Masukjangan lupa kasih ulasan untuk cerita ini yaa ^^
"A-aku tidak apa-apa..." bisik Javendra parau di telinga Sasa, suaranya tercekat oleh rasa sakit yang luar biasa. Ia tetap menahan tubuhnya rapat-rapat untuk melindungi Sasa. Sebelum Arka sempat melepaskan tembakan ketiga, pasukan khusus yang dipimpin Kenzo sudah menerjang turun dari atas tebing. Tiga personel langsung menindih Arka ke tanah dengan brutal, mengunci kedua tangannya dan merebut senjata pria itu. "Jangan bergerak! Tetap di tanah!" bentak personel pasukan khusus seraya membelenggu Arka dengan borgol baja. Kenzo berlari kencang dari arah tangga tebing, menghampiri Javendra dan Sasa yang tergeletak di atas tanah. "Javendra!" seru Kenzo panik seraya berlutut di sebelah mereka. Sasa memangku kepala Javendra dengan tangan yang gemetaran parah. Air matanya deras mengalir membasahi wajah suaminya yang kian pucat pasi. "Mas Javen... bangun, Mas! Tolong! Mas Javen!" tangis Sasa pecah, memeluk leher Javendra yang mulai lemas. "Kenapa kamu lakukan ini... kenapa kamu turu
Sasa menahan napas di balik batu besar. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghitung jarak langkah kaki Arka. Enam meter. Lima meter. Pria itu makin mendekat ke arah batu tempatnya bersembunyi. Sasa meraih sebuah batu kecil berukuran genggaman tangan dari permukaan tanah. Dengan perlahan, ia melempar batu itu jauh ke arah semak-semak di sebelah kirinya. Brak! Semak-semak itu bergetar nyaring. Arka seketika memutar tubuhnya dan mengarahkan pistolnya ke sumber suara. "Di sana kamu rupanya!" Arka berlari ke arah semak-semak tersebut. Begitu pria itu membelakanginya, Sasa langsung bangkit dari balik batu dan berlari sekencang-kencangnya ke arah berlawanan, menuju area lapangan terbuka bekas galian pabrik. Namun, Arka yang menyadari jebakan itu segera berbalik. "Kurang ajar!" Arka mengejar Sasa dengan kecepatan penuh. Karena kondisi fisik Sasa yang lelah dan lemas akibat efek obat penenang, jarak di antara mereka terpangkas sangat cepat. Brak! Arka menerjang punggun
Baling-baling helikopter tempur membelah angin malam dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Di dalam kabin penunggang yang gelap dan hanya diterangi pendar merah lampu darurat, Javendra dan Kenzo duduk berseberangan. Javendra menatap jam perak di pergelangan tangannya. "Berapa lama lagi?" Kenzo melirik layar instrumen navigasi di dekat pilot. "Empat menit. Tim darat Vanguard sudah mengunci radius lima ratus meter di luar kawasan bekas Pabrik Sektor Tiga. Arka tidak akan bisa keluar dari tempat itu tanpa memicu baku tembak." "Pastikan anak buahmu tidak menembak membabi buta," sergah Javendra tajam, matanya menghujam Kenzo dengan ancaman mutlak. "Sasa ada di dalam. Kalau satu peluru nyasar mengenai kulitnya, aku sendiri yang akan menghabisi orang-orangmu." Kenzo menyunggingkan senyum dingin yang penuh ejekan. "Simpan kekhawatiran konyolmu itu, Maheswara. Orang-orangku terlatih untuk mengeksekusi target, bukan menembak patung. Yang harus kamu khawatirkan justru dirimu send
Arka mengangguk puas dari balik ponselnya. "Mas Javen, ini aku..." lanjut Sasa. Ia memejamkan mata sejenak, mengingat kembali percakapan pribadinya dengan Javendra mengenai proyek terbengkalai Maheswara Corp di perbukitan timur. "Tolong turuti kata-katanya, Mas," bisik Sasa, menyuntikkan nada memohon yang sangat halus dalam bicaranya. "Aku takut di sini. Tempat ini sangat dingin... seperti bangunan bekas Pabrik Sektor Tiga yang pernah kamu ceritakan waktu itu. Suara angin dan gema berisik di sini kencang sekali, Mas Javen... persis seperti area galian perbatasan barat yang pernah kita bahas." Arka mengerutkan dahi mendengar nama bangunan dan deskripsi tempat itu. Ia mendadak menurunkan ponselnya sedikit. "Apa-apaan itu? Jangan berbelit-belit! Bilang padanya untuk menyerahkan apa yang kuminta!" Sasa menatap Arka dengan pandangan memohon yang terlihat sangat alami dan tidak berdaya. "Pak Arka, mohon mengerti... Mas Javen tahu aku paling takut tempat sepi dan dingin. Kalau aku tidak
Suara derit pintu kayu tua yang bergeser nyaring seketika menghentikan gerakan jemari Sasa. Rasa dingin merayap cepat dari tengkuk hingga ke ujung kakinya. Dengan sisa refleks yang ada, Sasa menahan napas, membiarkan pergelangan tangannya yang terbeset memar tetap berada di belakang sofa, lalu menjeplakkan kepalanya kembali ke sandaran. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mematungkan tubuhnya seolah-olah pukulan kejam tadi masih membuatnya tak sadarkan diri. Langkah kaki Arka terdengar berat menggesek lantai papan yang berdebu. Suara derap itu berhenti tepat di samping sofa. Arka membungkuk sedikit, memperhatikan wajah Sasa yang tertutup beberapa helai rambut kusut. Tawa kecil yang hampa berhembus dari bibirnya. "Masih pingsan?" bisik Arka dingin. Ia memindahkan cangkir teh yang sudah dingin ke atas meja kayu di depannya. Arka tidak menyentuh Sasa, melainkan melangkah menuju jendela kayu yang terkunci rapat dari dalam. Ia menyibak sedikit tirai kusam, menatap kegelapan hutan pinus
Tiga puluh menit berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Javendra duduk di dalam mobil komando pengamanan di luar area rumah sakit. Layar laptop di depannya menampilkan puluhan rekaman CCTV lalu lintas kota yang diperiksa secara simultan oleh tim analisis Maheswara Corp. Di sebelahnya, Kenzo berdiri bersedekap, menatap layar monitor yang terus berkedip. Ketegangan di dalam mobil itu begitu pekat. Tidak ada percakapan santai, hanya suara ketukan kibor yang intens dan deru napas ketakutan yang tertahan dari para staf. Tiba-tiba, ponsel pribadi Javendra di atas meja bergetar keras. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor terenkripsi muncul di layar. Bip. Kenzo langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya terkunci pada layar ponsel Javendra. Javendra meraih ponsel tersebut dengan jemari yang menegang. Pesan itu berisi sebuah berkas video berdurasi singkat. Tanpa mengulur waktu, Javendra menekan tombol pemutar video tersebut. Layar ponsel menampilkan rekaman sudut ren
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi







