Share

Merasa Dikecilkan

Penulis: Adinasya Mahila
last update Tanggal publikasi: 2026-02-13 15:55:59
Sera masih menatap layar ponsel Erika yang bersih dari artikel kontroversial itu dengan dahi berkerut. Namun, jam di dinding kantin yang terus berdetak mengingatkannya pada tugas.

Sera mengembalikan ponsel Erika, melanjutkan makan siangnya yang sangat terlambat sebelum kembali bertugas.

Waktu seolah berpacu, tepat pukul sembilan malam, Sera melangkah keluar dari lobi Rumah Sakit Narita. Udara malam yang dingin menyapu wajahnya yang letih.

Di dalam mobil yang membawanya kembali ke istana, S
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Sari 💚
gimana gak takut. awalnya itu bukan dunianya, makanya beri dia rasa aman biar gak takut
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
ya tkut lah pk pres gmn si tu gk liat aksi ny sopiah.. tu biang kerokny
goodnovel comment avatar
eva nindia
gimana gak takut,,blum apa2 udh d ULTI dluan am Sofia,, moga sera bsok bisa bungkam c Sofia dh biar gak so..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Bawa Pergi Orang-orangmu

    Di tempat lain, tayangan konferensi pers yang dilakukan Rendra menyala di layar televisi sebuah ruangan berdinding kaca. Sofia dan Irawan duduk berdampingan memperhatikan sosok Rendra di layar kaca. Begitu kalimat terakhir Rendra terdengar tegas memotong cecaran wartawan, sudut bibir Sofia terangkat membentuk senyum miring.Irawan yang duduk di sebelahnya menoleh. Kerutan di kening pria itu tampak jelas saat melihat perubahan ekspresi lawan bicaranya. Ia tidak paham kenapa Sofia justru bisa bereaksi santai seperti itu setelah mendengar pernyataan telak sang presiden."Kenapa kamu malah tersenyum begitu?" tanya Irawan tak tahan.Sofia tetap menatap lurus ke arah layar tanpa menoleh sedikit pun. "Rendra tahu," jawabnya singkat.Kening Irawan semakin berkerut dalam. Ia memajukan sedikit tubuhnya, menatap wajah Sofia lekat-lekat. "Tahu? Tahu apa maksudmu?"Sofia tidak memberi jawaban apa pun. Ia membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. Wanita itu lantas beranjak berdiri dari te

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Membuka Celah Untuk Diserang

    Sementara itu di kediaman sang ayah, jemari Sera tampak gemetar tipis di atas layar ponsel.Tanpa membuang waktu, ia membuka aplikasi pesan singkat dan mengetikkan kalimat dengan terburu-buru.[Mas, aku mencurigai salah satu pengawal yang menjaga rumah Ayah. Dia menepi ke pilar dan membalas pesan dengan raut tegang saat wartawan menyerbu ke sini. Aku sempat mengambil foto dan videonya.]Sera menekan tombol kirim. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding di samping jendela, menatap layar yang masih menunjukkan status kirim. Menit demi menit terasa berjalan amat lambat. Dadanya bergemuruh, membayangkan kemungkinan buruk jika ada penyusup di antara orang-orang yang seharusnya melindungi keluarganya.[Aku akan minta Evan menyelidikinya sekarang] balasan dari Rendra akhirnya masuk.Sera mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan. Jemarinya baru saja hendak bergerak mengetik balasan, namun sebuah notifikasi pesan baru dari Rendra kembali menyambar layar.[Aku akan melakukan konferensi p

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Curiga ke Pengawal

    Di luar pagar rumah Angga, puluhan wartawan berlomba-lomba menerjang maju, menodongkan kamera dan mikrofon, menciptakan suara riuh yang saling tumpang tindih.Kilatan cahaya putih dari lampu kilat kamera menyambar-nyambar dengan beringas, menembus kaca jendela ruang tamu. Puluhan orang dengan kamera besar dan mikrofon di tangan tampak saling dorong, mendesak maju berusaha merobohkan barikade para pengawal yang berjaga.Sera menarik pelan ujung gorden, menyisakan celah sempit untuk mengintip ke halaman depan. Di belakang bahunya, Angga dan Siwi merapat, ikut melemparkan pandangan cemas ke luar kaca jendela.Mata Sera menyapu barisan pengawal yang berjejer menahan dorongan pagar. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada satu sosok penjaga. Pria berseragam gelap yang memang ia tahu ditugaskan khusus untuk menjaga rumah ayahnya itu justru mengambil langkah mundur perlahan.Pria itu menepi ke dekat pilar, kepalanya menunduk, sementara sebelah tangannya merogoh saku celana. Sebuah ponsel ditarik

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pergi Ke Rumah Ayah

    Mata Sera seketika membelalak lebar. Rasa kantuknya terbang seketika ditelan rasa malu yang mendadak menyerbu seluruh wajahnya. Pipinya kembali memanas hebat."Tidak, Mas!" seru Sera panik seraya menggelengkan kepalanya cepat-cepat di dada Rendra, menenggelamkan wajahnya rapat-rapat di sana agar Rendra tidak bisa melihat wajahnya yang memerah. "Tidak hari ini! Aku harus cek dulu apa saja komposisi ramuan itu sebelum asal meminumnya!"Rendra tak mampu lagi menahan tawa. Suara tawa nyaringnya pecah di dalam kamar, membuat dadanya naik turun dan menggetarkan kepala Sera yang menempel di sana. Sera memukul pelan dada Rendra dengan jemarinya yang mengepal, makin malu setengah mati."Mas Rendra! Berhenti tertawa!" bisik Sera kesal bercampur malu, semakin mengeratkan pelukannya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.Hari berikutnyaSinar matahari pagi sudah menembus celah gorden saat Sera melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Tangannya membawa nampan berisi sarapan seadanya

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Membuat Sera Malu

    Rendra memajukan langkahnya hingga jarak di antara dirinya dan Sera terkikis habis. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pria itu mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut jemari Sera yang memegang telepon, lalu mengambil alih ponsel tersebut dari telinga istrinya.Rendra mengikis jarak ponsel ke mulutnya. "Erika, aku matikan teleponnya," ucap Rendra tegas namun tenang.Sebelum Erika sempat melayangkan protes di seberang sana, Rendra langsung menggeser ikon merah di layar, memutus sambungan telepon secara sepihak, lalu memberikan ponsel itu ke Sera.Sera menatap Rendra dengan kening berkerut dalam. Napasnya masih agak memburu akibat rasa terkejut yang belum sepenuhnya reda."Mas…"Rendra menghela napas pendek. Pandangannya lurus menatap mata Sera yang memancar penuh tanya. "Aku sudah tahu berita itu sejak tadi," akunya jujur. "Tapi aku memang memilih untuk diam dan tidak memberitahumu."Mata Sera membelalak. Ia menegakkan posisi duduknya di tepi ranjang. "Kenapa Mas melakukan itu?

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menapaki Jayakarta Lagi

    "Itu ramuan herbal yang kubuat sendiri," jawab Aki Banyu santai. Ia menunjuk wajah Sera dengan dagunya. "Aku lihat tubuhmu itu lemah. Minum itu secara teratur, dan kalian akan punya banyak anak." Sera membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar menatap ramuan di tangannya, lalu beralih menatap Aki Banyu dengan mulut sedikit terbuka. Dalam hitungan detik, warna merah padam menjalar cepat dari leher hingga memenuhi kedua pipinya. "A-Aki..." bisik Sera gagap, benar-benar kehilangan kata-kata karena rasa malu yang mendadak menyerbunya. Berbeda dengan Sera yang hampir tenggelam dalam rasa malu, Rendra justru terkekeh nyaring. Suara tawa lepas pria itu memecah keheningan area belakang pondok. Rendra merangkul bahu Sera pelan, menarik istrinya sedikit mendekat. "Terima kasih banyak, Aki," ujar Rendra setelah tawanya mereda. Menatap pria tua di hadapannya dengan raut penuh kesungguhan, Rendra melanjutkan, "Aki harus tetap sehat-sehat di sini. Aki harus melihat sendiri bagaimana aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status