Accueil / Romansa / Pelukan Hangat Tuan Presiden / Dipandang Rendah Dan Tidak Pantas

Partager

Dipandang Rendah Dan Tidak Pantas

last update Date de publication: 2026-01-29 07:12:30
"Apa yang kalian lakukan?"

Ternyata suara itu berasal dari seorang pria berseragam yang merupakan salah satu manajer operasional hotel. Ia melangkah cepat, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat terhadap keributan yang baru saja terjadi.

"Nona, tolong jangan membuat keributan di sini. Ini area publik," ujar manajer hotel itu tegas sembari membungkuk untuk membantu Sera berdiri.

Karina mendengus, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Kamu siapa berani mengaturku? Aku tamu VIP di sin
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (16)
goodnovel comment avatar
Devi Pramita
tau rasa mereka.. kenapa sera selalu dikasarin dan hina ya
goodnovel comment avatar
Sari 💚
Bijak juga si Sera, gak mau berkorban sia² .... Tapi Rendra malah lebih licik ..., pakai kata beri keturunan pulak. Paling² dia pengen jaminan biar bisa bersama Sera selamanya ...
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
Nahhh lhoo Rendra mnt ank Ser.. tp Klo pny ank ngeri ny Mak Lampir g Mao nrima y.. Sera aj yg jd mantu ny Mak Lampir g Mak nrima aplgi Klo ntr pny cucu
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mertua Jahat Berubah?

    "Silakan saja kalau kamu mau menemui Mama," jawab Rendra, helaan napasnya terdengar berat. Namun, jeda beberapa detik setelahnya nada suaranya berubah menjadi sangat dalam dan penuh penekanan. "Tapi, pastikan jangan sampai kamu terluka atau ditindas lagi di sana, jangan biarkan hal itu terjadi lagi." Sera tersenyum tipis. "Tenang saja, Mas. Nyonya Sintia tidak akan melakukan hal seperti itu lagi kepadaku. Percayalah." Di seberang sana, Rendra terdiam cukup lama. Keheningan itu terasa begitu pekat, mengisyaratkan gurat keberatan dan rasa berat hati yang teramat sangat untuk memberikan izin kepada istrinya. "Kamu sudah makan siang?" tanya Rendra kemudian, mencoba mengalihkan kecemasannya yang masih menggantung. "Makan siang dulu sebelum pergi menemui mama." Sera melirik sekilas ke arah jam dinding di koridor. "Aku belum lapar, Mas. Nanti saja, Erika juga sedang ada urusan sebentar, aku makan setelah Erika kembali saja." Setelah beberapa menit berbincang,mereka akhirnya mengak

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berani Kalau Sedang Cemburu

    Sera melangkah masuk ke ruang koas, lalu meletakkan tas kertas tebal berlogo merek ternama pemberian Ratu di atas mejanya. Ia berdiri mematung sembari memandangi benda itu dengan kening berkerut, tampak benar-benar bingung dengan motif di balik pemberian tersebut. Erika yang sejak tadi berada di sana langsung menyadari perubahan ekspresi wajah Sera. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Sera pelan. "Ada apa? Kenapa mukamu ditekuk begitu?" Tanpa menunggu persetujuan, jemari Erika yang penasaran bergerak meraih tas kertas itu. Ia membuka bagian atasnya lebar-lebar, mengintip ke dalam, lalu merogoh isinya. Begitu menarik sepotong pakaian tebal keluar dari sana, kedua mata Erika seketika membelalak lebar, dan ekspresi wajahnya berubah total menjadi penuh keterkejutan. "Astaga, Sera... ini jaket mahal!" seru Erika setengah berbisik, jemarinya mengusap permukaan bahan jaket yang halus dan terasa sangat premium. "Ini merek luar negeri yang antreannya panjang sekali kalau mau beli!"

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menumbalkan Sahabat

    Evan menelan ludah susah payah. Jakunnya naik-turun, melihat sosok Rendra yang mendadak muncul dari belakang. Sementara itu, Sera justru melipat wajahnya dalam-dalam. Ekspresinya datar. Dari sudut matanya, ia menangkap siluet Sofia yang berjalan anggun namun pasti menuju ke arah mereka. Sera buru-buru memecah keheningan. Ia menoleh ke arah Evan, lalu kembali menatap Rendra dengan tatapan lempeng. "Kami sedang membicarakan soal Erika," ucap Sera, sengaja mengeraskan volume suaranya. "Iya, Erika." Rendra tidak langsung merespons. Sepasang alis tebalnya bertaut erat, menciptakan lipatan dalam di dahinya. Matanya menyipit, menatap Sera dan Evan bergantian dengan penuh selidik. "Memang ada masalah apa dengan Erika?" tanyanya, suaranya berat dan menuntut. Sera menghela napas pendek, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Itu yang tidak bisa diceritakan. Sebaiknya Mas Rendra tidak perlu tanya." Bersamaan dengan kalimat itu, Sera memberikan isyarat halus—sebuah gerakan kepala yan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mengunci Mulut Rapat-rapat

    Di luar ruang kerja Rendra yang tertutup rapat, Sera dan Evan seketika saling pandang dengan mata membulat. Ketegangan yang membubung dari dalam ruangan menembus celah pintu, membuat keduanya membeku di tempat. Evan mendekatkan wajahnya ke arah Sera, berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Bisa-bisanya kita menguping pembicaraan seperti ini, Nona?" Mendengar bisikan panik dari ajudan suaminya, Sera langsung mengangkat jari telunjuk kanannya ke depan bibir, memberikan isyarat tegas agar Evan menutup mulut. Evan menelan ludah gundah, lalu mengangguk-angguk paham. Tanpa sadar, keduanya justru semakin mendekatkan telinga ke arah daun pintu kayu jati yang tebal itu untuk kembali mendengarkan kelanjutan perdebatan antara Rendra dan Sofia dengan saksama. Di dalam ruangan, Sofia tampak terkejut. Gurat wajahnya menegang, namun ia segera menguasai diri untuk menjawab dengan nada profesional yang dipaksakan. "Kontrak kerja saya menjadi juru bicara kepresidenan itu adalah

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menyusun Jadwal

    Sofia menatap Sera dengan tatapan meremehkan, sudut bibirnya terangkat tipis. "Tentu saja," jawab Sofia, suaranya terdengar angkuh. "Ada hal penting yang ingin Rendra bahas secara langsung denganku malam ini." Sera tidak menunjukkan riak emosi apa pun di wajahnya. Ia justru mempererat cengkeramannya pada kotak susu dan camilan di tangannya, lalu menatap Sofia dari undakan tangga dengan pandangan menghunjam. "Kamu datang ke sini dalam kapasitas sebagai bawahannya, kan? Jadi, tolong jaga caramu bicara saat berada di lingkungan istana. Panggil dia Pak Presiden," ucap Sera dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan. Tanpa menunggu balasan dari Sofia, Sera langsung membalikkan badannya dan melangkah lebar menaiki sisa anak tangga, meninggalkan area itu begitu saja. Sofia yang ditinggalkan di undakan bawah hanya bisa tergelak pendek, menatap punggung Sera dengan pandangan sinis sebelum akhirnya melangkah naik menuju ke lantai atas, mengarahkan tujuannya ke ruang ker

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menjadi Dua Kubu

    Eyang Utari mengembuskan napas kasar, membuat pundaknya turun dengan kentara. "Kalau setelah semua ini kamu masih menutup mata dan enggan menerima keberadaan Sera, artinya kamu memang tidak tahu diri dan tidak tahu cara membalas budi, Sintia," ucapnya dengan nada ketus yang tidak lagi disembunyikan. Sintia tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menatap diam ke arah ibunya dengan sepasang mata yang tampak meredup, sebelum akhirnya memalingkan muka ke sisi lain ranjang, menghindari perdebatan lebih jauh. Eyang Utari yang melihat sikap keras kepala Sintia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia memilih untuk tidak lagi membuang kata-kata. Pandangannya beralih dari ranjang, bergerak menyapu ruangan hingga tertuju pada Ratu yang kini sudah duduk santai di atas sofa kulit di sudut kamar sembari memainkan ujung kukunya. Di dalam benak Eyang Utari, sebuah ironi mendadak melintas, bahkan anak kandung yang dilahirkan dan dibesarkan oleh Sintia sendiri pun tidak peduli pada keselamat

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status