LOGINSiang harinya, di balik pintu kayu berukir sebuah ruang VIP restoran ternama, suasana begitu sepi dan dingin.Rendra duduk tegak di salah satu sisi meja panjang berlapis kain putih bersih. Di hadapannya, Ratu duduk seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan kening berkerut heran.Gadis itu menatap kakaknya lekat-lekat, lalu meletakkan serbet kain di pangkuannya. "Kenapa Mas tiba-tiba mengajak aku makan siang di tempat seperti ini? Bukankah jadwal Mas biasanya sangat padat dan sibuk?"Rendra tidak langsung menyahut. Ia hanya menatap adiknya sekilas tanpa ekspresi berarti.Melihat kakaknya bergeming, Ratu mendengus geli lalu kembali mencecar. "Kemarin juga kita baru saja bertemu di mansion, jadi mana mungkin Mas Rendra kangen sama aku sampai harus mengajak makan berdua begini. Hari ini aku juga tidak sedang ulang tahun, jadi mana mungkin Mas mentraktirku tanpa alasan yang jelas."Rendra mengulurkan tangannya, meraih gelas kristal berisi air putih di samping piringnya. Pria i
Setelah percintaan panas mereka, Rendra masih mendekap Sera erat di bawah selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya. Deru napas mereka berdua perlahan mulai teratur, berbaur dengan hawa dingin pendingin ruangan yang menusuk kulit.Sera menggeser sedikit tubuhnya, lalu mendongak menatap wajah Rendra yang tampak tenang dengan kelopak mata terpejam rapat. Keringat tipis masih tampak di pelipis pria itu. Jemari Sera bergerak pelan, menyusuri garis rahang sang suami."Mas Rendra mau tidur lagi?" bisik Sera pelan seraya memandangi lekuk wajah tegas di hadapannya. "Apa nanti tidak terlambat berangkat ke kantor? Memangnya jadwal Mas Rendra hari ini apa saja?"Alih-alih langsung membuka mata, Rendra justru memulas senyum tipis di bibirnya. Lengan kekarnya semakin melingkar erat di pinggang telanjang Sera, menarik tubuh wanita itu hingga tak menyisakan jarak sama sekali di antara dada mereka."Sebentar lagi..." gumam Rendra dengan suara serak khas bangun tidur yang berat. Dagu pria itu bertum
"Tidak apa-apa," jawab Rendra tegas, sorot matanya tampak mantap menatap Sera. "Ratu memang harus tahu kalau kita mengawasi dia dan Arkan. Supaya dia sadar dan tidak bisa berbuat seenaknya sendiri. Kamu tenang saja, aku pastikan bicara baik-baik padanya nanti tanpa menimbulkan kesalahpahaman."Sera menghela napas lega, ketegangan di wajahnya perlahan mencair. Ia mengangguk pelan seraya membiarkan telapak tangan Rendra kembali terangkat, mengusap pipinya lembut dengan ibu jari."Sekarang jangan dipikirkan lagi. Ayo tidur," bisik Rendra seraya menarik selimut hingga menutupi dada mereka berdua.Sera merebahkan kepalanya kembali di samping Rendra, memejamkan mata perlahan hingga kantuk benar-benar membawanya larut dalam lelap.Keesokan harinya, jam bahkan belum menyentuh angka lima pagi. Udara masih pekat dan dingin menusuk kulit, pertanda matahari masih cukup jauh untuk menyingsing.Di tengah temaram kamar, kelopak mata Sera perlahan terbuka. Merasa dorongan kuat untuk segera buang air
"Tentu saja," jawab Rendra mantap tanpa ada nada ragu sedikit pun di suaranya. Alisnya terangkat sebelah, mengamati raut wajah Sera yang masih tegang. "Kenapa? Apa kamu tidak menginginkannya?"Sera terdiam. Tatapannya tertunduk ke arah seprai ranjang, jari-jemarinya tanpa sadar saling bertaut di atas pangkuan.Rendra memperhatikan gerak-gerik itu dalam diam. Pria itu sedikit memiringkan kepala, seolah bisa membaca gundah dan keraguan yang tertahan di balik kebungkaman sang istri."Aku masih ingin mengambil kuliah spesialis, Mas," ungkap Sera lirih. Ia mengangkat wajahnya perlahan, mencoba membaca ekspresi Rendra. "Tapi kalau memang hasilnya nanti aku hamil, aku juga sama sekali tidak masalah."Rendra mengulurkan tangan kanannya. Telapak tangannya yang hangat menempel di pipi Sera, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi wanita itu. "Kita jalani saja semuanya," ucap Rendra tenang, nada bicaranya begitu menenangkan. "Aku akan selalu ada untukmu, bagaimanapun situasinya nanti."Sentuhan
Pengakuan Ara terasa bagai hantaman tak kasat mata di dada Sera. Matanya membulat sempurna, tertegun di tempatnya menatap sang adik yang kini kian menciutkan bahu. Napas Sera tercekat beberapa detik sebelum akhirnya ia membuangnya kasar lewat mulut. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi di belakangnya, membiarkan tubuhnya bersandar lemas seraya memijat pelipis yang mendadak berdenyut nyeri."Jangan bilang apa-apa ke Arkan," bisik Sera dengan suara bergetar tertahan. Matanya menatap lekat kedua manik mata Ara. "Rahasiakan pertemuan kita ini dari dia, ya, Ra? Jangan sampai Arkan tahu Mbak menanyakan hal ini ke kamu."Ara buru-buru mengangguk patuh. Namun, kerutan di kening gadis remaja itu makin dalam. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap kakaknya ragu-ragu. "Mbak... apa kalau Kak Arkan pacaran dengan Kak Ratu, itu akan menimbulkan masalah besar?"Sera menggeleng pelan. Sorot matanya meredup, menyiratkan beban berat yang selama ini ia pikul sendirian. "Bukan begitu, Ra..." Sera
"Entahlah. Untuk itu aku mau mencari tahu ke Ara, semoga dia tahu," jawab Sera pelan, membalas tatapan cemas Erika.Erika mengangguk-angguk paham seraya merapatkan bibir. Tanpa membuang waktu lagi, ia kembali menarik lengan Sera, menuntun langkah mereka membelah koridor yang mulai dipadati keluarga pasien menuju arah apotik rumah sakit.Namun, tepat beberapa langkah sebelum meja antrean apotik, langkah Erika mendadak tersendat. Ia menoleh cepat ke arah loket yang dijaga dua staf farmasi dan beberapa perawat yang berdiri menunggu obat. Keraguan seketika tergambar jelas di raut wajahnya. Erika menarik tubuh Sera lebih mendekat ke sisinya, lalu berbisik pelan tepat di telinga temannya itu."Kalau ada yang menyadari kamu membeli tespek, nanti bisa jadi gosip besar," bisik Erika cemas seraya melirik beberapa rekan koas lain yang tampak melintas tak jauh dari sana.Sera menghela napas tipis, ikut memperhatikan situasi sekitar. "Lalu bagaimana?"Erika menepuk dadanya pelan dengan dagu terang







