共有

55. Terurai.

作者: Suzy Wiryanty
last update 公開日: 2026-04-29 15:53:30

Sebelum Daffa dan Farhat tiba di rumah, Nurul tidak ingin gegabah mengambil keputusan. Ia butuh sudut pandang dari orang yang lebih kompeten. Nama pertama yang terlintas di pikirannya adalah Mahdi. Sebagai seorang pengacara pemikiran Mahdi pasti lebih valid.

Dengan sedikit tergesa, ia menekan tombol panggil.

"Assalamu’alaikum, Mahdi. Maaf aku menganggu waktumu,” ucap Nurul begitu sambungan tersambung.

"Wa’alaikumusalam. Nggak apa-apa, Nurul. Kamu ini kayak dengan orang lain saja. Ada apa?" sua
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Erni Apriani
jadiin pelajaran ya daffa, mending cari kerjaan yg ga ganggu waktu kuliah.
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   94. Akhir Bahagia (END)

    Sore itu langit tampak cerah. Sinar matahari keemasan menerobos jendela kamar perawatan, membuat ruangan terasa hangat dan nyaman.Nurul yang kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap tampak jauh lebih segar dibandingkan pagi tadi. Meski tubuhnya masih lelah setelah proses persalinan, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Apalagi saat melihat sang putra datang berkunjung."Ibu..."Alfi berlari kecil memasuki ruangan dengan wajah berbinar."Pelan-pelan, Sayang," tegur Elang sambil tersenyum. Namun Alfi sudah lebih dulu sampai di sisi ranjang."Bunda... adik... keluar?" tanya Alfi polos saat mendapati perut ibunya sudah kempes."Sudah, Nak. Adikmu sudah lahir. Arfa namanya," ucap Nurul lembut. "Adik mana?" Alfi celingukan ke kanan kiri. Mencari-cari sosok adiknya. "Adik sedang dibawa ke sini sama nenek dan suster. Sebentar lagi pasti datang," Nurul memberi pengertian pada Alfi. Tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk bersama Bu Sari. Arfa ada dalam buai

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   93. Anggota Keluarga Baru.

    Tiga Tahun KemudianSejak semalam Nurul sebenarnya sudah merasakan kontraksi. Mulanya ia mengira itu hanya kontraksi palsu seperti yang sering dialaminya beberapa minggu terakhir. Karena itu ia memilih diam dan berusaha tidur. Namun menjelang subuh, rasa mulas itu datang lagi. Kali ini lebih teratur dan membuatnya harus berhenti berbicara setiap beberapa menit.Pagi itu Nurul sedang duduk di tepi ranjang ketika kontraksi kembali datang."Aduh...."Tangannya refleks memegang perut yang sudah sangat membesar.Elang yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri. "Kenapa, Sayang?"Nurul menarik napas perlahan."Sepertinya ini kontraksi beneran." Nurul berbicara sendiri. Namun Elang yang ikut mendengar seketika panik.Wajah Elang langsung berubah."Hah, kontraksi?""Iya." Nurul meringis sambil terus mengelus-elus perutnya."Sejak kapan, Sayang?" Elang ikut duduk di ranjang dan mengelus perut Nurul. "Semalam, Mas.""Apa?" Elang hampir berteriak. Ia kemudian berdiri karena tegang.

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   92. Saling Memaafkan.

    Semua mata mengikuti langkah Tasya. Bu Titik, Dini, dan Rina yang masih berada di dekat makam tampak terkejut melihat kehadirannya.Tasya berhenti di hadapan mereka.Dengan sopan ia mengulurkan tangan. "Assalamualaikum."Dini dan Rina membalas salamnya agak sedikit bingung. Aneh rasanya melihat Tasya sesopan ini. Sementara Bu Titik memandang Tasya beberapa saat sebelum berdiri dan memeluk Tasya."Maafkan Erland ya, Nak."Suara Bu Titik bergetar. "Maafkan anak saya karena tidak bertanggung jawab padamu. Erland salah." Bu Titik berurai air mata. Tasya membeku beberapa detik. Ia tidak menyangka, orang seegois dan semanipulatif Bu Titik mau meminta maaf. Mungkin kehilangan putra kesayangannya membuat mata hati Bu Titik terbuka.Matanya mulai berkaca-kaca.Perlahan, ia membalas pelukan Bu Titik. "Bukan cuma Erland yang salah, Bu," ucap Tasya sendu. Sikap legawa Bu Titik membuat Tasya ingin melakukan hal yang sama.Bu Titik melepaskan pelukannya. Ia lalu memandang Tasya penuh tanda tanya

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   91. Haru Biru.

    Mendung menggantung rendah di langit siang itu. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang masih menyisakan jejak hujan semalam.Hari itu adalah hari pemakaman Erland. Nurul datang bersama Alfi dan Elang. Walau bagaimana pun, terlepas dari segala luka dan kesalahan yang Erland lakukan pada putranya, ia tetaplah ayah kandung Alfi.Di depan pusara yang masih merah, suasana dipenuhi duka.Bu Titik berjongkok di samping makam putranya. Tangannya berulang kali mengusap nisan yang baru ditancapkan. Air matanya mengalir tanpa henti."Kenapa semua jadi begini? Seharusnya kamu yang menguburkan Ibu. Bukan sebaliknya, Nak." Bu Titik meratap lirih.Di kanan dan kirinya, Dini dan Rina ikut menangis tersedu-sedu. Sesekali mereka memegang bahu sang ibu yang tampak semakin rapuh.Tak jauh dari mereka, Dika dan Vito berdiri dengan wajah gelisah. Suasana muram membuat mereka keduanya tidak nyaman.Suami Dini dan Rina tidak tampak hadir. Hendrik memilih tidak datang karena takut memicu perteng

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   90. Lelaki Pilihan Allah.

    "Mas, dengarkan aku baik-baik.""Ayo masuk mobil!" Erland memotong ucapan Nurul. Sambil tetap menggendong Alfi, ia berjalan cepat menuju mobilnya.Nurul tidak punya pilihan. Ia tidak mungkin membiarkan Alfi pergi berdua dengan Erland.Dengan langkah gemetar, ia mengikuti dari belakang. Begitu Erland memasukkan Alfi ke kursi penumpang, Nurul langsung masuk dan memangku Alfi."Ibu ... Alfi takut." Alfi menangis dipelukannya."Tidak apa-apa, Nak. Jangan takut. Ada Ibu," bujuk Nurul sambil membelai rambut Alfi walau tangannya gemetar..Baru saja pintu mobil tertutup, suara sirene terdengar meraung-raung dari kejauhan.Erland menoleh. Wajahnya berubah kesal. Di gerbang sekolah terlihat beberapa mobil polisi melaju masuk dengan cepat. Di belakangnya menyusul sebuah SUV hitam yang sangat dikenal Nurul. Mobil Elang!Namun bukan hanya itu.Beberapa mobil lain juga masuk ke halaman sekolah. Dari dalamnya turun laki-laki bertubuh besar dengan wajah garang. Nurul menduga mereka adalah para debt c

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   89. Usai Sudah.

    Nurul menghentikan laju motornya di tepi jalan saat merasakan ponselnya bergetar di saku jaketnya.Ia membuka layar ponsel sekilas. Keningnya langsung berkerut.Bu Helen. Wali kelas Alfi.Perasaannya tiba-tiba tidak nyaman. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Alfi. Tanpa menunggu dering kedua, Nurul segera mengangkat panggilan itu."Selamat siang, Bu Helen. Ada apa?" tanyanya cepat.Suara Bu Helen terdengar ragu."Bu Nurul, maaf mengganggu. Ini... Pak Erland datang ke sekolah. Katanya mau jemput Alfi."Nurul langsung menegakkan punggungnya."Menjemput Alfi?""Iya, Bu. Beliau bilang ingin membawa Alfi jalan-jalan. Saya menelepon untuk memastikan apakah Ibu mengizinkannya."Kali ini jantung Nurul berdetak dua kali lebih cepat.Berbagai kemungkinan buruk langsung berputar di kepalanya. Namun ia berusaha tetap tenang.“Bu Helen, tolong jangan izinkan Alfi ikut dulu.”"Tapi Pak Erland berjanji ingin membawa Alfi, Bu. Saat ini saya dan rekan-rekan sedang berusaha untuk menahan beliau.""Ba

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   7. Asa Baru.

    Hotel Putra Mulia berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lampu gantung kristal di lobi. Nurul merasa langkahnya mengecil begitu melewati pintu putar.Saat ini ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam formal. Rambutnya disanggul rendah. Tidak berlebihan namun profesional. Map cokelat

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   6. Memulai Hidup Baru.

    "Sumpeh! Lo mau cereme dari si Erland?"Mata Niken membelalak sempurna, hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nurul."Iya," jawab Nurul tenang. Kontras dengan tangannya yang sibuk mengaduk jus jambu merah di hadapannya. Ia kemudian menceritakan secara singkat penyebab d

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   5. Harapan Baru.

    Begitu Nurul turun dari taksi sambil menggendong Alfi yang tertidur, pintu rumah sudah terbuka. Ibunya berdiri di ambang, wajahnya cemas sekaligus lega. Di belakangnya, sopir taksi membawakan dua koper besar dan satu tas besar serbaguna berisi mainan edukasi Alfi. Ia memang pulang ke rumah dulu unt

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   4. Sampai Jadi Debu.

    Nurul menenangkan dirinya sejenak sebelum menanggapi pernyataan Erland."Mendengarmu berargumen seperti ini, aku jadi tidak percaya kalau kamu seorang sarjana S2, Mas," ujar Nurul dengan senyum tipis."Aku tahu teorinya. Jangan menganggapku bodoh!" desis Erland murka. Ia paling anti dijengkali. Apa

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status