnya terangkat tinggi, menatap Javendra dengan pandangan curiga seolah menanti ada jebakan di balik kebaikan mendadak pria Maheswara itu. Javendra menyunggingkan senyum tipis yang amat menyebalkan. Ia menun

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 608 — Dua Sisi Kasih Sayang

    Kenzo yang menyaksikan pemandangan itu menggelengkan kepala pelan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Sasa dan Javendra secara bergantian. Di satu sisi, ia merasa kesal dengan dominasi Javendra yang begitu melekat pada adiknya. Namun di sisi lain, Kenzo tidak bisa memungkiri bahwa di balik pertengkaran kecil dan sifat cemburu yang berlebihan itu, ada ikatan yang sangat kuat dan tak tersentuh di antara mereka berdua. "Kalian berdua benar-benar membuat kepalaku pusing," celetuk Kenzo seraya meraih sepotong semangka dan memasukkannya ke dalam mulut. "Aku tidak menyangka adiku yang dulu lembut bisa jadi seberani ini menghadapi pria seperti Javendra." "Itu karena suamiku dan kakakku sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah!" balas Sasa sambil menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas ke sandaran kursi. Javendra menyunggingkan senyum tipis, mengulurkan tangannya untuk merengkuh kembali jemari Sasa yang berada di atas pangkuan. Kali

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 607 — Buah Segar dan Dua Pria Keras Kepala

    Seorang pelayan wanita dengan gerakan cermat mengganti cangkir kopi yang sudah mulai dingin dengan dua cangkir porselen berisi teh herbal hangat beraroma chamomile dan mint. Sementara itu, pelayan pria yang mengekor di belakangnya meletakkan sebuah piring kristal besar di tengah meja, berisi tumpukan potongan buah segar yang dipotong rapi. Sasa menghela napas lega saat perhatian kedua pria di sisinya teralih sejenak pada kedatangan para pelayan. Ia memanfaatkan jeda singkat itu untuk membenahi posisi duduknya, menarik nafas dalam-dalam demi menetralkan debar jantungnya yang sejak tadi dinaik-turunkan oleh tingkah Javendra dan Kenzo. Begitu para pelayan selesai menata meja dan melangkah mundur keluar dari paviliun, suasana santai yang diharapkan Sasa ternyata sama sekali tidak terwujud. Kenzo meraih garpu buah kecil berujung dua, menusuk sepotong kiwi yang tampak paling segar, lalu mengarahkannya ke piring kecil Sasa. "Makan buahnya, Sasa. Segar untuk meredakan pusingmu," ujar

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 606 — Balasan Menusuk dan Emosi yang Terbakar

    Perang kata-kata di antara kedua pria berkuasa itu makin menunjukkan dominasi masing-masing. Udara di dalam paviliun kaca terasa kian berat, meski makanan penutup di atas meja porselen sudah hampir habis disentuh. Javendra menyandarkan punggungnya ke kursi kayu berukir. Satu tangannya yang bebas kini diletakkan santai di belakang sandaran kursi Sasa, merangkul bahu istrinya dari belakang dengan tatapan penuh kebanggaan dan kepemilikan. Sembari menatap Kenzo, tangan kiri Javendra yang tersembunyi di balik taplak meja mulai bergerak kembali. Kali ini, jemari panjangnya tidak menyusup ke area dalam. Javendra memilih mengusap lembut celah halus di belakang lutut Sasa, lalu perlahan merambat naik menyusuri kulit paha bagian belakang. Jemarinya menekan titik-titik sensitif di sana dengan lambat yang membuat seluruh tubuh Sasa mendadak kaku dan meremang hebat. "Kamu terlalu banyak berteori tentang wanita, Kenzo," ujar Javendra seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat memancing emos

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 5 - Pijatan Plus Plus

    Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 4 - Sasa Butuh Dana Cepat

    Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 3 - Apa Kamu Bisa Memijat?

    Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 2 - Kepergok Majikan

    Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status