MasukMelihat wajah ayahnya pucat pasi, Sera memberanikan diri bersuara. “Maaf, semuanya. Tapi, bisakah saya berbicara dengan ayah saya dulu?”
“Lihat itu, Rendra!” Suara Sintia meninggi. “Di pertemuan penting seperti ini saja, dia berani menyela kita. Dia tidak punya sopan santun, dan kamu memilihnya sebagai calon istri?!”
Namun, Rendra seperti tidak mengindahkan ucapan ibunya. Ia hanya mengangguk singkat pada Sera. “Silakan.”
Sera tertegun sejenak saat membalas tatapan Rendra, lalu segera membawa Angga keluar dari ruang keluarga Narrottama.
Ia mengajak ayahnya berdiri di ujung koridor mansion untuk bicara empat mata.
Sera menggenggam kedua tangan ayahnya yang mulai keriput dimakan usia. Di depan ayahnya, suaranya terdengar lirih dan putus asa. “Ayah… apa Ayah sekarang berpikir untuk menerima pernikahan itu?”
Angga menatap Sera dengan rasa bersalah, namun juga ada permohonan di matanya. “Sera… kamu tahu, kita berutang budi pada keluarga Narrottama. Ini cara yang paling baik untuk membalasnya.”
Mendengar itu, Sera langsung melepas genggamannya. Emosi di dadanya naik tanpa bisa dicegah. “Yah, ada banyak cara lain untuk membalas utang budi itu!”
“Sebentar lagi aku lulus jadi dokter umum, Yah! Tinggal beberapa bulan lagi aku bisa mandiri. Aku bisa bantu keluarga kita hidup lebih baik. Aku punya mimpi untuk menyembuhkan orang dan lanjut spesialis… bukan untuk jadi pajangan di keluarga Narrottama!”
Sera menatap ayahnya dengan sorot kecewa yang dalam.
“Ayah sudah janji akan mendukungku… tapi kenapa sekarang Ayah justru jadi orang pertama yang memutus jalan itu? Keputusan sepihak seperti ini bukan cuma mengatur hidupku… tapi juga membunuh masa depanku pelan-pelan.”
Angga menahan napas. Tangannya naik, memegang bahu Sera yang bergetar.
“Ayah paham,” suaranya pelan, berat. “Ayah paham kamu merasa ini akan menghentikan semua mimpimu. Tapi… Tuan Rendra bisa memberi kamu lebih dari itu.”
Sera menggeleng cepat. “Bukan itu yang aku mau, Yah!”
Angga terdiam sejenak, lalu menunduk. “Ayah juga tidak ingin ini terjadi seperti ini,” lanjutnya pelan. “Tapi… situasinya berbeda sekarang.”
Sera mengerutkan kening. “Berbeda bagaimana?”
Angga tidak langsung menjawab. Tatapannya ragu, seolah menimbang apakah firasatnya benar. “Sejak Tuan Rendra terpilih… pasti ada hal-hal yang tidak berjalan seperti seharusnya,” ucapnya akhirnya, hati-hati. “Dan… tidak semua orang memiliki sesuatu yang kamu miliki.”
Sera menatap ayahnya, bingung. “Maksud Ayah apa?”
Angga menghela napas pelan.
“Kamu sendiri pasti tahu… kamu tidak sama dengan orang lain.”
Kalimat itu sederhana. Namun cukup membuat Sera terdiam. Kini, Sera baru teringat akan cerita-cerita ayahnya tentang Iraya.
“Ayah tidak bilang ini hal yang mudah,” lanjut Angga. “Tapi… mungkin ini memang jalan yang harus kamu hadapi.”
Air mata mulai menggenang di mata Sera. Ayahnya pernah mengatakan bahwa tanggal lahirnya langka dan spesial. Namun, Sera tidak pernah berpikir bahwa tanggal lahirnya yang mungkin justru menyeretnya dalam takdir seperti ini.
“Aku hanya akan dijadikan alat, Yah,” bisiknya lirih. “Ayah tega?”
Angga langsung menarik Sera ke dalam pelukannya.
“Bukan alat,” ucapnya pelan. “Ayah tidak pernah melihatmu seperti itu.” Ia mengusap punggung Sera perlahan. “Kalau memang kamu harus berada di sampingnya… Ayah yakin itu bukan tanpa alasan.”
Sera memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa ia tahan.
Ia ingin membantah.
Ia ingin menolak semua ini.
Tetapi, kata-kata ayahnya justru membuatnya semakin tidak punya pegangan.
Sera baru saja membuka mulut untuk bicara lagi namun suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari ujung koridor dan semakin mendekat.
Evan muncul, menatap Angga dan Sera bergantian. Wajahnya datar, namun suaranya tegas.
“Pak Rendra tidak bisa menunggu terlalu lama. Silakan kembali masuk ke dalam.”
Begitu pintu ruang keluarga terbuka kembali, langkah Sera terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Udara di dalam ruangan itu terasa berbeda.
Sera berdiri di samping ayahnya, namun kali ini ia tidak lagi merasa memiliki tempat untuk berpijak.
Rendra sudah berdiri di tengah ruangan.
Tatapannya langsung jatuh pada Sera, seolah tidak ada satu pun orang lain yang lebih penting untuk diperhatikan saat ini.
“Jadi,” ucapnya tenang, “keputusannya?”
Pertanyaan itu sederhana, namun justru membuat dada Sera terasa semakin sesak. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan gejolak yang terus naik dari dalam dirinya. Ia sudah bicara dengan ayahnya. Ia sudah mencoba mempertahankan apa yang ia yakini. Tapi begitu kembali ke ruangan ini, semuanya terasa sia-sia.
Ia melirik ayahnya sekilas. Namun Angga hanya menunduk, membuat sesuatu dalam diri Sera runtuh perlahan.
“Saya sudah mengatakan penolakan saya, Tuan,” ucapnya akhirnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Dan keputusan saya tidak berubah.”
Keheningan kembali turun.
Sera bisa merasakan tatapan Nyonya Sintia yang penuh ketidaksetujuan, sorot mata Tuan Dewa yang tajam dan penuh perhitungan, bahkan kehadiran Eyang Utari yang diam justru terasa paling sulit diabaikan. Seolah semua orang sedang menunggu bagaimana situasi ini akan berakhir.
Rendra tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya menatap Sera lebih lama dari sebelumnya, seolah memastikan sesuatu. Lalu, “Kalau begitu,” ucapnya pelan, “aku akan menjelaskan sekali lagi.”
Sera mengernyit, namun belum sempat ia menyela, suara Rendra kembali terdengar.
“Dalam dua bulan terakhir, sudah ada enam insiden yang hampir merenggut nyawaku.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Namun dampaknya langsung terasa. Sintia menegang. Dewa yang sebelumnya tampak tenang kini menatap lebih dalam. Angga tersentak kecil di sampingnya.
Dan Sera membeku.
Ia tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa pria yang berdiri di depannya ini… telah berkali-kali berada di ambang bahaya.
“Dan semuanya terjadi setelah aku dilantik,” lanjut Rendra. Suaranya tetap sama, tenang. Seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang biasa.
Namun justru itu yang membuat Sera semakin tidak mengerti.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
“Ini bukan kebetulan.”
Sera menelan ludah. Ia tidak tahu harus merasa apa. Takut? Bingung? Atau justru… curiga?
“Dan apa hubungannya dengan saya?” tanyanya akhirnya, suaranya tidak sekuat sebelumnya.
Rendra menatapnya lurus. “Kamu tahu jawabannya.”
Sera menggeleng pelan. “Tidak,” bisiknya. “Saya tidak tahu.”
Ia benar-benar tidak tahu. Atau mungkin… ia mulai takut untuk mengerti.
Namun, Rendra tidak memberikan penjelasan apa pun lagi. Rendra hanya membalas, “Kamu akan tahu.”
Sera mengepalkan tangan. Ia merasa terpojok dan tidak punya pilihan. Hanya diarahkan menuju sesuatu yang bahkan sulit ia pahami. “Kalau begitu,” ucapnya, berusaha menguatkan dirinya sendiri, “tetap tidak ada alasan bagi saya untuk menikah dengan Anda.”
Ia tahu kata-kata itu berani. Namun saat itu, itu satu-satunya hal yang masih bisa ia pertahankan.
Harga dirinya.
Namun Rendra tidak menunjukkan kemarahan. Ia hanya menoleh sedikit. “Evan.”
Evan langsung maju satu langkah. “Ya, Bapak.”
“Panggil Menteri Agama.”
Sera merasa seolah ada sesuatu yang jatuh di dalam dirinya. “Apa maksud Anda—”
“Prosesi akad dilakukan malam ini.”
Sera menatapnya, tidak percaya. Dunia di sekitarnya terasa seperti berputar terlalu cepat.
“Ini bukan permintaan,” lanjut Rendra. Tatapannya tenang, kembali tertuju pada Sera. “Ini keputusan.”
Sera menoleh pada ayahnya. Berharap sekali lagi ayahnya akan membelanya. Namun, Angga tetap diam, kepalanya semakin tertunduk.
Satu jam kemudian, dalam seremoni sunyi yang jauh dari kata mewah, Rendra dan Sera resmi menjadi suami-istri.
Di ruang keluarga yang mewah dan dingin itu, Rendra menatap Sera tanpa ekspresi. Semua orang keluar meninggalkan mereka seolah ingin memberikan ruang.
“Besok, aku akan mengumumkan pernikahan kita ke seluruh negeri.”
Sera mengepalkan tangan, masih tak menyangka dengan apa yang baru saja ia alami. Perasaan tidak terima masih bercokol di hatinya.
“Baik, jika itu mau Anda. Tapi apa imbalannya? Saya tidak ingin mengorbankan hidup saya secara cuma-cuma.”
Rendra diam, senyum samar tersirat di bibirnya. “Apa pun. Aku akan membiayai pendidikan spesialis yang kamu impikan, bahkan jika kamu mau aku bisa membangunkan rumah sakit terbesar di Iraya untukmu.”
Sera tersenyum hambar, menyadari betapa kecilnya ia di bawah kekuasaan seorang Rendra, sang penguasa Iraya.
Pagi tadi Sera merasa masih menggenggam jalan takdirnya sendiri saat berangkat ke Rumah Sakit Narita, tapi siapa sangka semua itu menghilang bagai buih di lautan hanya dalam sekejap mata.
“Pergilah istirahat. Evan akan membantumu bersiap untuk pengumuman pernikahan ini besok malam.”
Sera tak bisa membantah lagi, dengan lemas memutar tumit dan pergi tanpa membalas ucapan Rendra.
Sementara itu di dalam kamar pribadinya, wajah Sintia tampak merah padam menahan amarah yang membuncah.
"Apa yang kamu pikirkan?!" bentak Sintia dengan nada suara menusuk. "Kenapa kamu malah mendukung keputusan Rendra? Sera itu hanya anak sopir! Masih ada putri-putri kolegamu, atau sepupu jauh Rendra yang punya darah ningrat. Mereka jauh lebih pantas menjadi Ibu Negara!"
Dewa menatap Sintia dengan sangat tenang, berjalan menuju pembaringan dan duduk bersandar di kepala ranjang, setelah itu menjawab, "Semua wanita yang kamu sebutkan itu datang dengan harga yang mahal. Keluarga mereka akan mengajukan ribuan syarat, meminta jatah proyek, jabatan untuk keluarga mereka, dan akan mengambil keuntungan politik dari pernikahan ini."
Sintia terdiam, namun bibirnya masih bergetar.
"Rendra itu Presiden Iraya," lanjut Dewa. "Jika urusan politik, menurutmu apa kemampuannya masih perlu diragukan? Dia memilih Sera karena dia tahu gadis itu dan keluarganya mudah dikendalikan. Mereka hanya rakyat biasa, tidak punya kepentingan politik, dan hutang budi ayahnya ke keluarga kita adalah rantai terbaik untuk memastikan dia tidak akan berkhianat."
"Tapi tetap saja, aku tidak sudi punya menantu anak sopir seperti dia!" Sintia memalingkan wajah, raut jijik terlihat di wajahnya tanpa ingin ia tutupi.
"Tenang saja. Rendra pasti sudah memikirkan urusan itu. Ini hanya pernikahan di atas kertas untuk menyelamatkan kursi kepresidenannya." Dewa masih terus mencoba menenangkan Sintia. “Dan, Sera hanya akan jadi jimat Rendra. Kamu tahu itu dengan jelas.”
Eyang Utari tidak melewatkan perubahan gerak-gerik Sera. Sorot mata wanita tua itu berubah tajam saat memperhatikan ekspresi Sera."Ada apa, Sera? Apa Sintia membuatmu merasa tidak nyaman lagi?" tanya Eyang Utari langsung, intonasi suaranya mendatar.Sera tersentak pelan. Buru-buru ia menggeleng dan berusaha tersenyum senormal mungkin. "Tidak kok, Eyang. Tidak ada apa-apa."Eyang Utari mendengus pelan, menepuk kasur di sampingnya. "Kamu tidak bisa menutupi itu dari Eyang, Sera. Sintia itu memang susah sekali dibilangi. Hatinya sekeras batu."Sebelum Sera atau Rendra sempat merespons, Eyang Utari sudah menyingkap selimut tebal yang menutupi kakinya. Kedua kakinya diturunkan ke lantai berkarpet tebal, lalu ia menumpukan tangannya di tepi kasur untuk bersiap berdiri."Eyang?" Rendra terkesiap, bergerak sigap memegangi lengan neneknya. "Mau apa?""Ayo, kita ke ruang makan bersama," titah Eyang Utari mantap seraya menegakkan punggungnya perlahan.Sera ikut bangkit berdiri dari duduknya deng
Rendra tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk lengkungan tipis. Matanya yang semula redup kini memancarkan binar jenaka."Kalau begitu, bagaimana kalau kita lebih berusaha agar Eyang segera punya cicit?" bisik Rendra seraya mencondongkan tubuhnya ke Sera.Mata Sera membulat sempurna. Pipinya langsung memanas mendengar penuturan tanpa aba-aba itu. Rasa terkejut bercampur malu membuat tangannya mengepal ringan, lalu melayangkan pukulan pelan ke dada bidang suaminya."Mas Rendra!" semprot Sera tertahan.Pukulan itu sama sekali tidak membuat Rendra meringis, tapi justru tertawa renyah hingga bahunya berguncang. Suara tawa Rendra terdengar lepas, memecah ketegangan yang sejak tadi membungkus kamar. Tangan Rendra bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Sera yang hendak melayangkan pukulan berikutnya, menggenggam jemari mungil itu lalu membawanya turun."Bercanda sedikit," ucap Rendra, tawanya mereda menjadi senyum hangat. Ia mengusap punggung tangan Sera de
Sera menelan ludah pelan. Udara di ruang keluarga itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Jari-jemari Sera yang bertaut di atas pangkuan mencengkeram semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menyalurkan rasa kejut yang baru saja menghantam dadanya.Rendra di sebelahnya langsung menggeser posisi duduk. Bahu tegap pria itu menegang. Tatapannya beralih dari Sera menuju wanita paruh baya di seberang meja kaca."Ma," panggil Rendra. Suaranya tidak tinggi, tapi ada penekanan berat di setiap katanya. Matanya menatap lurus ke arah Sintia. "Sera hanya bertanya. Dia khawatir pada Eyang."Sintia perlahan mengangkat dagunya. Tangan kirinya bergerak merapikan lipatan gaun yang ia kenakan dengan gerakan lambat dan teratur, seakan ucapan putranya barusan hanyalah angin lalu."Mama juga hanya menjawab, Ren. Mama bilang Eyang sedang istirahat, dan kedatangannya hanya akan mengganggu. Apa ada yang salah dengan jawaban Mama?"Rendra membuka mulut, bersiap membalas ucapan ibunya, namun Sera
"... Arkan."Kening Sera berkerut dalam. Langkah kakinya otomatis terhenti begitu nama itu tertangkap oleh telinganya. Napasnya tertahan sesaat. Berbagai pertanyaan seketika berjejalan di dalam kepalanya. Kenapa Ratu menyebutkan nama Arkan? Ada hubungan apa sebenarnya mereka berdua sampai Ratu harus menelepon Arkan malam-malam begini?Ujung jemari Sera meremas pelan sisi bajunya. Apakah Arkan yang dimaksud adalah adiknya?Namun, sedetik kemudian Sera menggeleng pelan. Ia berusaha menepis jauh-jauh pikiran itu. Nama Arkan tidak hanya satu di dunia ini. Pasti ada banyak orang yang bernama Arkan selain adiknya. Tidak mungkin Ratu memiliki urusan dengan adiknya malam-malam begini.Memutuskan untuk tidak mempedulikan pembicaraan itu lebih jauh, Sera memutar tumitnya perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia bergegas meninggalkan area taman pembatas itu, melangkah masuk kembali ke dalam rumah.Baru beberapa langkah melewati lorong yang terang, Sera melihat Rendra berdiri di ruang depan deng
Malam harinya di Istana Kepresidenan, suasana kamar utama terasa hening sebelum derit pintu memecah kesunyian. Rendra melangkah masuk seraya melonggarkan kancing teratas kemejanya yang mulai kusut setelah seharian berkutat dengan urusan kenegaraan.Melihat Sera yang tengah merapikan beberapa buku kedokteran di atas meja, langkah Rendra memelan. Ia mendekat, lalu mendaratkan pelukan ringan di pundak istrinya dari belakang sembari menyandarkan dagunya sejenak."Sedang apa?" tanya Rendra dengan suara rendah yang terdengar lelah namun tenang. "Bagaimana seharian ini? Apa saja aktivitasmu?"Sera menoleh sedikit, menyunggingkan senyum lembut menyambut kepulangan sang suami. "Tadi pagi aku ke Rumah Sakit Narita. Menjemput Deo karena hari ini dia sudah diperbolehkan pulang."Alis Rendra terangkat sebelah. "Deo sudah pulang?""Iya, lukanya sudah membaik. Malah setelah itu aku, Erika, dan Lana mengantar Deo pulang ke rumahnya," lanjut Sera seraya membalikkan tubuh menghadap Rendra. Jemarinya te
"Masih lajang?" potong Lana pelan, kepalanya tertunduk sedikit dengan raut wajah penuh penyesalan. "Sekali lagi saya minta maaf, Nona Sera. Bukan maksud saya untuk sengaja menyembunyikan hal ini dari Anda."Sera menatap lekat wajah pengawalnya itu, menanti kelanjutan kalimatnya tanpa menyela.Lana mengusap pelan punggung putrinya yang masih bersandar di bahunya. "Saya sama sekali tidak bermaksud menutupi status saya yang seorang janda. Hanya saja, hal seperti ini memang tidak pernah menjadi bahan pembicaraan di kalangan para pengawal Nona. Maka dari itu saya memilih diam. Saya tidak mau membahasnya lebih dulu karena untuk apa juga dibicarakan? Lagipula, status pribadi saya ini sama sekali tidak penting untuk dibahas di lingkungan kerja."Mendengar penjelasan panjang lebar itu, Sera tertegun beberapa detik. Helaan napas pelan lolos dari bibirnya. Sera menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menatap Lana dengan sorot mata yang campur aduk antara tak habis pikir dan geli."Lana, Lana... ka







