แชร์

Bab 156

ผู้เขียน: Apple Cherry
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-17 00:19:42

Claudia yang menyadari kehadiran pelayan itu langsung menoleh dan melotot tajam. Wajahnya memerah menahan amarah yang meledak.

"Heh, kamu nggak sopan ya! Ngapain kamu berdiri di sana! Keluar!" bentak Claudia kasar.

Sasa tersentak, lalu langsung mengalihkan pandangannya menatap Javendra dengan sorot mata ketakutan. "Maaf, Tuan, Nona. Saya permisi."

Sasa segera membalikkan badan dan melangkah pergi dengan terburu-buru.

Sebelum Claudia sempat mengomel lebih panjang, Javendra langsung mence
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (8)
goodnovel comment avatar
Huzi_toys
mencurigakan banget, dr sikapnya aja gemeteran bgt diintimidasi sama Javen ada yg dia tutup"in tuhh
goodnovel comment avatar
Huzi_toys
nahhh kasih syarat buat Claudia biar milih , mau lanjutin apa berhenti ngejar Javen
goodnovel comment avatar
NenengYhara
pilihan apa ni yg akan javen kasi ke Claudia ya, apa menyuruh Claudia tuk membangunkan adik kecil javen.
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 607 — Buah Segar dan Dua Pria Keras Kepala

    Seorang pelayan wanita dengan gerakan cermat mengganti cangkir kopi yang sudah mulai dingin dengan dua cangkir porselen berisi teh herbal hangat beraroma chamomile dan mint. Sementara itu, pelayan pria yang mengekor di belakangnya meletakkan sebuah piring kristal besar di tengah meja, berisi tumpukan potongan buah segar yang dipotong rapi. Sasa menghela napas lega saat perhatian kedua pria di sisinya teralih sejenak pada kedatangan para pelayan. Ia memanfaatkan jeda singkat itu untuk membenahi posisi duduknya, menarik nafas dalam-dalam demi menetralkan debar jantungnya yang sejak tadi dinaik-turunkan oleh tingkah Javendra dan Kenzo. Begitu para pelayan selesai menata meja dan melangkah mundur keluar dari paviliun, suasana santai yang diharapkan Sasa ternyata sama sekali tidak terwujud. Kenzo meraih garpu buah kecil berujung dua, menusuk sepotong kiwi yang tampak paling segar, lalu mengarahkannya ke piring kecil Sasa. "Makan buahnya, Sasa. Segar untuk meredakan pusingmu," ujar

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 606 — Balasan Menusuk dan Emosi yang Terbakar

    Perang kata-kata di antara kedua pria berkuasa itu makin menunjukkan dominasi masing-masing. Udara di dalam paviliun kaca terasa kian berat, meski makanan penutup di atas meja porselen sudah hampir habis disentuh. Javendra menyandarkan punggungnya ke kursi kayu berukir. Satu tangannya yang bebas kini diletakkan santai di belakang sandaran kursi Sasa, merangkul bahu istrinya dari belakang dengan tatapan penuh kebanggaan dan kepemilikan. Sembari menatap Kenzo, tangan kiri Javendra yang tersembunyi di balik taplak meja mulai bergerak kembali. Kali ini, jemari panjangnya tidak menyusup ke area dalam. Javendra memilih mengusap lembut celah halus di belakang lutut Sasa, lalu perlahan merambat naik menyusuri kulit paha bagian belakang. Jemarinya menekan titik-titik sensitif di sana dengan lambat yang membuat seluruh tubuh Sasa mendadak kaku dan meremang hebat. "Kamu terlalu banyak berteori tentang wanita, Kenzo," ujar Javendra seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat memancing emos

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 605 — Sindiran Asmara dan Desahan yang Tertahan

    Suasana di dalam paviliun kaca itu mendadak hening sejenak saat pelayan melangkah mundur setelah menyajikan cangkir kopi hitam kedua untuk Kenzo dan Javendra. Uap tipis membumbung dari permukaan cangkir porselen putih, membawa aroma pahit yang cukup kuat ke udara. Sasa berusaha memfokuskan perhatian pada kue di piringnya, memotong bagian kecil dengan ujung sendok. Namun, ketenangan itu sama sekali tidak bertahan lama. Tangan kiri Javendra yang berada di bawah meja mulai bergerak kembali. Bukannya menghentikan ulahnya, jemari panjang Javendra justru menyusup lebih jauh ke balik lipatan kain rok Sasa. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ujung jari Javendra mengusap bagian dalam paha Sasa dengan tekanan yang dalam dan konstan, menembus batas kain pakaian dalamnya. Sasa tersentak di tempat duduknya. Sengatan hangat yang mendadak itu membuat seluruh saraf di tubuhnya menegang seketika. Sasa mencoba menahan napas, merapatkan kedua pahanya untuk mengunci pergerakan tangan suaminya.

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 604 — Antara Teguran Halus dan Perang Dingin

    Napas Sasa masih terengah halus di dalam cengkeraman Javendra. Punggungnya yang menempel pada dinding marmer terasa dingin, berbanding terbalik dengan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat ciuman intens suaminya. Javendra menatap Sasa dengan pendar mata yang begitu pekat dan penuh dominasi. Jemari tangannya merayap naik, mengusap lembut bekas basah di sudut bibir Sasa akibat lumatannya tadi. "Ingat ini baik-baik, Sasa," bisik Javendra dengan suara serak yang begitu berat di depan wajah istrinya. "Kalau sekali lagi kamu membiarkan pria lain, siapa pun itu, termasuk kakakmu sendiri menatapmu terlalu lama sampai kamu mengabaikanku, aku akan melakukan hal yang jauh lebih nekat dari sekadar menyentuhmu di bawah meja." Sasa membelalak lebar, memukul dada bidang Javendra pelan. "Mas! Kamu ini bicara apa sih? Kenzo itu kakak kandungku! Mana bisa kamu cemburu pada—" "Ayo kita kembali," potong Javendra santai, seolah tidak baru saja melontarkan ancaman berbahaya. Pria itu meneliti

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 603 — Antara Kerinduan dan Kecupan di Koridor

    Pelayan kembali melangkah masuk secara perlahan, membawa baki perak berisi hidangan penutup berikutnya berupa kue sus praline berhiaskan lapisan cokelat mengkilap dan taburan kacang pistachio. Sepiring hidangan pembersih langit-langit mulut berupa sorbet jeruk nipis dingin juga disajikan elegan dalam mangkuk kristal berukuran kecil. "Ini sorbet pembersih rasa setelah makanan utama, Nyonya Sasa," tutur pelayan wanita itu sopan sembari meletakkan mangkuk kristal di sisi kiri piring Sasa. "Terima kasih," bisik Sasa pelan. Meskipun aroma cokelat dan kesegaran jeruk nipis merebak di atas meja, pandangan Sasa meredup. Rasa kecewa yang amat dalam kembali membendung di dadanya. Setelah sekian lama menunggu waktu yang tepat, kenyataan bahwa ia belum bisa memeluk dan melihat keadaan Papa Aldebaran secara langsung terasa begitu menghimpit badannya. Kenzo yang memperhatikan sorot mata adiknya yang membayang duka, meletakkan sendok kristalnya perlahan. "Sasa," panggil Kenzo lembut, nada suar

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 602 — Javen Makin Panas Makin Nakal

    Napas Sasa tertahan di tenggorokan. Tubuhnya meremang hebat, membuat dadanya naik turun tak beraturan. Jemari tangan kirinya mencengkeram erat lutut Javendra di bawah meja, memberi tekanan memohon agar suaminya menyudahi siksaan manis itu. Namun, Javendra justru menyunggingkan senyum tipis tanpa dosa sembari menyuapkan sepotong sayuran ke mulutnya sendiri. Sasa mencoba mengalihkan seluruh pikirannya dari usapan nakal di bawah sana. Ia menelan makanannya perlahan, lalu memberanikan diri menatap Kenzo yang sedang menyapu bibirnya dengan serbet kain. "Kenzo," panggil Sasa, berusaha menjaga agar nada suaranya tetap stabil dan tidak bergetar. "Mengenai Tuan Aldebaran... kapan kira-kira aku bisa bertemu dan melihat keadaannya secara langsung?" Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Kenzo terhenti sejenak. Pria itu meletakkan serbetnya kembali ke samping piring, lalu menatap Sasa dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. "Belum saatnya, Sasa," jawab Kenzo datar namun mantap. S

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 3 - Apa Kamu Bisa Memijat?

    Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 6 - Gunakan Dadamu Yang Seksi Itu

    Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 5 - Pijatan Plus Plus

    Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 4 - Sasa Butuh Dana Cepat

    Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status