เข้าสู่ระบบBeberapa menit berlalu sebelum Javendra kembali ke dalam kamar utama, diikuti oleh seorang dokter wanita paruh baya berpenampilan rapi bernama Dokter Rini. Dokter Rini membawa tas medisnya dan mengangguk sopan ke arah Sasa yang berusaha duduk di atas kasur. "Jangan dipaksakan duduk dulu, Mbak Sasa. Berbaring santai saja," ujar Dokter Rini ramah seraya mendekati sisi tempat tidur. Javendra berdiri tepat di sebelah Dokter Rini, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah yang teramat serius. "Dokter Rini, tolong periksa istri saya dengan teliti. Sejak bangun tidur wajahnya pucat, tubuhnya lemas, dan dia mual hebat waktu mencoba sarapan." Dokter Rini tersenyum tenang, mengeluarkan stetoskop dan alat tensi darah dari tasnya. "Baik, Pak Javendra. Saya periksa tekanan darah dan suhunya terlebih dahulu ya." Dokter Rini mulai memeriksa tekanan darah Sasa, mengecek suhu tubuhnya, serta memeriksa area mata dan leher Sasa dengan sangat cermat. Sepanjang proses pemeriksaan itu,
Javendra berjalan bolak-balik di sisi tempat tidur, langkah kakinya yang mantap menciptakan suara ketukan pelan di atas lantai kayu kamar utama. Jemari tangannya terselip di dalam saku celana santainya, sementara sorot matanya yang tajam tak pernah lepas dari sosok Sasa yang berbaring di balik selimut tebal. Sasa menghela napas pelan, mencoba memposisikan kepalanya agar terasa lebih nyaman di atas bantal. Wajahnya masih terlihat agak pucat, dan rasa mual tipis yang datang bergelombang membuat tenggorokannya terasa kering. "Mas Javendra... duduk saja, Mas. Aku pusing melihat Mas jalan bolak-balik begitu," tegur Sasa halus, suaranya terdengar pelan dan agak serak. Javendra menghentikan langkahnya seketika. Pria tegap itu melangkah mendekati tepi kasur, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Sasa. Ia mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi Sasa yang teraba sedikit dingin. "Pusingnya makin parah?" tanya Javendra cepat, nada suaranya ketat dan dipenuhi kecemasan yang tak mampu ia
"Tidak terlalu, Mas. Yang ini enak dan hangat," cicit Sasa pelan, merasa bersalah karena sudah membuat suaminya repot mengurus sarapannya. "Makan beberapa suap lagi," instruksi Javendra tenang, menyuapkan sendok kedua dengan kehati-hatian yang luar biasa. Sasa menerima dua suapan lagi, namun pada suapan keempat, perutnya kembali memberikan dorongan menolak yang cukup kuat. Sasa mengangkat tangannya pelan, menghentikan sendok Javendra di udara. "Sudah, Mas... Perutku benar-benar terasa penuh dan agak mual kalau ditambah lagi," pangkas Sasa halus. Javendra meletakkan sendok kembali ke dalam mangkuk. Pria tegap itu mengambil tisu kain, mengusap sudut bibir Sasa dengan gerakan yang sangat lembut dan sabar. "Cuma masuk tiga suap," gumam Javendra, memandangi mangkuk bubur yang masih menyisakan banyak isi. "Maaf ya, Mas Javendra..." cicit Sasa menundukkan kepalanya. "Aku malah merusak acara sarapan kita." Javendra menghela napas pendek. Pria itu mengulurkan tangannya, merangkul
"Eh... tidak apa-apa, Mas," ujar Sasa cepat, mencoba menutupi rasa mualnya. "Sudah cukup minumnya. Terima kasih ya, Mas." Javendra meletakkan gelas di atas meja nakas. Manik matanya tak lepas menatap Sasa. "Ada yang sakit di perutmu?" Sasa menggeleng, memaksakan senyum manis di bibirnya. "Tidak ada, Mas. Cuma belum terisi makanan saja makanya agak aneh. Mas Javendra mau mandi duluan?" Javendra mengusap dahi Sasa sekali lagi untuk memastikan suhunya tetap normal. "Aku mandi sebentar, setelah itu kita sarapan. Kalau rasa lemasmu makin parah, langsung bilang padaku, paham?" "Iya, Mas Javendra. Paham," jawab Sasa menurut. Javendra mengecup bibir Sasa singkat sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Suara kran air yang menyala menggelegar halus dari balik pintu kaca yang buram. Begitu Javendra menghilang di balik pintu, Sasa menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya pada bantalan ranjang, memegangi perut bagian bawahnya dengan telapak tangannya sendiri. Rasa melili
Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden kayu kamar utama, membias di atas permukaan lantai dan menyinari ujung tempat tidur yang masih berantakan. Udara dingin pegunungan masih tersisa pekat di luar, namun di dalam kamar, sisa-sisa kehangatan dari malam sebelumnya masih terasa melayang tipis di udara. Sasa perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa hangat yang luar biasa membungkus seluruh tubuhnya. Lenggangan lengan tegap Javendra melingkar erat di pinggangnya dari belakang, menahan tubuh Sasa rapat pada dada bidangnya yang bertelanjang. Sasa menghela napas pelan, mencoba menggeser tubuhnya sedikit untuk meregangkan otot-ototnya. Namun, begitu ia menggerakkan kakinya, rasa pegal yang tumpul dan lemas mendadak menjalar hebat dari dasar pinggul hingga ke seluruh punggungnya. Kepala Sasa terasa sedikit berat, dan perutnya memberikan sensasi melilit yang samar namun cukup mengganggu. Sasa mengerjap-ngerjapkan matanya,
Tanpa memberikan jeda sedikit pun bagi Sasa untuk bernapas, Javendra meraih bibir istrinya dalam sebuah ciuman yang panas, menuntut, dan penuh gairah. Lidah Javendra menyusup masuk ke dalam rongga mulut Sasa, melumat dan membelit dengan gerakan dominan yang membuat seluruh perhatian istrinya tertuju kepadanya. Ciuman itu tidak lagi seperti kecupan lembut mereka di dermaga, melainkan sebuah ungkapan keinginan yang selama ini ditahannya. "Em... Mas..." desah pasrah Sasa lolos dari sela-sela pagutan bibir mereka ketika tangan besar Javendra merayap turun ke pinggulnya, meremasnya erat dan menarik tubuh Sasa semakin dekat. Sensasi hangat segera menjalar ke seluruh tubuh Sasa. Kedua tangan mungilnya yang semula menahan dada Javendra kini bergerak naik, menyusup ke dalam helai rambut tebal suaminya. Jemarinya meremas rambut itu saat ia membalas ciuman Javendra dengan kepasrahan. Javendra melepaskan bibir Sasa perlahan, lalu menurunkan wajahnya ke leher mulus istrinya. Beberapa kecup
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta







