LOGINSetelah mendengar ucapan ambigu dari Sigan tadi, Nirmala berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kakak iparnya itu.
Nirmala bahkan lebih memilih menyibukkan diri di dapur terus daripada melihat Sigan yang kini duduk di ruang tamu sambil memegang laptopnya. "Nirmala, kamu cuci mobilnya Sigan, ya. Besok mau dia pakai kerja," tukas Bu Retno pada Nirmala, membuat menantunya itu terlonjak kaget karena sebelumnya sempat melamun. "Iya, Ma," balas Nirmala cepat-cepat sambil pura-pura memotong sayuran untuk dia masak nanti sore. Padahal semua pekerjaannya sudah selesai, tapi Nirmala masih enggan untuk duduk bersantai di ruang tamu bersama kakak iparnya. "Kalau bisa sekarang. Soalnya nanti Mama bakal nyuruh kamu buat ambilin pesanan Mama di butik yang biasanya," ucap Bu Retno yang dibalas anggukan mengerti oleh Nirmala. "Baik, Ma." Setelah menyanggupinya, Nirmala mengerjakan perintah dari ibu mertuanya untuk mencuci mobil Sigan. Nirmala sempat merasakan tatapan Sigan mengikutinya ketika dia berderap ke halaman depan sambil membawa kain lap dan sabun khusus untuk mobil. Dia berusaha untuk tetap berjalan ke halaman depan tanpa memedulikan tatapan kakak iparnya tersebut. Namun, begitu Nirmala melihat mobil mewah milik Sigan yang terparkir rapi di halaman depan rumah, dia menelan ludahnya dengan susah payah. Mobil ini harganya puluhan miliar. Nirmala takut membuat body mobil mewah itu beret saat mencucinya nanti. Kalau sampai tergores sedikit saja, Nirmala tidak punya uang untuk membayar biaya perbaikannya. "Apa aku bilang ke Mama aja, ya?" gumam Nirmala yang bimbang. Dia lalu berbalik untuk memberitahu ibu mertuanya kalau dia tidak berani mencuci mobil mewah milik Sigan. Tapi, langkah kaki Nirmala mendadak berhenti saat mendengar ibu mertuanya sedang berdebat dengan Sigan. "Kenapa Mama nyuruh Nirmala yang mencuci mobilku? Kenapa tidak pembantu Mama yang bernama Maya itu?" tanya Sigan yang terdengar gusar. Baru kali ini Nirmala mendengar suara kakak iparnya itu menyimpan kekesalan yang kental. "Udah kewajibannya membantu Maya, Sigan. Dia memang menantu Mama, tapi karena dia tidak segera hamil jadi Mama nyuruh aja dia. Biar dia berguna sedikit di rumah ini," balas Bu Retno dengan enteng. Dia membelakangi Nirmala sehingga dia tidak tahu jika ucapannya bisa didengar oleh menantunya itu. Nirmala merasakan hatinya pedih mendengar ibu mertuanya berbicara tentang dirinya. Dia sampai tidak bisa memberikan reaksi apa pun selain matanya yang mulai berkaca-kaca. Tatapan Nirmala kemudian tidak sengaja beradu pandangan dengan Sigan. Namun, Nirmala buru-buru mengalihkannya, dan dengan cepat-cepat kembali ke halaman depan untuk mencuci mobil Sigan. Ibu mertuanya itu bahkan tidak mau memedulikan bagaimana perasaan Nirmala yang dia perlakukan seperti pembantu di rumahnya, padahal Nirmala menantunya. Apalagi kalau Nirmala meminta ibunya itu untuk menyuruh Maya saja yang mencuci mobil Sigan. Sudah pasti, ibu mertuanya akan lebih menyalahkan Nirmala. Tahu jika hal itu percuma saja, Nirmala akhirnya memilih mencuci saja mobil Sigan itu sendiri. Dia akan melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati sehingga tidak menggores body mobil mahal tersebut. Sudah tiga puluh menit lebih Nirmala mencuci mobil Sigan. Dia menarik napas lega saat sudah selesai mengelap mobil kakak iparnya itu. Mobil mewah milik Sigan tampak berkilau setelah Nirmala mencucinya. "Syukurlah, akhirnya selesai juga," ucap Nirmala merasa lega. Selepas ini dia akan mengistirahatkan tubuhnya sebelum nanti sore dia akan memasak dan melakukan pekerjaan lainnya. Nirmala yang tadi begitu fokus mencuci mobil Sigan, baru tersadar sekarang jika pakaiannya sudah basah kuyup. Keran yang dia pakai terlalu keras menyala sehingga membuat baju Nirmala basah dan membuat bagian dalamnya sedikit terlihat. "Astaga bagaimana ini?" desis Nirmala mengutuki kecerobohannya sehingga bajunya basah seperti ini. Nirmala mendengus pelan. Bagaimana dia mau masuk ke dalam rumah dan melewati kakak iparnya dalam keadaan seperti ini? Bagaimana caranya dia masuk tanpa memancing perhatian Sigan? Rasanya Nirmala ingin berteriak saat ini juga. Tapi, belum juga Nirmala bisa melampiaskan kekesalan atas kecerobohannya, sebuah suara muncul dari belakang tubuhnya. "Sudah selesai?" "Apa?" balas Nirmala terkejut. Dia spontan memutar tubuhnya menghadap pria yang sudah berdiri menjulang di belakangnya. "Aku tanya apa sudah selesai?" ulang Sigan pada Nirmala. "Sudah, Mas." Nirmala buru-buru mempersilakan Sigan mendekati mobil pria itu. Dia lupa jika dia seharusnya menutupi tubuh bagian atasnya dari Sigan karena bagian sana basah dan tercetak cukup jelas dalaman yang dia kenakan. "Terima kasih. Lain kali biar aku saja yang mencucinya," tukas Sigan tersenyum pada Nirmala. Detik berikutnya, tatapan Sigan turun dari wajah Nirmala menuju dada wanita itu. Pandangannya berubah, tapi Nirmala tidak mengerti arti tatapan kakak iparnya tersebut. "Nirmala, ganti bajumu setelah ini. Jangan sampai masuk angin," papar Sigan yang kemudian membuka pintu mobilnya dan mengambil sesuatu dari sana. Nirmala mengernyitkan kening sesaat. Dan setelah berhasil mencerna ucapan Sigan, dia langsung menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya yang tersilang. Dia lalu berlari masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya sambil terus mengutuki dirinya yang sangat ceroboh dan bodoh. Sedang, Sigan yang sudah menutup kembali pintu mobilnya mengulas senyumnya. Di sebelah tangannya kini terdapat kuncir rambut milik Nirmala yang terlepas saat Sigan salah mengenali Nirmala sebagai jalang yang Indra sewakan untuk dirinya di malam kepulangannya ke Indonesia. Sigan beralih menatap kuncir itu dan mengulas senyum lebih lebar seraya bergeleng samar. *** Di dalam kamar, Nirmala menidurkan dirinya di atas kasur setelah mengganti pakaiannya tadi. Dia berulang kali melepaskan napasnya ke udara secara kasar. Hari ini dia gagal lagi berkonsultasi dengan dokter kandungan kenalan ibu mertuanya karena dokter tersebut tutup praktik lebih cepat setelah suami dokter itu meninggal. Nirmala mengubah posisinya ke samping. Baru sekarang dia mau tidur di kasur ini lagi setelah mengganti spreinya dengan yang baru. Meski, malamnya dia masih memilih tidur di ruang tamu daripada tidur dengan Indra. Nirmala merasa pernikahannya dengan Indra semakin dingin. Mungkinkah karena Nirmala belum juga memberikan anak? Atau Nirmala sebenarnya tidak pernah ada di hati suaminya itu sehingga suaminya itu lebih memilih Maya daripada Nirmala? Sepertinya poin kedua yang lebih masuk akal. Semenjak menikah dengan Indra, Nirmala tidak mengalami rasanya dicintai sama sekali. Hanya Nirmalalah yang mencintai Indra. Namun, perlahan Nirmala menyadari jika perasaannya pada Indra tidak sedalam dulu. Lebih tepatnya sejak mengetahui perselingkuhan suaminya itu, rasa kagum Nirmala pada Indra sudah hilang. Nirmala lalu memejamkan kedua matanya. Dia sudah memasak untuk menu makan malam. Tinggal dia hangatkan lagi nanti. Tanpa sadar Nirmala terlalu terlelap dalam tidurnya sehingga dia baru terbangun saat jam di dinding kamarnya menunjukkan angka lima sore. Nirmala langsung beranjak dari tempat tidur, dan segera bersiap di dapur untuk menghangatkan semua masakan yang dia simpan di kulkas sebelum didamprat ibu mertuanya. "Kamu yang masak semua ini?" Nirmala memejamkan kedua matanya sebentar menahan rasa geramnya. Baru saja berada di dapur, Sigan sudah muncul di sini. Rasanya begitu sulit menghindari kakak iparnya itu. "Iya, Mas," jawab Nirmala sekenanya. "Daripada kerja di rumah seperti ini, lebih baik kamu kerja saja di perusahaanku. Aku akan beri kamu gaji besar," tukas Sigan yang membuat Nirmala menatapnya dengan tidak mengerti. "Maksud, Mas?”“Perempuan sepertimu sia-sia saja kalau hanya bekerja di rumah.” Mata elang Sigan menjelajahi penampilan Nirmala dari atas sampai bawah. “Mungkin ada banyak hal yang bisa kamu kerjakan di kantorku.” Nirmala tercengung dalam sekian detik. Apalagi mendapati bibir Sigan yang kini membentuk sebuah senyuman yang tak dapat diartikan. “Jadilah sekretarisku. Hidupmu akan terjamin,” tambah pria itu. Helaan napas panjang timbul dari mulut Nirmala. Dia mengangguk mengerti. Tetapi, ada satu hal yang membuat kepalanya berputar lebih keras. "Aku pikir-pikir dulu ya, Mas," balas Nirmala pada tawaran yang Sigan berikan. Dia sebenarnya ingin kembali bekerja seperti dulu, namun dia tidak tahu apa dia diperbolehkan bekerja lagi atau tidak oleh Indra. Selain itu, Nirmala juga masih belum mengenal sifat asli kakak iparnya itu sehingga dia masih segan bekerja bersamanya. Jadi, Nirmala tidak langsung menolak ataupun menerima tawaran dari Sigan, dan memilih memikirkannya terlebih dulu. "Kenapa ragu? T
Setelah mendengar ucapan ambigu dari Sigan tadi, Nirmala berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kakak iparnya itu.Nirmala bahkan lebih memilih menyibukkan diri di dapur terus daripada melihat Sigan yang kini duduk di ruang tamu sambil memegang laptopnya."Nirmala, kamu cuci mobilnya Sigan, ya. Besok mau dia pakai kerja," tukas Bu Retno pada Nirmala, membuat menantunya itu terlonjak kaget karena sebelumnya sempat melamun."Iya, Ma," balas Nirmala cepat-cepat sambil pura-pura memotong sayuran untuk dia masak nanti sore. Padahal semua pekerjaannya sudah selesai, tapi Nirmala masih enggan untuk duduk bersantai di ruang tamu bersama kakak iparnya."Kalau bisa sekarang. Soalnya nanti Mama bakal nyuruh kamu buat ambilin pesanan Mama di butik yang biasanya," ucap Bu Retno yang dibalas anggukan mengerti oleh Nirmala."Baik, Ma."Setelah menyanggupinya, Nirmala mengerjakan perintah dari ibu mertuanya untuk mencuci mobil Sigan.Nirmala sempat merasakan tatapan Sigan mengikutinya ketika dia
"Bukan apa-apa, Mas Sigan. Aku cuma mau ngenalin Mas Sigan sama Nirmala, istriku," ucap Indra cepat-cepat.Nirmala sampai dibuat heran. Suaminya yang selalu angkuh dan arogan mendadak seperti menciut, tak ubahnya seekor semut di hadapan Sigan. "Oh." Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Sigan Bramantara. Pria berpostur tinggi tegap itu lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada Nirmala. Tatapannya menelisik dalam, membuat Nirmala refleks menundukkan kepala. Rasa ketakutan dan ingatan akan kejadian semalam membuat sekujur tubuhnya meremang.Nirmala meremas jemarinya, ingin cepat-cepat angkat kaki. Namun, Indra justru menyikutnya dan berbisik menekan."Kamu harus layani Mas Sigan selama dia di sini. Masak buat dia, cuci bajunya, siapkan semua kebutuhannya seperti kamu melayaniku," desis Indra persis di telinga Nirmala."Tapi, Mas..." Nirmala hendak menolak, tapi Indra langsung memberinya cubitan keras di lengannya hingga Nirmala meringis pelan. "Kalau kamu penurut, Mas Sigan bi
"Mbak Nirmala, masakin sate lilit, pakcoy saus tiram, udang asam manis, cumi pedas, sama ayam ungkep. Kalau udah buatin es buah pakai bahan-bahan ini," tukas Maya seraya melempar kantong belanjaan ke atas meja dapur. Setiap Bu Retno pergi bersama teman-teman sosialitanya, Maya selalu berlagak seperti nyonya rumah. Sejak menjadi selingkuhan Indra, sikapnya makin tidak tahu diri. "Loh, Mbak. Kok semuanya dikasihkan ke aku?" protes Nirmala tidak terima. Dia sudah membuatkan sarapan tadi. Dan sekarang dia harus memasak lagi sebanyak lima menu sekaligus. "Halah. Cuma itu doang. Aku mau istirahat sebentar. Toh, setelah ini aku bakal sibuk soalnya kakak kandung Pak Indra bakal pulang dari Amerika hari ini," balas Maya sembari mengibaskan tangan, dan langsung meninggalkan Nirmala sendirian di dapur. Tangan Nirmala mengepal, ingin rasanya ia menjambak rambut wanita itu. Namun belum sempat ia melangkah, sosok Indra muncul dari arah kamar utama dengan pakaian rapinya. "Mas ...." "Jan
"Mas Indra, tega sekali kamu!"Jeritan Nirmala meledak di ambang pintu. Dunianya runtuh saat matanya menyaksikan Indra, pria yang begitu ia cintai, tengah bergumul di atas ranjang mereka bersama Maya, pembantu mereka sendiri.Hati Nirmala rasanya seperti diremas hingga hancur. Sakit dan terhina.Amarah membutakan matanya. Nirmala melangkah lebar, merangsek masuk dan hendak melayangkan tangan sejadi-jadinya ke arah wajah Maya. Namun, belum sempat telapak tangannya menyentuh kulit wanita itu, Indra lebih dulu menyambar pergelangan tangannya. Suaminya mencengkeramnya begitu kasar hingga Nirmala meringis menahan sakit. "Mas, sakit...," rintih Nirmala. "Diam kamu! Jangan bilang siapa-siapa soal ini! Kalau kamu sampai bilang, aku bakal berhenti membayar biaya rumah sakit ibumu yang sekarat itu!" tandas Indra dengan tajam memberikan ancaman pada Nirmala. Nirmala langsung terdiam. Di saat yang sama, dia menangkap sebelah sudut bibir Maya terangkat membentuk sebuah senyuman sinis. Kalau







