Share

Merasa Dikecilkan

last update publish date: 2026-02-13 15:55:59
Sera masih menatap layar ponsel Erika yang bersih dari artikel kontroversial itu dengan dahi berkerut. Namun, jam di dinding kantin yang terus berdetak mengingatkannya pada tugas.

Sera mengembalikan ponsel Erika, melanjutkan makan siangnya yang sangat terlambat sebelum kembali bertugas.

Waktu seolah berpacu, tepat pukul sembilan malam, Sera melangkah keluar dari lobi Rumah Sakit Narita. Udara malam yang dingin menyapu wajahnya yang letih.

Di dalam mobil yang membawanya kembali ke istana, S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Sari 💚
gimana gak takut. awalnya itu bukan dunianya, makanya beri dia rasa aman biar gak takut
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
ya tkut lah pk pres gmn si tu gk liat aksi ny sopiah.. tu biang kerokny
goodnovel comment avatar
eva nindia
gimana gak takut,,blum apa2 udh d ULTI dluan am Sofia,, moga sera bsok bisa bungkam c Sofia dh biar gak so..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pergi Ke Rumah Ayah

    Mata Sera seketika membelalak lebar. Rasa kantuknya terbang seketika ditelan rasa malu yang mendadak menyerbu seluruh wajahnya. Pipinya kembali memanas hebat."Tidak, Mas!" seru Sera panik seraya menggelengkan kepalanya cepat-cepat di dada Rendra, menenggelamkan wajahnya rapat-rapat di sana agar Rendra tidak bisa melihat wajahnya yang memerah. "Tidak hari ini! Aku harus cek dulu apa saja komposisi ramuan itu sebelum asal meminumnya!"Rendra tak mampu lagi menahan tawa. Suara tawa nyaringnya pecah di dalam kamar, membuat dadanya naik turun dan menggetarkan kepala Sera yang menempel di sana. Sera memukul pelan dada Rendra dengan jemarinya yang mengepal, makin malu setengah mati."Mas Rendra! Berhenti tertawa!" bisik Sera kesal bercampur malu, semakin mengeratkan pelukannya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.Hari berikutnyaSinar matahari pagi sudah menembus celah gorden saat Sera melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Tangannya membawa nampan berisi sarapan seadanya

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Membuat Sera Malu

    Rendra memajukan langkahnya hingga jarak di antara dirinya dan Sera terkikis habis. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pria itu mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut jemari Sera yang memegang telepon, lalu mengambil alih ponsel tersebut dari telinga istrinya.Rendra mengikis jarak ponsel ke mulutnya. "Erika, aku matikan teleponnya," ucap Rendra tegas namun tenang.Sebelum Erika sempat melayangkan protes di seberang sana, Rendra langsung menggeser ikon merah di layar, memutus sambungan telepon secara sepihak, lalu memberikan ponsel itu ke Sera.Sera menatap Rendra dengan kening berkerut dalam. Napasnya masih agak memburu akibat rasa terkejut yang belum sepenuhnya reda."Mas…"Rendra menghela napas pendek. Pandangannya lurus menatap mata Sera yang memancar penuh tanya. "Aku sudah tahu berita itu sejak tadi," akunya jujur. "Tapi aku memang memilih untuk diam dan tidak memberitahumu."Mata Sera membelalak. Ia menegakkan posisi duduknya di tepi ranjang. "Kenapa Mas melakukan itu?

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menapaki Jayakarta Lagi

    "Itu ramuan herbal yang kubuat sendiri," jawab Aki Banyu santai. Ia menunjuk wajah Sera dengan dagunya. "Aku lihat tubuhmu itu lemah. Minum itu secara teratur, dan kalian akan punya banyak anak." Sera membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar menatap ramuan di tangannya, lalu beralih menatap Aki Banyu dengan mulut sedikit terbuka. Dalam hitungan detik, warna merah padam menjalar cepat dari leher hingga memenuhi kedua pipinya. "A-Aki..." bisik Sera gagap, benar-benar kehilangan kata-kata karena rasa malu yang mendadak menyerbunya. Berbeda dengan Sera yang hampir tenggelam dalam rasa malu, Rendra justru terkekeh nyaring. Suara tawa lepas pria itu memecah keheningan area belakang pondok. Rendra merangkul bahu Sera pelan, menarik istrinya sedikit mendekat. "Terima kasih banyak, Aki," ujar Rendra setelah tawanya mereda. Menatap pria tua di hadapannya dengan raut penuh kesungguhan, Rendra melanjutkan, "Aki harus tetap sehat-sehat di sini. Aki harus melihat sendiri bagaimana aku

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pamit Ke Aki Banyu

    Bisikan Rendra yang begitu dekat dengan telinganya membuat napas Sera tertahan seketika. Sensasi hangat napas pria itu menyentuh kulit lehernya, meninggalkan sengatan halus yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. Sera refleks melangkah mundur, menepuk dada Rendra dengan cukup keras untuk menutupi getar di dadanya. "Mas Rendra!" bisik Sera setengah memekik. Matanya membelalak menatap wajah Rendra yang justru tampak amat menikmati reaksinya. Rendra terkekeh pelan. Senyum tipis masih terpampang di bibirnya saat ia memiringkan kepala, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kenapa? Nasihat Aki Banyu tadi sangat masuk akal, bukan?" "Bukan begitu maksudnya..." Sera mengibaskan tangannya di udara, sama sekali tak berani menatap mata suaminya. Wajahnya terasa panas membakar. Tanpa menunggu balasan Rendra, Sera memutar tubuhnya cepat dan melangkah lebar-lebar menuruni jalan yang remang. "Sera, tunggu," panggil Rendra dari belakang, suara tawanya masih terdengar samar di antara derap la

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Jawaban Atas Mitos Part 2

    Aki Banyu meletakkan cangkir bambunya di atas meja kayu dengan gerakan perlahan. "Kalian pasti sudah membaca buku tentang sejarah Iraya," ujar Aki Banyu santai. "Tidak mungkin tidak. Dan di sana sudah tertulis sangat jelas. Lalu, kalau kalian memang sudah saling mencintai, kutukan itu pasti sudah hilang." Rendra menggerakkan tubuhnya sedikit maju. "Tapi kami tetap terkena musibah, Aki. Beberapa kali hal buruk terjadi pada kami," balas Rendra seraya menatap dalam pria tua itu. Aki Banyu menggelengkan kepalanya pelan seraya menyunggingkan senyum tipis, seolah meremehkan sekaligus menyayangkan cara berpikir Rendra. "Kalau begitu, artinya musibah itu bukan disebabkan oleh kutukan. Seperti itu saja kamu tidak paham." Naka yang duduk bersila di dekat pintu mendengar ucapan itu dengan raut tegang. Dadanya naik turun menahan emosi, rahangnya merapat tajam. Pria itu hampir saja menyemburkan umpatan, namun ia menggepalkan tangannya kuat-kuat di atas paha untuk menahannya. Sera yang seja

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Jawaban Atas Mitos Part 1

    Sera dan Rendra melangkah mendekat ke arah pondok Aki Banyu. Namun, baru beberapa langkah jemari mereka menjejak tanah pelataran, suara teriakan memanggil mendadak memecah udara."Pak Presiden, tunggu!"Sera dan Rendra kompak menoleh ke belakang.Naka bergegas berlari kecil mengikis jarak, napasnya sedikit terengah sewaktu sampai di hadapan mereka. Matanya menyapu Rendra dan Sera bergantian dengan raut cemas melingkupi wajahnya."Mau ke mana, Pak?" tanya Naka cepat.Rendra mengulas senyum tipis, menggerakkan dagunya mengarah pada pintu pondok kayu yang terbuka. "Aki Banyu meminta kami masuk ke pondoknya. Bahkan dia menawari kami makan."Naka melotot pelan, kebingungan setengah mati. Lidahnya mendadak kelu, bingung harus merespons apa. Pandangannya bergulir menatap pria tua di ambang pintu.Aki Banyu yang menyadari tatapan curiga Naka lantas berdecak malas. "Kamu ikut ke sini, ikut makan juga!" celetuk Aki Banyu seraya menggerutu kasar. "Memangnya kamu pikir aku mau meracuni kalian, apa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status