แชร์

3. Menikah

ผู้เขียน: Adinasya Mahila
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-29 07:07:55

“Jadi keputusannya sudah bulat,” ucap Rendra mutlak.

Baru saja masuk kembali ke kamar VVIP itu, Sera sudah merasa bahwa Rendra benar-benar menutup seluruh celah baginya untuk menolak.

Sera melihat pria itu menoleh pada sang ajudan.

“Panggil calon Menteri Agama sekarang. Katakan padanya untuk datang ke sini sesegera mungkin. Aku ingin dia sendiri yang memimpin prosesi akad nikahku secara tertutup.”

Dunia seolah runtuh. Sera menatap punggung ayahnya yang membungkuk—sosok pelindung yang kini justru menjadi pintu masuk bagi jeratan yang tak diinginkannya.

Satu jam kemudian, dalam seremoni sunyi yang jauh dari kata mewah, Rendra dan Sera resmi menjadi suami-istri.

Di ruang rawat inap yang dingin itu, Rendra menatap Sera tanpa ekspresi. Semua orang keluar meninggalkan mereka seolah ingin memberikan ruang.

“Besok, aku akan mengumumkan pernikahan kita ke seluruh negeri. Rakyat butuh ditenangkan sesegera mungkin.”

Sera mengepalkan tangan, masih tak menyangka dengan apa yang baru saja ia alami. Perasaan marah dan tidak terima masih bercokol di hatinya.

“Baik, jika itu mau Anda. Tapi apa imbalannya? Saya tidak ingin mengorbankan hidup saya secara cuma-cuma.”

Rendra diam, senyum samar tersirat di bibirnya. “Apa pun. Aku akan membiayai pendidikan spesialis yang kamu impikan, bahkan jika kamu mau aku bisa membangunkan rumah sakit terbesar di Iraya untukmu.”

Sera tersenyum hambar, menyadari betapa kecilnya ia di bawah kekuasaan seorang Rendra, sang penguasa Iraya.

Pagi tadi Sera merasa masih menggenggam jalan takdirnya sendiri saat berangkat ke Rumah Sakit Narita, tapi siapa sangka semua itu menghilang bagai buih di lautan hanya dalam sekejap mata.

“Pergilah istirahat. Evan akan membantumu bersiap untuk pengumuman pernikahan ini besok malam.”

Sera tak bisa membantah lagi, dengan lemas memutar tumit dan pergi tanpa membalas ucapan Rendra.

Sementara itu di dalam sedan mewahnya, wajah Sintia tampak merah padam menahan amarah yang membuncah.

"Apa yang kamu pikirkan?!" bentak Sintia dengan nada suara menusuk. "Kenapa kamu malah mendukung keputusan Rendra? Sera itu hanya anak sopir! Masih ada putri-putri kolegamu, atau sepupu jauh Rendra yang punya darah ningrat. Mereka jauh lebih pantas menjadi Ibu Negara!"

Dewa menatap Sintia dengan sangat tenang, setelah itu menjawab, "Semua wanita yang kamu sebutkan itu datang dengan harga yang mahal. Keluarga mereka akan mengajukan ribuan syarat, meminta jatah proyek, jabatan untuk keluarga mereka, dan akan mengambil keuntungan politik dari pernikahan ini."

Sintia terdiam, namun bibirnya masih bergetar.

"Rendra itu Presiden Iraya," lanjut Dewa. "Jika urusan politik, menurutmu apa kemampuannya masih perlu diragukan? Dia memilih Sera karena dia tahu gadis itu dan keluarganya mudah dikendalikan. Mereka hanya rakyat biasa, tidak punya kepentingan politik, dan hutang budi ayahnya ke keluarga kita adalah rantai terbaik untuk memastikan dia tidak akan berkhianat."

"Tapi tetap saja, aku tidak sudi punya menantu anak sopir seperti dia!" Sintia memalingkan wajah, raut jijik terlihat di wajahnya tanpa ingin ia tutupi.

"Tenang saja. Rendra pasti sudah memikirkan urusan itu. Ini hanya pernikahan di atas kertas untuk menyelamatkan kursi kepresidenannya." Dewa masih terus mencoba menenangkan Sintia. “Dan, Sera hanya akan jadi jimat Rendra. Kamu tahu itu dengan jelas.”

Sintia masih membrengut menatap keluar jendela mobil tanpa bisa membantah suaminya lagi.

***

Keesokan harinya.

Sejak pagi seluruh penjuru Iraya tegang.

Stasiun televisi dan media sosial tak henti-hentinya menyiarkan berita tentang rencana konferensi pers Presiden.

Rakyat menunggu dengan cemas. Mereka ingin mendengar langsung klarifikasi Rendra mengenai kecelakaan yang menimpanya, sekaligus menjawab kegaduhan mengenai 'Kutukan Iraya' yang kian memanas.

Sera sudah bersiap dengan pakaian anggun yang disiapkan pihak Istana, meski ketegangan merayap jelas di balik wajah cantiknya.

Konferensi pers Presiden akan diadakan di sebuah hotel bintang lima paling mewah di Jayakarta— ibu kota Iraya. Evan mengantar Sera ke hotel melalui pintu khusus agar tidak terendus media atas perintah Rendra.

"Nona silakan tunggu di kamar ini sampai semua persiapan selesai. Nanti saya akan menjemput Anda jika saatnya tiba," ucap Evan setelah mereka sampai di depan pintu kamar President Suite. "Tapi kalau Anda lapar atau bosan, Anda boleh berjalan-jalan dan turun ke restoran di bawah untuk makan lebih dulu."

Sera hanya mengangguk patuh. Setelah Evan pergi, ia duduk di tepian ranjang. Pikirannya melayang. Kini, walaupun statusnya sudah berubah menjadi istri orang nomor satu di Iraya, hubungannya dengan Rendra tidak ada yang berubah.

Sera paham sejak dulu memang ada jurang pemisah yang dalam di antara keduanya, meskipun dulu, Rendra muda pernah menjadi sosok kakak baginya.

Namun, dia tetaplah anak dari sopir keluarga Narrottama, dan Rendra, secara tidak langsung, adalah majikannya.

Fakta itu tetap tidak akan hilang dan dinding di antara mereka tetap menjulang tinggi.

Sera menangkup kedua wajahnya dan tertunduk lesu. Sudah tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, selain menerima kenyataan dan takdir yang membawanya pada titik ini.

Lebih baik, Sera tetap menunggu di kamar hotel, tapi perutnya mulai melilit karena lapar, membuat Sera memutuskan untuk keluar kamar. Namun, saat ia melangkah menuju restoran hotel, langkahnya mendadak terhenti. Di lobi dekat area resto, ia berpapasan dengan empat orang teman kuliahnya.

Sera tersentak.

Salah satu dari mereka, langsung menyadari kehadiran Sera di sana.

"Sera? Kenapa bisa kamu ada di hotel ini?" tanya gadis bernama Karina itu dengan nada menyelidik.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (13)
goodnovel comment avatar
Sari 💚
Sepertinya Rendra menyukai Sera, tapi ada rasa gengsi kayaknya untuk mengakui. atau mungkin dia belum menyadari rasa suka sama Sera
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
untg Pa Dewa bsa tau mksud dr ank ny yg plih Sera bt jd istri ny xixixi
goodnovel comment avatar
🍁Mam 2R🍁
sepertinya Rendra udah suka sama Sera ya
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   87. Kartu Sakti

    Langkah kaki Sera terasa ringan saat menyusuri trotoar menuju kompleks Rumah Sakit Narita kembali. Di sampingnya, Erika berjalan dengan langkah berirama, sementara Lana dan Deo mengekor beberapa langkah di belakang. Aroma kopi yang kuat menguar dari empat cup di tangan mereka. Erika menyesap latte-nya, memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati sesuatu yang luar biasa. "Ser!" panggil Erika tiba-tiba, suaranya naik satu nada karena antusias. "Apa karena kopi ini dibayar menggunakan black card, jadi rasanya jauh lebih enak dan mewah begini? Serius, ini latte terenak yang pernah aku minum." Sera mengernyitkan dahi, menatap cup kopinya sendiri dengan bingung. "Maksudmu apa?" Melihat ekspresi polos Sera, Erika hampir tersedak. Ia menghentikan langkah, membuat Lana dan Deo yang sedang asyik mengobrol di belakang hampir menabrak mereka. Erika menatap Sera seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak. "Sera, kamu ini benar-benar ya," Erika menggelengkan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   86. Notifikasi Kartu

    Rendra hanya diam mendengar penuturan Evan. Perlahan, ia menutup dokumen di tangannya lalu menoleh, melempar pandangannya ke luar jendela mobil yang dilapisi kaca antipeluru. Di luar sana, deretan gedung pencakar langit Jayakarta tampak berkelebat, namun fokus Rendra jauh melampaui itu. Sementara itu, Evan yang duduk di kursi depan tiba-tiba memikirkan kembali apa yang pernah Rendra ucapkan dulu. Atasannya itu pernah berkata politik memang kejam. Sejak awal, Rendra sudah tahu bahwa kursi nomor satu Iraya tidak datang hanya dengan kekuasaan, melainkan juga dengan kesepian. Setiap kedekatan Rendra dengan orang tertentu bisa menjadi bumerang yang mendatangkan curiga bagi lawan-lawannya. Maka dari itu, Evan merasa wajar jika Rendra menetapkan batas yang sangat kaku, karena setiap cangkir teh yang diminum bersama bisa diartikan sebagai konspirasi. *** Rumah Sakit Narita Sera yang baru tiba tampak melangkah memasuki ruang koas dengan jas putih yang tersampir di bahunya. Langkahny

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   85. Kejanggalan Bencana

    Mata Rendra menyipit tajam, menatap nanar layar ponsel yang memancarkan cahaya di kamar yang temaram. Jemarinya bergerak lincah, membuka lampiran dokumen yang dikirimkan Evan melalui email pribadinya. Ia mengabaikan denyut halus di pelipisnya dan rasa lelah yang mulai menggerogoti tubuh. Apa yang tertulis di dalam baris-baris laporan itu bukan sekadar rangkuman teknis pasca-bencana biasa. Deretan angka, grafik, dan catatan lapangan itu menyiratkan sesuatu yang jauh lebih gelap, indikasi kelalaian dan potensi penyelewengan yang jejaknya mengarah pada nama-nama besar. Punggung Rendra menegak, fokusnya tercurah sepenuhnya pada data sensitif itu. KLEK Suara gagang pintu yang diputar pelan membuat Rendra tersentak halus. Ia reflek mematikan layar ponselnya, menyembunyikan cahaya terang itu, lalu menoleh ke arah pintu. Sera melangkah masuk dengan ragu, separuh tubuhnya masih tertahan di ambang pintu, matanya yang sembab menatap Rendra dengan canggung. "Tuan Rendra..." Sera berbi

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   84. Tak Sekeras Itu

    Sera terpaku di tempatnya berdiri, kedua tangannya meremas ujung baju yang dikenakannya. Kalimat Rendra barusan merayap masuk ke dalam relung hatinya. Sera masih terdiam, sampai suara berat Rendra kembali memecah keheningan yang canggung itu. "Kamu nikmati saja waktumu bersama keluargamu," ucap Rendra sambil melonggarkan sedikit simpul dasinya, gestur yang menunjukkan dia benar-benar ingin melepas penat. "Aku mau istirahat dulu." Sera tersadar dari lamunannya dan mengangguk pelan. "I-iya, Mas. Terima kasih." Angga yang berdiri di samping mereka segera menangkap sinyal itu. Ia menoleh ke arah sofa, tempat kedua anaknya yang lain masih duduk mengawasi. "Ara, tolong antar Tuan Rendra ke kamar atas." Ara tersentak kecil, lalu bergegas berdiri. Gadis itu merapikan bajunya yang sedikit kusut sebelum berjalan mendekat dengan langkah sopan. "Mari, Tuan! Saya antar ke kamar," ucapnya sedikit gugup. Rendra hanya mengangguk singkat, mengikuti langkah kecil Ara menuju tangga yang terletak d

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   83. Adik Ipar

    Udara mendadak dingin, bukan karena embusan angin, melainkan karena kalimat tajam yang meluncur dari bibir Arkan. Pemuda itu berdiri tegap, menatap lurus ke arah Rendra dengan sorot mata menuntut. Keheningan yang mencekam jatuh seketika. Angga dan Siwi terpaku, napas mereka seolah tertahan di tenggorokan. Sera pun tersentak. Ia melepaskan pelukannya dari Siwi, bahunya masih terguncang kecil, namun matanya yang sembab kini membulat sempurna ke arah adiknya. Isakannya terhenti paksa oleh rasa terkejut yang menjalar hingga ke ujung jari. Sera melihat Rendra hanya diam. Pria itu tidak membalas dengan kemarahan, justru hanya menyipitkan mata, menatap Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan, dingin namun penuh selidik. Sudut bibir Rendra tertarik, membentuk senyum tipis yang sarat akan sarkasme namun tetap terlihat berwibawa. "Adik ipar," suara Rendra rendah, bergema di antara mereka dengan nada yang tenang namun menusuk. "Sepertinya kamu begitu sayang dan jauh lebih mengerti kakak

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   82. Seperti Obat Penenang

    Sera menoleh cepat ke arah Rendra, mengabaikan sisa air mata yang masih menggantung di bulu matanya. Bibirnya sedikit mengerucut, membentuk gurat cemberut yang samar namun nampak menggemaskan di bawah pendar lampu jalan yang masuk ke kabin mobil. "Padahal saya sudah sembunyi-sembunyi sekali. Saya cari sudut paling gelap supaya tidak ada yang melihat," gumam Sera dengan nada sedikit tidak terima. "Tapi tetap saja Anda tahu semuanya." Rendra tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. Tangannya dengan lihai memutar kemudi saat mobil melewati tikungan besar. Sera mengusap matanya lagi dengan gerakan kasar, lalu membuang napas panjang seolah ingin melepaskan beban yang menyesakkan dadanya. "Kalau tidak di dekat gudang, kamu menangis di bawah anak tangga menuju rooftop mansion," sahut Rendra pelan, suaranya memecah keheningan yang mulai terasa hangat. "Waktu itu, kamu benar-benar membuatku berpikir kalau mansion keluargaku be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status