MasukAlisia terlahir dari rahim Margaret, yang dulu merupakan salah satu pelayan di rumah keluarga Patel. Kecantikan dan keindahan tubuhnya membuat Ethan begitu tertarik.
Ethan memang meniduri Margaret secara paksa untuk pertama kalinya. Lelaki itu begitu menginginkan Margaret sehingga nekat menodai wanita itu. Tapi malam kedua dan malam-malam berikutnya dilakukan atas kemauan kedua belah pihak. Margaret yang sudah terlanjur basah, tidak menolak untuk menceburkan dirinya sekalian. Sehingga dari hubungan keduanya, Alisia bisa terlahir ke dunia ini dengan membawa sebutan sebagai putri tidak sah atau anak haram. Alisia mengingat kembali perbincangannya dengan sang ibu di suatu sore. "Ibu tau kalau Ibu salah, Sia. Tapi karena sudah terlanjur dinodai, Ibu coba saja untuk nikmati apa yang ditawarkan Papa sebagai ganti rugi atas apa yang sudah dia lakukan." Semua orang boleh memandangnya buruk karena menjadi simpanan. Tapi Margaret tidak ingin Alisia membenci dirinya. "Dan apa Ibu pikir itu adalah keputusan yang tepat dan membuat Ibu bahagia?" Margaret tersenyum sendu. "Ibu bahagia karena memiliki kamu." "Padahal Ibu punya pilihan untuk pergi dari sini dan mencari kehidupan yang lebih baik. Kenapa tidak melakukannya?" Margaret balik bertanya. "Apa kamu pikir akan ada kehidupan yang lebih baik menanti Ibu diluar sana? Padahal bagi Ibu, bisa bekerja di rumah ini saja sudah terasa luar biasa?" Margaret tidak mengetahui dari mana asal usulnya dan siapa keluarganya karena sejak kecil sudah berada di panti asuhan. Wanita itu dibuang didepan panti asuhan saat masih bayi. Setelah keluar dari sana karena usianya sudah dewasa, Margaret bekerja di banyak tempat sebelum berakhir di rumah ini sebagai seorang pelayan. "Ibu benar. Aku ingat Ibu pernah bercerita kalau saat diluar sana, kehidupan Ibu begitu keras. Ibu baru bisa makan dengan baik dan tidur nyenyak setelah bekerja di rumah ini." Cerita hidup ibunya sudah berulang kali Alisia dengar. Bahkan sejak dirinya masih kecil hingga sudah menjadi seorang remaja. "Apa kamu malu dengan status Ibu sebagai wanita simpanan Papa?" Alisia menggeleng. "Dibandingkan malu, aku merasa iba pada Ibu. Andai aku punya kesempatan dan kemampuan, aku akan bawa Ibu pergi dari sini. Ibu tau kan, kalau Papa tidak mencintai Ibu?" Dengan terang-terangan Alisia mempertanyakan hal yang berhubungan dengan perasaan. Seakan tidak peduli ibunya akan sakit hati atau tidak saat mendengar itu. "Tentu saja Ibu tau kalau Papa hanya menyukai tubuh Ibu. Karena sejak awal dia mengaku kalau tidur dengan Ibu lebih memuaskan baginya dibandingkan bersama istrinya. Nyonya Barbara tau itu sehingga tidak bisa mengusir Ibu keluar dari rumah ini." "Lalu bagaimana dengan perasaan Ibu sendiri? Apa Ibu mencintai Papa?" Penasaran dengan itu, Alisia pun bertanya tanpa ragu. "Baik dulu hingga sekarang, Ibu tidak pernah menaruh hati pada Ethan." "Itu hal melegakan. Karena Ibu akan semakin terluka kalau mencintainya. Dan Nyonya Barbara lebih tidak senang lagi karena berpikir Ibu ingin merebut posisinya." "Ibu sama sekali—uhuk...uhuk..." "Batuk Ibu semakin parah, bahkan sekarang mengeluarkan darah. Apa obat yang diberikan dokter tidak ampuh?" Alisia bertanya panik. Kondisi kesehatan ibunya akhir-akhir ini semakin memburuk. "Jangan cemas, Sia. Ibu baik-baik saja." "Apanya yang baik-baik saja? Bukan batuk biasa tapi sudah berdarah. Ibu harus kembali menemui dokter." Margaret mengusap tangan putrinya lembut. "Besok Ibu akan memanggil dokter untuk datang. Jadi jangan cemas. Mungkin karena tadi udara terasa begitu dingin saat Ibu duduk di taman." "Apa Nyonya Barbara kembali mengajak Ibu minum teh bersama?" tanya Alisia tidak senang. "Tolong jangan berpikiran buruk lagi, Sia. Dengan sikap Nyonya yang sedikit melunak, bukankah itu hal bagus untuk Ibu?" "Tapi Ibu lupa kalau Ibu menjadi seperti ini setelah menemani Nyonya minum teh untuk pertama kalinya. Dan semakin memburuk setiap kali menemaninya di taman. Wajar bukan kalau sikapnya yang berbeda dari biasanya membuatku curiga?" Tak lama setelah pembicaraan mereka sore itu, Margaret pun meninggal dunia. Kebencian Barbara kemudian berpindah pada Alisia sehingga kehidupan gadis muda itu berubah drastis. Mulai dari kamarnya dipindahkan ke dekat kamar pelayan. Alisia dilarang untuk bergabung dengan anggota keluarga saat makan bersama, kecuali saat dirinya diputuskan untuk menikah dengan Reed Kensington. Wajar saat itu Alisia begitu heran karena pelayan mengingatkannya untuk ikut makan malam bersama atas perintah Barbara. Karena wanita itu tidak akan membiarkan putrinya yang menjadi tawanan untuk keluarga Kensington. "Aku sangat berharap kalau kamu tidak pernah punya kesempatan untuk kembali ke rumah ini. Aku harap kamu mati dengan menyandang nama dari keluarga menjijikkan itu." Itu lah yang dikatakan Barbara setelah makan malam selesai dilaksanakan. "Berikan satu hal saja untuk saya saat hari pernikahan nanti." Barbara menatap Alisia sinis. "Dasar tidak tau diri. Hadiah apa lagi yang kamu harapkan setelah saya ijinkan kamu berada di dalam keluarga ini?" "Saya harap anda tidak lupa kalau saya ada di rumah ini atas dasar tanggung jawab Papa." "Kalau bukan atas ijinku, kamu bahkan sudah lenyap tanpa sempat dilahirkan." Barbara melangkah, meninggalkan Alisia yang mengepalkan tangannya. "Saya hanya meminta satu jawaban dari anda saat hari pernikahan saya nanti. Apa itu terlalu sulit?" Langkah Barbara yang terhenti dianggap Alisia sebagai tanda kalau wanita itu mau mendengarkannya. "Kematian ibu saya ada kaitannya dengan anda bukan?" "Tuduhan itu lagi. Apa—" "Saat saya menikah nanti, tolong jawab pertanyaan itu dengan kejujuran. Hanya itu yang saya minta." Namun sayangnya penolakan Alisia terhadap pernikahan lebih besar dibandingkan rasa ingin tau atas jawaban Barbara. Sehingga Alisia pun melarikan diri dari kediaman Patel. Alisia ingat terakhir kali ada cahaya menyoroti dirinya. Tapi kenapa sekarang punggungnya seperti menekan sesuatu yang empuk? Rasanya seperti sedang berbaring diatas kasur ibunya. Karena menjadi wanita yang paling sering dikunjungi Ethan, tentunya kasur yang digunakan Margaret bukan sekedar kasur tipis seperti di kamar pelayan. Alisia mengerang sebelum membuka matanya perlahan. Lukisan cantik yang ada pada langit-langit kamar langsung memanjakan matanya. "Aku ada dimana?" gumam Alisia dengan raut terpana. "Kamu ada di kamarku." Alisia terperanjat karena mendengar suara berat seorang lelaki. Menoleh ke samping, Alisia berteriak keras. "Aaaaaa..." Matanya langsung melebar saat lelaki berbadan besar dan berwajah sangar itu menindih tubuhnya. Rambut panjang lelaki itu terasa menggelitik sebagian wajah hingga leher Alisia sehingga membuatnya gemetar. Teriakan Alisia pun tak lagi terdengar karena mulutnya dibekap oleh telapak tangan yang besar dan juga terasa kasar. "Aku tidak akan menarik tanganku kalau kamu masih berpikir untuk berteriak." ***Menyadari keberadaan Ken, Nathalie lebih dulu menyambut lelaki itu dengan suara yang terdengar antusias. "Oh, kamu sudah pulang ya? Tumben sekali mau mampir kesini dulu?"Alisia mengernyit heran. Pertanyaan Nathalie seakan menunjukkan kalau Ken jarang mengunjungi adiknya. Meski dari suaranya itu tidak ada kekesalan yang terdengar dari Nathalie.Alisia pikir, mungkin karena itu lah Nathalie lebih sering mengunjungi Ken ke rumahnya. Karena lelaki itu memang jarang untuk bisa mampir kesini. Apa karena kesibukan Ken kah? Alisia rasa sepertinya memang begitu."Kenapa? Apa aku tidak boleh mampir ke tempatmu?" tanya Ken sambil menarik salah satu kursi dari dua yang tidak ditempati.Mata Nathalie terus mengikuti pergerakan Ken hingga lelaki itu duduk dan bergabung dengan kegiatan minum tehnya bersama Alisia. "Tentu saja boleh. Tapi tidak biasanya kamu seperti ini. Jangankan tiba-tiba mampir, sengaja diundang saja alasannya selalu sibuk."Ternyata Alisia benar. Kesibukanlah yang menyita waktu
Taman rumah Nathalie benar-benar terlihat indah. Selain bunga-bunga yang tampak terawat dengan baik, rapi dan juga sedang bermekaran, tempat mereka duduk sambil menikmati teh pun terasa nyaman.Hanya sebuah bangunan kecil dimana semua sisinya terbuka, tanpa ada dinding yang menghalangi pandangan. Meski begitu, mampu untuk melindungi mereka dari panasnya matahari dan basahnya hujan jika seandainya tiba-tiba turun.Nathalie memiliki tempat pribadi yang membuat suasana hati berubah menjadi menyenangkan. Atau mungkin karena sejak datang kesini Alisia belum pernah keluar dari rumah Ken sehingga perubahan suasana dan pemandangan mata membuat Alisia merasa senang."Apa kamu menyukai bunga, Nath?" tanya Alisia memperhatikan bagian kanannya. Tepat dimana bunga berwarna merah sedang mekar dengan cantik. "Karena semua yang ku lihat disini benar-benar indah."Nathalie tersenyum sebelum mengangguk. "Aku suka bunga dan tentunya senang setiap kali melihat pemandangan seperti ini. Tapi aku tidak gema
Kegagalan terbesar yang pernah Alexander dapatkan sepanjang hidupnya adalah saat dimana dia tidak menyadari kalau Reed Kensington berada tepat di bawah atap rumah keluarganya.Dua tahun lamanya salah satu keturunan Kensington itu berada di rumah keluarga Patel. Namun tidak seorang pun yang curiga soal itu terutama Alexander yang sudah mengenal Reed sejak lama. Mereka baru menyadarinya setelah Reed berhasil meninggalkan rumah keluarga Patel.Padahal selama dua tahun itu, Alexander pasti pernah melihat wajah Reed. Mungkin mereka juga pernah berbicara meski hanya saat itu Alexander hanya memberikan perintah dan Reed menurutinya.Namun sepertinya penyamaran yang sempurna membuat Alexander tidak mampu untuk mengenali Reed. Lelaki itu memotong rambut panjangnya dan menutupi luka di wajahnya. Padahal kedua hal itu sejak dulunya seolah dianggap sebagai ciri khas dari seorang Reed Kensington.Entah apa tujuan Reed menyusup ke dalam keluarga mereka saat itu, tidak ada yang ta
Dulu saat kematian ibunya, semua orang bersikeras kalau Natasya, ibu kandung Reed meninggal dunia karena sakit. Wanita itu terpaksa meninggalkan suami yang sangat mencintainya, anak sulung yang menjadikannya sebagai pengajar kebaikan, serta si kembar yang masih belum paham bagaimana caranya kehidupan.Tapi saat itu hanya Reed lah yang kesulitan untuk mempercayai semua yang mereka katakan mengenai penyakit yang diderita sang ibu. Lelaki itu memiliki keyakinannya sendiri bahwa sang ibu meninggal bukan karena penyakit.Reed percaya kalau ada campur tangan Patel dalam kematian ibunya, seiring dengan penemuan beberapa orang mata-mata Patel dalam lingkungan keluarganya beberapa minggu sebelum kemalangan itu terjadi. Sehingga beberapa hari setelah pemakaman Natasya, Reed pun memutuskan untuk meninggalkan rumah.Dua tahun lamanya lelaki itu menghilang dari keluarganya. Tapi bukan berarti Kensington tidak mengetahui dimana keberadaannya.Para tetua Kensington tau kalau Reed berada didalam kelu
Rambut yang diikat tinggi itu kini berayun kiri dan kanan saat Nathalie berjalan cepat. Perempuan berusia enam belas tahun itu tampak bersemangat sore ini.Tangan Nathalie terangkat dan melambai, sebelum berlari kecil agar mengurangi jarak diantara mereka. Alisia baru saja keluar dari kamarnya dan menutup pintu."Hai, Nath." Alisia lah yang menyapa lebih dulu setelah Nathalie berdiri dihadapannya. "Apa yang menarik sore ini sampai-sampai kamu terlihat begitu senang?"Pulang sekolah, Nathalie sempat tidur sebentar. Setelah bangun, dia mandi lalu segera menuju rumah sang kakak. Tujuannya jelas untuk bertemu Alisia dan ingin menikmati sore hari bersama.Sementara Alisia, tadinya berpindah ke kamar setelah mendengar cerita Emma. Baru beberapa menit merebahkan badannya diatas kasur, Emma memberitahu tentang kedatangan Nathalie.Karena itu Alisia segera keluar kamar setelah menghabiskan beberapa menit di kamar mandi. Tepat keluar kamar, Nathalie langsung tertangkap di matanya dengan raut wa
"Apa kamu dalam kondisi tidak sehat sekarang?"Damian tidak tau apakah dirinya terlihat lemah atau pucat sehingga pertanyaan seperti itu keluar dari bibir Reed. Padahal Damian merasa segar hari ini karena suasana hati Reed pun tampak cukup baik.Sejak pagi tadi hingga sekarang sudah hampir waktunya jam pulang kerja, Damian tidak menghadapi Reed yang emosi. Entah apa yang terjadi sebelumnya di rumah sehingga Reed menjalani sepanjang hari tanpa kemarahan."Saya sehat dan tentunya baik-baik saja, Tuan. Anda tidak perlu khawatir. Dan terima kasih atas perhatiannya."Reed bertanya bukan karena khawatir pada lelaki dewasa yang satu ini. Dan dirinya pun tidak sedang memberikan perhatian dalam bentuk apapun pada Damian.Tapi karena berkas di tangannya membuat Reed berasumsi bahwa Damian mungkin sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya makan siang yang tidak lancar sudah mempengaruhi kinerja sekretarisnya itu."Yang dibutuhkan dalam berkas ini hanya tanda tangan ayahku."Reed mengangkat tinggi







