Compartir

Mulai Percaya

last update Fecha de publicación: 2026-01-29 07:01:08

Ruang keluarga utama di mansion Narrottama malam itu diterangi cahaya lampu gantung kristal yang hangat, namun suasananya jauh dari kata nyaman.

Rendra berdiri di dekat jendela tinggi yang menghadap taman belakang, sementara Dewa duduk di sofa utama dengan postur tegak seperti biasa. Di sisi lain, Sintia duduk di sofa samping Dewa, menatap putranya khawatir. Sementara di kursi tunggal yang sedikit terpisah, Eyang Utari duduk dengan tenang.

“Langsung saja,” ujar Dewa akhirnya, memecah keheningan. Suaranya berat, tanpa basa-basi. “Kamu meminta kami berkumpul malam ini. Ada apa?”

Rendra tidak langsung menjawab.

Ia masih menatap keluar jendela, seolah mengukur sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Beberapa detik berlalu, baru kemudian Rendra berbalik.

“Aku akan menikah.”

Hening untuk beberapa waktu, tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa berhenti.

Sintia adalah yang pertama bereaksi.

“Menikah?” ulangnya cepat, suaranya naik tanpa bisa ditahan. “Kamu serius?”

Rendra tidak menjawab, hanya menatap ibunya dengan tenang.

“Sejak kapan?” Sintia melanjutkan, kini setengah berdiri. “Kamu bahkan tidak pernah—” Ia berhenti sendiri, seolah baru menyadari sesuatu. “Siapa wanitanya?” tanyanya cepat, hampir tanpa jeda. “Kamu tidak punya pacar. Jangan bilang kamu akhirnya mau dijodohkan—”

“Tidak.” Satu kata dari Rendra memotong Sintia tegas.

Sintia terdiam, dominasi putranya membuat Sintia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa.

Dewa, yang sejak tadi diam, akhirnya menyandarkan punggungnya perlahan ke sofa. Tatapannya lurus mengarah putranya.

Dewa tahu, putranya ini bukan tipe yang bertindak tanpa perhitungan. Rendra tidak pernah mengambil keputusan besar secara impulsif, apalagi sesuatu seperti pernikahan. Sesuatu yang bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga menyangkut stabilitas, citra dan arah masa depan yang lebih luas.

Jika Rendra memutuskan hal ini sekarang, maka berarti ada sesuatu yang mendorongnya.

Namun Rendra tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan mendekati meja tengah, jemarinya sempat menyentuh permukaan kayu halus itu, sebelum akhirnya ia mengangkat pandangan.

“Ini keputusan yang perlu diambil.”

Dewa menyipitkan mata tipis. “Kamu mulai percaya?” tanyanya akhirnya.

Rendra hanya menatap ayahnya lurus, seolah menantang pertanyaan ayahnya, sebelum membalas, “Ini bukan soal percaya.”

Dewa tidak menanggapi. Ia hanya menatap putranya lebih lama dari sebelumnya, namun untuk saat ini ia tidak akan memaksa dulu.

Di sisi lain, Eyang Utari menghela napas pelan, lalu bersandar sedikit lebih nyaman di kursinya. Wajahnya tetap tenang, seolah percakapan barusan tidak mengguncangnya sama sekali.

“Kalau begitu,” ucapnya ringan, matanya beralih pada Rendra, “aku hanya ingin tahu satu hal.” Jeda sejenak. “Siapa?”

Sintia langsung menoleh cepat ke arah Rendra, pertanyaan yang sama jelas sudah menumpuk di kepalanya sejak tadi.

Ruangan itu kembali hening.

Rendra tidak terburu-buru menjawab. Tatapannya sempat menyapu wajah-wajah di ruangan itu, pada ayahnya, ibunya, lalu berhenti sesaat pada Eyang Utari.

Baru kemudian ia berkata dengan tenang. “Evan.”

Evan yang berdiri di belakangnya langsung menegakkan tubuh. “Ya, Bapak.”

“Panggil Pak Angga dan Sera ke sini.”

Ketiga orang di sana langsung bereaksi keras. Sintia mengernyit. “Angga? Sopir kita?”

Dewa tidak berbicara, tetapi sorot matanya menajam, sedang Eyang Utari hanya tersenyum tipis. 

Namun, Rendra tetap tenang hingga beberapa saat kemudian, pintu ruang keluarga terbuka.

Angga masuk lebih dulu dengan langkah hati-hati, diikuti Sera yang tampak kebingungan.

Rendra baru berdiri untuk menyambut Angga dan Sera. Senyum tipis sempat pria itu sematkan pada Angga.

Di ruangan itu, Sera bisa merasakan suasana aneh yang menyesakkan, namun gestur Rendra yang berdiri menyambut Angga, justru membuatnya merinding. Aura pria itu sedikit berbeda daripada saat mereka bertemu tadi siang.

Rendra berdiri di tengah ruangan, di samping Angga dan Sera, menghadap ketiga orang yang duduk di hadapan mereka. Pria itu menatap Sera sejenak sebelum kembali menatap ayahnya dan berkata dengan tegas.

“Aku akan menikahi Sera.”

Keheningan kembali jatuh di ruangan itu.

Sera sendiri bergeming. Pikirannya kosong.

Beberapa detik berlalu, namun Sera tetap tidak bergerak. Hanya menatap Rendra, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar, namun gagal.

“Apa…?” suaranya keluar pelan, nyaris tidak terdengar.

Angga hampir jatuh terduduk jika tidak ditahan oleh Sera. “Tuan Muda…” suara Angga parau, jelas tidak siap.

Namun, Sera tidak mendengar apa pun lagi. Tatapannya kembali pada Rendra. Namun, pria itu tetap tenang, seolah tidak ada yang aneh dari kalimat yang baru saja pria itu ucapkan.

Sera menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba kacau. “Maaf, Tuan Rendra,” ucapnya akhirnya, pelan namun jelas, “saya rasa… Anda salah bicara.”

“Aku tidak pernah salah memilih kata,” balas Rendra datar.

"Tapi, …” Jeda sejenak, keningnya berkerut samar, karena Sera baru menyadari sesuatu. Sera mengangkat pandangan dan menatap Rendra tepat di matanya yang hitam pekat. “Dengan segala hormat, saya menolak." Suara Sera terdengar tegas dan lugas, meskipun ia yakin kedua tangan yang memegang Angga bergetar karena menahan emosi.

“Kita tidak punya hubungan seperti itu, Tuan,” lanjutnya. “Dan pernikahan bukan sesuatu yang bisa diputuskan sepihak.”

Seluruh ruangan seolah berhenti bernapas melihat keberanian Sera.

"Rendra, pikirkan baik-baik!" seru Sintia. "Ada begitu banyak putri politikus, anak kolega bisnis papamu, atau wanita yang setara dengan statusmu yang bisa kita pilih. Kenapa harus Sera?”

Kali ini Dewa menatap Rendra sangat dalam. Ia seperti melihat sesuatu yang berbeda di balik keputusan sang putra.

"Rendra, apa kamu memilih Sera karena…" Dewa tidak menyelesaikan kalimatnya, karena ia sendiri tidak yakin. Dewa juga sama penasarannya seperti istrinya, mengapa harus Sera?

Apa kali ini Rendra telah benar-benar percaya dan karena gadis itu juga spesial?

Rendra tetap diam.

Dewa kemudian mengalihkan pandangannya pada Angga yang masih gemetaran di samping Sera.

"Angga," panggil Dewa dengan nada yang mengintimidasi. "Kamu tahu, apa yang melekat pada putrimu."

Angga menegang.

Jari-jarinya sedikit gemetar di sisi tubuhnya. Ia membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Tatapannya tanpa sadar beralih pada Sera.

Sera mengerutkan kening.

“Ayah…?” suaranya pelan, bingung.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (12)
goodnovel comment avatar
Devi Pramita
ada apa dengan sera
goodnovel comment avatar
Sari 💚
untung saja suara Rendra bisa lembut lagi sama Sera .... Abisny sempat balik ke setelan awal dingin. moga kelak Sera pencair kulkas nya Rendra
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Kok Rendra ya kasar banget sama Sera ,maksudnya baik tuh ,kalo luka nya robek lagi gimana
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Jawaban Atas Mitos Part 2

    Aki Banyu meletakkan cangkir bambunya di atas meja kayu dengan gerakan perlahan. "Kalian pasti sudah membaca buku tentang sejarah Iraya," ujar Aki Banyu santai. "Tidak mungkin tidak. Dan di sana sudah tertulis sangat jelas. Lalu, kalau kalian memang sudah saling mencintai, kutukan itu pasti sudah hilang." Rendra menggerakkan tubuhnya sedikit maju. "Tapi kami tetap terkena musibah, Aki. Beberapa kali hal buruk terjadi pada kami," balas Rendra seraya menatap dalam pria tua itu. Aki Banyu menggelengkan kepalanya pelan seraya menyunggingkan senyum tipis, seolah meremehkan sekaligus menyayangkan cara berpikir Rendra. "Kalau begitu, artinya musibah itu bukan disebabkan oleh kutukan. Seperti itu saja kamu tidak paham." Naka yang duduk bersila di dekat pintu mendengar ucapan itu dengan raut tegang. Dadanya naik turun menahan emosi, rahangnya merapat tajam. Pria itu hampir saja menyemburkan umpatan, namun ia menggepalkan tangannya kuat-kuat di atas paha untuk menahannya. Sera yang seja

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Jawaban Atas Mitos Part 1

    Sera dan Rendra melangkah mendekat ke arah pondok Aki Banyu. Namun, baru beberapa langkah jemari mereka menjejak tanah pelataran, suara teriakan memanggil mendadak memecah udara."Pak Presiden, tunggu!"Sera dan Rendra kompak menoleh ke belakang.Naka bergegas berlari kecil mengikis jarak, napasnya sedikit terengah sewaktu sampai di hadapan mereka. Matanya menyapu Rendra dan Sera bergantian dengan raut cemas melingkupi wajahnya."Mau ke mana, Pak?" tanya Naka cepat.Rendra mengulas senyum tipis, menggerakkan dagunya mengarah pada pintu pondok kayu yang terbuka. "Aki Banyu meminta kami masuk ke pondoknya. Bahkan dia menawari kami makan."Naka melotot pelan, kebingungan setengah mati. Lidahnya mendadak kelu, bingung harus merespons apa. Pandangannya bergulir menatap pria tua di ambang pintu.Aki Banyu yang menyadari tatapan curiga Naka lantas berdecak malas. "Kamu ikut ke sini, ikut makan juga!" celetuk Aki Banyu seraya menggerutu kasar. "Memangnya kamu pikir aku mau meracuni kalian, apa

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Melunakkan Hati Pria Tua Itu

    Sera mendongak sekilas tanpa menghentikan tekanan tangannya. "Anak Bapak mengalami sumbatan jalan napas berat yang memicu cardiac arrest! Aku sedang melakukan resusitasi jantung paru dan kompresi dada untuk mengembalikan sirkulasi darah serta detak jantungnya!" sahut Sera cepat dengan istilah medis formal. Jawaban rumit itu tentu saja tidak dipahami oleh sang ayah ataupun warga di sana. Merasa anaknya diperlakukan sembarangan, sang ayah melangkah maju dengan mata mendelik murka. Tangannya terangkat, hendak menarik kasar lengan Sera agar menjauh dari tubuh anaknya. Namun, sebelum jemari pria itu menyentuh baju Sera, sebuah tangan kekar lain mencengkeram pergelangan tangannya di udara dengan sangat kuat. Rendra sudah berdiri pasang badan di depan tempat tidur, menatap ayah anak itu dengan sorot mata tajam dan penuh wibawa. "Tolong, percayalah pada istriku," ucap Rendra dengan intonasi suaranya yang dalam dan menenangkan. "Istriku seorang dokter. Dia hanya ingin menolong anakmu."

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mencoba Menolong

    Aki Banyu menatap Sera lekat-lekat, raut wajahnya yang tadi dingin berangsur-angsur menunjukkan binar antusias yang tak mampu ia sembunyikan. Sera tersenyum manis, membalas tatapan curiga itu dengan tenang. Ia berjongkok sebentar, mengusap helai daun pekat itu, lalu kembali mendongak. "Aku seorang dokter, Aki," sahut Sera ramah. Matanya kemudian tak sengaja menangkap tumbuhan lain yang tumbuh merambat di celah batu tak jauh dari sana. Muka Sera berbinar gembira. "Lihat, itu juga! Itu pegagan hijau, 'kan? Tumbuhan di bukit ini benar-benar sangat berpotensi untuk diteliti!" Sera bangkit berdiri, menatap Aki Banyu yang masih terpaku. "Aki Banyu, menurut Aki... apa aku harus memberitahu teman-temanku yang sesama dokter untuk datang dan melakukan penelitian di desa ini?" Aki Banyu terdiam sejenak. Sorot matanya yang tajam menyapu wajah Sera, lalu beralih menatap Rendra yang berjalan tenang di belakang istrinya. Pria tua itu tertawa terkeh pelan, menyunggingkan senyum yang sarat akan sin

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mencoba Mendekati

    Rendra tak bisa berkata-kata, lidahnya mendadak kelu. Begitu pula dengan Sera yang membelalak lebar, benar-benar terkejut melihat sosok pria tua itu tiba-tiba muncul dan melompat turun dari dahan pohon besar di atas mereka. Naka langsung berdiri tegak dalam sekejap, melangkah maju seraya memasang gestur siaga. Matanya memicing tajam karena merasa pergerakan Aki Banyu selalu tak terduga dan sulit ditebak. Pria tua dengan rambut beruban melambai itu menyapu pandangan ke arah mereka satu per satu. Ia mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut putih, lalu terkekeh pendek. "Kenapa banyak sekali yang datang ke sini?" tanya Aki Banyu dengan nada santai. "Apa kalian semua juga mau mencari bahan makanan di bukit ini?" Naka yang sudah menahan kekesalan sejak tadi langsung menjawab dengan intonasi ketus. "Kami ke sini ingin bertemu denganmu! Bukankah anak buahku sudah bilang kalau Pak Presiden dan Ibu Negara ada perlu denganmu?!" Aki Banyu memindahkan pandangannya, menatap ke arah Rendra dan Se

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tidak Ada

    Sera melihat gurat kesedihan yang membayang di raut wajah suaminya. Ia menggeser duduknya sedikit, lalu menggenggam lembut tangan Rendra. "Ini bukan salah Mas Rendra," ujar Sera pelan namun tegas. Matanya menatap dalam pada manik mata Rendra. "Semuanya pasti efek domino. Sejak awal Amartapura dibiarkan, dan pada akhirnya pemimpin-pemimpin seterusnya juga sama sekali tidak mengutamakan perkembangan Amartapura. Jadi, Mas bisa mulai memutus rantai itu sekarang. Aku harap di bawah kepemimpinan Mas Rendra, Amartapura bisa benar-benar maju." Wajah Rendra seketika berubah sedikit bersemangat mendengar ucapan istrinya. Sorot matanya yang tadi redup kembali hangat. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Iya," sahut Rendra lembut seraya mengusap punggung tangan Sera. "Aku akan berusaha memajukan Amartapura semampuku." Sera berdiri dari batu tempat duduknya. Wajahnya tampak segar dan bersemangat lagi. Ia menepuk-nepuk celananya yang terkena sedikit debu tanah, lalu mengulurkan tangannya pada Rend

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status