เข้าสู่ระบบjangan lupa kasih ulasan untuk cerita ini yaa ^^
"Setelah kembali ke Jakarta, Anda bisa langsung membawanya ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan posisi kantung kehamilan dan detak jantung janin melalui USG," jawab Dokter Rini. "Untuk hari ini, biarkan Mbak Sasa istirahat total di vila. Jangan biarkan dia melakukan aktivitas berat dulu." "Baik. Terima kasih, Dokter Rini," ujar Javendra seraya berdiri dan menjabat tangan sang dokter. ** Setelah mengantar Dokter Rini hingga ke depan pintu utama vila dan menerima paket vitamin yang telah disiapkan, Javendra melangkah kembali menuju kamar tidur utama. Pria tegap itu mendorong pintu kayu tebal tersebut dengan sangat perlahan, tidak ingin membuat suara sekecil apa pun yang dapat mengejutkan istrinya. Namun, begitu melangkah masuk ke dalam kamar, pemandangan di atas tempat tidur seketika menghentikan langkah Javendra. Sasa sedang berbaring menyamping di tengah tempat tidur berlapis seprai sutra. Kedua tangannya yang mungil tertangkup lembut di atas perut bagian bawahny
Javendra menutup pintu kamar utama dengan rapat dan halus, memastikan tidak ada suara bising yang akan mengganggu istirahat istrinya. Dengan langkah kaki yang lebar dan tegas, pria tegap itu melangkah menuju ruang tamu privat vila tempat Dokter Rini sedang menunggu. Dokter Rini yang sedang duduk santai sambil memeriksa beberapa dokumen medis berdiri sewaktu melihat kehadiran sang pemilik vila. Namun, melihat raut wajah Javendra yang sangat ketat dan dipenuhi garis-garis kecemasan, dokter paruh baya itu membatalkan niatnya untuk langsung mengutarakan ucapan selamat. "Pak Javendra? Bagaimana hasilnya?" tanya Dokter Rini ramah. Javendra meletakkan alat tes kehamilan bergaris dua itu di atas meja kayu di hadapan Dokter Rini, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di sofa. Pria itu menautkan kedua jemari tangannya di atas paha, menatap Dokter Rini dengan sorot mata yang teramat fokus dan menuntut jawaban pasti. "Garisnya dua dan warnanya sangat jelas," ujar Javendra rendah, membuka percak
Dua garis merah itu kini membayang utuh di atas permukaan alat tes kehamilan. Garis kedua yang semula samar-samar, perlahan menebal hingga warnanya sama tegasnya dengan garis kontrol pertama. Di bawah pendar lampu kamar mandi yang temaram, tanda itu berpendar teramat nyata, memutus keheningan yang sejak tadi mengepung ruangan marmer tersebut. Sasa terpaku. Manik matanya tak lepas dari dua garis merah di atas wastafel. Jemari tangannya yang mencengkeram lengan kemeja Javendra mendadak gemetar hebat. Dadanya bergemuruh oleh kombinasi rasa terkejut, haru, dan ketidakpercayaan yang meluap sekaligus ke permukaan. "Mas..." bisik Sasa pendek, suaranya tercekat di tenggorokan. Air mata kebahagiaan seketika merebak di sudut matanya, membendung pendar sayu di kelopak matanya yang pucat. "Dua garis... Mas Javendra, ini dua garis merah..." Javendra menundukkan wajahnya, menajamkan pandangannya pada alat kecil tersebut. Pria tegap itu membeku di tempatnya berdiri. Manik mata hitamnya yan
Dokter Rini sedikit terkejut dengan nada suara Javendra yang begitu penuh tekanan, namun sebagai dokter berpengalaman, ia memahami kepanikan seorang suami yang sangat mencintai istrinya. "Pak Javendra, perubahan hormon pada trimester pertama kehamilan memang sangat memengaruhi fisik wanita," terang Dokter Rini sabar. "Hormon hCG dan progesteron yang meningkat pesat memicu rasa mual, lemas, pusing, dan sensitivitas terhadap aroma. Ini adalah respons alami tubuh ibu hamil untuk mengondisikan rahim." "Alami bagaimana kalau sampai dia tidak bisa makan?" potong Javendra tajam, nada suaranya makin meninggi karena rasa cemas yang memuncak. "Kalau Sasa tidak bisa makan, tenaganya dari mana? Bagaimana kalau kondisinya makin parah? Saya tidak mau Sasa sakit atau menderita cuma karena hal ini!" Sasa yang melihat reaksi suaminya langsung meraih jemari tangan Javendra yang terkepal keras di samping kasur. "Mas... Mas Javendra, tenang dulu. Jangan bicara dengan nada tinggi begitu pada Dokte
Beberapa menit berlalu sebelum Javendra kembali ke dalam kamar utama, diikuti oleh seorang dokter wanita paruh baya berpenampilan rapi bernama Dokter Rini. Dokter Rini membawa tas medisnya dan mengangguk sopan ke arah Sasa yang berusaha duduk di atas kasur. "Jangan dipaksakan duduk dulu, Mbak Sasa. Berbaring santai saja," ujar Dokter Rini ramah seraya mendekati sisi tempat tidur. Javendra berdiri tepat di sebelah Dokter Rini, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah yang teramat serius. "Dokter Rini, tolong periksa istri saya dengan teliti. Sejak bangun tidur wajahnya pucat, tubuhnya lemas, dan dia mual hebat waktu mencoba sarapan." Dokter Rini tersenyum tenang, mengeluarkan stetoskop dan alat tensi darah dari tasnya. "Baik, Pak Javendra. Saya periksa tekanan darah dan suhunya terlebih dahulu ya." Dokter Rini mulai memeriksa tekanan darah Sasa, mengecek suhu tubuhnya, serta memeriksa area mata dan leher Sasa dengan sangat cermat. Sepanjang proses pemeriksaan itu,
Javendra berjalan bolak-balik di sisi tempat tidur, langkah kakinya yang mantap menciptakan suara ketukan pelan di atas lantai kayu kamar utama. Jemari tangannya terselip di dalam saku celana santainya, sementara sorot matanya yang tajam tak pernah lepas dari sosok Sasa yang berbaring di balik selimut tebal. Sasa menghela napas pelan, mencoba memposisikan kepalanya agar terasa lebih nyaman di atas bantal. Wajahnya masih terlihat agak pucat, dan rasa mual tipis yang datang bergelombang membuat tenggorokannya terasa kering. "Mas Javendra... duduk saja, Mas. Aku pusing melihat Mas jalan bolak-balik begitu," tegur Sasa halus, suaranya terdengar pelan dan agak serak. Javendra menghentikan langkahnya seketika. Pria tegap itu melangkah mendekati tepi kasur, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Sasa. Ia mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi Sasa yang teraba sedikit dingin. "Pusingnya makin parah?" tanya Javendra cepat, nada suaranya ketat dan dipenuhi kecemasan yang tak mampu ia
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar







