Inicio / Horor / Pelet Kopi Darah Haid / Bab 17. Perang Part 2

Compartir

Bab 17. Perang Part 2

Autor: RKamila
last update Fecha de publicación: 2026-04-25 11:41:28

Setelah lama ia berdiam diri, akhirnya ibunda Sumi dengan wajah yang kini berubah marah. Ia menyatakan perang, ia menyerang bagian dada si Mbah dengan tangannya.

Untung saja si Mbah dengan sigap mengelak.

" Rupanya kamu tidak pernah berubah, kali ini aku tak akan lemah dengan mu!" kata si Mbah dalam hati.

Para khodam pendamping milik ibunda Sumi, ikut mengaum menyerang si Mbah dengan brutal.

Namun sayang, si Mbah dengan sigap memutarkan tasbih di tangannya, dengan mulut yang melafazkan nama A
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 54. Benang Terakhir

    Naya jatuh terduduk, jarum bening di tangannya kini punya garis kesembilan. Garis berwarna merah muda. Rumput bening di halaman berdiri lagi dengan tegak, Naya tersenyum rasanya lelah sekali. “Kak, ternyata menjahit orang jahat juga bagian dari menjaga ya?” Angin menjawab dengan desiran pelan, malamnya ia menulis di buku kecilnya. “Hari ini benang kesembilan, Sophia bukan dijahit tapi sengaja dipulangkan, ternyata ada orang yang benangnya kusut karena tidak pernah diberi rumah dan tugasku memberi jalan pulang,”Naya menutup buku, di luar saung Tio datang lagi kali ini bersama Sophia. Ia sedang membawa benang putihnya sendiri, bahkan sudah tidak kusut lagi. “Latihan,” katanya sambil tersenyum malu. Naya mengangguk, kini Desanya semakin tenang. Karena sekarang, bahkan benang yang paling kusut pun punya kesempatan untuk pulang. Naya mengerti satu hal lagi, kak umi memilih kosong agar orang lain bisa bebas. Naya memilih menjaga agar orang lain bisa pulang, dua sisi dari benang yang

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 53. Benang yang Kembali dari Kota

    Tiga malam setelah Tio berhasil dirapikan, rumput bening di halaman Naya telah berubah menjadi layu. Bukan mati hanya menunduk, semua helainya mengarah ke timur. Ke arah kota. Naya duduk di depannya dengan hati yang cemas dan gelisah, jarum bening ia letakkan di pangkuannya. Garis pelangi di jarum itu kini sudah menjadi delapan. “Kak Sumi,” bisiknya. “Ada yang tidak beres?”Rumput itu bergetar sekali dengan keras, angin malam itu datang dengan membawa bau. Bau parfum yang mahal, Naya menebaknya itu datang dari kota. Namun bau itu tidak seharusnya ada di desa mereka. Pagi harinya, ada seorang kurir yang datang ke saungnya. Ia tampak membawa kotak kardus, tidak ada nama pengirim yang ada hanya alamat Naya, itupun ditulis dengan spidol hitam. “Dari kota,” kata kurir. “Katanya penting!”Naya membuka kotak itu di luar saung, tidak di dalam karena takut akan terjadi apa-apa. Di dalamnya ada bungkusan kain sutra berwarna merah. Saat kain itu dibuka, Naya mundur dengan terkejut. “Ben

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 52. Naya Menjadi Dukun Baru di Desa

    Berita menyebar dengan sangat cepat, karena anak Mbak Lurah bisa berbicara lagi. Bahkan Mbak Lurah merekomendasikannya, pada orang-orang kota dan juga desa sebrang. Malam itu juga Dimas makan hingga habis dua piring, membuat ibunya merasa sangat senang. Karena Naya yang masih kecil sudah bisa menyembuhkan orang. Desas-desus warga terdengar di telinga Naya, rumah bekas Pak Wira, atapnya roboh dengan sendirinya di keesokan paginya. Orang-orang desa mulai menyebut saung itu “Saung Benang”. Bahkan mereka juga ikut menjaga tempat itu, juga menjaga Naya. Hari berikutnya datanglah Pak Karso, seorang petani tua. Benangnya berwarna kuning, Naya melihatnya karena ia berhutang pada tengkulak. Bahkan benang itu menjadi sangat kusut, membuatnya seakan menarik perutnya tiap malam. Naya berhasil meluruskannya kembali. Lalu datang Mbak Yuni, seorang janda muda yang cantik menawan. Benangnya berwarna merah, benang itu ditarik mantan suaminya dari kota. Membuat hidup Mbak Yani terasa kosong dan

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 51. Jahitan Pertama Naya

    Di malam Jumat Kliwon, Naya selalu duduk di depan rumput bening itu. Ia bercerita tentang desa dan tentang orang, rumput itu selalu bergetar sebagai jawaban. Karena Naya sangat yakin bahwa Kak Sumi tidak benar-benar pergi, bagi Naya kak Sumi menjadi langit dan angin. Menjadi benang bening yang sekarang ada di tangan Naya. Selama ada satu orang yang memilih untuk menjaga, bukan mengikat maka desa tidak akan pernah punya rantai lagi. Naya kini sudah mendirikan Saung yang berdiri di pematang, menghadap sawah dindingnya terbuat dari bambu. Atapnya ijuk dan di dalamnya hanya ada tikar, kendi air, dan satu kotak kayu kecil. Di dalam kotak itu tersimpan dengan baik jarum bening pemberian Sumi, belum pernah ia pakai. Tiga minggu sejak Pak Wira diusir, orang mulai datang kesana. Bukan karena sakit, bukan pula karena kerasukan tapi karena benangnya terasa salah.Mereka berkata bahwa dadanya sesak saat melewati rumah seseorang, jari mereka gatal saat memegang uang dari orang tertentu. Bahk

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 50. Penjaga Baru

    Naya tidak menjawab. “Aku tahu kamu bisa melihat benang, makanya aku datang karena desa ini kosong sekarang dan tempat kosong, harus diisi!”Ia menunjuk koper. “Ini warisan, sama seperti buku kulit kambing milik Buyutnya Sumi hanya berbeda bentuk!”“Ka– kkamu mau mengikat kami lagi?” tanya Naya, suaranya kecil tapi jelas. Pak Wira tertawa. “Mengikat itu kata kasar, aku hanya mau menata, manusia tanpa ikatan itu akan kacau,” Naya mengangkat boneka kainnya. “Benangku tidak akan bisa kamu sentuh!”Benang bening itu melesat, menusuk koper. Koper itu berteriak bukan suara manusia, tapi suara rantai. Pak Wira terkejut, ia meraih kopernya tapi sudah terlambat. Benang bening itu membelah koper, gulungan benang di dalamnya perlahan berhamburan. Saat benang merah darah itu menyentuh lantai, tanah mulai bergetar. Dari retakan sumur tua, asap hitam itu keluar lagi. “Tidak!” Pak Wira menjerit. “Itu Rantai Iblis! Kamu membebaskannya!” Naya mundur. “Kamu yang membawanya!”Asap itu berkumpul,

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 49. Sumi Dayang Desa

    Dari dadanya keluar benang merah, tipis, kuat dan bebas. Ia menatap ke arah sumur yang sudah rata dengan tanah. “Terima kasih, Kak Sumi,” bisiknya. Angin seakan datang membawa jawaban, bukan sepatah kata tapi hanya suara desir. Seperti seseorang mengangguk dari jauh. Di tempat Sumi berdiri terakhir kali, tumbuh satu helai rumput hitam satu-satunya. Naya memetiknya, lalu ia lilitkan di pergelangan tangannya. Bukan untuk mengikat, tapi ini ia anggap untuk mengingat. Bahwa pernah ada seseorang yang memilih kosong, agar orang lain bisa bebas. Naya akhirnya tahu bahwa rantai yang paling berat bukanlah dari besi, tapi dari harapan untuk dicintai dan mencintai. Bahwa kadang, kemenangan sejati adalah saat kamu bisa melepaskan semuanya, termasuk dirimu sendiri. Tiga hari setelah Sumi menghilang, desa berubah dalam sekejap mata. Tidak ada lagi orang yang tiba-tiba sakit tanpa sebab.Tidak ada anak yang menangis tengah malam karena dicekik sesuatu yang tak terlihat, tidak ada lagi yang me

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 4. efek dari pelet

    Sophia berjalan masuk ke dalam toilet, yang bersebelahan dengan toilet yang di masuki Sumi.Sumi kembali melakukan aksi gilanya tersebut, ia membuka celana dan memasukkan darah segarnya ke dalam segelas kopi.Tak lupa untuk membaca jampi jampi menggunakan nama sang kekasih.Bau darah yang ia buka m

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 3. wanita penggoda

    Kini sesi pemotretan sedang fokus kepada Sophia dan Tio. Sumi yang terbakar api cemburu tersebut, masih bisa mengendalikan dirinya agar tidak melakukan hal bodoh.Disana terlihat sekali tangan Sophia yang sudah berani mencolek salah satu dada bidang laki-laki tampan itu.Tak sesekali juga Sumi meli

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 2. rintangan yang begitu mudah

    Perayaan semalam membuat hati Sumi begitu berbunga-bunga, hingga ia terlalu bersemangat untuk menjalani hari seperti biasa. Tidak pernah sepi job bahkan di waktu hari besar dan weekend, jasa Sumi dan tim selalu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemesan yang sudah pernah di potret oleh tim Su

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 1. Perasaan yang Sedang Berbunga-bunga

    Banyaknya debu di sekitar kota itu, tidak membuat hati Sumi kesal ataupun bermalas-malasan. Untuk keluar bekerja, tidak seperti hari-hari sebelumnya, yang hanya bermodalkan nekad untuk bekerja mencari uang. Padahal didalam hatinya ia malas untuk bekerja di luar ruangan. Pasalnya Sumi, yang setiap h

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status