Home / Romansa / Pelukan Hangat Tuan Presiden / Mengumumkan Pernikahan

Share

Mengumumkan Pernikahan

last update publish date: 2026-04-08 14:49:13

Keesokan harinya.

Sejak pagi seluruh penjuru Iraya tegang.

Stasiun televisi dan media sosial ramai menyiarkan satu hal yang sama. Pengumuman mendadak dari Istana mengenai konferensi pers Presiden terpilih.

Rakyat menunggu dengan cemas. Setelah dua bulan menjabat tanpa pendamping, tiba-tiba Presiden terpilih akan menyampaikan keputusan penting terkait kehidupan pribadinya.

Spekulasi langsung bermunculan.

Apa selama dua bulan ini Presiden terpilih mengalami sesuatu?

Rumor pun mulai menyebar. Tidak ada pernyataan resmi, tidak ada bukti yang jelas, namun cerita-cerita yang beredar justru semakin liar. Tentang kejadian-kejadian yang tidak wajar, tentang insiden yang seharusnya tidak terjadi, tentang keberuntungan yang seolah terus diuji.

Awalnya hanya bisik-bisik kecil.

Namun lama-kelamaan, satu hal mulai sering muncul di antara perbincangan publik.

Kutukan Iraya.

Sebagian orang menertawakannya. Sebagian lagi mulai menghubungkan semuanya. Bagaimana mungkin seorang Presiden terpilih yang dikenal rasional dan tegas, tiba-tiba mengumumkan keputusan pribadi sepenting ini… tanpa tanda-tanda sebelumnya?

Apakah ini hanya langkah politik?

Atau…

Presiden terpilih akhirnya mulai mempercayai sesuatu yang selama ini ia abaikan?

Perdebatan itu semakin panas.

Ada yang mengatakan Rendra akhirnya “menelan ucapannya sendiri” karena berani maju tanpa pendamping, namun pada akhirnya tetap harus mengambil jalan yang sama seperti para pendahulunya.

Ada pula yang percaya… keputusan ini bukan sekadar pilihan.

Melainkan sesuatu yang tidak bisa lagi dihindari.

Akan tetapi, seluruh rakyat Iraya tetap menunggu, apa sebenarnya yang diumumkan oleh Dharendra Narrotama.

***

Sera sudah bersiap dengan pakaian anggun yang disiapkan pihak Istana, meski ketegangan merayap jelas di balik wajah cantiknya.

Konferensi pers Presiden akan diadakan di sebuah hotel bintang lima paling mewah di Jayakarta— ibu kota Iraya. Evan mengantar Sera ke hotel melalui pintu khusus agar tidak terendus media atas perintah Rendra.

"Nona silakan tunggu di kamar ini sampai semua persiapan selesai. Nanti saya akan menjemput Anda jika saatnya tiba," ucap Evan setelah mereka sampai di depan pintu kamar President Suite. "Tapi kalau Anda lapar atau bosan, Anda boleh berjalan-jalan dan turun ke restoran di bawah untuk makan lebih dulu."

Sera hanya mengangguk patuh. Setelah Evan pergi, ia duduk di tepian ranjang. Pikirannya melayang. Kini, walaupun statusnya sudah berubah menjadi istri orang nomor satu di Iraya, hubungannya dengan Rendra tidak ada yang berubah.

Sera paham sejak dulu memang ada jurang pemisah yang dalam di antara keduanya, meskipun dulu, Rendra muda pernah menjadi sosok kakak bagi Sera.

Namun, dia tetaplah anak dari sopir keluarga, dan Rendra, secara tidak langsung, adalah majikannya.

Dan, Sera bisa ada di posisi ini hanya karena tanggal lahirnya.

Fakta itu tetap tidak akan hilang dan dinding di antara mereka tetap menjulang tinggi.

Sera menangkup kedua wajahnya dan tertunduk lesu. Sudah tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, selain menerima kenyataan dan takdir yang membawanya pada titik ini.

Lebih baik, Sera tetap menunggu di kamar hotel, tapi perutnya mulai melilit karena lapar membuat Sera memutuskan untuk keluar kamar. Namun, saat ia melangkah menuju restoran hotel, langkahnya mendadak terhenti. Di lobi dekat area makan, ia berpapasan dengan empat orang teman kuliahnya.

Sera tersentak.

Salah satu dari mereka, langsung menyadari kehadiran Sera.

"Sera? Kenapa bisa kamu ada di hotel ini?" tanya gadis bernama Karina itu dengan nada menyelidik.

Karina merupakan putri dari salah satu politisi Iraya sekaligus donatur terbesar di universitas mereka. Gadis itu selalu memandang rendah setiap mahasiswa di fakultas kedokteran yang ia anggap tak setara.

Di kalangan mahasiswa kedokteren Universitas Jayakarta, identitas Sera bukanlah rahasia lagi. Semua orang tahu bahwa Sera hanyalah putri seorang sopir yang bekerja pada keluarga Narrottama.

Namun, kepintaran Sera membuat ia bisa mendapat beasiswa dari salah satu yayasan yang dimiliki keluarga Narrottama.

“Aku tidak salah lihat, ‘kan? Kamu benar Aluna Sera, si anak beasiswa?”

Karina bertanya dengan nada menghina, matanya memperhatikan pakaian mahal yang melekat di tubuh Sera. "Dilihat-lihat baju yang kamu pakai bagus sekali. Jangan-jangan kamu punya pekerjaan sampingan menjadi sugar baby!"

Tawa teman-temannya yang lain pecah seketika, membuat Sera hanya bisa terdiam menahan diri.

"Lagipula, hebat sekali ya taktik keluargamu." Karina melangkah maju, menatap Sera dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Ayahmu jadi sopir setia, lalu memohon-mohon pada keluarga Narrottama supaya anaknya bisa mendapat beasiswa agar masuk fakultas kedokteran Universitas Jayakarta.” 

Ujung jari Karina mendorong bahu Sera. “Kamu itu cuma proyek amal yayasan mereka supaya mereka kelihatan dermawan di mata publik. Jangan sampai karena bajumu yang bagus ini, kamu jadi lupa diri. Bajumu tidak bisa menutupi bau jok mobil yang setiap hari ayahmu bersihkan dari tubuhmu ini."

"Karina, cukup," bisik Sera tegas. Sera bisa terima jika dirinya yang dihina, tapi ia tidak akan tinggal diam jika itu menyangkut ayahnya.

Namun, Sera masih akan menahan diri. Dengan statusnya sekarang, Sera harus lebih berhati-hati.

Akan tetapi, ketegasan Sera justru memancing tawa yang lebih keras.

"Kenapa? Tersinggung?" Karina tertawa mengejek. "Harusnya kamu bersyukur. Kalau bukan karena belas kasihan Pak Dewa Narrottama, kamu mungkin sekarang sedang sibuk menggosok toilet mereka atau mencuci piring bekas makan mereka."

Karina tampak puas dengan apa yang ia ucapkan. Ia bahkan melirik ke temannya masih dengan senyum menghina Sera.

“Bukankah dia harusnya tahu diri? Dia bisa masuk ke fakultas kedokteran karena beasiswa dan belas kasihan majikan ayahnya,” timpal teman yang lain dengan sinis. “Atau mungkin kamu di sini ingin mengincar Pak Presiden? Kamu pasti tahu Pak Presiden akan datang ke sini untuk konferensi pers, karena ayahmu sopir dan ibumu pembantu mereka.”

"Cih ... mendapat ajudannya saja dia tidak layak, apalagi mendapatkan seorang Presiden," ejek Karina lagi.

Sera hanya menatap mereka tanpa berniat membalas. Mendengar mereka terus menghina dirinya, dan mengingat situasi sekarang rasanya hanya akan membuang-buang waktu. Jadi, Sera memalingkan muka dan berjalan meninggalkan mereka.

Namun, mata tajam Karina menangkap sebuah kunci kartu yang digenggam Sera.

"Tunggu, ini kunci kamar President Suite?!" Karina merampas kunci itu dengan kasar dari tangan Sera. “Jadi kamu benar-benar sugar baby? Atau simpanan pengusaha? Berapa bayaranmu per malam?”

Mereka tidak akan ada habisnya. Sera menghela napas. "Kembalikan."

Tangan Sera terangkat untuk merebut kunci kamarnya kembali.

Namun, tentu saja Karina tidak ingin memberikan kunci kamar Sera. Tidak mungkin seorang anak sopir bisa menginap di kamar President Suite. Karina mengangkat tangan yang memegang kunci kamar Sera tinggi-tinggi.

Sera masih terus berusaha mengambil kuncinya, tetapi teman-teman Karina yang lain juga ikut membantu Karina, hingga terjadi dorong-mendorong yang tidak terelakkan.

Karina yang lebih dominan mendorong Sera hingga gadis itu terjatuh ke lantai marmer yang dingin.

Bukannya membantu atau merasa bersalah, Karina dan teman-temannya malah tertawa terbahak-bahak. Bahkan Karina menghardik staf hotel yang mendekat ingin melerai perdebatan itu.

"Heh … anak sopir, apa kamu tahu berapa harga kamar ini per malam? Keluargamu tidak mungkin mampu membayar meski sudah bekerja seumur hidup!" teriak Karina sambil mengacungkan kartu itu di depan wajah Sera. “Orang rendahan dan miskin sepertimu tidak pantas menginjakkan kaki di hotel ini.”

Namun, di saat yang bersamaan, sebuah suara menggema di belakang mereka, menghentikan seluruh tawa dan cacian itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Devi Pramita
kenapa semua orang menghina sera, dan sera jangan terlalu lembut mereka pantas kamu lawan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Terbalik

    Erika dan Deo melangkah cepat membelah keremangan taman, mempercepat ayunan tungkai mereka ke arah bangku di bawah pohon rindang. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Erika langsung menghambur ke depan dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Arkan, memeluk anak laki-laki itu dari samping.Arkan tersentak kaku, nyaris berseru heran, namun bisikan cepat Erika di samping telinganya seketika menahan suaranya di tenggorokan."Diam dan jangan bergerak aneh. Ada orang di ujung jalan yang sedang memata-matai kalian berdua."Ratu yang sempat melotot kaget melihat seorang wanita tiba-tiba muncul dan merengkuh Arkan begitu saja, baru hendak membuka mulut untuk memprotes. Namun, Deo sudah lebih dulu berdiri tegap sedikit membelakangi arah mobil penguntit, bersedekap seraya menundukkan pandangan ke arah sepatunya sendiri. Pria itu berbicara dengan bibir yang nyaris tak bergerak, bergaya seolah-olah ia tidak sedang berkomunikasi langsung dengan adik presidennya."Nona, ada seseorang di dalam mobil s

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berita Besar?

    Sementara itu di sebuah taman kota yang temaram, Erika dan Deo duduk berdampingan di atas bangku kayu panjang. Embusan angin malam terasa cukup dingin, namun Erika tampak gelisah seraya meremas kedua tangannya di atas pangkuan.Erika menoleh ke samping, menatap profil wajah Deo yang tenang. "Deo, sebenarnya ada hal penting yang harus kukatakan padamu," buka Erika dengan suara tertahan.Deo menoleh pelan, menatap kekasihnya dengan kening terangkat sedikit. "Ada apa, Erika?"Erika menarik napas dalam-dalam sebelum berucap jujur, "Anak Pak Wapres berniat melamarku ke Papa."Deo tidak langsung bersuara. Pria itu hanya terpaku menatap wajah Erika yang tampak cemas."Tapi tenang saja, Deo," lanjut Erika cepat-cepat seraya memegang lengan jaket Deo. "Besok aku akan jujur ke Papa. Aku akan bilang kalau aku menolak lamaran itu karena aku sedang menjalin hubungan denganmu."Alih-alih merespons lega, Deo justru mengunci mulutnya rapat-rapat. Pria itu menurunkan pandangannya ke arah tanah berbatu

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Dua Hubungan

    Sera menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa, jemarinya bertaut di atas pangkuan. "Itulah, Mas. Tadi aku sudah meminta Erika untuk jujur saja ke papanya kalau selama ini dia dan Deo memang sedang menjalin hubungan."Rendra menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar lewat mulut. Tangannya yang semula bersedekap kini terlipat di atas lutut seraya menatap lurus ke depan."Sepertinya ada dua hubungan yang harus kita bantu selesaikan sekarang."Kening Sera berkerut dalam mendengar ucapan itu. Ia menoleh cepat menatap suaminya, menyuarakan rasa bingung yang langsung memenuhi kepalanya. "Selesaikan bagaimana maksud Mas Rendra?"Rendra menolehkan kepalanya perlahan, membalas tatapan Sera dengan sorot mata yang tenang. "Setidaknya membuat hubungan-hubungan itu menjadi terang di hadapan keluarga. Pertama masalah Ratu dan Arkan, lalu sekarang masalah Erika dan Deo."Mata Sera membulat sedikit, ia menggeleng pelan tanda enggan. "Tapi aku tidak mau ikut campur, Mas. Aku takut."Rendra mena

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Benar-benar Dalam Masalah Besar

    Evan membetulkan posisi duduknya, sedikit menoleh ke belakang seraya menjawab dengan sopan, "Nona Sera meminta izin pergi ke kediaman Nona Erika, Pak."Kening Rendra seketika berkerut dalam. Tatapannya menuntut penjelasan lebih. "Ke rumah Erika? Kenapa tiba-tiba sekali ke sana? Apa terjadi suatu masalah?"Evan mengangguk singkat. "Benar, Pak. Tampaknya ada urusan mendesak yang terjadi pada Nona Erika."Beberapa jam sebelumnya.Langkah kaki Sera dan Erika beriringan menyusuri lorong dingin dari arah ruang UGD menuju ruang koas. Suasana koridor cukup lengang, hanya terdengar derit roda brankar yang didorong perawat di kejauhan.Sera menoleh ke samping, memperhatikan Erika yang sejak tadi berjalan lesu dengan tatapan tertunduk ke lantai. Merasa tak tega melihat pundak sahabatnya yang merosot, Sera menyenggol pelan lengan Erika dengan sikunya."Kamu masih terus memikirkan soal rencana lamaran dari anak Pak Wapres?" tanya Sera hati-hati seraya memiringkan wajahnya, mencoba menatap manik ma

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Di Mabuk Cinta

    Ratu membuang napasnya dengan kasar seraya menyambar kembali gelas kristal di mejanya. Ia menenggak air putih itu hingga tandas tak bersisa, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan mantap."Karena kalau sampai ada yang tahu, pasti pikiran mereka akan persis sama seperti pikiran Mas Rendra sekarang," sahut Ratu ketus seraya melipat tangannya di dada. Matanya menatap sang kakak tanpa gentar. "Paling-paling ujungnya kami akan ditekan dan dipaksa untuk berpisah. Padahal kami ini baru saja berpacaran, belum melangkah ke tahap yang serius sama sekali. Biarkan sajalah kami menjalaninya dulu, nanti lama-lama kalau memang tidak cocok juga kami akan berpisah sendiri."Rendra menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, raut wajahnya tampak jelas tak habis pikir mendengar penuturan enteng dari mulut adiknya itu."Lihat saja sendiri ucapanmu itu," timpal Rendra tajam, tatapannya menghunus tepat ke manik mata Ratu. "Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan barusan? Kamu bar

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tidak Mengaku

    Siang harinya, di balik pintu kayu berukir sebuah ruang VIP restoran ternama, suasana begitu sepi dan dingin.Rendra duduk tegak di salah satu sisi meja panjang berlapis kain putih bersih. Di hadapannya, Ratu duduk seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan kening berkerut heran.Gadis itu menatap kakaknya lekat-lekat, lalu meletakkan serbet kain di pangkuannya. "Kenapa Mas tiba-tiba mengajak aku makan siang di tempat seperti ini? Bukankah jadwal Mas biasanya sangat padat dan sibuk?"Rendra tidak langsung menyahut. Ia hanya menatap adiknya sekilas tanpa ekspresi berarti.Melihat kakaknya bergeming, Ratu mendengus geli lalu kembali mencecar. "Kemarin juga kita baru saja bertemu di mansion, jadi mana mungkin Mas Rendra kangen sama aku sampai harus mengajak makan berdua begini. Hari ini aku juga tidak sedang ulang tahun, jadi mana mungkin Mas mentraktirku tanpa alasan yang jelas."Rendra mengulurkan tangannya, meraih gelas kristal berisi air putih di samping piringnya. Pria i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status