Share

Bab 160

Author: Apple Cherry
last update publish date: 2026-06-18 00:16:56

Javendra bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang tenang terdengar begitu mengintimidasi saat ia berjalan mendekati Claudia. Pria itu berhenti tepat di depan Claudia, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh dan mencengkeram dagu wanita itu dengan cukup kuat, memaksa Claudia untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang sehitam malam.

"Rasa kagum dan sukamu itu tidak ada nilainya sama sekali di mataku, Claudia. Jangan beralasan seolah kamu ini korban yang tersakiti, padahal kamu hanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Huzi_toys
coba godain Javen lagi kalau berani, kek dulu dihotel
goodnovel comment avatar
Huzi_toys
tuduhan Javen bener semua itu, makanya Claudia ketkutan
goodnovel comment avatar
NenengYhara
javen penasaran juga kayaknya kok burungnya gak bisa bangun sama Claudia makanya ia tes lagi beneran gak bangun apa gak.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 635 — Kemungkinan yang Dokter Katakan

    Beberapa menit berlalu sebelum Javendra kembali ke dalam kamar utama, diikuti oleh seorang dokter wanita paruh baya berpenampilan rapi bernama Dokter Rini. Dokter Rini membawa tas medisnya dan mengangguk sopan ke arah Sasa yang berusaha duduk di atas kasur. "Jangan dipaksakan duduk dulu, Mbak Sasa. Berbaring santai saja," ujar Dokter Rini ramah seraya mendekati sisi tempat tidur. Javendra berdiri tepat di sebelah Dokter Rini, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah yang teramat serius. "Dokter Rini, tolong periksa istri saya dengan teliti. Sejak bangun tidur wajahnya pucat, tubuhnya lemas, dan dia mual hebat waktu mencoba sarapan." Dokter Rini tersenyum tenang, mengeluarkan stetoskop dan alat tensi darah dari tasnya. "Baik, Pak Javendra. Saya periksa tekanan darah dan suhunya terlebih dahulu ya." Dokter Rini mulai memeriksa tekanan darah Sasa, mengecek suhu tubuhnya, serta memeriksa area mata dan leher Sasa dengan sangat cermat. Sepanjang proses pemeriksaan itu,

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 634 — Menginginkan Sesuatu

    Javendra berjalan bolak-balik di sisi tempat tidur, langkah kakinya yang mantap menciptakan suara ketukan pelan di atas lantai kayu kamar utama. Jemari tangannya terselip di dalam saku celana santainya, sementara sorot matanya yang tajam tak pernah lepas dari sosok Sasa yang berbaring di balik selimut tebal. Sasa menghela napas pelan, mencoba memposisikan kepalanya agar terasa lebih nyaman di atas bantal. Wajahnya masih terlihat agak pucat, dan rasa mual tipis yang datang bergelombang membuat tenggorokannya terasa kering. "Mas Javendra... duduk saja, Mas. Aku pusing melihat Mas jalan bolak-balik begitu," tegur Sasa halus, suaranya terdengar pelan dan agak serak. Javendra menghentikan langkahnya seketika. Pria tegap itu melangkah mendekati tepi kasur, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Sasa. Ia mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi Sasa yang teraba sedikit dingin. "Pusingnya makin parah?" tanya Javendra cepat, nada suaranya ketat dan dipenuhi kecemasan yang tak mampu ia

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 633 — Harapan itu, Bolehkah?

    "Tidak terlalu, Mas. Yang ini enak dan hangat," cicit Sasa pelan, merasa bersalah karena sudah membuat suaminya repot mengurus sarapannya. "Makan beberapa suap lagi," instruksi Javendra tenang, menyuapkan sendok kedua dengan kehati-hatian yang luar biasa. Sasa menerima dua suapan lagi, namun pada suapan keempat, perutnya kembali memberikan dorongan menolak yang cukup kuat. Sasa mengangkat tangannya pelan, menghentikan sendok Javendra di udara. "Sudah, Mas... Perutku benar-benar terasa penuh dan agak mual kalau ditambah lagi," pangkas Sasa halus. Javendra meletakkan sendok kembali ke dalam mangkuk. Pria tegap itu mengambil tisu kain, mengusap sudut bibir Sasa dengan gerakan yang sangat lembut dan sabar. "Cuma masuk tiga suap," gumam Javendra, memandangi mangkuk bubur yang masih menyisakan banyak isi. "Maaf ya, Mas Javendra..." cicit Sasa menundukkan kepalanya. "Aku malah merusak acara sarapan kita." Javendra menghela napas pendek. Pria itu mengulurkan tangannya, merangkul

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 632 — Mungkinkah?

    "Eh... tidak apa-apa, Mas," ujar Sasa cepat, mencoba menutupi rasa mualnya. "Sudah cukup minumnya. Terima kasih ya, Mas." Javendra meletakkan gelas di atas meja nakas. Manik matanya tak lepas menatap Sasa. "Ada yang sakit di perutmu?" Sasa menggeleng, memaksakan senyum manis di bibirnya. "Tidak ada, Mas. Cuma belum terisi makanan saja makanya agak aneh. Mas Javendra mau mandi duluan?" Javendra mengusap dahi Sasa sekali lagi untuk memastikan suhunya tetap normal. "Aku mandi sebentar, setelah itu kita sarapan. Kalau rasa lemasmu makin parah, langsung bilang padaku, paham?" "Iya, Mas Javendra. Paham," jawab Sasa menurut. Javendra mengecup bibir Sasa singkat sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Suara kran air yang menyala menggelegar halus dari balik pintu kaca yang buram. Begitu Javendra menghilang di balik pintu, Sasa menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya pada bantalan ranjang, memegangi perut bagian bawahnya dengan telapak tangannya sendiri. Rasa melili

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 631 — Isyarat Kecil di Pagi Hari

    Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden kayu kamar utama, membias di atas permukaan lantai dan menyinari ujung tempat tidur yang masih berantakan. Udara dingin pegunungan masih tersisa pekat di luar, namun di dalam kamar, sisa-sisa kehangatan dari malam sebelumnya masih terasa melayang tipis di udara. Sasa perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa hangat yang luar biasa membungkus seluruh tubuhnya. Lenggangan lengan tegap Javendra melingkar erat di pinggangnya dari belakang, menahan tubuh Sasa rapat pada dada bidangnya yang bertelanjang. Sasa menghela napas pelan, mencoba menggeser tubuhnya sedikit untuk meregangkan otot-ototnya. Namun, begitu ia menggerakkan kakinya, rasa pegal yang tumpul dan lemas mendadak menjalar hebat dari dasar pinggul hingga ke seluruh punggungnya. Kepala Sasa terasa sedikit berat, dan perutnya memberikan sensasi melilit yang samar namun cukup mengganggu. Sasa mengerjap-ngerjapkan matanya,

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 630 — Kencan di pinggir Danau (4)

    Tanpa memberikan jeda sedikit pun bagi Sasa untuk bernapas, Javendra meraih bibir istrinya dalam sebuah ciuman yang panas, menuntut, dan penuh gairah. Lidah Javendra menyusup masuk ke dalam rongga mulut Sasa, melumat dan membelit dengan gerakan dominan yang membuat seluruh perhatian istrinya tertuju kepadanya. Ciuman itu tidak lagi seperti kecupan lembut mereka di dermaga, melainkan sebuah ungkapan keinginan yang selama ini ditahannya. "Em... Mas..." desah pasrah Sasa lolos dari sela-sela pagutan bibir mereka ketika tangan besar Javendra merayap turun ke pinggulnya, meremasnya erat dan menarik tubuh Sasa semakin dekat. Sensasi hangat segera menjalar ke seluruh tubuh Sasa. Kedua tangan mungilnya yang semula menahan dada Javendra kini bergerak naik, menyusup ke dalam helai rambut tebal suaminya. Jemarinya meremas rambut itu saat ia membalas ciuman Javendra dengan kepasrahan. Javendra melepaskan bibir Sasa perlahan, lalu menurunkan wajahnya ke leher mulus istrinya. Beberapa kecup

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 6 - Gunakan Dadamu Yang Seksi Itu

    Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 5 - Pijatan Plus Plus

    Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 4 - Sasa Butuh Dana Cepat

    Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 3 - Apa Kamu Bisa Memijat?

    Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status