LOGIN"Mereka masih mencoba mencari celah untuk mengakses rekening operasional yang Anda bekukan kemarin," balas Reno yang menyusul masuk. "Namun Direktur Keuangan sudah memberi tahu mereka bahwa seluruh otorisasi kini berada penuh di bawah tanda tangan elektronik Tuan Kenzo. Mereka tidak bisa berkutik." Kenzo hanya mendengus halus. "Biarkan mereka kelaparan sedikit lebih lama. Manusia yang biasa hidup memanjakan diri dengan uang haram akan makin cepat memperlihatkan kebusukannya saat kerannya mendadak mati." Di dalam ruangan berukuran luas itu, suasana berbanding terbalik dengan dinginnya lorong bawah tanah. Berbagai peralatan medis mutakhir senilai puluhan miliar rupiah berderet rapi di sekitar sebuah tempat tidur khusus. Tiga dokter spesialis saraf dan dua perawat berijazah internasional langsung berdiri tegap begitu melihat Kenzo melangkah masuk. "Tuan Kenzo," sapa dokter kepala dengan nada penuh penghormatan dan sedikit ketakutan. "Bagaimana kondisinya hari ini?" Kenzo menghen
Saat Javendra mendorong pintu kamar tersebut, pemandangan di depannya seketika membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Sasa terduduk lemas di atas lantai kayu dingin di samping tempat tidur. Tubuh mungil istrinya terguncang pelan oleh isak tangis yang tertahan. Wajahnya yang memerah basah oleh air mata, sementara kedua tangannya merengkuh erat selembar foto dan kertas tua di dadanya. "Sasa!" panggil Javendra dengan suara panik yang tak tertahankan. Javendra langsung menjatuhkan dirinya berlutut di lantai, merengkuh tubuh Sasa ke dalam pelukan hangatnya. Tangan kokoh Javendra mengusap punggung Sasa yang gemetaran, menarik kepala istrinya untuk bersandar di dadanya. "Sayang... Ada apa? Kenapa menangis seperti ini? Apa yang terluka?" tanya Javendra bertubi-tubi dengan nada suara yang penuh kecemasan dan kelembutan mendalam. Sasa mendongak, menatap wajah Javendra dengan mata yang sembap dan merah. "Mas... Mas Javendra..." adu Sasa dengan suara parau yang hampir habis. "Iy
Dengan air mata yang kian deras membasahi pipinya, Sasa merengkuh barang kedua dari dalam pouch sutra tersebut: amplop kertas tebal. Di bagian depan amplop, terukir deretan kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat indah, rapi, dan berlekuk anggun:[ Untuk Putri Kecilku yang Akan Melihat Dunia, dan Untuk Sahabat Sejatiku, Andini] Jemari Sasa bergetar sangat hebat hingga kertas tebal itu berbunyi gemeretak di tangannya. Dengan kehati-hatian luar biasa, Sasa membuka segel amplop tua yang sudah rapuh tersebut. Di dalamnya terdapat dua lembar kertas kain tebal berisi goresan tinta hitam yang sama indahnya. Sasa mendekatkan kertas itu ke dadanya sejenak, memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya, sebelum akhirnya mulai membaca baris demi baris tulisan tangan ibu kandungnya dari masa lalu. [Anakku tersayang, bunga kecilku... ][ Saat kamu membaca lembaran kertas ini, ibu mungkin sudah tidak lagi berada di sisimu untuk memelukmu, m
Setelah iring-iringan mobil Javendra berlalu, suasana di sekitar mansion kembali tenang. Udara pagi yang sejuk bertiup di antara dahan-dahan pohon pelindung yang berjejer rapi di halaman samping. Sasa melangkah pelan menyusuri jalan setapak berhiaskan batu alam yang menghubungkan mansion utama dengan bangunan paviliun. Rumah paviliun itu berarsitektur Jawa-modern dengan dominasi kayu jati yang kokoh. Tempat itulah yang selama bertahun-tahun menjadi kediaman nyaman bagi Ibu Andini, sosok wanita tangguh yang telah merawat dan membesarkan Sasa dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandung sendiri. Sasa mendorong pintu kayu paviliun yang tidak terkunci. Bau khas kayu dan keheningan langsung menyambut kedatangannya. Meski ditinggal kosong, tempat itu tetap bersih karena pelayan rutin mengelap debu di ruang tamu. Namun, kamar pribadi Bu Andini sendiri memang sengaja dikunci atas perintah Sasa demi menjaga privasi sang ibu. Sasa mengeluarkan kunci kuningan dari saku celananya, lalu me
Sasa tidak bisa menahan senyumnya melihat tingkah manja suaminya yang sangat bertolak belakang dengan reputasi sang pengusaha dingin di dunia bisnis. Namun sebagai seorang istri, Sasa tahu betul mana batas memanjakan dan mana tanggung jawab yang harus ditunaikan. Sasa mengubah posisinya menjadi duduk di atas tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi dadanya. Ia menunduk menatap Javendra yang masih berbaring telentang seraya menatapnya dengan pandangan merajuk. "Tanggung jawab itu nomor satu, Mas," kata Sasa lembut namun tegas. "Aku bangga punya suami yang pekerja keras dan bertanggung jawab. Kalau Mas bolos kerja tanpa alasan yang jelas, nanti staf kantor bilang apa? Kasihan Mas Bram harus menanggung semuanya sendirian." Javendra menghela napas panjang, lalu ikut mendudukkan tubuhnya di samping Sasa. Kemeja kaos abu-abunya sedikit terangkat, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang atletis. "Kamu ini kenapa cerdik sekali membalas perkataan aku?" gumam Javendra seraya mencubit p
Sinar matahari pagi merayap perlahan melintasi lantai kamar utama Kediaman Maheswara, membiaskan cahaya keemasan yang lembut di atas sprei putih yang masih sedikit teracak. Udara dingin dari pendingin ruangan berpadu hangat dengan selimut tebal yang membungkus dua insan di atas tempat tidur berukuran super king itu. Sasa perlahan membuka matanya. Bulu matanya yang lentik bergetar halus saat rasa hangat menyapa kulit wajahnya. Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah dada bidang Javendra yang terbalut kaos polos berwarna abu-abu gelap. Lingkaran lengan kokoh suaminya masih terikat erat di pinggangnya, mengunci tubuh Sasa begitu rapat tanpa menyisakan jarak sedikit pun. Sasa mengulas senyum tipis. Ia mendongak pelan, memperhatikan raut wajah Javendra yang sedang tertidur lelap. Tanpa bayang-bayang ketegangan, tanpa kerutan cemas yang biasanya menghiasi dahinya saat memikirkan pekerjaan atau ancaman musuh, wajah Javendra saat tidur terlihat begitu damai dan tampan. Hidun
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi







