MasukSofia gemetar hebat di tempatnya berdiri. Dadanya naik-turun menahan luapan murka yang nyaris meledakkan isi kepalanya. Matanya melotot tajam, memandang Ratu dengan kebencian yang mendalam."Kamu benar-benar keterlaluan, Ratu!" pekik Sofia seraya merogoh tas tangannya secara serampangan. Jemarinya yang basah berusaha menarik ponsel pintarnya keluar. "Akan kubuat rekaman wajah gilamu ini! Biar semua orang tahu bagaimana aslinya perangai adik perempuan seorang presiden yang diagung-agungkan itu!"Ratu sama sekali tidak bergerak mundur. Gadis itu justru melangkah maju satu jengkal, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung sepatunya hampir bersentuhan dengan sepatu hak Sofia. Senyuman mengejek tersungging jelas di bibirnya."Rekam saja, Sofia. Silakan," tantang Ratu dengan suara tenang namun menusuk telak. Tangannya terangkat, menepis pelan tangan Sofia yang memegang ponsel hingga layar benda itu bergoyang. "Tapi sebelum kamu menekan tombol rekam, apa kamu sudah siap kalau aku membong
Di dalam kamar tidur utama yang tenang dan temaram, selimut tebal membungkus tubuh Rendra dan Sera yang berbaring merapat. Sera menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, menikmati irama detak jantung pria itu yang teratur. Lengannya melingkar santai di pinggang Rendra, membiarkan jemari pria itu sesekali menyisir lembut helai rambutnya.Helaan napas panjang yang terdengar begitu lega berembus dari bibir Sera."Akhirnya ya, Mas..." gumam Sera pelan, memecah keheningan kamar. "Urusan Ratu dan Arkan sudah selesai. Dadaku rasanya plong sekali sekarang, tidak seperti tadi siang waktu memikirkan bagaimana dan apa yang terjadi saat makan malam. "Rendra mengusap bahu Sera perlahan seraya tersenyum tipis. "Kan sudah kubilang kemarin, kamu tidak perlu cemas berlebihan. Semuanya pasti ada jalan keluarnya."Sera beringsut sedikit, lalu mendongakkan kepalanya menatap garis rahang tegas sang suami. Manik matanya menatap lurus ke arah pria itu seraya tersenyum penuh harap."Mas, sebentar lagi
Senyuman puas langsung mengembang lebar di bibir Ratu. Sorot matanya berbinar cerah saat ia menoleh ke samping, menatap wajah Arkan dengan senyum penuh kemenangan yang tak berusaha ia sembunyikan. Arkan yang ditatap seperti itu hanya bisa menggaruk pelipisnya seraya membalas dengan senyum tipis bercampur lega."Sudah, lanjutkan lagi makannya," ujar Rendra memecah keheningan yang tersisa seraya meraih kembali sendok dan garpunya. Pria itu memberi isyarat dengan anggukan kepala pada semua orang di meja. "Jangan biarkan makanannya dingin."Mau tidak mau, denting alat makan perlahan kembali terdengar satu per satu. Meski begitu, suasana di meja perjamuan itu berubah menjadi sangat canggung.Pak Angga dan Bu Siwi hanya menyendok nasi sedikit demi sedikit, sesekali melirik cemas ke arah besan mereka. Sera pun hanya memotong daging di piringnya dalam diam seraya menatap suaminya bergantian dengan Arkan.Sementara itu, Sintia benar-benar tidak berkutik lagi di kursinya. Wajah wanita paruh baya
Keheningan kembali menyergap seisi ruang makan. Tidak ada satu pun yang langsung menyahut pengakuan gamblang itu. Suasana mendadak begitu beku sampai deru pendingin ruangan terdengar jelas.Ratu mengedarkan pandangannya dengan dagu terangkat. Sorot matanya beralih menatap Rendra yang masih bergeming, lalu bergulir tepat menatap Sera."Apa ada yang salah kalau kami pacaran?" desak Ratu lagi, suaranya menuntut jawaban tegas.Sera menegakkan punggungnya. Ia merasa tatapan Ratu barusan seperti sedang menodongnya tepat di depan hidung, memaksanya untuk memihak. Sera menarik napas pendek, lalu melipat jemarinya di atas meja."Tidak ada yang salah dengan menjalin hubungan, Ratu," sahut Sera dengan intonasi tenang dan hati-hati. "Tapi setidaknya kalian harus bersikap bijak.""Bijak apa maksudmu?" balas Ratu cepat tanpa jeda sedetik pun. Nada bicaranya terdengar skeptis. "Karena perbedaan usia kami berdua, makanya kalian semua menganggap hubungan ini aneh dan tidak wajar?""Ratu! Cukup!" benta
Rendra malah tertawa pelan mendengar ucapan polos bercampur pasrah dari adik iparnya itu. Tawa renyahnya memecah ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan, membuat pundak Pak Angga dan Bu Siwi ikut sedikit mengendur. Tangan Rendra kembali menepuk bahu Arkan, kali ini dengan cengkeraman bersahabat."Tenang saja, Arkan," kata Rendra seraya menggelengkan kepalanya geli. "Semua itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang akan mengeksekusimu malam ini."Arkan mengembuskan napas panjang yang terdengar jelas, mengusap tengkuknya dengan senyum canggung. Belum sempat Arkan membalas perkataan sang kakak ipar, suara derap langkah kaki dari arah pintu masuk kembali terdengar.Pintu ganda ruang makan terbuka lebar, menampilkan rombongan keluarga Narrottama. Eyang Utari melangkah di barisan paling depan dengan tongkat kayunya yang berketuk pelan di lantai marmer, didampingi oleh Dewa. Tepat di belakang mereka, Sintia berjalan dengan gaun sutra mewahnya, disusul Ratu yang melangkah santai dengan dagu se
Hari berikutnya, Sera menghabiskan waktu dari pagi sampai sore dengan perasaan gelisah yang terus menggerogoti hatinya. Bahkan saat memeriksa rekam medis pasien di rumah sakit, fokusnya kerap kali buyar. Pikirannya melayang jauh pada acara malam nanti di istana. Ia sama sekali tidak bisa memprediksi kemungkinan buruk apa yang akan meledak di sana.Karena terus dihantui rasa cemas, Sera memutuskan pulang dari RS Narita lebih awal. Begitu kakinya melangkah melewati pintu penghubung ruang makan utama istana, matanya menangkap kesibukan para pelayan. Deretan piring porselen sudah tertata rapi di atas meja, berdampingan dengan set sendok garpu.Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah mendekat, lalu membungkuk sopan di hadapannya. "Nona Sera, jamuan makan malam untuk nanti hampir siap sepenuhnya."Sera mengangguk pelan seraya menarik sudut bibirnya tipis. "Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku mau ke kamar dulu untuk bersiap.""Baik, Nona."Sera melangkah menaiki tangga menuju kama







