Beranda / Romansa / Sang Pelindung Terakhir / 64 - Hal Tak Terduga

Share

64 - Hal Tak Terduga

Penulis: Shiooki
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 20:47:33

“Tadi … apa yang kau katakan?” Suara Vance terdengar ragu, bahkan sedikit serak. Wajahnya masih menyisakan keterkejutan saat memandang Anthony yang duduk santai di kursinya, ditemani secangkir teh dan koran pagi yang terbuka lebar.

Dia yakin pendengarannya baik-baik saja. Namun, kata-kata Anthony barusan membuat telinganya berdenging.

Tunggu! Bukan itu masalahnya. Dirinya dan Ara terikat, perkataan yang dia dengar dengan Anthony akan menjadi ingatan, dan hal itu akan tersamp
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Pelindung Terakhir    65 - Krisis Yang Menerjang

    “Berhenti menggonggong, Anjing Bodoh. Gonggonganmu mengganggu para peri manisku.” Suara itu datang bersama cahaya kehijauan yang merembes dari celah batu besar. Vance—dalam wujud anjing hitam—segera menunduk. Bukan karena takut, melainkan refleks saat merasakan aura sosok tersebut menekan. Sebenarnya Vance tidak menggonggong. Dia berbicara seperti manusia, terus memohon tanpa henti di depan batu yang diyakininya sebagai gerbang menuju dunia peri. Sudah empat jam Vance melakukannya. Para Eariel sempat mengerubunginya, mengusirnya dengan nada sebal. Kata mereka , sang Raja sedang 'sibuk' dengan istrinya. Namun, Vance tidak peduli, dia tetap menunggu. Dan kini, yang ditunggu akhirnya muncul. Hope Nightray, Raja peri Tír na nÓg, melangkah keluar dari celah batu, rambutnya berantakan, tubuhnya setengah telanjang. Cahaya kunang-kunang memantulkan garis ototnya dengan jelas, tidak ada sedikit pun usaha untuknya terl

  • Sang Pelindung Terakhir    64 - Hal Tak Terduga

    “Tadi … apa yang kau katakan?” Suara Vance terdengar ragu, bahkan sedikit serak. Wajahnya masih menyisakan keterkejutan saat memandang Anthony yang duduk santai di kursinya, ditemani secangkir teh dan koran pagi yang terbuka lebar.Dia yakin pendengarannya baik-baik saja. Namun, kata-kata Anthony barusan membuat telinganya berdenging.Tunggu! Bukan itu masalahnya. Dirinya dan Ara terikat, perkataan yang dia dengar dengan Anthony akan menjadi ingatan, dan hal itu akan tersampaikan dengan baik kepada Ara. Wajah Vance memucat, bibirnya gemetar saat mengatakan, "T-tunggu—"“Sudah berapa kali kuingatkan," sahut Anthony datar tanpa mengangkat kepala. "Aku tidak suka mengulangi perkataanku. Dan kau tidak perlu khawatir, Ara tidak akan mengetahuinya.” Dia meraih cangkir teh miliknya, menyesapnya perlahan, lalu melirik Vance yang berdiri kaku dengan wajah penuh protes sekaligus lega.Anthony mendengkus pelan setelah menyimpan kembali cangkirnya. Vance sepe

  • Sang Pelindung Terakhir    63 - Bukan Manusia Biasa

    "Lalu, bagaimana denganmu? Kau juga tidak setara dengannya, bukan?""Benar. Untuk itu, apa pun akan kulakukan, agar kami berdiri di tempat yang setara," ujar Anthony tenang, tetapi sorot matanya terlihat tajam.“Kau begitu misterius, Juslandier. Dan lagi, aku belum pernah melihat iblis seputus asa ini seperti dirimu.”Alis Anthony langsung menukik tajam. Dia tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Vance.Apa keputusasaan itu terlihat sejauh ini? Padahal dia selalu menyembunyikannya.Sejak kehilangan orang terkasih, Anthony memang hidup dalam bayang-bayang putus asa. Kecemasan menggerogoti tiap detik yang dia jalani selama ratusan tahun. Namun, dia tidak pernah membiarkannya mengambil alih, sebab itu akan membuatnya lemah.Dia terus berdiri. Berjuang sendirian demi mengangkat kutukan yang diberikan pada kekasihnya. Anthony melakukannya tanpa mengeluh sedikit pun.“Bagaimana kalau begini …,” ujar Vance tiba-tiba. Sat

  • Sang Pelindung Terakhir    62 - Apa Pun Itu

    "Mengapa Ara tidak pulang bersamamu?"Kalimat itu menjadi hal pertama yang Vance lontarkan saat melihat Anthony melewati pagar halaman. Beberapa saat lalu, dia sempat melihat sang tuan rumah pergi terburu-buru. Vance mengira pria itu akan menjemput Ara. Namun, Anthony kembali sendirian.Tanpa menunggu lebih lama, Vance berubah ke wujud manusianya dan menghadang langkah iblis tak bersayap yang hendak masuk ke dalam rumah."Ada perasaan gelisah dan takut yang kurasakan. Dan aku yakin … itu bukan perasaanku." Vance menatapnya lekat. Jika saja yang berdiri di hadapannya bukan makhluk dengan aura mengerikan seperti ini, mungkin dia sudah menarik kerah pria itu dan memaksanya bicara.Namun, hari ini berbeda. Aura Anthony lebih berat dari biasanya. Lebih gelap. Sorot matanya seperti sesuatu yang siap menghancurkan siapa pun yang berani menyulutnya."Suasana hatiku sedang buruk. Menyingkir." Sepasang mata mightblack itu bergulir tajam ke arah Van

  • Sang Pelindung Terakhir    61 - Kakak ....

    "Kau milikku. Sekarang. Dan akan selalu begitu seterusnya.""Hentikan omong kosongmu. Dia sudah memilih." Dalam sekejap, Jattandier menarik Ara ke sisinya, lebih kasar dari yang Anthony lakukan sebelumnya, tanpa memberikan waktu untuk menolak. Rahangnya mengeras saat menatap saudaranya, kesabaran yang tersisa nyaris habis. "Dia ikut denganku.""Kau tidak bisa melakukan itu!"Jattandier menepis tangan Anthony yang hendak menarik Ara "Jauhkan tanganmu dari Pengantinku!""JATTANDIER!"Gelegar suara yang Anthony keluarkan memicu api hitam timbul di sekitar tubuhnya, sama halnya dengan Jattandier hingga tak sengaja membuat Ara terhempas akibat tekanan udara yang terjadi di antara kedua saudara tersebut.Anthony dan Jattandier yang melihat Ara melayang dan hendak jatuh ke sungai refleks berlari demi menyelamatkan, tetapi sebelum itu terjadi, waktu seketika terhenti bersamaan dengan datangnya cahaya putih menyilaukan dari arah selatan.

  • Sang Pelindung Terakhir    60 - Kau Milikku

    "Sesuai permintaanmu, Pengantinku."Air mata kembali jatuh di pipi Ara. Dia sudah tidak peduli lagi.Sama seperti saat pertama kali dirinya dimasukkan ke dalam kurungan sebagai manusia yang diperjualbelikan. Siapa pun itu, ke mana pun dia dibawa, Ara hanya menginginkan satu hal sederhana. Yaitu, tempat untuk pulang. Namun, kini itu saja tidak lagi cukup.Apa yang dia rasakan selama berada di kediaman Wallenstein telah mengubah segalanya. Dia tidak hanya ingin pulang ke tempat yang menerimanya, Ara ingin bahagia.Jika iblis yang kini merengkuhnya—dengan sayap hitam yang menyelimuti tubuhnya—benar-benar bisa memberinya kebahagiaan itu, maka biarlah. Meski harus hancur, bahkan jika harus kekal di neraka, dia rela."Jika kau ingin aman, tetap di dekatku."Suara itu mengalun rendah di telinganya.Ara teringat rasa sakit yang mencabik tubuhnya saat pertama kali tersadar di tempat asing—tempat yang dia yakini sebagai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status