LOGIN"Maaf ya… kalau kedatangan kami mengejutkan. Mas Erland bilang mau memberi surprise pada Ibu. Tolong kuenya diletakkan di meja, Rin."
Tasya memberikan kue kepada Rina sambil tersenyum tipis. Ia terlihat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya.
Kami.
Nurul mencebik. Satu kata, berjuta makna.
Tidak perlu penjelasan lagi. Dari bahasa tubuh Erland yang protektif dan keakraban Tasya dengan keluarga ini, Nurul sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Erland kembali menjalin hubungan dengan Tasya. Dan ayah dari bayi yang dikandungnya pasti Erland.
"Nurul… aku bisa menjelaskan," Erland akhirnya bersuara. Sikapnya tampak serba salah.
"Kami sudah menikah siri, ya, Nurul," ungkap Tasya tanpa tedeng aling-aling. "Jadi anak kami ini bukan anak haram. Ibu dan keluarga besar Atmodjo adalah saksinya." Tasya langsung mengamankan posisinya.
"Mas Erland tidak pernah meminta izin padaku untuk melakukan poligami. Ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku tidak punya urusan denganmu," sahut Nurul datar.
"Tidak punya urusan karena menurutmu pernikahan kami tidak sah begitu?" Suara Tasya meninggi.
"Yang seharusnya marah itu aku, bukan kamu. Kenapa jadi galakan kamu?"
Nurul menanggapi amarah Tasya dengan dingin.
Bu Titik berdeham pelan.
"Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Kalian bertiga bicaralah baik-baik. Cari jalan tengah yang adil untuk semuanya." Bu Titik mencoba bersikap bijak.
"Jangan bicara soal keadilan padaku, Bu. Karena sedari awal semua orang sudah tidak adil padaku," sindir Nurul getir.
Bu Titik terdiam. Posisinya terjepit.
Di tengah ketegangan terdengar derap suara langkah kaki berlari.
"Yah... ayah..."
Sekonyong-konyong Alfi berlari ke arah Erland. Ia kemudian memeluk paha sang ayah karena rindu. Ia tak memahami apa sedang yang terjadi. Ia hanya tahu ayahnya sudah pulang.
Nurul menoleh ke arah pintu kasa. Rupanya Vito membuka pintu. Memberi celah pada Alfi hingga ia bisa berlari keluar.
"Ayah, gendong," Alfi mengembangkan tangannya.
Erland mengangkat tangan. Mengelus kepala putranya sekilas. Tapi ia tidak menggendongnya.
Pemandangan di depan matanya membuat hati Nurul teriris. Apalagi saat ia melihat cibiran di wajah Dini. Erland memang tidak pernah memberikan cinta kasih seorang ayah seutuhnya pada Alfi.
Tidak merasakan kehangatan yang ia inginkan, kini Alfi berganti memeluk kaki ibunya. Mendusel-duselkan hidungnya gelisah. Ia tak mengerti kenapa udara terasa berbeda.
Nurul menunduk, memandang ubun-ubun putranya. Ia kemudian berjongkok, menatap mata Alfi lurus-lurus, lalu mengeja kalimatnya lamat-lamat agar sang anak mengerti apa yang ia katakan.
"Alfi di sini sebentar dengan Oma, ya? Ibu mau bicara sama Ayah. Terus kita pulang."
"Ayah… pulang?" tanya Alfi polos sambil menunjuk ayahnya.
"Tidak. Kita pulang sendiri. Ayah tidak pulang bersama kita," jelas Nurul lembut.
Untungnya Alfi mengerti. Ia berdiri di samping sang Oma.
Nurul menegakkan tubuh. Sekarang ia menghadap Erland. Ia tak mengindahkan Tasya yang menggandeng tangan suaminya erat-erat.
"Aku ingin bicara berdua saja denganmu, Mas," ujarnya datar.
Tasya spontan mencengkram lengan Erland lebih erat, tanda tidak setuju.
"Kita bicara di sini saja, bertiga," pungkas Tasya keras kepala.
"Sudah kubilang, aku tidak punya urusan denganmu," tandas Nurul tegas.
Erland menggeleng. Memberi isyarat pada Tasya agar tidak memperpanjang masalah. "Kamu tunggu di sini. Sebaiknya memang kami bicara berdua saja."
Ada jeda kecil. Tasya jelas tidak setuju, tetapi akhirnya ia melepaskan pegangan tangannya. Namun pandangannya tetap mengikuti Erland dan Nurul yang berjalan melewatinya.
"Kita bicara di ruang kerja saja." Erland berjalan lebih dulu menuju ruang kerja lamanya. Nurul mengekor dan pintu pun ditutup.
Setelah berada di dalam, Nurul berdiri di tengah ruangan. Ia tidak duduk dan juga tidak menangis. Air mukanya datar. Namun kedua tangannya bergetar. Ia berusaha keras mengontrol emosinya.
Sedangkan Erland berdiri membelakanginya, menghadap jendela. Mungkin sedang merapal alasan untuk membela diri.
Nurul menatap gamang pria yang sudah delapan tahun lebih menjadi suaminya. Benaknya mengembara pada kejadian sepuluh tahun lalu. Di mana Erland kala itu berusaha keras meraih hatinya dengan cara mengambil hati kedua orang tuanya terlebih dulu. Erland muda adalah pemuda yang rendah hati, ringan tangan dan sangat hormat pada kedua orang tuanya. Makanya ia luluh dan bersedia diperistri. Meninggalkan karirnya yang tengah naik daun.
"Kenapa?" Setelah jeda sekian menit, Nurul akhirnya bersuara dan hanya sepatah kata. Tidak ada tangis histeris maupun teriakan. Hanya sebuah keingintahuan.
Erland berbalik badan dan menarik napas panjang. Inilah salah satu hal yang ia suka dari Nurul. Ia tenang, tidak berisik dan tidak mendrama. Sifat perempuan yang sangat langka. Sifat yang tidak dipunyai Tasya.
"Aku ingin punya anak lagi, Nurul," ungkap Erland jujur.
"Kalau begitu, Mas tinggal bilang padaku. Kenapa harus menikah siri? Diam-diam pula."
Erland menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk bicara jujur. Siapa tahu dengan bersikap jujur, Nurul akan memaafkannya.
"Karena aku takut."
Nurul menjinjitkan alis.
"Takut? Takut apa, mas?"
"Takut kalau anak yang kamu lahirkan nanti… akan kembali seperti Alfi. Aku tidak sanggup kalau sampai terjadi dua kali,” lanjutnya pelan.
Nurul merasa dadanya seperti ditonjok keras. Ternyata Erland menyalahkannya atas kondisi Alfi. Padahal semua yang terjadi di luar kuasanya.
Nurul diam saja. Ia tidak berteriak apalagi memaki. Hanya telapak tangannya yang kini terasa perih. Mungkin karena ia mengepalnya lebih kuat.
Chef Rudy dan Bu Dinda mendekat. Masing-masing mengambil garpu. Merekamencicipi ikan terlebih dulu.Kulitnya renyah. Dagingnya masih lembut dan tidak amis."Gurih dan tidak amis," Chef Rudy mengangguk. Bu Dinda melakukan hal yang sama setelah ikut mencicipi.Chef Rudy lalu mencicipi sambal. Matanya sedikit membesar. Pedas. Segar. Ada aroma kemangi. Ia lalu mencoba tempe. "Renyah." Lalu kangkung. Bu Dinda ikut mengunyah kangkung."Kangkungnya tidak lembek."Chef Rudy menatap Nurul."Kenapa kamu memilih menu ini?""Karena bisa matang dalam waktu 45 menit," jawab Nurul jujur. "Saya bisa saja mencoba menu seperti rendang atau yang lainnya yang mungkin lebih mencerminkan masakan seorang chef. Tapi saya harus realistis. Waktunya tidak akan cukup. Makanya saya memilih menu sederhana ini, tapi tetap mencerminkan rasa Nusantara."Ia lalu menambahkan pelan. "Masakan yang tampak sederhana itu sebenarnya juga riskan, Chef. Karena kalau salah sedikit saja, pasti langsung terasa."Chef Rudy meng
Hotel Putra Mulia berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lampu gantung kristal di lobi. Nurul merasa langkahnya mengecil begitu melewati pintu putar.Saat ini ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam formal. Rambutnya disanggul rendah. Tidak berlebihan namun profesional. Map cokelat berisi CV dan foto-foto plating rendang, rawon, dan sate lilit ia genggam erat.Seorang perempuan berusia 40-an dengan blazer hitam berdiri dari balik meja resepsionis ketika melihatnya. Tante Dinda. Nurul masih mengenalinya meski dulu hanya beberapa kali bertemu. "Nurul Hidayah?" sapanya ramah namun tegas. "Iya, Bu." Nurul mengangguk sopan. "Kamu tidak berubah banyak. Saya Dinda. Tante Niken. Di sini kamu bisa memanggil saya Bu Dinda."Nurul langsung menyalami dengan sopan. "Terima kasih, Bu Dinda. Ibu juga tidak berubah. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau memberi saya kesempatan."Bu Dinda menatapnya dari atas sampai bawah. Bukan menilai penampilan, tapi membaca kesiapan."Kita
"Sumpeh! Lo mau cereme dari si Erland?"Mata Niken membelalak sempurna, hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nurul."Iya," jawab Nurul tenang. Kontras dengan tangannya yang sibuk mengaduk jus jambu merah di hadapannya. Ia kemudian menceritakan secara singkat penyebab dirinya meminta cerai.“Muke gile si Erland. Gue pikir pernikahan lo bakalan langgeng karena dulu dia ngejar-ngejar lo sampe segitunya. Eh ternyata bajingan juga!" Niken menggebrak meja.Gelas-gelas bergetar, sedikit jus tumpah. Beberapa pengunjung kafe menoleh tajam.Niken nyengir kaku sambil mengangkat tangan. "Maaf, maaf…""Kalem, Nik. Kita di tempat umum,” tegur Nurul pelan."Iye… iye… gue tahu. Namanya juga emosi." Niken mendecakkan lidah. Ia lalu menatap Nurul prihatin. "Terus sekarang lo tinggal di mana? Anak lo?""Sama orang tua gue lah. Mau ke mana lagi?" Nurul mengedikkan bahu pasrah. "Adik lo si Daffa udah tamat kuliah?" Nurul menggeleng. "Belum. Lagi ngerjain skripsi. Tapi seka
Begitu Nurul turun dari taksi sambil menggendong Alfi yang tertidur, pintu rumah sudah terbuka. Ibunya berdiri di ambang, wajahnya cemas sekaligus lega. Di belakangnya, sopir taksi membawakan dua koper besar dan satu tas besar serbaguna berisi mainan edukasi Alfi. Ia memang pulang ke rumah dulu untuk mengambil perlengkapan, baru pulang ke rumah orang tuanya."Nurul… ayo masuk." Ibunya membuka pintu lebar-lebar. Ayahnya yang rambutnya semakin memutih, melansir koper-koper yang ditinggalkan sopir taksi di teras. Membawanya masuk ke dalam rumah. "Daffa mana, Bu? Kok Ayah yang mengangkat koper?" Nawang mencari keberadaan adik semata wayangnya. "Daffa menginap di rumah temannya. Mau tugas kuliah bersama katanya," jawab ibunya singkat."Tidurkan dulu Alfi di kamar lamamu. Ibu tadi sudah membersihkannya," ujar Bu Nafisah lagi.Nurul menurut. Ia membawa putranya ke ranjang. Membaringkannya hati-hati serta menyelimutinya. Setelahnya ia menemui kedua orangnya di ruang tamu. "Yah, Bu. Sepert
Nurul menenangkan dirinya sejenak sebelum menanggapi pernyataan Erland."Mendengarmu berargumen seperti ini, aku jadi tidak percaya kalau kamu seorang sarjana S2, Mas," ujar Nurul dengan senyum tipis."Aku tahu teorinya. Jangan menganggapku bodoh!" desis Erland murka. Ia paling anti dijengkali. Apalagi oleh istri sendiri."Berarti Mas tau dong kalau down syndrome pada sebagian besar kasus adalah Trisomi 21. Yang terjadi akibat nondisjunction pada saat pembelahan sel. Itu peristiwa biologis acak, Mas. Sembilan puluh lima persen terjadi tanpa faktor keturunan. Tanpa 'kesalahan' siapa pun." Nurul mengeja setiap suku katanya. Erland diam. Ia mendengar namun tidak mengiyakan."Jadi, memiliki satu anak dengan Trisomi 21 tidak berarti semua anak berikutnya akan sama. Risiko berulangnya kecil, Mas. Secara statistik, peluang melahirkan anak dengan kromosom normal tetap jauh lebih besar.""Tapi tetap ada kemungkinan kan?" sela Erland cepat."Tentu saja ada," Nurul mengiyakan. "Seperti pada sem
"Maaf ya… kalau kedatangan kami mengejutkan. Mas Erland bilang mau memberi surprise pada Ibu. Tolong kuenya diletakkan di meja, Rin."Tasya memberikan kue kepada Rina sambil tersenyum tipis. Ia terlihat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya.Kami.Nurul mencebik. Satu kata, berjuta makna.Tidak perlu penjelasan lagi. Dari bahasa tubuh Erland yang protektif dan keakraban Tasya dengan keluarga ini, Nurul sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Erland kembali menjalin hubungan dengan Tasya. Dan ayah dari bayi yang dikandungnya pasti Erland."Nurul… aku bisa menjelaskan," Erland akhirnya bersuara. Sikapnya tampak serba salah."Kami sudah menikah siri, ya, Nurul," ungkap Tasya tanpa tedeng aling-aling. "Jadi anak kami ini bukan anak haram. Ibu dan keluarga besar Atmodjo adalah saksinya." Tasya langsung mengamankan posisinya."Mas Erland tidak pernah meminta izin padaku untuk melakukan poligami. Ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku tidak punya urusan denganmu," sahut Nurul datar."Tidak







