Share

Jimat Hidup

last update publish date: 2026-01-29 07:07:55

Melihat wajah ayahnya pucat pasi, Sera memberanikan diri bersuara. “Maaf, semuanya. Tapi, bisakah saya berbicara dengan ayah saya dulu?”

“Lihat itu, Rendra!” Suara Sintia meninggi. “Di pertemuan penting seperti ini saja, dia berani menyela kita. Dia tidak punya sopan santun, dan kamu memilihnya sebagai calon istri?!”

Namun, Rendra seperti tidak mengindahkan ucapan ibunya. Ia hanya mengangguk singkat pada Sera. “Silakan.”

Sera tertegun sejenak saat membalas tatapan Rendra, lalu segera membawa Angga keluar dari ruang keluarga Narrottama.

Ia mengajak ayahnya berdiri di ujung koridor mansion untuk bicara empat mata.

Sera menggenggam kedua tangan ayahnya yang mulai keriput dimakan usia. Di depan ayahnya, suaranya terdengar lirih dan putus asa. “Ayah… apa Ayah sekarang berpikir untuk menerima pernikahan itu?”

Angga menatap Sera dengan rasa bersalah, namun juga ada permohonan di matanya. “Sera… kamu tahu, kita berutang budi pada keluarga Narrottama. Ini cara yang paling baik untuk membalasnya.”

Mendengar itu, Sera langsung melepas genggamannya. Emosi di dadanya naik tanpa bisa dicegah. “Yah, ada banyak cara lain untuk membalas utang budi itu!”

“Sebentar lagi aku lulus jadi dokter umum, Yah! Tinggal beberapa bulan lagi aku bisa mandiri. Aku bisa bantu keluarga kita hidup lebih baik. Aku punya mimpi untuk menyembuhkan orang dan lanjut spesialis… bukan untuk jadi pajangan di keluarga Narrottama!”

Sera menatap ayahnya dengan sorot kecewa yang dalam.

“Ayah sudah janji akan mendukungku… tapi kenapa sekarang Ayah justru jadi orang pertama yang memutus jalan itu? Keputusan sepihak seperti ini bukan cuma mengatur hidupku… tapi juga membunuh masa depanku pelan-pelan.”

Angga menahan napas. Tangannya naik, memegang bahu Sera yang bergetar.

“Ayah paham,” suaranya pelan, berat. “Ayah paham kamu merasa ini akan menghentikan semua mimpimu. Tapi… Tuan Rendra bisa memberi kamu lebih dari itu.”

Sera menggeleng cepat. “Bukan itu yang aku mau, Yah!”

Angga terdiam sejenak, lalu menunduk. “Ayah juga tidak ingin ini terjadi seperti ini,” lanjutnya pelan. “Tapi… situasinya berbeda sekarang.”

Sera mengerutkan kening. “Berbeda bagaimana?”

Angga tidak langsung menjawab. Tatapannya ragu, seolah menimbang apakah firasatnya benar. “Sejak Tuan Rendra terpilih… pasti ada hal-hal yang tidak berjalan seperti seharusnya,” ucapnya akhirnya, hati-hati. “Dan… tidak semua orang memiliki sesuatu yang kamu miliki.”

Sera menatap ayahnya, bingung. “Maksud Ayah apa?”

Angga menghela napas pelan.

“Kamu sendiri pasti tahu… kamu tidak sama dengan orang lain.”

Kalimat itu sederhana. Namun cukup membuat Sera terdiam. Kini, Sera baru teringat akan cerita-cerita ayahnya tentang Iraya.

“Ayah tidak bilang ini hal yang mudah,” lanjut Angga. “Tapi… mungkin ini memang jalan yang harus kamu hadapi.”

Air mata mulai menggenang di mata Sera. Ayahnya pernah mengatakan bahwa tanggal lahirnya langka dan spesial. Namun, Sera tidak pernah berpikir bahwa tanggal lahirnya yang mungkin justru menyeretnya dalam takdir seperti ini.

“Aku hanya akan dijadikan alat, Yah,” bisiknya lirih. “Ayah tega?”

Angga langsung menarik Sera ke dalam pelukannya.

“Bukan alat,” ucapnya pelan. “Ayah tidak pernah melihatmu seperti itu.” Ia mengusap punggung Sera perlahan. “Kalau memang kamu harus berada di sampingnya… Ayah yakin itu bukan tanpa alasan.”

Sera memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa ia tahan.

Ia ingin membantah.

Ia ingin menolak semua ini.

Tetapi, kata-kata ayahnya justru membuatnya semakin tidak punya pegangan.

Sera baru saja membuka mulut untuk bicara lagi namun suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari ujung koridor dan semakin mendekat.

Evan muncul, menatap Angga dan Sera bergantian. Wajahnya datar, namun suaranya tegas.

“Pak Rendra tidak bisa menunggu terlalu lama. Silakan kembali masuk ke dalam.”

Begitu pintu ruang keluarga terbuka kembali, langkah Sera terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Udara di dalam ruangan itu terasa berbeda.

Sera berdiri di samping ayahnya, namun kali ini ia tidak lagi merasa memiliki tempat untuk berpijak.

Rendra sudah berdiri di tengah ruangan.

Tatapannya langsung jatuh pada Sera, seolah tidak ada satu pun orang lain yang lebih penting untuk diperhatikan saat ini.

“Jadi,” ucapnya tenang, “keputusannya?”

Pertanyaan itu sederhana, namun justru membuat dada Sera terasa semakin sesak. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan gejolak yang terus naik dari dalam dirinya. Ia sudah bicara dengan ayahnya. Ia sudah mencoba mempertahankan apa yang ia yakini. Tapi begitu kembali ke ruangan ini, semuanya terasa sia-sia.

Ia melirik ayahnya sekilas. Namun Angga hanya menunduk, membuat sesuatu dalam diri Sera runtuh perlahan.

“Saya sudah mengatakan penolakan saya, Tuan,” ucapnya akhirnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Dan keputusan saya tidak berubah.”

Keheningan kembali turun.

Sera bisa merasakan tatapan Nyonya Sintia yang penuh ketidaksetujuan, sorot mata Tuan Dewa yang tajam dan penuh perhitungan, bahkan kehadiran Eyang Utari yang diam justru terasa paling sulit diabaikan. Seolah semua orang sedang menunggu bagaimana situasi ini akan berakhir.

Rendra tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya menatap Sera lebih lama dari sebelumnya, seolah memastikan sesuatu. Lalu, “Kalau begitu,” ucapnya pelan, “aku akan menjelaskan sekali lagi.”

Sera mengernyit, namun belum sempat ia menyela, suara Rendra kembali terdengar. 

“Dalam dua bulan terakhir, sudah ada enam insiden yang hampir merenggut nyawaku.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Namun dampaknya langsung terasa. Sintia menegang. Dewa yang sebelumnya tampak tenang kini menatap lebih dalam. Angga tersentak kecil di sampingnya.

Dan Sera membeku.

Ia tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa pria yang berdiri di depannya ini… telah berkali-kali berada di ambang bahaya.

“Dan semuanya terjadi setelah aku dilantik,” lanjut Rendra. Suaranya tetap sama, tenang. Seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang biasa.

Namun justru itu yang membuat Sera semakin tidak mengerti.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

“Ini bukan kebetulan.”

Sera menelan ludah. Ia tidak tahu harus merasa apa. Takut? Bingung? Atau justru… curiga?

“Dan apa hubungannya dengan saya?” tanyanya akhirnya, suaranya tidak sekuat sebelumnya.

Rendra menatapnya lurus. “Kamu tahu jawabannya.”

Sera menggeleng pelan. “Tidak,” bisiknya. “Saya tidak tahu.”

Ia benar-benar tidak tahu. Atau mungkin… ia mulai takut untuk mengerti.

Namun, Rendra tidak memberikan penjelasan apa pun lagi. Rendra hanya membalas, “Kamu akan tahu.”

Sera mengepalkan tangan. Ia merasa terpojok dan tidak punya pilihan. Hanya diarahkan menuju sesuatu yang bahkan sulit ia pahami. “Kalau begitu,” ucapnya, berusaha menguatkan dirinya sendiri, “tetap tidak ada alasan bagi saya untuk menikah dengan Anda.”

Ia tahu kata-kata itu berani. Namun saat itu, itu satu-satunya hal yang masih bisa ia pertahankan.

Harga dirinya.

Namun Rendra tidak menunjukkan kemarahan. Ia hanya menoleh sedikit. “Evan.”

Evan langsung maju satu langkah. “Ya, Bapak.”

“Panggil Menteri Agama.”

Sera merasa seolah ada sesuatu yang jatuh di dalam dirinya. “Apa maksud Anda—”

“Prosesi akad dilakukan malam ini.”

Sera menatapnya, tidak percaya. Dunia di sekitarnya terasa seperti berputar terlalu cepat.

“Ini bukan permintaan,” lanjut Rendra. Tatapannya tenang, kembali tertuju pada Sera. “Ini keputusan.”

Sera menoleh pada ayahnya. Berharap sekali lagi ayahnya akan membelanya. Namun, Angga tetap diam, kepalanya semakin tertunduk.

Satu jam kemudian, dalam seremoni sunyi yang jauh dari kata mewah, Rendra dan Sera resmi menjadi suami-istri.

Di ruang keluarga yang mewah dan dingin itu, Rendra menatap Sera tanpa ekspresi. Semua orang keluar meninggalkan mereka seolah ingin memberikan ruang.

“Besok, aku akan mengumumkan pernikahan kita ke seluruh negeri.”

Sera mengepalkan tangan, masih tak menyangka dengan apa yang baru saja ia alami. Perasaan tidak terima masih bercokol di hatinya.

“Baik, jika itu mau Anda. Tapi apa imbalannya? Saya tidak ingin mengorbankan hidup saya secara cuma-cuma.”

Rendra diam, senyum samar tersirat di bibirnya. “Apa pun. Aku akan membiayai pendidikan spesialis yang kamu impikan, bahkan jika kamu mau aku bisa membangunkan rumah sakit terbesar di Iraya untukmu.”

Sera tersenyum hambar, menyadari betapa kecilnya ia di bawah kekuasaan seorang Rendra, sang penguasa Iraya.

Pagi tadi Sera merasa masih menggenggam jalan takdirnya sendiri saat berangkat ke Rumah Sakit Narita, tapi siapa sangka semua itu menghilang bagai buih di lautan hanya dalam sekejap mata.

“Pergilah istirahat. Evan akan membantumu bersiap untuk pengumuman pernikahan ini besok malam.”

Sera tak bisa membantah lagi, dengan lemas memutar tumit dan pergi tanpa membalas ucapan Rendra.

Sementara itu di dalam kamar pribadinya, wajah Sintia tampak merah padam menahan amarah yang membuncah.

"Apa yang kamu pikirkan?!" bentak Sintia dengan nada suara menusuk. "Kenapa kamu malah mendukung keputusan Rendra? Sera itu hanya anak sopir! Masih ada putri-putri kolegamu, atau sepupu jauh Rendra yang punya darah ningrat. Mereka jauh lebih pantas menjadi Ibu Negara!"

Dewa menatap Sintia dengan sangat tenang, berjalan menuju pembaringan dan duduk bersandar di kepala ranjang, setelah itu menjawab, "Semua wanita yang kamu sebutkan itu datang dengan harga yang mahal. Keluarga mereka akan mengajukan ribuan syarat, meminta jatah proyek, jabatan untuk keluarga mereka, dan akan mengambil keuntungan politik dari pernikahan ini."

Sintia terdiam, namun bibirnya masih bergetar.

"Rendra itu Presiden Iraya," lanjut Dewa. "Jika urusan politik, menurutmu apa kemampuannya masih perlu diragukan? Dia memilih Sera karena dia tahu gadis itu dan keluarganya mudah dikendalikan. Mereka hanya rakyat biasa, tidak punya kepentingan politik, dan hutang budi ayahnya ke keluarga kita adalah rantai terbaik untuk memastikan dia tidak akan berkhianat."

"Tapi tetap saja, aku tidak sudi punya menantu anak sopir seperti dia!" Sintia memalingkan wajah, raut jijik terlihat di wajahnya tanpa ingin ia tutupi.

"Tenang saja. Rendra pasti sudah memikirkan urusan itu. Ini hanya pernikahan di atas kertas untuk menyelamatkan kursi kepresidenannya." Dewa masih terus mencoba menenangkan Sintia. “Dan, Sera hanya akan jadi jimat Rendra. Kamu tahu itu dengan jelas.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Devi Pramita
itu kita cuma bawahan.. sesuka hatinya diatur.. semangat sera
goodnovel comment avatar
Sari 💚
Sepertinya Rendra menyukai Sera, tapi ada rasa gengsi kayaknya untuk mengakui. atau mungkin dia belum menyadari rasa suka sama Sera
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
untg Pa Dewa bsa tau mksud dr ank ny yg plih Sera bt jd istri ny xixixi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berjanji

    Senyuman puas langsung mengembang lebar di bibir Ratu. Sorot matanya berbinar cerah saat ia menoleh ke samping, menatap wajah Arkan dengan senyum penuh kemenangan yang tak berusaha ia sembunyikan. Arkan yang ditatap seperti itu hanya bisa menggaruk pelipisnya seraya membalas dengan senyum tipis bercampur lega."Sudah, lanjutkan lagi makannya," ujar Rendra memecah keheningan yang tersisa seraya meraih kembali sendok dan garpunya. Pria itu memberi isyarat dengan anggukan kepala pada semua orang di meja. "Jangan biarkan makanannya dingin."Mau tidak mau, denting alat makan perlahan kembali terdengar satu per satu. Meski begitu, suasana di meja perjamuan itu berubah menjadi sangat canggung.Pak Angga dan Bu Siwi hanya menyendok nasi sedikit demi sedikit, sesekali melirik cemas ke arah besan mereka. Sera pun hanya memotong daging di piringnya dalam diam seraya menatap suaminya bergantian dengan Arkan.Sementara itu, Sintia benar-benar tidak berkutik lagi di kursinya. Wajah wanita paruh baya

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Akan Mendukungmu

    Keheningan kembali menyergap seisi ruang makan. Tidak ada satu pun yang langsung menyahut pengakuan gamblang itu. Suasana mendadak begitu beku sampai deru pendingin ruangan terdengar jelas.Ratu mengedarkan pandangannya dengan dagu terangkat. Sorot matanya beralih menatap Rendra yang masih bergeming, lalu bergulir tepat menatap Sera."Apa ada yang salah kalau kami pacaran?" desak Ratu lagi, suaranya menuntut jawaban tegas.Sera menegakkan punggungnya. Ia merasa tatapan Ratu barusan seperti sedang menodongnya tepat di depan hidung, memaksanya untuk memihak. Sera menarik napas pendek, lalu melipat jemarinya di atas meja."Tidak ada yang salah dengan menjalin hubungan, Ratu," sahut Sera dengan intonasi tenang dan hati-hati. "Tapi setidaknya kalian harus bersikap bijak.""Bijak apa maksudmu?" balas Ratu cepat tanpa jeda sedetik pun. Nada bicaranya terdengar skeptis. "Karena perbedaan usia kami berdua, makanya kalian semua menganggap hubungan ini aneh dan tidak wajar?""Ratu! Cukup!" benta

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Makan Malam Yang Tegang

    Rendra malah tertawa pelan mendengar ucapan polos bercampur pasrah dari adik iparnya itu. Tawa renyahnya memecah ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan, membuat pundak Pak Angga dan Bu Siwi ikut sedikit mengendur. Tangan Rendra kembali menepuk bahu Arkan, kali ini dengan cengkeraman bersahabat."Tenang saja, Arkan," kata Rendra seraya menggelengkan kepalanya geli. "Semua itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang akan mengeksekusimu malam ini."Arkan mengembuskan napas panjang yang terdengar jelas, mengusap tengkuknya dengan senyum canggung. Belum sempat Arkan membalas perkataan sang kakak ipar, suara derap langkah kaki dari arah pintu masuk kembali terdengar.Pintu ganda ruang makan terbuka lebar, menampilkan rombongan keluarga Narrottama. Eyang Utari melangkah di barisan paling depan dengan tongkat kayunya yang berketuk pelan di lantai marmer, didampingi oleh Dewa. Tepat di belakang mereka, Sintia berjalan dengan gaun sutra mewahnya, disusul Ratu yang melangkah santai dengan dagu se

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berat Hati

    Hari berikutnya, Sera menghabiskan waktu dari pagi sampai sore dengan perasaan gelisah yang terus menggerogoti hatinya. Bahkan saat memeriksa rekam medis pasien di rumah sakit, fokusnya kerap kali buyar. Pikirannya melayang jauh pada acara malam nanti di istana. Ia sama sekali tidak bisa memprediksi kemungkinan buruk apa yang akan meledak di sana.Karena terus dihantui rasa cemas, Sera memutuskan pulang dari RS Narita lebih awal. Begitu kakinya melangkah melewati pintu penghubung ruang makan utama istana, matanya menangkap kesibukan para pelayan. Deretan piring porselen sudah tertata rapi di atas meja, berdampingan dengan set sendok garpu.Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah mendekat, lalu membungkuk sopan di hadapannya. "Nona Sera, jamuan makan malam untuk nanti hampir siap sepenuhnya."Sera mengangguk pelan seraya menarik sudut bibirnya tipis. "Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku mau ke kamar dulu untuk bersiap.""Baik, Nona."Sera melangkah menaiki tangga menuju kam

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Tapi Menohok

    Ratu mendengus geli mendengar ocehan panjang ibunya. Senyuman tipis yang mengejek tersungging di bibirnya seraya menatap sang ibu tanpa berkedip."Aku tidak mau," sahut Ratu dengan nada datar dan sangat santai, menolak mentah-mentah tuntutan itu.Dewa yang sejak tadi menyimak perdebatan panas itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seraya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia benar-benar pusing melihat keras kepalanya Ratu yang sama sekali tak bisa diatur."Sudah! Coba kalian berdua tenang dulu dan jangan terus-terusan berdebat seperti ini," potong Dewa menaikkan intonasi bicaranya demi menghentikan kegaduhan. Pria itu mengarahkan tangannya ke arah sofa kosong di seberangnya. "Duduk kalian berdua!"Ratu tanpa membantah sedikit pun langsung melangkah santai, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk di seberang sang ayah seraya menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun.Sementara itu, Sintia masih berdiri mematung di tengah karpet, napasnya memburu kasar

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Anak Gadis Yang Membangkang

    Rendra menatap wajah Sera yang masih basah oleh air mata beberapa detik. Alisnya yang sempat bertaut perlahan mengendur, lalu sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman kecil yang nyaris tak terlihat."Jadi, ceritanya kamu sedang melakukan pengakuan dosa sekarang?" tanya Rendra dengan nada suara yang begitu tenang dan santai.Sera mengerjapkan matanya yang masih basah, sedikit bingung mendapati tidak ada kilat amarah sama sekali di mata suaminya. Ia akhirnya mengangguk pelan seraya menundukkan kepala kembali, meremas ujung bajunya."Iya, Mas..."Melihat kepolosan istrinya itu, Rendra mengembuskan napas pendek. Kedua telapak tangannya kemudian terangkat, menangkup kedua belah pipi Sera dengan lembut. Ibu jarinya bergerak perlahan, menyeka sisa jejak air mata yang masih membasahi kulit pipi sang istri."Dengar, Sera," ucap Rendra seraya menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu. "Aku sama sekali tidak marah dengan apa yang sudah kamu ucapkan pada Mama."Sera mendongak sedikit,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status