Share

2. Majikan dan Pelayan

Penulis: Adinasya Mahila
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 07:01:08

Sera tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu meletakkan nampan besi yang dipegangnya ke troli medis sebelum menoleh pada Rendra.

"Tuan Rendra," suara Sera mengalun tenang, ia kembali menggunakan panggilan yang biasa ia gunakan untuk menyapa Rendra.

"Secara logika, tiang itu jatuh karena korosi atau struktur yang tidak stabil. Logika saya mengatakan itu murni kecelakaan konstruksi."

Sera menatap lekat Rendra yang hanya diam.

"Tapi di Iraya, logika seringkali kalah oleh rasa. Rakyat tidak butuh penjelasan teknis tentang baut yang longgar atau besi yang sudah usang. Mereka hanya butuh ketenangan batin. Bagi rakyat Iraya, pemimpin adalah atap. Jika atapnya rusak, mereka merasa air hujan akan masuk ke rumah mereka.” Hening untuk beberapa waktu, sebelum Sera kembali melanjutkan, “Jadi, jika Anda tanya apakah saya percaya mitos itu? Saya lebih percaya bahwa ketakutan jutaan rakyat bisa menjadi kenyataan yang lebih berbahaya daripada mitos itu sendiri."

Rendra tertegun. Jawaban itu jauh lebih dewasa daripada yang ia duga dari gadis yang dulu sering ia lihat menangis sendiri di dekat gudang.

Untuk sesaat suasana di ruangan menjadi hening, sebelum Evan masuk dan Sera bergegas untuk pergi.

“Pak, bagaimana keadaan Anda?”

Rendra mendengar pertanyaan Evan tapi tak berniat untuk membalas.

Rendra malah mengingat kembali kenangan belasan tahun lalu. Saat pulang dengan mobil mewah dari sekolahnya, ia sering melihat Sera duduk bersimpuh di atas rumput di bawah pohon mangga.

Ayah Sera, Pak Angga, adalah sopir yang telah mengabdi pada keluarga Narrottama sejak zaman kakek Rendra. Pak Angga adalah pria yang pendiam, namun memiliki kesetiaan yang besar. Sera adalah putri Pak Angga dari istri pertama.

“Pak!”

Suara Evan menarik kembali kesadaran Rendra.

“Aku baik-baik saja,” jawab Renda. Ia membuang napas lalu menatap langit-langit ruang UGD.

"Pak, Anda mungkin menganggap ini kolot.” Suara Evan memecah keheningan. "Tapi bagi rakyat Iraya, seorang pemimpin yang sendirian dianggap seperti pagi yang tidak memiliki malam. Tidak seimbang.”

"Jadi kamu menyarankanku untuk menyerah pada takhayul itu dan segera menikah?" tanya Rendra, nadanya meremehkan namun ada gurat kelelahan di sana.

Evan menggeleng pelan. "Saya hanya memberi saran agar Anda memberikan apa yang rakyat butuhkan. Entah itu melalui logika atau melalui pemenuhan atas apa yang mereka percayai. Mungkin luka di bahu Anda akan sembuh dalam beberapa hari. Tapi kegaduhan karena insiden ini akan sulit diredam."

Rendra memejamkan mata sejenak sebelum meminta Evan keluar meninggalkannya sendiri.

Pintu tertutup.

Rendra kembali dalam kesunyian, namun kata-kata ajudannya itu berdengung lebih keras di telinga.

Pikiran Rendra melayang, hingga Evan masuk kembali ke ruangan dengan wajah sepucat kertas. Ia memegang tablet yang menampilkan siaran langsung berita nasional.

Situasi memburuk lebih cepat daripada infeksi virus.

"Pak, Anda harus melihat ini," bisik Evan.

Layar tablet menunjukkan keributan di mana beberapa politisi mulai melakukan wawancara untuk menuntut Rendra dengan dalih egois dan tidak memikirkan nilai-nilai luhur Iraya.

"Bukannya meredam kekhawatiran rakyat, para politisi ini juga ikut mengaitkan insiden yang Anda alami dengan mitos itu," lanjut Evan.

Rendra malah tersenyum miring. “Apa mereka ingin menggulingkanku hanya karena insiden ini?” Kemudian, ia menggeleng pelan. “Aku baru satu bulan menjabat, bahkan belum memilih anggota parlemen baru. Mereka menggali kuburan sendiri,” ucapnya dingin.

Evan tersentak melihat Rendra tiba-tiba bangkit dari atas ranjang.

“Pak, Anda mau ke mana?” tanyanya panik.

"Siapkan mobil. Kita kembali ke Istana sekarang," titah Rendra.

"Tapi luka Anda baru saja dijahit!" Evan tampak cemas dan merasa bersalah.

Tepat saat itu, Sera masuk. Ia membawa nampan berisi obat antibiotik yang baru saja diresepkan dokter senior untuk disuntikkan pada Rendra.

Langkah Sera terhenti melihat Rendra sudah duduk di tepi ranjang bersiap berdiri.

"Apa yang Anda lakukan, Tuan?" suara Sera naik satu oktaf. Ia langsung menghampiri Rendra, mencoba menahan lengan pria itu. "Anda harus menjaga luka jahitan ini!”

Rendra menepis tangan Sera dengan gerakan kasar. Tatapannya yang tadi sempat melunak kini berubah menjadi sedingin es, kembali menjadi sosok penguasa yang tidak suka dibantah.

"Minggir! Jangan halangi jalanku," ucap Rendra ketus.

"Tidak bisa! Anda adalah pasien saya di ruangan ini!" Sera tetap bersikeras. “Setidaknya tunggu sampai observasi satu jam selesai."

Rendra berdiri lalu menoleh dan mendekat tepat di depan Sera, mengintimidasi gadis itu dengan tinggi badannya.

"Kamu lupa sedang bicara dengan siapa? Aku tidak punya waktu untuk berbaring di sini."

"Tapi …"

"Cukup! Tugasmu sudah selesai dengan menjahit lukaku. Jangan melampaui batas!"

Sera tersentak. Kalimat ‘melampaui batas’ menghantamnya telak, tiba-tiba mengingatkannya pada posisi aslinya, putri seorang sopir yang tak seharusnya mengatur sang majikan.

Sera terdiam, menyembunyikan kilat kecewa di matanya yang sayangnya bisa terlihat jelas oleh Rendra.

"Dengar," ucap Rendra dengan nada yang seketika menjadi lembut, matanya menatap lekat ke arah Sera.

"Aku harus pergi karena ada yang lebih penting daripada lukaku. Jika nanti orang-orang di rumah bertanya tentang kondisiku kamu harus menjawab aku baik-baik saja.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Christina Galingging
Presiden itu memang harus tegas Rendra, tp bukan berarti harus kasar ya...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   7. Tumbal

    "Membalas budi tidak harus dengan menjual hidupku, Yah!" potong Sera dengan suara bergetar. Ia menyambar tasnya, mengabaikan panggilan ayahnya, dan melangkah lebar keluar dari paviliun. Kepalanya berdenyut. Logikanya menolak keras, namun hatinya dipenuhi kegelisahan yang membuncah. Alih-alih menuju gerbang luar untuk berjalan ke halte terdekat menuju rumah sakit, langkah Sera justru membawanya ke mansion utama. Ia harus mendengar langsung penjelasan atas apa yang ia dengar dari sang ayah. Namun, baru saja kakinya menginjak teras mansion Narrottama, sosok Sintia Narrottama sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggu mangsa. "Mau mencari Rendra?" tanya Sintia dingin. Matanya menyapu penampilan Sera dari ujung rambut hingga sepatu kets yang digunakan gadis itu. Tatapan Sintia penuh penghinaan, seolah Sera adalah noda di lantai mengkilap mansionnya. "Benar, saya ingin bicara dengan Tuan Rendra, Nyonya," jawab Sera, mencoba menegakkan bahu meski tangannya dingin.

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   6. Balas Budi

    Rendra memulas senyum tipis. “Yang pasti aku harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki tujuan apapun dari pernikahan ini,” jawab Rendra dingin tanpa menoleh pada ibunya. Sintia semakin heran, keningnya berkerut samar. “Aku tidak ingin pernikahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan lain.” “Tetap saja kamu butuh dukungan agar bisa terus bertahan di posisimu ini.” Sintia mendekat ke Rendra, memegang lengan putranya itu. “Mama masih yakin, kalau ada yang mengincar keselamatan nyawamu.” Rendra hanya diam menatap dalam wajah wanita yang melahirkannya itu. Sintia melepaskan pegangannya, napasnya mulai tidak teratur. "Lalu siapa? Siapa wanita yang menurutmu pantas menjadi pendampingmu?" Rendra menatap langsung ke mata ibunya. "Sera." Sintia terperangah, butuh beberapa detik baginya untuk memproses nama itu. Saat ingatan tentang putri sopir mereka muncul, wajahnya memucat karena emosi. "Sera? Anak Angga si sopir itu?!" Suara Sintia meninggi."Apa kamu sudah kehilangan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   5. Wanita Pilihan

    Rendra berpaling tanpa menunggu jawaban dari ibu dan neneknya. Saat menoleh tatapannya bertemu dengan Sera.Namun, gadis itu langsung menundukkan kepala.Selepas Rendra pergi, Sintia tampak memukul meja pajangan yang ada di dekatnya.Sintia membuang muka saat Eyang Utari menatap sengit padanya. ‘Wanita tua pikun ini, bisa-bisanya ingin ikut campur urusan pernikahan Rendra.’Tak lama Sera mendekat, memberanikan diri bicara ke Sintia.“Nyonya, jika tidak ada yang ingin dibicarakan saya pamit untuk kembali ke belakang,” ucapnya sopan.“Tunggu! Kamu harus memberitahu kondisi Rendra.” Sintia melirik pada Eyang Utari.Sera mengangguk, kemudian berjalan mendekat agar suaranya bisa terdengar jelas."Tuan Rendra mengalami luka robek yang cukup dalam di bahu kirinya. Luka itu sudah ditangani dengan tindakan penjahitan untuk menghentikan perdarahan dan merapatkan jaringan kulit yang terbuka."Sera menjeda lisan sejenak, melirik ekspresi Sintia yang masih tampak kesal."Meskipun luka sudah dijahi

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   4. Desakan Untuk Menikah

    Sera menoleh, memandang sosok yang berdiri di ambang pintu dapur.Sintia NarrottamaIbu kandung Rendra itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, meskipun gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.Sera segera mengeringkan tangannya pada celemek dan membungkuk dalam, tubuhnya sedikit gemetar."Nyonya," sapa Sera dengan suara bergetar."Jawab pertanyaanku, Sera. Evan memberitahuku kamu yang menangani luka Rendra di rumah sakit tadi, tapi setelah itu Evan tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan putraku," cecar Sintia sembari melangkah maju. "Bagaimana kondisi Rendra? Seberapa parah lukanya?"Sera menunduk, mengatur napas agar suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Rendra mengalami luka robek di bahu kirinya, Nyonya. Tapi kondisinya stabil."Ketegangan di bahu Sintia sedikit mengendur, tapi sedetik kemudian matanya menyipit tajam. Ia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina."Tunggu dulu," suara Sintia mendadak dingin. "Bukankah kamu ma

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   3. Tidak Boleh Bocor

    Sera hanya terdiam sampai Rendra bertanya untuk yang ke dua kali.“Apa kamu bisa melakukannya?”"Baik, saya akan melakukannya. Jika ada yang bertanya saya akan sampaikan kalau Anda baik-baik saja.”Rendra menatap Sera sejenak, ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.Jadi, yang ia lakukan adalah memberi isyarat pada Evan untuk membukakan pintu.Dengan langkah tegap yang dipaksakan, ia berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Sera.Sera berdiri membeku di tengah ruangan yang kini terasa hampa. Aroma parfum maskulin Rendra yang bercampur dengan bau antiseptik masih tertinggal di udara.Sera segera melangkah menuju ruang konsul Dokter Hans, dokter senior yang tadi memberikan instruksi awal. Ia bermaksud melaporkan bahwa Rendra pergi sebelum waktu observasi selesai."Dokter Hans," panggil Sera saat memasuki ruangan. "Pak Presiden, dia memaksa pulang. Luka jahitannya masih sangat baru dan dia belum menerima dosis antibiotik pertamanya. Saya mencoba menahan, tapi …"Dokter Hans

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   2. Majikan dan Pelayan

    Sera tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu meletakkan nampan besi yang dipegangnya ke troli medis sebelum menoleh pada Rendra."Tuan Rendra," suara Sera mengalun tenang, ia kembali menggunakan panggilan yang biasa ia gunakan untuk menyapa Rendra."Secara logika, tiang itu jatuh karena korosi atau struktur yang tidak stabil. Logika saya mengatakan itu murni kecelakaan konstruksi."Sera menatap lekat Rendra yang hanya diam."Tapi di Iraya, logika seringkali kalah oleh rasa. Rakyat tidak butuh penjelasan teknis tentang baut yang longgar atau besi yang sudah usang. Mereka hanya butuh ketenangan batin. Bagi rakyat Iraya, pemimpin adalah atap. Jika atapnya rusak, mereka merasa air hujan akan masuk ke rumah mereka.” Hening untuk beberapa waktu, sebelum Sera kembali melanjutkan, “Jadi, jika Anda tanya apakah saya percaya mitos itu? Saya lebih percaya bahwa ketakutan jutaan rakyat bisa menjadi kenyataan yang lebih berbahaya daripada mitos itu sendiri."Rendra tertegun. Jawaban itu jauh lebih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status