Home / Romansa / Pelukan Hangat Tuan Presiden / 5. Wanita Milik Presiden

Share

5. Wanita Milik Presiden

last update Last Updated: 2026-01-29 18:54:30

"Apa yang kalian lakukan?"

Ternyata suara itu berasal dari seorang pria berseragam yang merupakan salah satu manajer operasional hotel. Ia melangkah cepat, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat terhadap keributan yang baru saja terjadi.

"Nona, tolong jangan membuat keributan di sini. Ini area publik," ujar manajer hotel itu tegas sembari membungkuk untuk membantu Sera berdiri.

Karina mendengus, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Kamu siapa berani mengaturku? Aku tamu VIP di sini! Seharusnya kamu mengusir gelandangan ini, bukan malah membantunya. Dia membawa kartu kamar President Suite yang entah dia curi dari mana!"

Manager itu melirik Karina dengan tatapan datar namun profesional. "Mohon maaf, Nona, tugas kami adalah memastikan kenyamanan seluruh tamu, bukan untuk menghakimi mereka."

"Cih, hanya pegawai rendahan saja belagu," cibir Karina. Namun, ia menyadari kerumunan mulai terbentuk. Beberapa tamu lain mulai berbisik-bisik dan menoleh ke arah mereka.

Tidak ingin reputasinya sebagai putri politisi tercoreng karena terlihat seperti preman pasar, Karina melemparkan kartu kunci itu ke lantai, tepat di depan kaki Sera.

"Ambil itu! Dasar anak sopir!" Karina memasang muka jijik. "Ayo, kita pergi! Malu jika terus berurusan dengan rakyat jelata," ujarnya ketus sambil berlalu pergi bersama teman-temannya yang masih sempat tertawa mengejek.

Manager hotel itu segera memungut kartu yang Karina lempar dan memberikannya kembali kepada Sera dengan sikap yang jauh lebih hormat.

Matanya sempat melirik kode pada kartu itu, untuk memastikan bahwa kartu itu adalah kartu akses kamar paling mewah di hotel tempatnya bekerja.

"Maaf atas ketidaknyamanan ini, Nona. Apakah Anda terluka?" tanyanya lembut. "Mengingat Nona adalah tamu di kamar President Suite, apakah ada yang Nona butuhkan saat ini? Tim kami siap membantu."

Sera menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang karena emosi. "Saya... saya cuma mau makan. Saya lapar."

Manager itu mengerutkan kening. "Jika Nona lapar, mengapa tidak memesan layanan kamar saja? Nona tidak perlu sampai turun ke resto."

Sera hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang getir. Ia tidak paham soal kemewahan seperti ini. Hidupnya selama ini jauh dari kata pelayan pribadi.

Lagi pula, Evan tadi hanya berpesan bahwa dia boleh keluar untuk jalan-jalan atau makan jika lapar.

"Tidak apa-apa, saya ingin melihat suasana resto saja," jawab Sera singkat, lalu melangkah menuju restoran.

Sementara itu, di ballroom utama, suasana sudah mulai ramai. Puluhan jurnalis dari berbagai media nasional maupun internasional sudah bersiap dengan kamera mereka.

Karina berdiri di sudut ruangan, mendekat ke arah ayahnya yang sedang asyik berbincang dengan pemilik hotel tempat acara konferensi pers ini digelar.

"Papa!" Karina merajuk, menyela pembicaraan ayahnya. Ia memeluk lengan ayahnya dengan gaya manja yang berlebihan.

"Ada apa, Karina? Papa sedang bicara penting dengan Paman Arthur," tegur ayahnya lembut.

"Papa, aku ingin protes. Mana bisa hotel mewah milik Paman Arthur bisa disusupi orang-orang aneh?" Karina melirik ke arah pemilik hotel dengan wajah dibuat-buat sedih. "Tadi aku bertemu teman kuliahku, dia itu cuma anak sopir, tapi dia membawa kartu kamar President Suite. Aku yakin dia pasti mencuri atau... ya tahu sendirilah, jadi sugar baby. Memalukan hotel Paman saja kalau ada tamu rendahan seperti itu."

Arthur mengernyitkan dahi. "Benarkah begitu? Keamanan kami seharusnya sangat ketat. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan akses."

Di saat yang bersamaan, pintu samping ballroom terbuka. Sera masuk, dipandu manager hotel yang tadi membantunya. Namun, karena posisi mereka membelakangi pintu, Karina dan ayahnya tidak melihat kedatangan Sera.

Sera langsung diarahkan duduk di barisan kursi yang sudah disediakan—area yang sangat dekat dengan panggung utama.

Mata Karina membelalak saat ia berbalik dan melihat Sera duduk tenang di sana. "Apa? Dia berani ke sini?!"

Tanpa membuang waktu, Karina menarik tangan ayahnya. "Lihat itu! Itu orangnya!"

Arthur yang mendengar langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Karina. Ia menatap Sera dengan pandangan menyelidik, kemudian perlahan mendekatinya.

"Nona, maaf mengganggu. Sedang apa Anda di sini? Dan apakah benar Anda menginap di kamar President Suite kami?"

Sera mendongak, merasa terpojok karena kini ia menjadi pusat perhatian beberapa orang penting di sekitarnya. "Iya, benar. Saya menginap di sana."

"Halah, jangan bohong!" bentak Karina yang ikut mendekat. "Paman, periksa saja identitasnya. Paling dia cuma menyelinap masuk lewat pintu belakang. Mana mungkin anak sopir sanggup membayar kamar seharga ratusan juta semalam?"

Sera merasa wajahnya memanas. Ia merasa sangat terhina. "Saya datang dengan Pak Evan, ajudan Presiden."

Tawa Karina pecah, kali ini lebih melengking. "Pak Evan? Ajudan kepercayaan Pak Rendra? Hei, jangan ketinggian kalau punya mimpi! Kamu pikir selera Pak Evan rendahan sampai sudi membawa kamu ke sini?"

"Benar Nona," timpal pemilik hotel dengan nada dingin. "Tolong jangan membawa-bawa nama staf kepresidenan jika tidak ingin berurusan dengan hukum. Silakan keluar sekarang sebelum saya memanggil petugas keamanan."

Sera mulai panik karena diserang secara bersamaan, terlebih keributan ini kembali menyita perhatian. "Tapi, saya bicara jujur."

"Keluar! Kamu mengotori tempat ini!" bentak ayah Karina yang ikut merasa terganggu.

Di luar hotel.

Sebuah iring-iringan mobil melaju cepat.

Di dalam mobil utama, Rendra duduk di kursi belakang dengan wibawa yang tetap terpancar, meskipun ketegangan muncul samar di raut wajahnya yang tampan, sambil sesekali melirik jam tangannya.

"Bagaimana keadaan Sera?" tanya Rendra tiba-tiba.

Evan yang duduk di kursi depan menoleh sedikit. "Tadi saya sudah memastikan Nona Sera masuk ke kamar. Saya berpesan kalau Nona bosan, dia boleh ke resto atau jalan-jalan sebentar di sekitar hotel."

Rendra langsung menajamkan tatapannya. "Kenapa kamu tidak meminta orang untuk menjaganya secara khusus?"

Evan tampak gagap, tidak menyangka pertanyaan itu akan datang. "Maaf, Pak... saya pikir di dalam hotel sudah cukup aman."

Keheningan jatuh di dalam kabin mobil itu.

Hingga suara Rendra sendiri yang memecah keheningan itu.

"Tambah kecepatan mobilnya!" titahnya tegas.

Kembali ke ballroom.

Sera benar-benar diusir secara paksa. Dua petugas keamanan hotel mulai memegang lengannya dan mendorongnya keluar.

"Lepaskan! Saya tidak bohong!" seru Sera. Ia mencoba lepas, tapi tenaganya kalah jauh dari dua petugas itu.

Saat mereka sampai di depan pintu masuk utama ballroom yang besar, salah satu petugas mendorong Sera dengan cukup kuat agar dia menjauh. Tubuh Sera limbung ke belakang, ia memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya lantai marmer untuk kedua kalinya.

Namun, ia tidak jatuh ke lantai.

Sera merasa sepasang lengan yang kuat dan berotot menangkap tubuhnya dengan sigap. Ia jatuh tepat di pelukan seorang pria yang memiliki aroma parfum maskulin yang sangat familiar.

Suasana mendadak hening seketika. Ratusan pasang mata, termasuk Karina, ayahnya, dan sang pemilik hotel, terbelalak tak percaya.

Rendra, berdiri tegak sambil mendekap Sera dengan protektif. Rahangnya mengeras dengan urat-urat leher yang menegang. Kilat kemurkaan menyala di balik manik matanya yang gelap. Lalu, suara dingin Rendra menggelegar di udara.

“Siapa yang berani menyentuh istriku?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (15)
goodnovel comment avatar
Sari 💚
Aku ikut deg deg an menunggu kedatangan Rendra .... Karna malu banget kalau sampai Sera jatuh didorong
goodnovel comment avatar
Dinar kasih 1205
sera yang badas dong manfaatkan powermu untuk membalas orang2 yang menindasmu
goodnovel comment avatar
🍁Mam 2R🍁
rasakan orang yang kalian hina2 itu istri presiden
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   87. Kartu Sakti

    Langkah kaki Sera terasa ringan saat menyusuri trotoar menuju kompleks Rumah Sakit Narita kembali. Di sampingnya, Erika berjalan dengan langkah berirama, sementara Lana dan Deo mengekor beberapa langkah di belakang. Aroma kopi yang kuat menguar dari empat cup di tangan mereka. Erika menyesap latte-nya, memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati sesuatu yang luar biasa. "Ser!" panggil Erika tiba-tiba, suaranya naik satu nada karena antusias. "Apa karena kopi ini dibayar menggunakan black card, jadi rasanya jauh lebih enak dan mewah begini? Serius, ini latte terenak yang pernah aku minum." Sera mengernyitkan dahi, menatap cup kopinya sendiri dengan bingung. "Maksudmu apa?" Melihat ekspresi polos Sera, Erika hampir tersedak. Ia menghentikan langkah, membuat Lana dan Deo yang sedang asyik mengobrol di belakang hampir menabrak mereka. Erika menatap Sera seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak. "Sera, kamu ini benar-benar ya," Erika menggelengkan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   86. Notifikasi Kartu

    Rendra hanya diam mendengar penuturan Evan. Perlahan, ia menutup dokumen di tangannya lalu menoleh, melempar pandangannya ke luar jendela mobil yang dilapisi kaca antipeluru. Di luar sana, deretan gedung pencakar langit Jayakarta tampak berkelebat, namun fokus Rendra jauh melampaui itu. Sementara itu, Evan yang duduk di kursi depan tiba-tiba memikirkan kembali apa yang pernah Rendra ucapkan dulu. Atasannya itu pernah berkata politik memang kejam. Sejak awal, Rendra sudah tahu bahwa kursi nomor satu Iraya tidak datang hanya dengan kekuasaan, melainkan juga dengan kesepian. Setiap kedekatan Rendra dengan orang tertentu bisa menjadi bumerang yang mendatangkan curiga bagi lawan-lawannya. Maka dari itu, Evan merasa wajar jika Rendra menetapkan batas yang sangat kaku, karena setiap cangkir teh yang diminum bersama bisa diartikan sebagai konspirasi. *** Rumah Sakit Narita Sera yang baru tiba tampak melangkah memasuki ruang koas dengan jas putih yang tersampir di bahunya. Langkahny

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   85. Kejanggalan Bencana

    Mata Rendra menyipit tajam, menatap nanar layar ponsel yang memancarkan cahaya di kamar yang temaram. Jemarinya bergerak lincah, membuka lampiran dokumen yang dikirimkan Evan melalui email pribadinya. Ia mengabaikan denyut halus di pelipisnya dan rasa lelah yang mulai menggerogoti tubuh. Apa yang tertulis di dalam baris-baris laporan itu bukan sekadar rangkuman teknis pasca-bencana biasa. Deretan angka, grafik, dan catatan lapangan itu menyiratkan sesuatu yang jauh lebih gelap, indikasi kelalaian dan potensi penyelewengan yang jejaknya mengarah pada nama-nama besar. Punggung Rendra menegak, fokusnya tercurah sepenuhnya pada data sensitif itu. KLEK Suara gagang pintu yang diputar pelan membuat Rendra tersentak halus. Ia reflek mematikan layar ponselnya, menyembunyikan cahaya terang itu, lalu menoleh ke arah pintu. Sera melangkah masuk dengan ragu, separuh tubuhnya masih tertahan di ambang pintu, matanya yang sembab menatap Rendra dengan canggung. "Tuan Rendra..." Sera berbi

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   84. Tak Sekeras Itu

    Sera terpaku di tempatnya berdiri, kedua tangannya meremas ujung baju yang dikenakannya. Kalimat Rendra barusan merayap masuk ke dalam relung hatinya. Sera masih terdiam, sampai suara berat Rendra kembali memecah keheningan yang canggung itu. "Kamu nikmati saja waktumu bersama keluargamu," ucap Rendra sambil melonggarkan sedikit simpul dasinya, gestur yang menunjukkan dia benar-benar ingin melepas penat. "Aku mau istirahat dulu." Sera tersadar dari lamunannya dan mengangguk pelan. "I-iya, Mas. Terima kasih." Angga yang berdiri di samping mereka segera menangkap sinyal itu. Ia menoleh ke arah sofa, tempat kedua anaknya yang lain masih duduk mengawasi. "Ara, tolong antar Tuan Rendra ke kamar atas." Ara tersentak kecil, lalu bergegas berdiri. Gadis itu merapikan bajunya yang sedikit kusut sebelum berjalan mendekat dengan langkah sopan. "Mari, Tuan! Saya antar ke kamar," ucapnya sedikit gugup. Rendra hanya mengangguk singkat, mengikuti langkah kecil Ara menuju tangga yang terletak d

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   83. Adik Ipar

    Udara mendadak dingin, bukan karena embusan angin, melainkan karena kalimat tajam yang meluncur dari bibir Arkan. Pemuda itu berdiri tegap, menatap lurus ke arah Rendra dengan sorot mata menuntut. Keheningan yang mencekam jatuh seketika. Angga dan Siwi terpaku, napas mereka seolah tertahan di tenggorokan. Sera pun tersentak. Ia melepaskan pelukannya dari Siwi, bahunya masih terguncang kecil, namun matanya yang sembab kini membulat sempurna ke arah adiknya. Isakannya terhenti paksa oleh rasa terkejut yang menjalar hingga ke ujung jari. Sera melihat Rendra hanya diam. Pria itu tidak membalas dengan kemarahan, justru hanya menyipitkan mata, menatap Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan, dingin namun penuh selidik. Sudut bibir Rendra tertarik, membentuk senyum tipis yang sarat akan sarkasme namun tetap terlihat berwibawa. "Adik ipar," suara Rendra rendah, bergema di antara mereka dengan nada yang tenang namun menusuk. "Sepertinya kamu begitu sayang dan jauh lebih mengerti kakak

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   82. Seperti Obat Penenang

    Sera menoleh cepat ke arah Rendra, mengabaikan sisa air mata yang masih menggantung di bulu matanya. Bibirnya sedikit mengerucut, membentuk gurat cemberut yang samar namun nampak menggemaskan di bawah pendar lampu jalan yang masuk ke kabin mobil. "Padahal saya sudah sembunyi-sembunyi sekali. Saya cari sudut paling gelap supaya tidak ada yang melihat," gumam Sera dengan nada sedikit tidak terima. "Tapi tetap saja Anda tahu semuanya." Rendra tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. Tangannya dengan lihai memutar kemudi saat mobil melewati tikungan besar. Sera mengusap matanya lagi dengan gerakan kasar, lalu membuang napas panjang seolah ingin melepaskan beban yang menyesakkan dadanya. "Kalau tidak di dekat gudang, kamu menangis di bawah anak tangga menuju rooftop mansion," sahut Rendra pelan, suaranya memecah keheningan yang mulai terasa hangat. "Waktu itu, kamu benar-benar membuatku berpikir kalau mansion keluargaku be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status