LOGINIa segera mengusapnya dengan punggung tangan, lalu meletakkan ponsel di atas sofa. Ia tidak ingin larut dalam pikiran buruk sebelum mendengar penjelasan dari suaminya sendiri. Namun, meski berusaha mengalihkan perhatian dengan mengambil buku yang terletak di meja kecil, pikirannya terus kembali kepada foto-foto tersebut. Sasa menatap pintu kamar, berharap Javendra segera pulang. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari pria itu. Ia ingin memastikan bahwa semua yang dilihatnya tidak seperti yang ia bayangkan. Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah ketakutan mulai tumbuh. Bagaimana jika ada sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui tentang suaminya? Sasa memejamkan mata, berusaha mengendalikan perasaannya. Ia tidak ingin menuduh Javendra tanpa bukti yang jelas, tetapi ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa foto-foto itu sama sekali tidak menyakitinya. Di luar kamar, Rani yang baru selesai berbicara dengan salah satu pelayan melihat Sasa duduk sendirian dengan wajah murung. "Nyony
Javendra menatap Laura beberapa saat setelah mendengar ancaman terakhir wanita itu. Ia tidak menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak, tetapi perubahan sorot matanya cukup membuat Laura kehilangan sebagian keberaniannya. "Kau benar-benar ingin menghancurkan dirimu sendiri hanya untuk membalas dendam kepadaku?" tanyanya dingin. Laura mengangkat dagu, berusaha mempertahankan keberaniannya meskipun kedua tangannya mulai berkeringat. "Aku tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi kepadaku. Papi sudah kau jebloskan ke penjara, semua yang kami miliki terancam hilang, sementara kau masih bisa hidup bahagia bersama istrimu. Menurutmu, aku akan membiarkan itu terjadi begitu saja?" Javendra mengembuskan napas pendek, lalu melirik Bram yang berdiri tidak jauh darinya. "Bawa dia keluar. Pastikan dia tidak bisa mengganggu siapa pun di gedung ini tanpa izin." "Baik, Tuan." Bram segera memberi isyarat kepada dua petugas keamanan. Mereka mendekati Laura, tetapi wanita itu masih berusaha menund
Ia melepaskan tombol itu, kemudian menatap Laura. "Aku tidak akan mengulangi perintahku. Kenakan pakaianmu sebelum Bram masuk." Laura buru-buru menyambar dress merahnya. Tangannya bergerak cepat untuk mengenakannya kembali, tetapi rasa panik membuat gerakannya tidak teratur. Ia tahu Bram akan segera masuk. Jika wanita itu keluar dari ruangan begitu saja, ia tidak akan mendapatkan apa pun dari kedatangannya. Pikirannya bergerak cepat mencari cara lain. Ketika mendengar langkah kaki mendekati pintu, Laura tiba-tiba mencakar lengannya sendiri hingga meninggalkan bekas kemerahan. Ia juga mengacak rambutnya, lalu mengusap wajahnya agar riasannya tampak berantakan. Javendra melihat tindakan itu dengan tatapan tidak percaya. "Berhenti melakukan hal bodoh itu, Laura." Namun, Laura tidak menghiraukannya. Ia justru terus merapikan dress-nya sambil mengatur napas, berusaha membuat dirinya terlihat seperti seseorang yang baru saja mengalami kejadian buruk. Tepat ketika pintu t
"Aku hanya akan mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, aku akan memanggilmu." Bram akhirnya mengangguk. "Baik, Tuan. Saya akan menunggu di luar. Silakan tekan interkom jika Anda membutuhkan saya." Ia kemudian menoleh kepada Laura. "Saya tunggu di luar, Nona. Jangan melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan masalah." Laura tidak menjawab. Ia hanya mengikuti Bram dengan pandangan sampai pria itu berjalan menuju pintu. Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Javendra menunggu beberapa saat sebelum meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Baiklah, sekarang tidak ada orang lain di sini. Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?" Laura tidak langsung menjawab. Ia justru memeriksa pintu, memastikan Bram benar-benar sudah berada di luar. Setelah itu, ia berbalik menghadap Javendra. "Tuan, saya ingin meminta bantuan Anda sekali lagi." Javendra mengernyit. "Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa aku tidak akan mencabut tuntutan
Matahari pagi mulai menyinari gedung Maheswara Group ketika Javendra tiba di kantornya. Setelah menyelesaikan beberapa urusan bersama tim direksi, ia kembali ke ruang kerja pribadi di lantai teratas untuk memeriksa laporan yang sudah menumpuk di atas meja. Javendra berdiri di dekat jendela kaca sambil memegang secangkir kopi hitam. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat kendaraan yang memenuhi jalanan kota. Pikirannya sempat tertuju pada Sasa yang tadi pagi masih berada di mansion ketika ia berangkat bekerja. Istrinya sempat mengingatkan agar ia tidak pulang terlalu larut. Javendra sudah berjanji akan berusaha menyelesaikan pekerjaannya lebih awal, meskipun ia belum tahu apakah semua urusannya bisa selesai tepat waktu. Ia baru saja meletakkan cangkir di atas meja ketika terdengar ketukan dari pintu ruang kerja. "Masuk," perintahnya tanpa menoleh. Pintu terbuka. Bram masuk lebih dahulu, membawa sebuah map tipis di tangan. Namun, sebelum ia sempat menyampaikan maksud kedatangannya, s
Sasa terdiam sebentar sebelum mengangkat wajahnya. Ia menatap Javendra dengan senyum kecil, kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi suaminya. "Aku akan selalu ada selama kamu juga mengizinkanku berada di sisimu, Mas." Javendra tidak langsung menjawab. Ia mendekat dan mengecup kening istrinya sebelum menyentuhkan bibir mereka dalam ciuman singkat. Sasa membalas ciuman itu dengan lembut. Ketika mereka kembali saling menatap, ia mengusap pipi Javendra sekali lagi, lalu tersenyum. Javendra merengkuhnya kembali. Untuk sementara, ia memilih menikmati waktu bersama istrinya tanpa membicarakan pekerjaan. Masalah yang menunggunya di kantor bisa kembali dipikirkan besok pagi. Malam itu, ia hanya ingin berada di dekat Sasa dan memastikan istrinya merasa nyaman. ** Pada waktu yang hampir bersamaan, di ruang perawatan VVIP Rumah Sakit Maheswara, Amara sedang duduk di samping ranjang Bu Andini. Ruangan itu cukup tenang. Cahaya lampu di dekat tempat tidur menerangi wajah Bu An
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel







