MasukRendra memulas senyum tipis.
“Yang pasti aku harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki tujuan apapun dari pernikahan ini,” jawab Rendra dingin tanpa menoleh pada ibunya. Sintia semakin heran, keningnya berkerut samar. “Aku tidak ingin pernikahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan lain.” “Tetap saja kamu butuh dukungan agar bisa terus bertahan di posisimu ini.” Sintia mendekat ke Rendra, memegang lengan putranya itu. “Mama masih yakin, kalau ada yang mengincar keselamatan nyawamu.” Rendra hanya diam menatap dalam wajah wanita yang melahirkannya itu. Sintia melepaskan pegangannya, napasnya mulai tidak teratur. "Lalu siapa? Siapa wanita yang menurutmu pantas menjadi pendampingmu?" Rendra menatap langsung ke mata ibunya. "Sera." Sintia terperangah, butuh beberapa detik baginya untuk memproses nama itu. Saat ingatan tentang putri sopir mereka muncul, wajahnya memucat karena emosi. "Sera? Anak Angga si sopir itu?!" Suara Sintia meninggi."Apa kamu sudah kehilangan akal? Dia tidak setara dalam segi apapun dengan keluarga kita. Apa jangan-jangan ini ulah Eyang Utari? Apa wanita tua itu yang meracuni pikiranmu?" "Aku tidak perlu meracuni pikiran Rendra, dia sudah dewasa, Sintia." Suara ketukan tongkat kayu di atas lantai marmer menghentikan perbincangan Sintia dan Rendra. Eyang Utari masuk dengan kebaya hitamnya yang anggun, tatapannya setajam elang meski usianya tak lagi muda. Sintia menoleh, wajahnya penuh rasa kesal. "Katakan padaku apa maksud Ibu? Gadis itu tidak pantas menjadi menantu keluarga Narrottama." "Anak itu punya apa yang tidak dimiliki kandidatmu, Sintia," potong Eyang Utari sembari berdiri di samping Rendra. "Ketulusan." Sintia tertawa getir, hampir frustrasi. "Apa maksud Ibu? Ketulusan? Apa bisa menentukan masa depan Rendra hanya berdasarkan perasaan tulus?" Eyang Utari menatap tajam Sintia. "Bukankah kamu sudah pernah berjanji padaku? Aku akan memaafkan semua kesalahanmu, tapi kamu tidak boleh ikut campur dengan pernikahan Rendra." Eyang Utari tersenyum miring. "Apa kamu lupa? Haruskah aku ingatkan alasan apa yang membuatmu sampai mengucap janji itu?" Sintia terkesip, kakinya sedikit lemas hingga tubuhnya limbung. ** Paviliun keluarga Angga. Sera sudah rapi dengan kemeja putih dan jas snelli yang tersampir di lengan, siap berangkat menuju rumah sakit untuk dinas koasnya. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti di depan pintu kamar. Angga dan Siwi sudah menunggu di meja makan kecil yang ada di sana. "Duduk sebentar. Ada hal penting yang harus Ayah sampaikan sebelum kamu berangkat," ujar Angga lembut, namun nada bicaranya sangat dalam. Sera melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku takut telat karena ada pergantian jadwal jaga." "Hanya sebentar," sela Siwi pelan sembari menarik kursi untuk anak tirinya itu. Sera akhirnya duduk. Angga memulai pembicaraan dengan membahas kejadian di UGD kemarin—tentang luka Rendra dan kerusuhan yang masih terjadi saat ini di luaran sana. Ia menyinggung betapa rapuhnya posisi Rendra saat ini jika terus membiarkan kursi Ibu Negara kosong di tengah gempuran mitos Iraya yang rakyat percaya. Sera menghela napas, menyandarkan punggungnya. "Ayah, aku sudah bilang kemarin. Tuan Rendra terluka karena murni kecelakaan. Jangan percaya mitos, karena tidak bisa dinalar secara logika." "Ayah tahu logika itu penting, Sera. Tapi ada kalanya, realita tidak berjalan lurus dengan logika. Negara ini sedang kacau, rakyat Iraya takut jika Tuan Rendra masih melajang maka akan timbul bencana besar." "Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Sera mulai curiga. Angga terdiam sejenak, menatap mata jernih Sera dengan tatapan paling sabar yang pernah ia berikan. "Keluarga Narrottama ingin kamu menikah dengan Tuan Rendra." Sera tersentak, wajahnya memucat seketika. "Ayah bicara apa? Menikah? Dengan Tuan Rendra? Itu lelucon paling tidak lucu yang pernah aku dengar!" Sera berdiri, suaranya naik satu oktaf karena syok. "Masih banyak putri menteri atau pengusaha yang mengantre menjadi calon istrinya. Ayah jangan mengada-ada!" Siwi mencoba menyentuh lengan Sera, namun gadis itu mundur selangkah. "Ayah tidak mengada-ada," ucap Angga tetap dengan nada bicaranya yang rendah dan tenang, mencoba meredam emosi putrinya. "Ayah juga tidak pernah membayangkan ada permintaan semacam ini dari mereka." "Kalau begitu tolak, Yah! Aku tidak mau!" Angga menghela napas panjang, lalu berdiri dan menatap Sera tepat di manik matanya. "Keluarga Narrottama sudah memberi banyak hal bahkan membiayai kuliahmu, sudah sepantasnya kita membalas budi.""Membalas budi tidak harus dengan menjual hidupku, Yah!" potong Sera dengan suara bergetar. Ia menyambar tasnya, mengabaikan panggilan ayahnya, dan melangkah lebar keluar dari paviliun. Kepalanya berdenyut. Logikanya menolak keras, namun hatinya dipenuhi kegelisahan yang membuncah. Alih-alih menuju gerbang luar untuk berjalan ke halte terdekat menuju rumah sakit, langkah Sera justru membawanya ke mansion utama. Ia harus mendengar langsung penjelasan atas apa yang ia dengar dari sang ayah. Namun, baru saja kakinya menginjak teras mansion Narrottama, sosok Sintia Narrottama sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggu mangsa. "Mau mencari Rendra?" tanya Sintia dingin. Matanya menyapu penampilan Sera dari ujung rambut hingga sepatu kets yang digunakan gadis itu. Tatapan Sintia penuh penghinaan, seolah Sera adalah noda di lantai mengkilap mansionnya. "Benar, saya ingin bicara dengan Tuan Rendra, Nyonya," jawab Sera, mencoba menegakkan bahu meski tangannya dingin.
Rendra memulas senyum tipis. “Yang pasti aku harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki tujuan apapun dari pernikahan ini,” jawab Rendra dingin tanpa menoleh pada ibunya. Sintia semakin heran, keningnya berkerut samar. “Aku tidak ingin pernikahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan lain.” “Tetap saja kamu butuh dukungan agar bisa terus bertahan di posisimu ini.” Sintia mendekat ke Rendra, memegang lengan putranya itu. “Mama masih yakin, kalau ada yang mengincar keselamatan nyawamu.” Rendra hanya diam menatap dalam wajah wanita yang melahirkannya itu. Sintia melepaskan pegangannya, napasnya mulai tidak teratur. "Lalu siapa? Siapa wanita yang menurutmu pantas menjadi pendampingmu?" Rendra menatap langsung ke mata ibunya. "Sera." Sintia terperangah, butuh beberapa detik baginya untuk memproses nama itu. Saat ingatan tentang putri sopir mereka muncul, wajahnya memucat karena emosi. "Sera? Anak Angga si sopir itu?!" Suara Sintia meninggi."Apa kamu sudah kehilangan
Rendra berpaling tanpa menunggu jawaban dari ibu dan neneknya. Saat menoleh tatapannya bertemu dengan Sera.Namun, gadis itu langsung menundukkan kepala.Selepas Rendra pergi, Sintia tampak memukul meja pajangan yang ada di dekatnya.Sintia membuang muka saat Eyang Utari menatap sengit padanya. ‘Wanita tua pikun ini, bisa-bisanya ingin ikut campur urusan pernikahan Rendra.’Tak lama Sera mendekat, memberanikan diri bicara ke Sintia.“Nyonya, jika tidak ada yang ingin dibicarakan saya pamit untuk kembali ke belakang,” ucapnya sopan.“Tunggu! Kamu harus memberitahu kondisi Rendra.” Sintia melirik pada Eyang Utari.Sera mengangguk, kemudian berjalan mendekat agar suaranya bisa terdengar jelas."Tuan Rendra mengalami luka robek yang cukup dalam di bahu kirinya. Luka itu sudah ditangani dengan tindakan penjahitan untuk menghentikan perdarahan dan merapatkan jaringan kulit yang terbuka."Sera menjeda lisan sejenak, melirik ekspresi Sintia yang masih tampak kesal."Meskipun luka sudah dijahi
Sera menoleh, memandang sosok yang berdiri di ambang pintu dapur.Sintia NarrottamaIbu kandung Rendra itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, meskipun gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.Sera segera mengeringkan tangannya pada celemek dan membungkuk dalam, tubuhnya sedikit gemetar."Nyonya," sapa Sera dengan suara bergetar."Jawab pertanyaanku, Sera. Evan memberitahuku kamu yang menangani luka Rendra di rumah sakit tadi, tapi setelah itu Evan tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan putraku," cecar Sintia sembari melangkah maju. "Bagaimana kondisi Rendra? Seberapa parah lukanya?"Sera menunduk, mengatur napas agar suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Rendra mengalami luka robek di bahu kirinya, Nyonya. Tapi kondisinya stabil."Ketegangan di bahu Sintia sedikit mengendur, tapi sedetik kemudian matanya menyipit tajam. Ia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina."Tunggu dulu," suara Sintia mendadak dingin. "Bukankah kamu ma
Sera hanya terdiam sampai Rendra bertanya untuk yang ke dua kali.“Apa kamu bisa melakukannya?”"Baik, saya akan melakukannya. Jika ada yang bertanya saya akan sampaikan kalau Anda baik-baik saja.”Rendra menatap Sera sejenak, ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.Jadi, yang ia lakukan adalah memberi isyarat pada Evan untuk membukakan pintu.Dengan langkah tegap yang dipaksakan, ia berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Sera.Sera berdiri membeku di tengah ruangan yang kini terasa hampa. Aroma parfum maskulin Rendra yang bercampur dengan bau antiseptik masih tertinggal di udara.Sera segera melangkah menuju ruang konsul Dokter Hans, dokter senior yang tadi memberikan instruksi awal. Ia bermaksud melaporkan bahwa Rendra pergi sebelum waktu observasi selesai."Dokter Hans," panggil Sera saat memasuki ruangan. "Pak Presiden, dia memaksa pulang. Luka jahitannya masih sangat baru dan dia belum menerima dosis antibiotik pertamanya. Saya mencoba menahan, tapi …"Dokter Hans
Sera tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu meletakkan nampan besi yang dipegangnya ke troli medis sebelum menoleh pada Rendra."Tuan Rendra," suara Sera mengalun tenang, ia kembali menggunakan panggilan yang biasa ia gunakan untuk menyapa Rendra."Secara logika, tiang itu jatuh karena korosi atau struktur yang tidak stabil. Logika saya mengatakan itu murni kecelakaan konstruksi."Sera menatap lekat Rendra yang hanya diam."Tapi di Iraya, logika seringkali kalah oleh rasa. Rakyat tidak butuh penjelasan teknis tentang baut yang longgar atau besi yang sudah usang. Mereka hanya butuh ketenangan batin. Bagi rakyat Iraya, pemimpin adalah atap. Jika atapnya rusak, mereka merasa air hujan akan masuk ke rumah mereka.” Hening untuk beberapa waktu, sebelum Sera kembali melanjutkan, “Jadi, jika Anda tanya apakah saya percaya mitos itu? Saya lebih percaya bahwa ketakutan jutaan rakyat bisa menjadi kenyataan yang lebih berbahaya daripada mitos itu sendiri."Rendra tertegun. Jawaban itu jauh lebih







