แชร์

2. Menjadi Jimat Penangkal

ผู้เขียน: Adinasya Mahila
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-29 07:01:08

Sera merasakan sensasi dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke tengkuk. Ia mengerjap, berharap telinganya baru saja melakukan kesalahan fatal dalam menangkap suara Rendra.

Namun, tatapan intens dari mata Rendra di ranjang rumah sakit itu terlalu nyata untuk dianggap mimpi.

“Menikah?” ulang Sera. Otaknya seakan masih mencerna ucapan Rendra. “Maaf, tapi, Tuan, apa Anda baru saja kehilangan akal sehat?”

“Tidak,” balas Rendra datar, tak terusik sedikit pun oleh nada sarkas Sera.

“Tapi, …” Jeda sejenak, kening Sera berkerut samar menatap ujung sepatu ketsnya, karena ia menyadari sesuatu.

Sera kembali mengangkat pandangan dan menatap Rendra tepat di manik matanya yang hitam pekat. “Dengan segala hormat, saya menolak.” Suaranya terdengar tegas dan lugas, meskipun ia yakin kedua tangan di sisi tubuhnya terkepal kuat menahan emosi. “Pernikahan bukan transaksi untuk meredam kerusuhan.”

Seluruh orang di kamar rawat VVIP itu berhenti bernapas melihat keberanian Sera.

"Rendra, pikirkan baik-baik!" seru Sintia—ibunda Rendra yang sudah tidak bisa menahan amarah di dadanya sejak tadi. "Ada begitu banyak putri politikus, anak kolega bisnis papamu, atau wanita yang setara dengan statusmu yang lahir di tanggal 13 bulan Juni tahun naga. Masih ada banyak, tapi kenapa harus Sera?!”

Dewa Narrottama, yang tadinya terdiam, kini menatap Rendra dengan dalam. Sejak putranya mengatakan akan menikah dan memilih Sera sebagai pendampingnya, ia melihat ada alasan lain di balik keputusan Rendra, meskipun separuhnya Dewa yakin karena Sera memang wanita yang bisa menangkal kutukan itu bagi Rendra.

Melihat keluarga Narrottama mulai berdebat dan ayahnya yang terus menunduk kaku di ujung ruangan, Sera memberanikan diri bersuara. “Maaf, semuanya. Tapi, bisakah saya berbicara dengan ayah saya dulu?”

“Lihat itu, Rendra!” Suara Sintia mendelik. “Di pertemuan penting seperti ini saja, dia berani menyela kita. Dia tidak punya sopan santun, dan kamu memilihnya sebagai calon istri?!”

Namun, Rendra seperti tidak mengindahkan ucapan ibunya. Rendra hanya mengangguk singkat pada Sera, dan berkata, “Silakan.”

Sera tertegun sejenak saat membalas tatapan Rendra sebelum menghampiri ayahnya dan membawa Angga keluar dari kamar rawat Rendra.

Sera mengajak ayahnya berdiri di ujung koridor lantai VVIP yang jauh dari Pasukan Pengaman Presiden untuk bicara empat mata dengan sang ayah.

Sera mengambil kedua tangan sang ayah yang mulai keriput di makan usia dan menggenggamnya. Di depan sang ayah, suaranya terdengar lirih dan putus asa. “Ayah, apa maksud semua ini? Dan Ayah juga sudah tahu bahwa aku diminta untuk menikah dengan Tuan Rendra?”

Angga hanya bisa menatap Sera dengan rasa bersalah dan pandangan memohon juga pengertian dari Sera. “Sera, kamu tahu, kita berutang budi pada keluarga Narrottama. Ini adalah cara yang paling baik untuk membalasnya.”

Mendengar itu, Sera melepas tangan ayahnya dari genggaman. Emosi di dadanya menaik tanpa bisa dicegah. “Yah, ada banyak cara lain yang bisa kita lakukan untuk membalas utang budi ini.”

“Sebentar lagi aku lulus menjadi dokter umum, Yah! Tinggal menghitung bulan sampai aku bisa mandiri dan membawa keluarga kita untuk hidup jauh lebih baik. Aku punya mimpi untuk menyembuhkan orang dan kuliah spesialis, bukan untuk menjadi pajangan hidup di keluarga Narrottama!”

​Sera menatap ayahnya dengan sorot mata kecewa yang mendalam.

​“Ayah sudah janji akan mendukungku, tapi kenapa sekarang Ayah justru jadi orang pertama yang memutus jalan itu? Keputusan sepihak seperti ini bukan hanya akan mengatur hidupku, tapi juga membunuh masa depanku secara perlahan.”

Angga menyentuh kedua bahu Sera yang bergetar menahan emosi, jauh di dalam lubuk hatinya pun ia juga menahan gejolak di dadanya. Angga paham dari segala sisi, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Terlebih karena situasi dan kondisinya yang tidak bisa memperjuangkan Sera.

“Ayah paham, kamu merasa bahwa menikah dengan Tuan Rendra akan menghentikan mimpimu. Tapi, Tuan Rendra bisa mewujudkan mimpimu jauh lebih baik, dan…” suara Angga terdengar lirih di ujung. “Hanya kamu yang bisa menolong Tuan Rendra lagi.”

Gejolak yang ada di dada Sera kini berubah menjadi air mata yang mengalir tanpa ingin ia hapus. “Aku hanya akan dijadikan sebagai jimat penangkal, Yah. Ayah tega?!”

“Pikirkan dari sisi yang lain, Nak. Justru kamu adalah anugerah. Kamu, anak ayah yang lahir tepat di tanggal 13 bulan Juni tahun Naga, tanggal lahirmu begitu langka. Kamu anak ayah yang bisa membawa berkah untuk negeri ini.”

Kepala Sera justru semakin pening karena ucapan ayahnya. Sekarang, jika mengungkit tanggal kelahirannya, apa yang bisa Sera lakukan? Menyangkal pun tidak ada guna, dan orang tuanya pun juga pasti tidak pernah menduga putri mereka lahir di tanggal keramat itu dan masa depannya akan seperti ini.

Angga memeluk Sera, menenangkan putrinya sambil berkata lembut, “Ayah yakin kamu bisa membawa kemakmuran untuk negeri ini dengan berada di samping Tuan Rendra.” Tapi, helaan napas terdengar sebelum Angga melanjutkan, “Dan kamu juga benar-benar menyelamatkan Tuan Rendra.”

Sera hendak memprotes ucapan ayahnya lagi, walaupun ia mengerti dengan jelas setiap kalimat itu. Sera baru saja akan bicara lagi, tapi langkah kaki yang berat dan teratur terdengar menggema dan semakin mendekat.

Evan yang datang menatap datar Angga dan Sera bergantian, suaranya terdengar tegas dan memberi perintah.

“Pak Rendra tidak bisa menunggu terlalu lama, silakan kembali masuk ke dalam!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (11)
goodnovel comment avatar
Sari 💚
untung saja suara Rendra bisa lembut lagi sama Sera .... Abisny sempat balik ke setelan awal dingin. moga kelak Sera pencair kulkas nya Rendra
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Kok Rendra ya kasar banget sama Sera ,maksudnya baik tuh ,kalo luka nya robek lagi gimana
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Berarti Di Iraya ,kalo presiden nya lajang sebuah kutukan kah
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   87. Kartu Sakti

    Langkah kaki Sera terasa ringan saat menyusuri trotoar menuju kompleks Rumah Sakit Narita kembali. Di sampingnya, Erika berjalan dengan langkah berirama, sementara Lana dan Deo mengekor beberapa langkah di belakang. Aroma kopi yang kuat menguar dari empat cup di tangan mereka. Erika menyesap latte-nya, memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati sesuatu yang luar biasa. "Ser!" panggil Erika tiba-tiba, suaranya naik satu nada karena antusias. "Apa karena kopi ini dibayar menggunakan black card, jadi rasanya jauh lebih enak dan mewah begini? Serius, ini latte terenak yang pernah aku minum." Sera mengernyitkan dahi, menatap cup kopinya sendiri dengan bingung. "Maksudmu apa?" Melihat ekspresi polos Sera, Erika hampir tersedak. Ia menghentikan langkah, membuat Lana dan Deo yang sedang asyik mengobrol di belakang hampir menabrak mereka. Erika menatap Sera seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak. "Sera, kamu ini benar-benar ya," Erika menggelengkan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   86. Notifikasi Kartu

    Rendra hanya diam mendengar penuturan Evan. Perlahan, ia menutup dokumen di tangannya lalu menoleh, melempar pandangannya ke luar jendela mobil yang dilapisi kaca antipeluru. Di luar sana, deretan gedung pencakar langit Jayakarta tampak berkelebat, namun fokus Rendra jauh melampaui itu. Sementara itu, Evan yang duduk di kursi depan tiba-tiba memikirkan kembali apa yang pernah Rendra ucapkan dulu. Atasannya itu pernah berkata politik memang kejam. Sejak awal, Rendra sudah tahu bahwa kursi nomor satu Iraya tidak datang hanya dengan kekuasaan, melainkan juga dengan kesepian. Setiap kedekatan Rendra dengan orang tertentu bisa menjadi bumerang yang mendatangkan curiga bagi lawan-lawannya. Maka dari itu, Evan merasa wajar jika Rendra menetapkan batas yang sangat kaku, karena setiap cangkir teh yang diminum bersama bisa diartikan sebagai konspirasi. *** Rumah Sakit Narita Sera yang baru tiba tampak melangkah memasuki ruang koas dengan jas putih yang tersampir di bahunya. Langkahny

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   85. Kejanggalan Bencana

    Mata Rendra menyipit tajam, menatap nanar layar ponsel yang memancarkan cahaya di kamar yang temaram. Jemarinya bergerak lincah, membuka lampiran dokumen yang dikirimkan Evan melalui email pribadinya. Ia mengabaikan denyut halus di pelipisnya dan rasa lelah yang mulai menggerogoti tubuh. Apa yang tertulis di dalam baris-baris laporan itu bukan sekadar rangkuman teknis pasca-bencana biasa. Deretan angka, grafik, dan catatan lapangan itu menyiratkan sesuatu yang jauh lebih gelap, indikasi kelalaian dan potensi penyelewengan yang jejaknya mengarah pada nama-nama besar. Punggung Rendra menegak, fokusnya tercurah sepenuhnya pada data sensitif itu. KLEK Suara gagang pintu yang diputar pelan membuat Rendra tersentak halus. Ia reflek mematikan layar ponselnya, menyembunyikan cahaya terang itu, lalu menoleh ke arah pintu. Sera melangkah masuk dengan ragu, separuh tubuhnya masih tertahan di ambang pintu, matanya yang sembab menatap Rendra dengan canggung. "Tuan Rendra..." Sera berbi

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   84. Tak Sekeras Itu

    Sera terpaku di tempatnya berdiri, kedua tangannya meremas ujung baju yang dikenakannya. Kalimat Rendra barusan merayap masuk ke dalam relung hatinya. Sera masih terdiam, sampai suara berat Rendra kembali memecah keheningan yang canggung itu. "Kamu nikmati saja waktumu bersama keluargamu," ucap Rendra sambil melonggarkan sedikit simpul dasinya, gestur yang menunjukkan dia benar-benar ingin melepas penat. "Aku mau istirahat dulu." Sera tersadar dari lamunannya dan mengangguk pelan. "I-iya, Mas. Terima kasih." Angga yang berdiri di samping mereka segera menangkap sinyal itu. Ia menoleh ke arah sofa, tempat kedua anaknya yang lain masih duduk mengawasi. "Ara, tolong antar Tuan Rendra ke kamar atas." Ara tersentak kecil, lalu bergegas berdiri. Gadis itu merapikan bajunya yang sedikit kusut sebelum berjalan mendekat dengan langkah sopan. "Mari, Tuan! Saya antar ke kamar," ucapnya sedikit gugup. Rendra hanya mengangguk singkat, mengikuti langkah kecil Ara menuju tangga yang terletak d

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   83. Adik Ipar

    Udara mendadak dingin, bukan karena embusan angin, melainkan karena kalimat tajam yang meluncur dari bibir Arkan. Pemuda itu berdiri tegap, menatap lurus ke arah Rendra dengan sorot mata menuntut. Keheningan yang mencekam jatuh seketika. Angga dan Siwi terpaku, napas mereka seolah tertahan di tenggorokan. Sera pun tersentak. Ia melepaskan pelukannya dari Siwi, bahunya masih terguncang kecil, namun matanya yang sembab kini membulat sempurna ke arah adiknya. Isakannya terhenti paksa oleh rasa terkejut yang menjalar hingga ke ujung jari. Sera melihat Rendra hanya diam. Pria itu tidak membalas dengan kemarahan, justru hanya menyipitkan mata, menatap Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan, dingin namun penuh selidik. Sudut bibir Rendra tertarik, membentuk senyum tipis yang sarat akan sarkasme namun tetap terlihat berwibawa. "Adik ipar," suara Rendra rendah, bergema di antara mereka dengan nada yang tenang namun menusuk. "Sepertinya kamu begitu sayang dan jauh lebih mengerti kakak

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   82. Seperti Obat Penenang

    Sera menoleh cepat ke arah Rendra, mengabaikan sisa air mata yang masih menggantung di bulu matanya. Bibirnya sedikit mengerucut, membentuk gurat cemberut yang samar namun nampak menggemaskan di bawah pendar lampu jalan yang masuk ke kabin mobil. "Padahal saya sudah sembunyi-sembunyi sekali. Saya cari sudut paling gelap supaya tidak ada yang melihat," gumam Sera dengan nada sedikit tidak terima. "Tapi tetap saja Anda tahu semuanya." Rendra tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. Tangannya dengan lihai memutar kemudi saat mobil melewati tikungan besar. Sera mengusap matanya lagi dengan gerakan kasar, lalu membuang napas panjang seolah ingin melepaskan beban yang menyesakkan dadanya. "Kalau tidak di dekat gudang, kamu menangis di bawah anak tangga menuju rooftop mansion," sahut Rendra pelan, suaranya memecah keheningan yang mulai terasa hangat. "Waktu itu, kamu benar-benar membuatku berpikir kalau mansion keluargaku be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status