เข้าสู่ระบบKeesokan harinya.
Sejak pagi seluruh penjuru Iraya tegang.
Stasiun televisi dan media sosial ramai menyiarkan satu hal yang sama. Pengumuman mendadak dari Istana mengenai konferensi pers Presiden terpilih.
Rakyat menunggu dengan cemas. Setelah dua bulan menjabat tanpa pendamping, tiba-tiba Presiden terpilih akan menyampaikan keputusan penting terkait kehidupan pribadinya.
Spekulasi langsung bermunculan.
Apa selama dua bulan ini Presiden terpilih mengalami sesuatu?
Rumor pun mulai menyebar. Tidak ada pernyataan resmi, tidak ada bukti yang jelas, namun cerita-cerita yang beredar justru semakin liar. Tentang kejadian-kejadian yang tidak wajar, tentang insiden yang seharusnya tidak terjadi, tentang keberuntungan yang seolah terus diuji.
Awalnya hanya bisik-bisik kecil.
Namun lama-kelamaan, satu hal mulai sering muncul di antara perbincangan publik.
Kutukan Iraya.
Sebagian orang menertawakannya. Sebagian lagi mulai menghubungkan semuanya. Bagaimana mungkin seorang Presiden terpilih yang dikenal rasional dan tegas, tiba-tiba mengumumkan keputusan pribadi sepenting ini… tanpa tanda-tanda sebelumnya?
Apakah ini hanya langkah politik?
Atau…
Presiden terpilih akhirnya mulai mempercayai sesuatu yang selama ini ia abaikan?
Perdebatan itu semakin panas.
Ada yang mengatakan Rendra akhirnya “menelan ucapannya sendiri” karena berani maju tanpa pendamping, namun pada akhirnya tetap harus mengambil jalan yang sama seperti para pendahulunya.
Ada pula yang percaya… keputusan ini bukan sekadar pilihan.
Melainkan sesuatu yang tidak bisa lagi dihindari.
Akan tetapi, seluruh rakyat Iraya tetap menunggu, apa sebenarnya yang diumumkan oleh Dharendra Narrotama.
***
Sera sudah bersiap dengan pakaian anggun yang disiapkan pihak Istana, meski ketegangan merayap jelas di balik wajah cantiknya.
Konferensi pers Presiden akan diadakan di sebuah hotel bintang lima paling mewah di Jayakarta— ibu kota Iraya. Evan mengantar Sera ke hotel melalui pintu khusus agar tidak terendus media atas perintah Rendra.
"Nona silakan tunggu di kamar ini sampai semua persiapan selesai. Nanti saya akan menjemput Anda jika saatnya tiba," ucap Evan setelah mereka sampai di depan pintu kamar President Suite. "Tapi kalau Anda lapar atau bosan, Anda boleh berjalan-jalan dan turun ke restoran di bawah untuk makan lebih dulu."
Sera hanya mengangguk patuh. Setelah Evan pergi, ia duduk di tepian ranjang. Pikirannya melayang. Kini, walaupun statusnya sudah berubah menjadi istri orang nomor satu di Iraya, hubungannya dengan Rendra tidak ada yang berubah.
Sera paham sejak dulu memang ada jurang pemisah yang dalam di antara keduanya, meskipun dulu, Rendra muda pernah menjadi sosok kakak bagi Sera.
Namun, dia tetaplah anak dari sopir keluarga, dan Rendra, secara tidak langsung, adalah majikannya.
Dan, Sera bisa ada di posisi ini hanya karena tanggal lahirnya.
Fakta itu tetap tidak akan hilang dan dinding di antara mereka tetap menjulang tinggi.
Sera menangkup kedua wajahnya dan tertunduk lesu. Sudah tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, selain menerima kenyataan dan takdir yang membawanya pada titik ini.
Lebih baik, Sera tetap menunggu di kamar hotel, tapi perutnya mulai melilit karena lapar membuat Sera memutuskan untuk keluar kamar. Namun, saat ia melangkah menuju restoran hotel, langkahnya mendadak terhenti. Di lobi dekat area makan, ia berpapasan dengan empat orang teman kuliahnya.
Sera tersentak.
Salah satu dari mereka, langsung menyadari kehadiran Sera.
"Sera? Kenapa bisa kamu ada di hotel ini?" tanya gadis bernama Karina itu dengan nada menyelidik.
Karina merupakan putri dari salah satu politisi Iraya sekaligus donatur terbesar di universitas mereka. Gadis itu selalu memandang rendah setiap mahasiswa di fakultas kedokteran yang ia anggap tak setara.
Di kalangan mahasiswa kedokteren Universitas Jayakarta, identitas Sera bukanlah rahasia lagi. Semua orang tahu bahwa Sera hanyalah putri seorang sopir yang bekerja pada keluarga Narrottama.
Namun, kepintaran Sera membuat ia bisa mendapat beasiswa dari salah satu yayasan yang dimiliki keluarga Narrottama.
“Aku tidak salah lihat, ‘kan? Kamu benar Aluna Sera, si anak beasiswa?”
Karina bertanya dengan nada menghina, matanya memperhatikan pakaian mahal yang melekat di tubuh Sera. "Dilihat-lihat baju yang kamu pakai bagus sekali. Jangan-jangan kamu punya pekerjaan sampingan menjadi sugar baby!"
Tawa teman-temannya yang lain pecah seketika, membuat Sera hanya bisa terdiam menahan diri.
"Lagipula, hebat sekali ya taktik keluargamu." Karina melangkah maju, menatap Sera dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Ayahmu jadi sopir setia, lalu memohon-mohon pada keluarga Narrottama supaya anaknya bisa mendapat beasiswa agar masuk fakultas kedokteran Universitas Jayakarta.”
Ujung jari Karina mendorong bahu Sera. “Kamu itu cuma proyek amal yayasan mereka supaya mereka kelihatan dermawan di mata publik. Jangan sampai karena bajumu yang bagus ini, kamu jadi lupa diri. Bajumu tidak bisa menutupi bau jok mobil yang setiap hari ayahmu bersihkan dari tubuhmu ini."
"Karina, cukup," bisik Sera tegas. Sera bisa terima jika dirinya yang dihina, tapi ia tidak akan tinggal diam jika itu menyangkut ayahnya.
Namun, Sera masih akan menahan diri. Dengan statusnya sekarang, Sera harus lebih berhati-hati.
Akan tetapi, ketegasan Sera justru memancing tawa yang lebih keras.
"Kenapa? Tersinggung?" Karina tertawa mengejek. "Harusnya kamu bersyukur. Kalau bukan karena belas kasihan Pak Dewa Narrottama, kamu mungkin sekarang sedang sibuk menggosok toilet mereka atau mencuci piring bekas makan mereka."
Karina tampak puas dengan apa yang ia ucapkan. Ia bahkan melirik ke temannya masih dengan senyum menghina Sera.
“Bukankah dia harusnya tahu diri? Dia bisa masuk ke fakultas kedokteran karena beasiswa dan belas kasihan majikan ayahnya,” timpal teman yang lain dengan sinis. “Atau mungkin kamu di sini ingin mengincar Pak Presiden? Kamu pasti tahu Pak Presiden akan datang ke sini untuk konferensi pers, karena ayahmu sopir dan ibumu pembantu mereka.”
"Cih ... mendapat ajudannya saja dia tidak layak, apalagi mendapatkan seorang Presiden," ejek Karina lagi.
Sera hanya menatap mereka tanpa berniat membalas. Mendengar mereka terus menghina dirinya, dan mengingat situasi sekarang rasanya hanya akan membuang-buang waktu. Jadi, Sera memalingkan muka dan berjalan meninggalkan mereka.
Namun, mata tajam Karina menangkap sebuah kunci kartu yang digenggam Sera.
"Tunggu, ini kunci kamar President Suite?!" Karina merampas kunci itu dengan kasar dari tangan Sera. “Jadi kamu benar-benar sugar baby? Atau simpanan pengusaha? Berapa bayaranmu per malam?”
Mereka tidak akan ada habisnya. Sera menghela napas. "Kembalikan."
Tangan Sera terangkat untuk merebut kunci kamarnya kembali.
Namun, tentu saja Karina tidak ingin memberikan kunci kamar Sera. Tidak mungkin seorang anak sopir bisa menginap di kamar President Suite. Karina mengangkat tangan yang memegang kunci kamar Sera tinggi-tinggi.
Sera masih terus berusaha mengambil kuncinya, tetapi teman-teman Karina yang lain juga ikut membantu Karina, hingga terjadi dorong-mendorong yang tidak terelakkan.
Karina yang lebih dominan mendorong Sera hingga gadis itu terjatuh ke lantai marmer yang dingin.
Bukannya membantu atau merasa bersalah, Karina dan teman-temannya malah tertawa terbahak-bahak. Bahkan Karina menghardik staf hotel yang mendekat ingin melerai perdebatan itu.
"Heh … anak sopir, apa kamu tahu berapa harga kamar ini per malam? Keluargamu tidak mungkin mampu membayar meski sudah bekerja seumur hidup!" teriak Karina sambil mengacungkan kartu itu di depan wajah Sera. “Orang rendahan dan miskin sepertimu tidak pantas menginjakkan kaki di hotel ini.”
Namun, di saat yang bersamaan, sebuah suara menggema di belakang mereka, menghentikan seluruh tawa dan cacian itu.
Kabut kuning pekat masih menempel rapat di kaca jendela lantai delapan hotel itu. Jarak pandang bahkan tidak sampai ke seberang jalan raya di bawah sana. Sera berdiri mematung di balik kaca tebal, kedua tangannya terlipat di depan dada. Cahaya matahari pagi yang seharusnya cerah hanya tampak seperti bulatan redup yang pucat, tertahan oleh asap tebal sisa kebakaran hutan.Suara gemericik air dari kamar mandi berhenti. Selang beberapa saat pintu terbuka, Rendra melangkah keluar dengan handuk kecil tersampir di lehernya. Rambutnya masih sedikit basah, dan ia sudah mengenakan celana kain hitam panjang serta kaos polos berwarna senada. Pandangannya langsung terarah pada Sera yang tak bergeming di depan jendela. Rendra mengembuskan napas pendek, lalu melangkah mendekat tanpa alas kaki.Kedua lengan kokoh Rendra melingkar di pinggang Sera dari belakang. Ia menarik tubuh istrinya perlahan hingga punggung Sera menempel di dadanya. Rendra menyandarkan dagunya di bahu Sera, ikut menatap ke luar j
Malam Hari Sera berdiri mematung di balik dinding kaca kamar hotel bintang lima di lantai sepuluh. Di dalam kamar luas berlantai marmer itu, pendingin ruangan berdesing pelan, menyebarkan aroma vanila segar yang berpadu dengan udara bersih berfilter ganda. Di atas meja nakas, teko porselen berisi teh hangat dan piring buah potong tersaji rapi tanpa cela. Namun, di luar sana, pemandangan kota Kalinaya tampak abu-abu pekat dan mencekam. Lampu-lampu jalan raya di bawah hanya tampak seperti titik-titik kuning pudar yang nyaris padam tertelan kabut asap tebal. Sera meletakkan telapak tangannya di permukaan kaca yang dingin. Napasnya menghela berat, bahunya turun seraya menundukkan kepala. Di telinganya, suara tangisan serak bayi berusia tiga bulan dan batuk parah anak-anak yang dia temui siang tadi masih berdengung jelas. Suara langkah kaki pelan terdengar mendekat. Rendra yang baru saja selesai membersihkan diri melangkah menghampiri Sera. Rendra berhenti tepat di belakang Sera
Roda pesawat kepresidenan menyentuh landasan pacu dengan guncangan halus. Begitu pintu kabin terbuka, aroma sangit langsung menyusup masuk, menusuk hidung dan membuat tenggorokan terasa kering seketika. Evan melangkah maju, menyerahkan dua masker respirator N95 berwarna putih kepada Rendra dan Sera. "Silakan dipakai sebelum turun, Pak, Nona Sera. Indeks kualitas udara di luar sudah menyentuh angka berbahaya." Sera segera mengaitkan tali elastis masker ke belakang kepalanya, menekan klip aluminium di pangkal hidung agar menutup rapat. Ia melangkah menuruni tangga pesawat di samping Rendra. Pemandangan di sekeliling bandara tampak suram. Jarak pandang tidak lebih dari lima puluh meter, gedung terminal dan deretan pohon palem di kejauhan hanya tampak seperti siluet kelabu yang kabur tertelan kabut asap tebal kekuningan. Mata Sera terasa perih hanya dalam beberapa detik terpapar udara luar. Iring-iringan kendaraan dinas berpelat khusus sudah bersiaga di bawah tangga. Tanpa mem
Sinar matahari pagi yang menembus tirai kaca kamar utama jatuh tepat di atas selimut tebal. Rendra membuka kelopak matanya perlahan. Udara sejuk pendingin ruangan menyapa kulitnya saat ia mengubah posisi tidur menghadap ke samping. Di sebelahnya, Sera masih tertidur pulas dengan napas teratur.Rendra mengulurkan tangannya, lalu mengusap lembut lengan atas Sera yang terbalut piyama katun tipis. Gerakan jemarinya pelan dan berulang, berusaha tidak mengagetkan wanita itu."Sera..." bisik Rendra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.Sentuhan hangat itu membuat bulu mata Sera bergerak-gerak pelan. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sempurna. Sera menoleh, menatap wajah suaminya yang sudah tersenyum tipis tepat di depannya."Pagi, Mas," gumam Sera seraya menarik selimut lebih tinggi hingga sebatas dada."Pagi," balas Rendra seraya kembali mengusap lengannya pelan. "Hari ini kamu mau ikut denganku?"Kening Sera berkerut samar. Rasa kantuknya perlahan
"Tadi sore aku langsung marah-marah dan menuduh Mas yang tidak-tidak tanpa berpikir panjang," ucap Sera seraya meremas bantal di pangkuannya. Rasa panas merayap cepat ke kedua pipinya. "Pasti Mas Rendra sekarang berpikir kalau aku ini wanita yang gampang dihasut orang lain. Aku cuma termakan cemburu buta sampai lupa memakai akal sehatku sendiri. Padahal Mas sudah bilang dari awal kalau Sofia itu orangnya seperti apa."Rendra terdiam mendengarkan penuturan itu. Pandangannya tidak lepas dari ekspresi Sera yang tampak begitu menyesal dan gelisah. Perlahan, garis-garis tegas di wajah Rendra memudar. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa kecil sebelum akhirnya seulas senyuman hangat merekah di wajahnya.Sera yang mendengar hembusan napas geli dari Rendra lekas mendongak dengan bibir mengerucut. "Mas Rendra kok malah tertawa? Aku ini sedang bicara serius."Rendra mengulurkan kedua tangannya, menarik bantal kecil dari pangkuan Sera lalu meletakkannya ke sisi ranjang. Ia meraih kedua telapak t
Satu jam kemudian, di sebuah restoran privat. Sofia duduk di salah satu sudut meja bundar dengan cangkir teh yang mengepul di depannya. Sesekali melirik pintu masuk dengan sorot mata penuh antisipasi. Di benaknya, rencana tadi siang pasti sudah bekerja. Sera yang masih muda dan lugu pasti menangis di hadapan Rendra, dan Rendra yang panik pasti terpaksa datang menemuinya untuk menyelesaikan masalah ini. Apalagi saat Evan berkata ingin bertemu, ia langsung menyetujuinya begitu saja. Bunyi lonceng kecil di atas pintu masuk kafe berdentang pelan. Sofia seketika menegakkan punggungnya, dagunya terangkat tinggi dengan senyum kemenangan yang mulai terbit di bibirnya. Namun, senyum itu membeku di detik berikutnya saat matanya menangkap sosok yang melangkah masuk. Bukan Rendra, melainkan Evan yang berjalan santai menuju mejanya. Sofia menahan napas sejenak, guratan kecewa dan amarah sekilas melintas di wajahnya sebelum ia buru-buru menyembunyikannya di balik topeng ketenangan yang kaku







