Share

Sudah Hilang

last update publish date: 2026-09-06 09:00:15

Tayangan di layar televisi ruang keluarga Angga belum berganti.

Beberapa saat setelah siaran langsung konferensi pers Rendra selesai, kamera wartawan kini menyorot pelataran istana yang riuh. Layar kaca menampilkan mobil hitam berhenti, disusul kemunculan sosok Sofia yang berjalan tenang membelah kepungan mikrofon para pemburu berita.

Sera memaku pandangannya pada layar kaca. Jemarinya yang bertaut di atas pangkuan meremas pelan ujung bajunya. Sorot matanya menunjukkan rasa pena

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Rahasia

    Lana memiringkan kepala, melirik celah pintu yang kini tertutup rapat kembali. "Apa Deo sedang bersama Erika?”Sera mengangguk cepat seraya mengembuskan napas pelan. "Iya. Biarkan saja dulu."Lana membalas dengan anggukan kepala mengerti. Keduanya lantas melangkah pelan menjauhi daun pintu dan memilih duduk menunggu di deretan kursi besi selasar rumah sakit. Beberapa pengawal bersetelan gelap yang ikut mengawal tampak berjaga dengan posisi berdiri tegap beberapa langkah dari mereka.Lorong itu cukup lengang, hanya sesekali terdengar langkah perawat yang lewat. Merasa jenuh daripada hanya berdiam diri tanpa suara, Sera menoleh ke samping menatap Lana lurus-lurus."Lana, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Sera tiba-tiba.Lana tersentak kaget. Matanya membulat menatap sang nona. Di dekat pilar selasar, salah satu pengawal yang mendengar celetukan Sera itu bahkan tak mampu menahan tawa kecilnya dan menyunggingkan senyum simpul.Seketika ro

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Adegan Dewasa

    Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring keramik memecah keheningan di ruang rawat inap.Erika duduk kaku di kursi tepat di sisi ranjang. Kedua matanya tak lepas sedetik pun mengawasi Deo. Pria itu tampak bersusah payah menyendok makanannya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya yang terluka tampak terbalut perban tebal dan ditopang perlahan di atas perutnya.Mendapat tatapan intens yang tak kunjung putus, Deo akhirnya menghentikan suapannya. Ia balas menatap gadis yang bersedekap di sampingnya itu."Kamu tidak melakukan tugasmu?" tanya Deo memecah kebisuan."Tidak," balas Erika singkat. Nada suaranya terdengar datar tanpa emosi.Deo kembali mencoba mengaduk makanannya dengan kikuk. "Kamu tidak mau ke kampus?" tanyanya lagi.Erika sedikit memajukan tubuhnya. "Untuk apa? Aku sudah selesai dengan urusan kampus," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.Keheningan kembali mengambil alih ruangan. &

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Sudah Hilang

    Tayangan di layar televisi ruang keluarga Angga belum berganti.Beberapa saat setelah siaran langsung konferensi pers Rendra selesai, kamera wartawan kini menyorot pelataran istana yang riuh. Layar kaca menampilkan mobil hitam berhenti, disusul kemunculan sosok Sofia yang berjalan tenang membelah kepungan mikrofon para pemburu berita.Sera memaku pandangannya pada layar kaca. Jemarinya yang bertaut di atas pangkuan meremas pelan ujung bajunya. Sorot matanya menunjukkan rasa penasaran yang tertahan, memperhatikan bagaimana wanita itu melenggang masuk ke dalam istana kepresidenan. Namun, Sera menahan diri untuk tidak meraih ponselnya. Ia memilih tidak mengirim pesan atau menanyakan hal itu pada Rendra.Siwi dan Angga yang sejak tadi duduk di sisi lain sofa memperhatikan kebisuan putri mereka. Keduanya saling melempar pandang. Angga berdeham pelan, memecah keheningan di ruangan tersebut."Jadi, apa kalian ke Amartapura memang untuk melakukan seperti apa yang

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Bawa Pergi Orang-orangmu

    Di tempat lain, tayangan konferensi pers yang dilakukan Rendra menyala di layar televisi sebuah ruangan berdinding kaca. Sofia dan Irawan duduk berdampingan memperhatikan sosok Rendra di layar kaca. Begitu kalimat terakhir Rendra terdengar tegas memotong cecaran wartawan, sudut bibir Sofia terangkat membentuk senyum miring.Irawan yang duduk di sebelahnya menoleh. Kerutan di kening pria itu tampak jelas saat melihat perubahan ekspresi lawan bicaranya. Ia tidak paham kenapa Sofia justru bisa bereaksi santai seperti itu setelah mendengar pernyataan telak sang presiden."Kenapa kamu malah tersenyum begitu?" tanya Irawan tak tahan.Sofia tetap menatap lurus ke arah layar tanpa menoleh sedikit pun. "Rendra tahu," jawabnya singkat.Kening Irawan semakin berkerut dalam. Ia memajukan sedikit tubuhnya, menatap wajah Sofia lekat-lekat. "Tahu? Tahu apa maksudmu?"Sofia tidak memberi jawaban apa pun. Ia membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. Wanita itu lantas beranjak berdiri dari tem

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Membuka Celah Untuk Diserang

    Sementara itu di kediaman sang ayah, jemari Sera tampak gemetar tipis di atas layar ponsel.Tanpa membuang waktu, ia membuka aplikasi pesan singkat dan mengetikkan kalimat dengan terburu-buru.[Mas, aku mencurigai salah satu pengawal yang menjaga rumah Ayah. Dia menepi ke pilar dan membalas pesan dengan raut tegang saat wartawan menyerbu ke sini. Aku sempat mengambil foto dan videonya.]Sera menekan tombol kirim. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding di samping jendela, menatap layar yang masih menunjukkan status kirim. Menit demi menit terasa berjalan amat lambat. Dadanya bergemuruh, membayangkan kemungkinan buruk jika ada penyusup di antara orang-orang yang seharusnya melindungi keluarganya.[Aku akan minta Evan menyelidikinya sekarang] balasan dari Rendra akhirnya masuk.Sera mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan. Jemarinya baru saja hendak bergerak mengetik balasan, namun sebuah notifikasi pesan baru dari Rendra kembali menyambar layar.[Aku akan melakukan konferensi p

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Curiga ke Pengawal

    Di luar pagar rumah Angga, puluhan wartawan berlomba-lomba menerjang maju, menodongkan kamera dan mikrofon, menciptakan suara riuh yang saling tumpang tindih.Kilatan cahaya putih dari lampu kilat kamera menyambar-nyambar dengan beringas, menembus kaca jendela ruang tamu. Puluhan orang dengan kamera besar dan mikrofon di tangan tampak saling dorong, mendesak maju berusaha merobohkan barikade para pengawal yang berjaga.Sera menarik pelan ujung gorden, menyisakan celah sempit untuk mengintip ke halaman depan. Di belakang bahunya, Angga dan Siwi merapat, ikut melemparkan pandangan cemas ke luar kaca jendela.Mata Sera menyapu barisan pengawal yang berjejer menahan dorongan pagar. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada satu sosok penjaga. Pria berseragam gelap yang memang ia tahu ditugaskan khusus untuk menjaga rumah ayahnya itu justru mengambil langkah mundur perlahan.Pria itu menepi ke dekat pilar, kepalanya menunduk, sementara sebelah tangannya merogoh saku celana. Sebuah ponsel ditarik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status