Teilen

61 - Kakak ....

last update Veröffentlichungsdatum: 04.05.2026 19:05:02

"Kau milikku. Sekarang. Dan akan selalu begitu seterusnya."

"Hentikan omong kosongmu. Dia sudah memilih." Dalam sekejap, Jattandier menarik Ara ke sisinya, lebih kasar dari yang Anthony lakukan sebelumnya, tanpa memberikan waktu untuk menolak. Rahangnya mengeras saat menatap saudaranya, kesabaran yang tersisa nyaris habis. "Dia ikut denganku."

"Kau tidak bisa melakukan itu!"

Jattandier menepis tangan Anthony yang hendak menarik Ara "Jauhkan tanganmu dari Pengantinku
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Sang Pelindung Terakhir    62 - Apa Pun Itu

    "Mengapa Ara tidak pulang bersamamu?"Kalimat itu menjadi hal pertama yang Vance lontarkan saat melihat Anthony melewati pagar halaman. Beberapa saat lalu, dia sempat melihat sang tuan rumah pergi terburu-buru. Vance mengira pria itu akan menjemput Ara. Namun, Anthony kembali sendirian.Tanpa menunggu lebih lama, Vance berubah ke wujud manusianya dan menghadang langkah iblis tak bersayap yang hendak masuk ke dalam rumah."Ada perasaan gelisah dan takut yang kurasakan. Dan aku yakin … itu bukan perasaanku." Vance menatapnya lekat. Jika saja yang berdiri di hadapannya bukan makhluk dengan aura mengerikan seperti ini, mungkin dia sudah menarik kerah pria itu dan memaksanya bicara.Namun, hari ini berbeda. Aura Anthony lebih berat dari biasanya. Lebih gelap. Sorot matanya seperti sesuatu yang siap menghancurkan siapa pun yang berani menyulutnya."Suasana hatiku sedang buruk. Menyingkir." Sepasang mata mightblack itu bergulir tajam ke arah Van

  • Sang Pelindung Terakhir    61 - Kakak ....

    "Kau milikku. Sekarang. Dan akan selalu begitu seterusnya.""Hentikan omong kosongmu. Dia sudah memilih." Dalam sekejap, Jattandier menarik Ara ke sisinya, lebih kasar dari yang Anthony lakukan sebelumnya, tanpa memberikan waktu untuk menolak. Rahangnya mengeras saat menatap saudaranya, kesabaran yang tersisa nyaris habis. "Dia ikut denganku.""Kau tidak bisa melakukan itu!"Jattandier menepis tangan Anthony yang hendak menarik Ara "Jauhkan tanganmu dari Pengantinku!""JATTANDIER!"Gelegar suara yang Anthony keluarkan memicu api hitam timbul di sekitar tubuhnya, sama halnya dengan Jattandier hingga tak sengaja membuat Ara terhempas akibat tekanan udara yang terjadi di antara kedua saudara tersebut.Anthony dan Jattandier yang melihat Ara melayang dan hendak jatuh ke sungai refleks berlari demi menyelamatkan, tetapi sebelum itu terjadi, waktu seketika terhenti bersamaan dengan datangnya cahaya putih menyilaukan dari arah selatan.

  • Sang Pelindung Terakhir    60 - Kau Milikku

    "Sesuai permintaanmu, Pengantinku."Air mata kembali jatuh di pipi Ara. Dia sudah tidak peduli lagi.Sama seperti saat pertama kali dirinya dimasukkan ke dalam kurungan sebagai manusia yang diperjualbelikan. Siapa pun itu, ke mana pun dia dibawa, Ara hanya menginginkan satu hal sederhana. Yaitu, tempat untuk pulang. Namun, kini itu saja tidak lagi cukup.Apa yang dia rasakan selama berada di kediaman Wallenstein telah mengubah segalanya. Dia tidak hanya ingin pulang ke tempat yang menerimanya, Ara ingin bahagia.Jika iblis yang kini merengkuhnya—dengan sayap hitam yang menyelimuti tubuhnya—benar-benar bisa memberinya kebahagiaan itu, maka biarlah. Meski harus hancur, bahkan jika harus kekal di neraka, dia rela."Jika kau ingin aman, tetap di dekatku."Suara itu mengalun rendah di telinganya.Ara teringat rasa sakit yang mencabik tubuhnya saat pertama kali tersadar di tempat asing—tempat yang dia yakini sebagai

  • Sang Pelindung Terakhir    59 - Negosiasi Yang Berbahaya

    Ara merasa setiap inci tubuhnya bergetar hebat. Suara bising yang sebelumnya menghantam pendengarannya, disusul cahaya menyilaukan yang menelan segalanya dalam gelap. Kalau saja detak jantungnya tidak berdentum liar, bergema sampai ke telinganya sendiri, Ara mengira dirinya telah mati.Perlahan, Ara membuka matanya.Pandangan pertama yang tertangkap adalah sosok seseorang dengan lengan yang memeluknya erat. Sorot matanya tajam, menelanjangi, dipenuhi sesuatu yang membuat napas Ara tercekat.Keinginan.Di detik itu juga, kesadaran menghantamnya. Ara tahu siapa, atau lebih tepatnya, apa yang sedang memeluknya. Refleks, dia mendorong tubuh pria itu dan menjauh, melangkah mundur beberapa kali sambil terhuyung, sebelum akhirnya Ara mengedarkan pandangannya ke sekeliling.Jalan raya. Lampu kendaraan. Trotoar. Dan sekarang, dirinya berada di pinggir jalan. Dirinya masih hidup. Helaan napas lega hampir saja lolos, tetapi langsung tercekat di teng

  • Sang Pelindung Terakhir    58 - Meratap Seperti Orang Sinting

    Lonceng kecil yang tergantung di atas pintu berdenting nyaring ketika daun pintu terbuka.Seseorang yang berada di dalam ruangan itu seketika bangkit dari duduknya. Dia melongok dari balik pintu, lalu melambaikan tangan kepada seorang gadis yang baru saja tiba, memberi isyarat agar masuk ke ruangannya."Ini, bunga untuk Paman."Yuuscar mendengkus geli saat melihat Ara menyodorkan sebuket bunga kepadanya, tetapi tetap menerimanya. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang menyukai bunga?"Ara mengerjap, lalu mengusap tengkuknya dengan canggung. "Ah, maaf. Kalau Paman tidak suka, boleh dikembalikan. Akan kuberikan pada bibi di toko seberang."Tawa kecil lolos dari bibir Yuuscar. Dia meletakkan buket bunga itu di sudut meja kerjanya, lalu menyandarkan pinggul pada permukaan meja."Aku hanya bercanda," katanya sambil tersenyum. "Terima kasih, Ara. Akan kuberikan pada Selkie, dia pasti menyukainya," lanjutnya, kemudian dia memberi isya

  • Sang Pelindung Terakhir    57 - Anthony's POV

    Anthony J. Wallenstein berdiri dalam diam. Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat setiap adegan di hadapannya terlihat begitu jelas.Tangan Vance yang menahan tengkuk Ara, dan tubuh gadis itu yang membeku. Lalu, ciuman itu.Sepasang mightblack miliknya menatap lurus ke arah dua sosok di tengah taman, tanpa berkedip. Tak ada perubahan di wajahnya. Tak ada amarah yang meledak. Namun, udara di sekelilingnya perlahan terasa lebih berat.Tangan Anthony yang berada di sisi tubuhnya mengepal perlahan hingga buku-buku jarinya memucat.Sial.Seharusnya dia sudah menduga.Bukankah ini yang dia inginkan?Bukankah dia sendiri yang mendorong Ara menjauh darinya?Bukankah dia yang berkata bahwa perasaan itu hanyalah ketergantungan?Lalu mengapa dadanya terasa seperti diremas begitu kuat?Mengapa ada sesuatu yang terasa retak di dalam dirinya saat melihat bibir itu disentuh oran

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status