MasukSera hanya terdiam sampai Rendra bertanya untuk yang ke dua kali.
“Apa kamu bisa melakukannya?”
"Baik, saya akan melakukannya. Jika ada yang bertanya saya akan sampaikan kalau Anda baik-baik saja.”
Rendra menatap Sera sejenak, ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.
Jadi, yang ia lakukan adalah memberi isyarat pada Evan untuk membukakan pintu.
Dengan langkah tegap yang dipaksakan, ia berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Sera.
Sera berdiri membeku di tengah ruangan yang kini terasa hampa. Aroma parfum maskulin Rendra yang bercampur dengan bau antiseptik masih tertinggal di udara.
Sera segera melangkah menuju ruang konsul Dokter Hans, dokter senior yang tadi memberikan instruksi awal. Ia bermaksud melaporkan bahwa Rendra pergi sebelum waktu observasi selesai.
"Dokter Hans," panggil Sera saat memasuki ruangan. "Pak Presiden, dia memaksa pulang. Luka jahitannya masih sangat baru dan dia belum menerima dosis antibiotik pertamanya. Saya mencoba menahan, tapi …"
Dokter Hans mendongak dari catatan medisnya, melepas kacamata, lalu menyandarkan punggung ke kursi dengan ekspresi datar.
“Biarkan saja," ucap Dokter Hans begitu tenang. “Tidak ada yang bisa kita perbuat. Dia orang nomor satu di Iraya. Lagipula, bukankah kamu tinggal di salah satu paviliun yang ada di Mansion Narrottama? Aku yakin kamu bisa mengurusnya di sana."
Dokter Hans menatap Sera dengan tatapan menyelidik.
"Aku penasaran, jangan-jangan mereka membiayai pendidikanmu sebagai dokter supaya kamu bisa menjadi dokter pribadi keluarga Narrottama?”
Kalimat itu menghantam dada Sera. Ia hanya terdiam, tidak mampu membela diri karena sebagian dari pernyataan itu benar.
“Mereka tidak membutuhkan saya sebagai dokter pribadi,” ucap Sera. “Masih banyak dokter berbakat yang bisa mereka rekrut.”
“Mungkin itu dulu saat Rendra Narrottama belum menjadi presiden. Sekarang mereka butuh dokter pribadi yang memiliki hubungan emosional dengan keluarga mereka,” ujar Dokter Hans. “Kamu tahu kenapa? Karena kondisi kesehatan presiden tidak boleh bocor ke luar.”
Sera mengembuskan napas dan hanya diam. Ia akhirnya pamit keluar dari ruangan dokter Hans dan berjalan gontai menuju ruang koas.
Sera duduk termenung di kursinya, membiarkan ingatannya melayang ke sebuah sore, empat belas tahun yang lalu.
Saat itu Sera baru berusia sembilan tahun. Ia duduk di bawah pohon mangga besar di mansion Narrottama, memperhatikan Rendra yang kala itu sudah berusia dua puluh tiga tahun dan sedang berlibur dari kuliah hukumnya di luar negeri.
Rendra tampak begitu berwibawa meski hanya mengenakan kemeja santai.
"Tuan Rendra," panggil Sera kecil dengan suara mencicit.
Rendra menutup buku tebal yang sedang dibacanya, lalu menoleh. "Ya, Sera? Ada apa?”
"Tuan, apa kuliah jadi dokter itu mahal?"
Rendra sedikit mengernyit, lalu tersenyum tipis. "Sangat mahal. Dan sangat sulit. Kenapa? Kamu mau jadi dokter?"
Sera mengangguk mantap. Matanya yang bulat berkaca-kaca.
"Saya ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan orang-orang yang saya sayang, jadi mereka tidak akan meninggalkan saya.”
Kala itu, Rendra terdiam cukup lama mendengar alasan Sera.
Sera menghela napas panjang dan memilih segera mengemasi barang-barangnya. Hari itu ia bisa pulang lebih awal dan membantu ibu tirinya menyelesaikan pekerjaan di mansion Narrottama.
Langkah kaki Sera terasa berat saat ia memasuki gerbang besar Mansion Narrottama. Ia berjalan menuju paviliun tempat tinggal keluarganya yang ada di belakang mansion.
Namun, baru saja akan masuk rumah, Sera mendengar suara Siwi – ibu tirinya memanggil.
"Sera, syukurlah kamu sudah pulang.” Siwi menghampiri dengan wajah lelah.
“Aku akan membantu di dapur, Ibu istirahat saja,” balas Sera.
Sera menyimpan tasnya ke dalam, memasukkan ponsel ke saku celana lantas menggulung lengan kemejanya. Ia bergegas menuju dapur keluarga Narrottama, tersenyum pada pelayan yang berpapasan dengannya sebelum mengambil celemek dan berdiri di depan bak cuci piring untuk mulai bekerja.
Sera bekerja tanpa beban, ia selalu berpikir ini sebuah keberuntungan.
Tidak semua anak dari pelayaan mansion dibiayai pendidikannya oleh keluarga Narrottama.
"Benar ‘kan? Harusnya Tuan Muda segera menikah. Aku dengar lukanya cukup parah.”
“Kutukan Iraya benar-benar mengerikan, jangan sampai Tuan Rendra kenapa-napa.”
Perbincangan pelayan membuat Sera menghentikan gerakan tangannya membilas piring.
Ia menggeleng, menepis kecemasannya.
‘Dia pasti baik-baik saja meskipun belum mendapatkan suntikan antibiotik.’ Sera bergumam dalam hati.
Sera kembali mengambil satu piring kotor. Ia baru akan menyapukan spons berbusa ke piring, saat mendengat suara seseorang menghardiknya dari arah belakang.
“Aku dengar kamu yang menangani luka Rendra, bagaimana kondisinya sekarang?”
Sera kaget hingga membuat piring yang ia pegang tergelincir masuk ke bak cuci dan membentur piring lain sampai pecah.
"Membalas budi tidak harus dengan menjual hidupku, Yah!" potong Sera dengan suara bergetar. Ia menyambar tasnya, mengabaikan panggilan ayahnya, dan melangkah lebar keluar dari paviliun. Kepalanya berdenyut. Logikanya menolak keras, namun hatinya dipenuhi kegelisahan yang membuncah. Alih-alih menuju gerbang luar untuk berjalan ke halte terdekat menuju rumah sakit, langkah Sera justru membawanya ke mansion utama. Ia harus mendengar langsung penjelasan atas apa yang ia dengar dari sang ayah. Namun, baru saja kakinya menginjak teras mansion Narrottama, sosok Sintia Narrottama sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggu mangsa. "Mau mencari Rendra?" tanya Sintia dingin. Matanya menyapu penampilan Sera dari ujung rambut hingga sepatu kets yang digunakan gadis itu. Tatapan Sintia penuh penghinaan, seolah Sera adalah noda di lantai mengkilap mansionnya. "Benar, saya ingin bicara dengan Tuan Rendra, Nyonya," jawab Sera, mencoba menegakkan bahu meski tangannya dingin.
Rendra memulas senyum tipis. “Yang pasti aku harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki tujuan apapun dari pernikahan ini,” jawab Rendra dingin tanpa menoleh pada ibunya. Sintia semakin heran, keningnya berkerut samar. “Aku tidak ingin pernikahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan lain.” “Tetap saja kamu butuh dukungan agar bisa terus bertahan di posisimu ini.” Sintia mendekat ke Rendra, memegang lengan putranya itu. “Mama masih yakin, kalau ada yang mengincar keselamatan nyawamu.” Rendra hanya diam menatap dalam wajah wanita yang melahirkannya itu. Sintia melepaskan pegangannya, napasnya mulai tidak teratur. "Lalu siapa? Siapa wanita yang menurutmu pantas menjadi pendampingmu?" Rendra menatap langsung ke mata ibunya. "Sera." Sintia terperangah, butuh beberapa detik baginya untuk memproses nama itu. Saat ingatan tentang putri sopir mereka muncul, wajahnya memucat karena emosi. "Sera? Anak Angga si sopir itu?!" Suara Sintia meninggi."Apa kamu sudah kehilangan
Rendra berpaling tanpa menunggu jawaban dari ibu dan neneknya. Saat menoleh tatapannya bertemu dengan Sera.Namun, gadis itu langsung menundukkan kepala.Selepas Rendra pergi, Sintia tampak memukul meja pajangan yang ada di dekatnya.Sintia membuang muka saat Eyang Utari menatap sengit padanya. ‘Wanita tua pikun ini, bisa-bisanya ingin ikut campur urusan pernikahan Rendra.’Tak lama Sera mendekat, memberanikan diri bicara ke Sintia.“Nyonya, jika tidak ada yang ingin dibicarakan saya pamit untuk kembali ke belakang,” ucapnya sopan.“Tunggu! Kamu harus memberitahu kondisi Rendra.” Sintia melirik pada Eyang Utari.Sera mengangguk, kemudian berjalan mendekat agar suaranya bisa terdengar jelas."Tuan Rendra mengalami luka robek yang cukup dalam di bahu kirinya. Luka itu sudah ditangani dengan tindakan penjahitan untuk menghentikan perdarahan dan merapatkan jaringan kulit yang terbuka."Sera menjeda lisan sejenak, melirik ekspresi Sintia yang masih tampak kesal."Meskipun luka sudah dijahi
Sera menoleh, memandang sosok yang berdiri di ambang pintu dapur.Sintia NarrottamaIbu kandung Rendra itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, meskipun gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.Sera segera mengeringkan tangannya pada celemek dan membungkuk dalam, tubuhnya sedikit gemetar."Nyonya," sapa Sera dengan suara bergetar."Jawab pertanyaanku, Sera. Evan memberitahuku kamu yang menangani luka Rendra di rumah sakit tadi, tapi setelah itu Evan tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan putraku," cecar Sintia sembari melangkah maju. "Bagaimana kondisi Rendra? Seberapa parah lukanya?"Sera menunduk, mengatur napas agar suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Rendra mengalami luka robek di bahu kirinya, Nyonya. Tapi kondisinya stabil."Ketegangan di bahu Sintia sedikit mengendur, tapi sedetik kemudian matanya menyipit tajam. Ia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina."Tunggu dulu," suara Sintia mendadak dingin. "Bukankah kamu ma
Sera hanya terdiam sampai Rendra bertanya untuk yang ke dua kali.“Apa kamu bisa melakukannya?”"Baik, saya akan melakukannya. Jika ada yang bertanya saya akan sampaikan kalau Anda baik-baik saja.”Rendra menatap Sera sejenak, ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.Jadi, yang ia lakukan adalah memberi isyarat pada Evan untuk membukakan pintu.Dengan langkah tegap yang dipaksakan, ia berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Sera.Sera berdiri membeku di tengah ruangan yang kini terasa hampa. Aroma parfum maskulin Rendra yang bercampur dengan bau antiseptik masih tertinggal di udara.Sera segera melangkah menuju ruang konsul Dokter Hans, dokter senior yang tadi memberikan instruksi awal. Ia bermaksud melaporkan bahwa Rendra pergi sebelum waktu observasi selesai."Dokter Hans," panggil Sera saat memasuki ruangan. "Pak Presiden, dia memaksa pulang. Luka jahitannya masih sangat baru dan dia belum menerima dosis antibiotik pertamanya. Saya mencoba menahan, tapi …"Dokter Hans
Sera tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu meletakkan nampan besi yang dipegangnya ke troli medis sebelum menoleh pada Rendra."Tuan Rendra," suara Sera mengalun tenang, ia kembali menggunakan panggilan yang biasa ia gunakan untuk menyapa Rendra."Secara logika, tiang itu jatuh karena korosi atau struktur yang tidak stabil. Logika saya mengatakan itu murni kecelakaan konstruksi."Sera menatap lekat Rendra yang hanya diam."Tapi di Iraya, logika seringkali kalah oleh rasa. Rakyat tidak butuh penjelasan teknis tentang baut yang longgar atau besi yang sudah usang. Mereka hanya butuh ketenangan batin. Bagi rakyat Iraya, pemimpin adalah atap. Jika atapnya rusak, mereka merasa air hujan akan masuk ke rumah mereka.” Hening untuk beberapa waktu, sebelum Sera kembali melanjutkan, “Jadi, jika Anda tanya apakah saya percaya mitos itu? Saya lebih percaya bahwa ketakutan jutaan rakyat bisa menjadi kenyataan yang lebih berbahaya daripada mitos itu sendiri."Rendra tertegun. Jawaban itu jauh lebih







