Se connecter"Mengapa Ara tidak pulang bersamamu?"
Kalimat itu menjadi hal pertama yang Vance lontarkan saat melihat Anthony melewati pagar halaman. Beberapa saat lalu, dia sempat melihat sang tuan rumah pergi terburu-buru. Vance mengira pria itu akan menjemput Ara. Namun, Anthony kembali sendirian.Tanpa menunggu lebih lama, Vance berubah ke wujud manusianya dan menghadang langkah iblis tak bersayap yang hendak masuk ke dalam rumah."Ada perasaan gelisah dan takut yang kurasaka"Bunuh aku, Juslandier."Setelah semua ini, Juslandier Bloodfallen berharap dirinya tidak pernah belajar bagaimana rasanya mencintai seseorang.Dunia seakan berhenti.Inikah maksud perkataan Araphael hari itu?Inikah 'nanti' yang selama ini ditunggu oleh sang malaikat?Inikah janji yang harus dia tepati?"Maaf." Juslandier tidak bisa bernapas, suaranya terdengar begitu lirih. Dia kembali memeluk Araphael. Dan kali ini, Araphael tidak membalas pelukannya. Juslandier mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menembus telapak hingga darah mengalir.Dia menyadari bahwa menyalahkan dirinya sendiri tidak akan mengubah apa pun. Dia tidak bisa memutar waktu, apalagi mengubah takdir. Dia tidak bisa kembali ke hari ketika dia pertama kali mencium aroma manis milik Araphael. Karena sejak hari itu, takdir mereka telah ditulis.Mereka memilih jalan ini. Mereka memilih untuk saling mencintai. Inilah takdir yang dirinya maupun Araphael ambil. Inila
"Ini perintah."Suara itu kembali menggema di dalam kepalanya, udara di sekitar Juslandier terasa membeku."Juslandier Bloodfallen, bunuh dia."Tubuhnya bergetar. Nama itu terdengar seperti vonis, layaknya takdir yang tidak bisa dia hindari. Dan dua kata selanjutnya menghentikan jantung Juslandier selama sepersekian detik. Dia lekas menutup kedua telinganya kuat-kuat."Tidak. Tidak ...." Dia menggeleng. Air mata mulai memenuhi kedua matanya. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. "Tidak!"Namun, suara itu tidak hilang. Ia terus memantul, menghantam kesadarannya."Penggal kepalanya."Untuk sesaat, Juslandier berharap dia bukan putra Raja Abyss, karena dia menyadari bahwa ada perintah yang tidak mampu dia patuhi."SEKARANG.""TIDAK!"Teriakan itu keluar begitu saja. Juslandier lagi-lagi menggeleng seraya menutup telinganya rapat-rapat. Lalu, suara yang begitu dia kenali menyapa gendang telinganya."
"Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dalam pikiran karena mereka tidak
"Ini kekalahanmu, Juslandier."Makhluk setengah malaikat dan setengah iblis itu bergeming. Dia terlentang di atas tanah yang basah oleh darah dan hujan, tampak seperti seseorang yang telah kehilangan alasan untuk bangkit.Pedang masih mengarah ke tubuhnya. Ratusan pasang mata memandangnya. Para malaikat dan para iblis, musuh maupun kawan, tetapi Juslandier Bloodfallen tidak memedulikan satu pun dari mereka.Dia bahkan tidak peduli saat dipermalukan di depan seluruh pasukan, dan tidak peduli jika hari ini namanya tercatat sebagai pihak yang kalah. Dan mungkin, kematian sedang berdiri tepat di hadapannya.Rasa sakit berlomba-lomba mengekang tubuhnya, meresapi setiap siksaan yang melanda ketika darah di dadanya mengucur makin deras."JUSLANDIER!"Suara Mikhail menggema, penuh kemarahan dan frustrasi."Bangun, Bodoh!"Juslandier mendengar suara Mikhail, menyuruhnya untuk berhenti berpura-pura seperti seorang pengecut da
Juslandier terbahak.Pemilik rambut jelaga itu tertawa lepas. Tawanya menggema di tengah hujan dan dentang senjata ketika anak panahnya berhasil menembus sayap kiri Jivael. Pemandangan itu terasa begitu memuaskan.Darah merah mengalir di antara bulu-bulu putih gading yang selama ini tampak sempurna. Warna suci itu ternoda dalam sekejap, menciptakan kontras yang membuat senyum Juslandier semakin lebar.Dia bisa membayangkan rasa sakitnya. Terlebih ketika Jivael memejamkan mata selama beberapa detik, berusaha menahan nyeri yang menjalar dari luka tersebut.Sangat lucu.Malaikat yang selama ini selalu terlihat tenang kini menatapnya dengan kemarahan yang nyaris tak disembunyikan. Petir menyambar langit, kilatan putih menerangi wajah Jivael yang muram. Dan pemandangan itu membuat Juslandier merasa jauh lebih hidup.Atau mungkin, jauh lebih mati rasa.Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali melesat ke udara. Sayap hitamnya membentang lebar,
"Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dal
"Kenapa Ara tidak mengingat apa pun tentangku?"Pertanyaan itu langsung meluncur begitu Anthony menapaki anak tangga terakhir. Vance bahkan tidak memberinya waktu untuk bernapas.Anthony menghentikan langkahnya, kedua tangannya masih terbenam di dalam saku celana. Sesaat kemudian, d
Sensasi hangat yang menyapu wajahnya membuat Ara menggeliat kecil di atas sofa. Perlahan kesadarannya kembali. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar di ruang tengah, mengusir sisa-sisa dingin malam yang masih tertinggal.Ara mengangkat tangan kirinya. Menatap jemari yan
"Seharusnya kau berada di sampingnya saat dia terbangun."Suara Yuuscar memecah keheningan ruangan.Anthony yang sedari tadi berdiri di depan jendela hanya menghela napas pelan. Kedua lengannya masih terlipat di depan dada, sementara pandangannya tertuju pada langit malam di luar sa
"Lily ... apa kau melihat sesuatu yang aneh dariku?"Lily memiringkan kepala kebingungan, dan saat itulah jantung Ara perlahan berdegup tak biasa karena dia akhirnya memahami sesuatu.Lily tidak melihatnya.Dia tidak dapat melihat sayap yang kini melekat di punggungnya.







