Share

7. Asa Baru.

Auteur: Suzy Wiryanty
last update Date de publication: 2026-03-17 17:05:52

Hotel Putra Mulia berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lampu gantung kristal di lobi. Nurul merasa langkahnya mengecil begitu melewati pintu putar.

Saat ini ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam formal. Rambutnya disanggul rendah. Tidak berlebihan namun profesional. Map cokelat berisi CV dan foto-foto plating rendang, rawon, dan sate lilit ia genggam erat.

Seorang perempuan berusia 40-an dengan blazer hitam berdiri dari balik meja resepsionis ketika melihatnya. Tante Dinda. Nurul masih mengenalinya meski dulu hanya beberapa kali bertemu. 

"Nurul Hidayah?" sapanya ramah namun tegas. 

"Iya, Bu." Nurul mengangguk sopan. 

"Kamu tidak berubah banyak. Saya Dinda. Tante Niken. Di sini kamu bisa memanggil saya Bu Dinda."

Nurul langsung menyalami dengan sopan. "Terima kasih, Bu Dinda. Ibu juga tidak berubah. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau memberi saya kesempatan."

Bu Dinda menatapnya dari atas sampai bawah. Bukan menilai penampilan, tapi membaca kesiapan.

"Kita langsung ke ruangan saya." Bu Dinda memberi aba-aba agar Nurul mengikutinya. 

Mereka memutar ke back office di belakang meja resepsionis. Ke sebuah ruangan khusus yang tidak terlihat oleh tamu. 

"Silakan duduk Nurul. Niken semalam cerita, katanya kamu pernah tiga tahun menjadi chef di Selera Rasa?" tanya Bu Dinda setelah duduk di kursinya. 

"Benar, Bu. Saya fokus di masakan Nusantara. Handling dapur untuk 120 seat per hari," jawab Nurul sambil duduk di hadapan Bu Dinda. 

"Sebenarnya Niken sudah bercerita panjang lebar pada saya soal kehidupanmu. Sampai saya merasa dialah yang akan diwawancara kerja." Bu Dinda  mendecakkan lidah. 

"Niken memang sangat ingin membantu saya, Bu." Nurul meringis. 

"Saya mengerti. Tapi saya tetap akan mewawancarai kamu sesuai prosedur. Pertama-tama saya ingin tahu kenapa dulu kamu resign?"

"Waktu itu saya memilih fokus pada keluarga. Sekarang saya siap kembali bekerja penuh dan dalam jangka panjang." Nurul menjawab diplomatis tanpa mengumbar masalah pribadinya. Selain tidak etis, ia juga tidak ingin dikasihani.

Bu Dinda mengangguk kecil. Ia suka dengan karakter Nurul. Profesional dan tidak bertele-tele. 

"Ini CV saya, Bu." Nurul menyerahkan map yang berisi CV dan foto-foto masakan kreasinya. Di sana ia juga menyertakan sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi kuliner yang ia ikuti dulu. 

"Bagus. Sertifikasi kamu lengkap. Atasan saya memang menerapkan standar tinggi untuk posisi chef ini."

Nawang diam saja. Ia tahu akan ada lanjutan kata-kata setelah ini.

"Cita Rasa Nusantara butuh chef yang bisa menjaga otentisitas rasa. Banyak tamu luar kota bahkan luar negeri. Dan restoran kita harus memberi yang terbaik. Kamu siap untuk kerja keras di bawah tekanan?"

"Insyaallah, siap, Bu," jawab Nurul mantap. 

"Oke, jawab saya dengan jujur. Mengapa kamu tidak kembali saja melamar di Selera Rasa? Niken sudah memberitahu saya alasannya. Tapi saya ingin mendengar jawaban langsungnya dari mulut kamu." Bu Dinda menutup CV dan memfokuskan pandangan pada Nurul. 

"Seperti yang pernah saya katakan pada Niken, Asti, anak Pak Ahmad yang sekarang memegang Selera Rasa pasti tidak akan menerima saya," terang Nurul jujur.

Bu Dinda menaikkan alisnya. "Karena dia masih kesal kalah lomba masak darimu di waktu lalu?" lanjut Bu Dinda. 

Nurul mengangguk.

"Ada alasan lain lagi? Yang tidak diketahui orang lain?" pancing Bu Dinda. 

Nurul menghela napas panjang. Bu Dinda sepertinya sudah mendapat clue yang selama ini ia simpan rapat-rapat. "Saya pernah mengadu pada Asti kalau pacarnya, sekarang suaminya sering menggoda saya di dapur."

"Alasan ini lebih masuk akal." Bu Dinda tersenyum kecil. 

"Oke sekarang kita ke dapur. Saya dan head chef Cita Rasa Nusantara, chef Rudy akan mengujimu secara langsung di sana. Kamu siap, Nurul?"

"Siap, Bu.”

"Baik, ayo kita praktek langsung. Keberhasilanmu selanjutnya adalah pada ujian akhir ini. Kalau kamu bisa memenuhi ekspektasi atasan saya, kamu bisa mengisi posisi chef itu."

***

Dapur restoran terasa panas dan hidup. Suara alat masak saling beradu. Aroma bermacam bumbu masak menguar di udara.

Head Chef restoran, Pak Rudy, pria berusia empat puluhan dengan sorot mata tajam, menyilangkan tangan di dada.

"Bu Dinda bilang kamu ahli masakan Nusantara. Kita buktikan ya?"

Nurul mengangguk. Walau jantungnya berdebar, ia berusaha tampil percaya diri. 

"Coba kamu masak satu menu signature. Semua bahan-bahannya sudah tersedia." Ia menunjuk ke arah meja bahan.

"Sapi, ayam, ikan, tahu, tempe, sayuran, dan berbagai bumbu. Kamu punya waktu 45 menit.”

Ia menatap Nurul tajam.

"Masakan bebas. Tapi satu syarat yang harus dipenuhi. Cita rasa Nusantara asli."

Bu Dinda ikut menambahkan.

"Dan yang kami nilai bukan cuma rasa. Tapi logika dapurmu. Cara kerja, kebersihan dan manajemen waktu."

Nurul menarik napas pelan. Empat puluh lima menit. Tidak mungkin membuat rendang. Tidak mungkin juga memasak gulai yang bumbu-bumbunya harus lama agar meresap. 

Ia memandang bahan-bahan di meja. Tatapannya terhenti pada ikan kembung segar, beberapa cabai merah, tomat, bawang merah, bawang putih, dan daun kemangi. Keputusan langsung terbentuk di kepalanya.

"Saya akan memasak ikan kembung sambal matah kemangi, tempe goreng tepung tipis, dan tumis kangkung bawang putih," katanya.

Chef Rudy mengangkat alis. Menu sederhana. Tapi dia tetap memberi Nurul kesempatan.

"Oke, waktumu dimulai dari sekarang."

Nurul langsung bergerak.

Langkah pertamanya adalah menyalakan dua kompor sekaligus. Satu untuk minyak menggoreng tempe dan satunya lagi untuk menumis.

Ia kemudian mencuci ikan dengan cepat di wastafel. Membersihkan bagian perut dan membuat dua sayatan di badan ikan. Ia menggosokkan garam, bawang putih halus, dan sedikit air jeruk nipis. Bumbu sederhana tapi ampuh untuk menghilangkan bau amis.

Sambil menunggu bumbu meresap beberapa menit, ia beralih ke bahan lain.

Tempe diiris tipis. Ia mencampur tepung beras, sedikit tepung terigu, bawang putih halus, ketumbar bubuk, dan garam dengan air.

Adonannya tipis namun presisi. 

Saat minyak di wajan sudah panas, tempe dicelup lalu digoreng. Sementara tempe sedang digoreng Nurul sudah beralih memotong bawang, cabai dan tomat. Sebagian cabai diiris tipis untuk sambal matah. Sebagian lagi ia sisihkan. Semua hal ia lakukan dengan cepat namun tidak panik.

"Dia bekerja dengan sigap dan cepat ya?" bisik Bu Dinda pada chef Rudy. 

"Iya, dia juga tidak panik," ujar chef Arman.

Nurul sendiri tidak berhenti bekerja. Setelah tempe matang dan diangkat, ia segera memotong bawang putih dan menyiangi kangkung.

"Kangkung harus cepat dimasak. Kalau lama, warnanya jelek."

"Iya, Chef." Nurul mengangguk.

Saat wajan sudah panas, Nurul menumis bawang putih. Setelah harum, kangkung dimasukkan bersama sedikit garam dan saus tiram. Ia menumisnya cepat, tidak lebih dari dua menit, agar tetap hijau segar.

Chef Rudy melihat jam.

"Masih dua puluh menit."

Nurul mengangguk sambil memanaskan minyak untuk ikan. Ikan kembung pun masuk ke wajan.

Sambil menunggu, ia membuat sambal matah versi Nusantara.

Bawang merah iris, cabai rawit,

cabai merah, tomat kecil,

sedikit gula dan garam.

Ia memanaskan sedikit minyak sampai hampir berasap, lalu menyiramkannya ke campuran cabai. Aroma pedas langsung menyebar. Terakhir, ia menambahkan daun kemangi segar.

Ikan yang ia goreng sudah matang. Kulitnya tampak sangat renyah. Nurul mengangkat dan menyusun semuanya di piring saji. Ikan kembung goreng itu lalu ia siram dengan sambal matah kemangi. Di sampingnya tempe goreng tipis yang garing dan juga tumis kangkung hijau segar.

Saat Nurul meletakkan piring di meja, jam dapur berbunyi pelan. Chef Rudy melihat arlojinya.

"Empat puluh tiga menit."

"Alhamdullilah." Nurul mengucap pelan. Ia tidak melewati waktu yang ditentukan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   8. Pertemuan Oleh Semesta.

    Chef Rudy dan Bu Dinda mendekat. Masing-masing mengambil garpu. Merekamencicipi ikan terlebih dulu.Kulitnya renyah. Dagingnya masih lembut dan tidak amis."Gurih dan tidak amis," Chef Rudy mengangguk. Bu Dinda melakukan hal yang sama setelah ikut mencicipi.Chef Rudy lalu mencicipi sambal. Matanya sedikit membesar. Pedas. Segar. Ada aroma kemangi. Ia lalu mencoba tempe. "Renyah." Lalu kangkung. Bu Dinda ikut mengunyah kangkung."Kangkungnya tidak lembek."Chef Rudy menatap Nurul."Kenapa kamu memilih menu ini?""Karena bisa matang dalam waktu 45 menit," jawab Nurul jujur. "Saya bisa saja mencoba menu seperti rendang atau yang lainnya yang mungkin lebih mencerminkan masakan seorang chef. Tapi saya harus realistis. Waktunya tidak akan cukup. Makanya saya memilih menu sederhana ini, tapi tetap mencerminkan rasa Nusantara."Ia lalu menambahkan pelan. "Masakan yang tampak sederhana itu sebenarnya juga riskan, Chef. Karena kalau salah sedikit saja, pasti langsung terasa."Chef Rudy meng

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   7. Asa Baru.

    Hotel Putra Mulia berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lampu gantung kristal di lobi. Nurul merasa langkahnya mengecil begitu melewati pintu putar.Saat ini ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam formal. Rambutnya disanggul rendah. Tidak berlebihan namun profesional. Map cokelat berisi CV dan foto-foto plating rendang, rawon, dan sate lilit ia genggam erat.Seorang perempuan berusia 40-an dengan blazer hitam berdiri dari balik meja resepsionis ketika melihatnya. Tante Dinda. Nurul masih mengenalinya meski dulu hanya beberapa kali bertemu. "Nurul Hidayah?" sapanya ramah namun tegas. "Iya, Bu." Nurul mengangguk sopan. "Kamu tidak berubah banyak. Saya Dinda. Tante Niken. Di sini kamu bisa memanggil saya Bu Dinda."Nurul langsung menyalami dengan sopan. "Terima kasih, Bu Dinda. Ibu juga tidak berubah. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau memberi saya kesempatan."Bu Dinda menatapnya dari atas sampai bawah. Bukan menilai penampilan, tapi membaca kesiapan."Kita

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   6. Memulai Hidup Baru.

    "Sumpeh! Lo mau cereme dari si Erland?"Mata Niken membelalak sempurna, hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nurul."Iya," jawab Nurul tenang. Kontras dengan tangannya yang sibuk mengaduk jus jambu merah di hadapannya. Ia kemudian menceritakan secara singkat penyebab dirinya meminta cerai.“Muke gile si Erland. Gue pikir pernikahan lo bakalan langgeng karena dulu dia ngejar-ngejar lo sampe segitunya. Eh ternyata bajingan juga!" Niken menggebrak meja.Gelas-gelas bergetar, sedikit jus tumpah. Beberapa pengunjung kafe menoleh tajam.Niken nyengir kaku sambil mengangkat tangan. "Maaf, maaf…""Kalem, Nik. Kita di tempat umum,” tegur Nurul pelan."Iye… iye… gue tahu. Namanya juga emosi." Niken mendecakkan lidah. Ia lalu menatap Nurul prihatin. "Terus sekarang lo tinggal di mana? Anak lo?""Sama orang tua gue lah. Mau ke mana lagi?" Nurul mengedikkan bahu pasrah. "Adik lo si Daffa udah tamat kuliah?" Nurul menggeleng. "Belum. Lagi ngerjain skripsi. Tapi seka

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   5. Harapan Baru.

    Begitu Nurul turun dari taksi sambil menggendong Alfi yang tertidur, pintu rumah sudah terbuka. Ibunya berdiri di ambang, wajahnya cemas sekaligus lega. Di belakangnya, sopir taksi membawakan dua koper besar dan satu tas besar serbaguna berisi mainan edukasi Alfi. Ia memang pulang ke rumah dulu untuk mengambil perlengkapan, baru pulang ke rumah orang tuanya."Nurul… ayo masuk." Ibunya membuka pintu lebar-lebar. Ayahnya yang rambutnya semakin memutih, melansir koper-koper yang ditinggalkan sopir taksi di teras. Membawanya masuk ke dalam rumah. "Daffa mana, Bu? Kok Ayah yang mengangkat koper?" Nawang mencari keberadaan adik semata wayangnya. "Daffa menginap di rumah temannya. Mau tugas kuliah bersama katanya," jawab ibunya singkat."Tidurkan dulu Alfi di kamar lamamu. Ibu tadi sudah membersihkannya," ujar Bu Nafisah lagi.Nurul menurut. Ia membawa putranya ke ranjang. Membaringkannya hati-hati serta menyelimutinya. Setelahnya ia menemui kedua orangnya di ruang tamu. "Yah, Bu. Sepert

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   4. Sampai Jadi Debu.

    Nurul menenangkan dirinya sejenak sebelum menanggapi pernyataan Erland."Mendengarmu berargumen seperti ini, aku jadi tidak percaya kalau kamu seorang sarjana S2, Mas," ujar Nurul dengan senyum tipis."Aku tahu teorinya. Jangan menganggapku bodoh!" desis Erland murka. Ia paling anti dijengkali. Apalagi oleh istri sendiri."Berarti Mas tau dong kalau down syndrome pada sebagian besar kasus adalah Trisomi 21. Yang terjadi akibat nondisjunction pada saat pembelahan sel. Itu peristiwa biologis acak, Mas. Sembilan puluh lima persen terjadi tanpa faktor keturunan. Tanpa 'kesalahan' siapa pun." Nurul mengeja setiap suku katanya. Erland diam. Ia mendengar namun tidak mengiyakan."Jadi, memiliki satu anak dengan Trisomi 21 tidak berarti semua anak berikutnya akan sama. Risiko berulangnya kecil, Mas. Secara statistik, peluang melahirkan anak dengan kromosom normal tetap jauh lebih besar.""Tapi tetap ada kemungkinan kan?" sela Erland cepat."Tentu saja ada," Nurul mengiyakan. "Seperti pada sem

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   3. Mari Kita Bercerai.

    "Maaf ya… kalau kedatangan kami mengejutkan. Mas Erland bilang mau memberi surprise pada Ibu. Tolong kuenya diletakkan di meja, Rin."Tasya memberikan kue kepada Rina sambil tersenyum tipis. Ia terlihat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya.Kami.Nurul mencebik. Satu kata, berjuta makna.Tidak perlu penjelasan lagi. Dari bahasa tubuh Erland yang protektif dan keakraban Tasya dengan keluarga ini, Nurul sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Erland kembali menjalin hubungan dengan Tasya. Dan ayah dari bayi yang dikandungnya pasti Erland."Nurul… aku bisa menjelaskan," Erland akhirnya bersuara. Sikapnya tampak serba salah."Kami sudah menikah siri, ya, Nurul," ungkap Tasya tanpa tedeng aling-aling. "Jadi anak kami ini bukan anak haram. Ibu dan keluarga besar Atmodjo adalah saksinya." Tasya langsung mengamankan posisinya."Mas Erland tidak pernah meminta izin padaku untuk melakukan poligami. Ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku tidak punya urusan denganmu," sahut Nurul datar."Tidak

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status