INICIAR SESIÓNRuang keluarga utama di mansion Narrottama malam itu diterangi cahaya lampu gantung kristal yang hangat, namun suasananya jauh dari kata nyaman.
Rendra berdiri di dekat jendela tinggi yang menghadap taman belakang, sementara Dewa duduk di sofa utama dengan postur tegak seperti biasa. Di sisi lain, Sintia duduk di sofa samping Dewa, menatap putranya khawatir. Sementara di kursi tunggal yang sedikit terpisah, Eyang Utari duduk dengan tenang.
“Langsung saja,” ujar Dewa akhirnya, memecah keheningan. Suaranya berat, tanpa basa-basi. “Kamu meminta kami berkumpul malam ini. Ada apa?”
Rendra tidak langsung menjawab.
Ia masih menatap keluar jendela, seolah mengukur sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Beberapa detik berlalu, baru kemudian Rendra berbalik.
“Aku akan menikah.”
Hening untuk beberapa waktu, tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa berhenti.
Sintia adalah yang pertama bereaksi.
“Menikah?” ulangnya cepat, suaranya naik tanpa bisa ditahan. “Kamu serius?”
Rendra tidak menjawab, hanya menatap ibunya dengan tenang.
“Sejak kapan?” Sintia melanjutkan, kini setengah berdiri. “Kamu bahkan tidak pernah—” Ia berhenti sendiri, seolah baru menyadari sesuatu. “Siapa wanitanya?” tanyanya cepat, hampir tanpa jeda. “Kamu tidak punya pacar. Jangan bilang kamu akhirnya mau dijodohkan—”
“Tidak.” Satu kata dari Rendra memotong Sintia tegas.
Sintia terdiam, dominasi putranya membuat Sintia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa.
Dewa, yang sejak tadi diam, akhirnya menyandarkan punggungnya perlahan ke sofa. Tatapannya lurus mengarah putranya.
Dewa tahu, putranya ini bukan tipe yang bertindak tanpa perhitungan. Rendra tidak pernah mengambil keputusan besar secara impulsif, apalagi sesuatu seperti pernikahan. Sesuatu yang bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga menyangkut stabilitas, citra dan arah masa depan yang lebih luas.
Jika Rendra memutuskan hal ini sekarang, maka berarti ada sesuatu yang mendorongnya.
Namun Rendra tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan mendekati meja tengah, jemarinya sempat menyentuh permukaan kayu halus itu, sebelum akhirnya ia mengangkat pandangan.
“Ini keputusan yang perlu diambil.”
Dewa menyipitkan mata tipis. “Kamu mulai percaya?” tanyanya akhirnya.
Rendra hanya menatap ayahnya lurus, seolah menantang pertanyaan ayahnya, sebelum membalas, “Ini bukan soal percaya.”
Dewa tidak menanggapi. Ia hanya menatap putranya lebih lama dari sebelumnya, namun untuk saat ini ia tidak akan memaksa dulu.
Di sisi lain, Eyang Utari menghela napas pelan, lalu bersandar sedikit lebih nyaman di kursinya. Wajahnya tetap tenang, seolah percakapan barusan tidak mengguncangnya sama sekali.
“Kalau begitu,” ucapnya ringan, matanya beralih pada Rendra, “aku hanya ingin tahu satu hal.” Jeda sejenak. “Siapa?”
Sintia langsung menoleh cepat ke arah Rendra, pertanyaan yang sama jelas sudah menumpuk di kepalanya sejak tadi.
Ruangan itu kembali hening.
Rendra tidak terburu-buru menjawab. Tatapannya sempat menyapu wajah-wajah di ruangan itu, pada ayahnya, ibunya, lalu berhenti sesaat pada Eyang Utari.
Baru kemudian ia berkata dengan tenang. “Evan.”
Evan yang berdiri di belakangnya langsung menegakkan tubuh. “Ya, Bapak.”
“Panggil Pak Angga dan Sera ke sini.”
Ketiga orang di sana langsung bereaksi keras. Sintia mengernyit. “Angga? Sopir kita?”
Dewa tidak berbicara, tetapi sorot matanya menajam, sedang Eyang Utari hanya tersenyum tipis.
Namun, Rendra tetap tenang hingga beberapa saat kemudian, pintu ruang keluarga terbuka.
Angga masuk lebih dulu dengan langkah hati-hati, diikuti Sera yang tampak kebingungan.
Rendra baru berdiri untuk menyambut Angga dan Sera. Senyum tipis sempat pria itu sematkan pada Angga.
Di ruangan itu, Sera bisa merasakan suasana aneh yang menyesakkan, namun gestur Rendra yang berdiri menyambut Angga, justru membuatnya merinding. Aura pria itu sedikit berbeda daripada saat mereka bertemu tadi siang.
Rendra berdiri di tengah ruangan, di samping Angga dan Sera, menghadap ketiga orang yang duduk di hadapan mereka. Pria itu menatap Sera sejenak sebelum kembali menatap ayahnya dan berkata dengan tegas.
“Aku akan menikahi Sera.”
Keheningan kembali jatuh di ruangan itu.
Sera sendiri bergeming. Pikirannya kosong.
Beberapa detik berlalu, namun Sera tetap tidak bergerak. Hanya menatap Rendra, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar, namun gagal.
“Apa…?” suaranya keluar pelan, nyaris tidak terdengar.
Angga hampir jatuh terduduk jika tidak ditahan oleh Sera. “Tuan Muda…” suara Angga parau, jelas tidak siap.
Namun, Sera tidak mendengar apa pun lagi. Tatapannya kembali pada Rendra. Namun, pria itu tetap tenang, seolah tidak ada yang aneh dari kalimat yang baru saja pria itu ucapkan.
Sera menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba kacau. “Maaf, Tuan Rendra,” ucapnya akhirnya, pelan namun jelas, “saya rasa… Anda salah bicara.”
“Aku tidak pernah salah memilih kata,” balas Rendra datar.
"Tapi, …” Jeda sejenak, keningnya berkerut samar, karena Sera baru menyadari sesuatu. Sera mengangkat pandangan dan menatap Rendra tepat di matanya yang hitam pekat. “Dengan segala hormat, saya menolak." Suara Sera terdengar tegas dan lugas, meskipun ia yakin kedua tangan yang memegang Angga bergetar karena menahan emosi.
“Kita tidak punya hubungan seperti itu, Tuan,” lanjutnya. “Dan pernikahan bukan sesuatu yang bisa diputuskan sepihak.”
Seluruh ruangan seolah berhenti bernapas melihat keberanian Sera.
"Rendra, pikirkan baik-baik!" seru Sintia. "Ada begitu banyak putri politikus, anak kolega bisnis papamu, atau wanita yang setara dengan statusmu yang bisa kita pilih. Kenapa harus Sera?”
Kali ini Dewa menatap Rendra sangat dalam. Ia seperti melihat sesuatu yang berbeda di balik keputusan sang putra.
"Rendra, apa kamu memilih Sera karena…" Dewa tidak menyelesaikan kalimatnya, karena ia sendiri tidak yakin. Dewa juga sama penasarannya seperti istrinya, mengapa harus Sera?
Apa kali ini Rendra telah benar-benar percaya dan karena gadis itu juga spesial?
Rendra tetap diam.
Dewa kemudian mengalihkan pandangannya pada Angga yang masih gemetaran di samping Sera.
"Angga," panggil Dewa dengan nada yang mengintimidasi. "Kamu tahu, apa yang melekat pada putrimu."
Angga menegang.
Jari-jarinya sedikit gemetar di sisi tubuhnya. Ia membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Tatapannya tanpa sadar beralih pada Sera.
Sera mengerutkan kening.
“Ayah…?” suaranya pelan, bingung.
Senyuman puas langsung mengembang lebar di bibir Ratu. Sorot matanya berbinar cerah saat ia menoleh ke samping, menatap wajah Arkan dengan senyum penuh kemenangan yang tak berusaha ia sembunyikan. Arkan yang ditatap seperti itu hanya bisa menggaruk pelipisnya seraya membalas dengan senyum tipis bercampur lega."Sudah, lanjutkan lagi makannya," ujar Rendra memecah keheningan yang tersisa seraya meraih kembali sendok dan garpunya. Pria itu memberi isyarat dengan anggukan kepala pada semua orang di meja. "Jangan biarkan makanannya dingin."Mau tidak mau, denting alat makan perlahan kembali terdengar satu per satu. Meski begitu, suasana di meja perjamuan itu berubah menjadi sangat canggung.Pak Angga dan Bu Siwi hanya menyendok nasi sedikit demi sedikit, sesekali melirik cemas ke arah besan mereka. Sera pun hanya memotong daging di piringnya dalam diam seraya menatap suaminya bergantian dengan Arkan.Sementara itu, Sintia benar-benar tidak berkutik lagi di kursinya. Wajah wanita paruh baya
Keheningan kembali menyergap seisi ruang makan. Tidak ada satu pun yang langsung menyahut pengakuan gamblang itu. Suasana mendadak begitu beku sampai deru pendingin ruangan terdengar jelas.Ratu mengedarkan pandangannya dengan dagu terangkat. Sorot matanya beralih menatap Rendra yang masih bergeming, lalu bergulir tepat menatap Sera."Apa ada yang salah kalau kami pacaran?" desak Ratu lagi, suaranya menuntut jawaban tegas.Sera menegakkan punggungnya. Ia merasa tatapan Ratu barusan seperti sedang menodongnya tepat di depan hidung, memaksanya untuk memihak. Sera menarik napas pendek, lalu melipat jemarinya di atas meja."Tidak ada yang salah dengan menjalin hubungan, Ratu," sahut Sera dengan intonasi tenang dan hati-hati. "Tapi setidaknya kalian harus bersikap bijak.""Bijak apa maksudmu?" balas Ratu cepat tanpa jeda sedetik pun. Nada bicaranya terdengar skeptis. "Karena perbedaan usia kami berdua, makanya kalian semua menganggap hubungan ini aneh dan tidak wajar?""Ratu! Cukup!" benta
Rendra malah tertawa pelan mendengar ucapan polos bercampur pasrah dari adik iparnya itu. Tawa renyahnya memecah ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan, membuat pundak Pak Angga dan Bu Siwi ikut sedikit mengendur. Tangan Rendra kembali menepuk bahu Arkan, kali ini dengan cengkeraman bersahabat."Tenang saja, Arkan," kata Rendra seraya menggelengkan kepalanya geli. "Semua itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang akan mengeksekusimu malam ini."Arkan mengembuskan napas panjang yang terdengar jelas, mengusap tengkuknya dengan senyum canggung. Belum sempat Arkan membalas perkataan sang kakak ipar, suara derap langkah kaki dari arah pintu masuk kembali terdengar.Pintu ganda ruang makan terbuka lebar, menampilkan rombongan keluarga Narrottama. Eyang Utari melangkah di barisan paling depan dengan tongkat kayunya yang berketuk pelan di lantai marmer, didampingi oleh Dewa. Tepat di belakang mereka, Sintia berjalan dengan gaun sutra mewahnya, disusul Ratu yang melangkah santai dengan dagu se
Hari berikutnya, Sera menghabiskan waktu dari pagi sampai sore dengan perasaan gelisah yang terus menggerogoti hatinya. Bahkan saat memeriksa rekam medis pasien di rumah sakit, fokusnya kerap kali buyar. Pikirannya melayang jauh pada acara malam nanti di istana. Ia sama sekali tidak bisa memprediksi kemungkinan buruk apa yang akan meledak di sana.Karena terus dihantui rasa cemas, Sera memutuskan pulang dari RS Narita lebih awal. Begitu kakinya melangkah melewati pintu penghubung ruang makan utama istana, matanya menangkap kesibukan para pelayan. Deretan piring porselen sudah tertata rapi di atas meja, berdampingan dengan set sendok garpu.Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah mendekat, lalu membungkuk sopan di hadapannya. "Nona Sera, jamuan makan malam untuk nanti hampir siap sepenuhnya."Sera mengangguk pelan seraya menarik sudut bibirnya tipis. "Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku mau ke kamar dulu untuk bersiap.""Baik, Nona."Sera melangkah menaiki tangga menuju kam
Ratu mendengus geli mendengar ocehan panjang ibunya. Senyuman tipis yang mengejek tersungging di bibirnya seraya menatap sang ibu tanpa berkedip."Aku tidak mau," sahut Ratu dengan nada datar dan sangat santai, menolak mentah-mentah tuntutan itu.Dewa yang sejak tadi menyimak perdebatan panas itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seraya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia benar-benar pusing melihat keras kepalanya Ratu yang sama sekali tak bisa diatur."Sudah! Coba kalian berdua tenang dulu dan jangan terus-terusan berdebat seperti ini," potong Dewa menaikkan intonasi bicaranya demi menghentikan kegaduhan. Pria itu mengarahkan tangannya ke arah sofa kosong di seberangnya. "Duduk kalian berdua!"Ratu tanpa membantah sedikit pun langsung melangkah santai, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk di seberang sang ayah seraya menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun.Sementara itu, Sintia masih berdiri mematung di tengah karpet, napasnya memburu kasar
Rendra menatap wajah Sera yang masih basah oleh air mata beberapa detik. Alisnya yang sempat bertaut perlahan mengendur, lalu sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman kecil yang nyaris tak terlihat."Jadi, ceritanya kamu sedang melakukan pengakuan dosa sekarang?" tanya Rendra dengan nada suara yang begitu tenang dan santai.Sera mengerjapkan matanya yang masih basah, sedikit bingung mendapati tidak ada kilat amarah sama sekali di mata suaminya. Ia akhirnya mengangguk pelan seraya menundukkan kepala kembali, meremas ujung bajunya."Iya, Mas..."Melihat kepolosan istrinya itu, Rendra mengembuskan napas pendek. Kedua telapak tangannya kemudian terangkat, menangkup kedua belah pipi Sera dengan lembut. Ibu jarinya bergerak perlahan, menyeka sisa jejak air mata yang masih membasahi kulit pipi sang istri."Dengar, Sera," ucap Rendra seraya menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu. "Aku sama sekali tidak marah dengan apa yang sudah kamu ucapkan pada Mama."Sera mendongak sedikit,







