Share

2. Kejutan Menyayat Hati.

Author: Suzy Wiryanty
last update publish date: 2026-03-11 00:17:08

Rina yang melihat suasana memanas segera menjauh dengan membawa serta Vito. Kakak sulungnya ini jikalau emosi memang tidak bisa menyaring kata-katanya. Ia tidak mau terbawa-bawa.

Sementara itu Nurul memandang kakak iparnya dengan tatapan tidak percaya. Walau matanya berkaca-kaca, namun suaranya justru semakin kokoh.

"Mbak, kalau bisa memilih aku juga ingin Alfi terlahir cerdas dan sehat. Begitu juga dengan Alfi. Tapi semua yang terjadi di dunia ini kan atas kuasa Allah. Kami tidak bisa memilih, Mbak. Dan aku menerima dengan ikhlas keadaan Alfi karena aku menghormati hidup yang Allah ciptakan."

"Terserah kamu mau bersikap apa terhadap Alfi. Bukan urusanku. Asal jangan anakku yang kamu salahkan," lanjut Dini gusar seraya menggandeng Dika menjauh. Tapi karena masih kesal ia pun mengerutu.

"Mau disebut dengan istilah apapun memang anakmu itu idiot kok," gumamnya pelan. Dan Nurul mendengarnya.

Mendengar hinaan kasar Dini, amarah Nurul bangkit. Ia pun mensejajari langkah Dini dan berbisik pelan di telinganya. Memastikan bahwa hanya Dini yang mendengar.

"Jadi kalau aku menyebut Dika anak haram tidak apa-apa ya, Mbak? Kan Dika memang lahir di luar nikah? Mbak bilang istilah memperhalus kalimat itu tidak penting kan?" tantang Nurul berani. 

Mendengar kata-kata Nurul, selebar wajah Dini menjadi merah padam. 

"Ngomong apa kamu hah? Kamu menghina anakku?" Dini melepas tangan Dika. Sebagai gantinya ia menarik rambut panjang Nurul. 

Tak mau kalah Nurul berbalik dan balas menjenggut rambut Dini. Ia bahkan menjatuhkan Dini ke tanah. Amarah membuat tenaganya bertambah dua kali lipat.

Dika yang ketakutan, berlari ke dalam rumah. Berteriak memanggil oma dan tantenya. 

"Bagaimana rasanya saat mendengar anak kita dihina, Mbak? Sakit kan? Itulah yang aku rasakan!" desis Nurul dengan napas tersengal. Ia menduduki Dini dengan kedua tangan masih menjambak rambutnya.

"Dasar... kurang ajar. Lihat saja, sebentar lagi kamu pasti akan diceraikan Erland!" 

Dini balas memaki dengan suara ngos-ngosan. Kulit kepalanya serasa akan lepas. Ia tidak menyangka kalau Nurul yang biasanya lembut bisa seberingas ini.

Sejurus kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki diiringi suara teriakan kaget.

"Astaghfirullahaladzim. Kalian berdua ini kenapa sih?" 

Suara ibu mertuanya. 

Tapi Nurul tidak peduli. Ia tetap mencengkram erat rambut Dini. Sakit hatinya belum tuntas.

"Ayo kita pisahkan mereka, Rin!" Bu Titik menarik Dini sementara Rina menjauhkan Nurul. Keduanya pun terpisah. 

Dini berdiri terhuyung-huyung dengan rambut awut-awutan. Sementara Nurul berdiri gagah. Tatapannya membara. Keduanya saling memandang penuh kebencian.

"Kalian ini kenapa sih? Udah tua  malah berkelahi di depan anak-anak!" tegur Bu Titik keras.

"Mbak Dini tega mengatai Alfi idiot, Bu. Aku tidak terima!" Nurul menatap Dini dengan mata menyala. 

"Nurul juga mengatai Dika anak haram. Impas kan, Bu?" Dini tak mau kalah. Namun ada rasa gentar di hatinya. Nurul telah berubah menjadi singa yang siap mencabik-cabiknya. 

"Siapa yang duluan memprovokasi? Mbak kan?" Emosi Nurul kembali terpancing. Ia pun merangsek maju. 

"Sudah, Mbak. Jangan diperpanjang. Malu sama anak-anak. Dilihatin Alfi juga lho itu," bujuk Rina sambil menahan laju tubuh Nurul. Ia tahu hanya Alfi lah yang bisa meluluhkan hati kakak iparnya. 

"Kalian berdua itu sama-sama salah bicara. Sudahlah saling bermaafan saja. Jangan membuat kegaduhan di hari ulang tahun Ibu. Bisa kan?" Bu Titik mengambil jalan tengah.

Sebenarnya ia tahu siapa yang bersalah. Tetapi darah tetaplah darah. Sebagai seorang Ibu ia tetap membela anaknya.

"Dini, ayo minta maaf pada Nurul. Dan kamu Nurul, minta maaf juga pada Dini." Bu Titik memberi kode pada Dini melalui tatapan mata.

"Maaf," ucap Dini sambil melengos. Ia mengerti kalau ibunya mencoba menyelamatkan harga dirinya. Karena ibunya juga meminta Nurul untuk minta maaf.

"Aku juga minta maaf," ucap Nurul datar. "Tapi kalau Mbak menghina Alfi lagi, aku tidak akan tinggal diam," ancam Nurul dingin. 

"Aku cuma... "

"Sudah, Dini." Bu Titik memotong kata-kata Dini yang masih mencari alasan 

Suasana menegang. Tidak ada yang benar-benar mengalah.

Lalu tiba-tiba—

"Surprise! Selamat ulang tahun Ibu!"

Suara ceria seorang wanita memecah udara. Mereka berempat spontan menoleh.

Dan saat itulah dunia Nurul berhenti.

Pintu samping tiba-tiba terbuka. Dan di ambang pintu berdiri Erland. Suaminya. Yang katanya masih di luar kota dan tidak bisa datang ke ulang tahun ibunya.

Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun hamil berwarna merah muda tengah memegang sebuah kue ulang tahun. Melihat kehadiran Nurul, ia jadi rikuh dan nyaris jatuh tergelincir. Tangan Erland tampak refleks menopang punggung wanita yang tengah hamil besar itu.

Nurul menatap wajah si wanita yang sepertinya familiar. Dalam waktu beberapa detik saja langsung mengenalinya. 

Dia adalah Natasya. Mantan pacar Erland. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   8. Pertemuan Oleh Semesta.

    Chef Rudy dan Bu Dinda mendekat. Masing-masing mengambil garpu. Merekamencicipi ikan terlebih dulu.Kulitnya renyah. Dagingnya masih lembut dan tidak amis."Gurih dan tidak amis," Chef Rudy mengangguk. Bu Dinda melakukan hal yang sama setelah ikut mencicipi.Chef Rudy lalu mencicipi sambal. Matanya sedikit membesar. Pedas. Segar. Ada aroma kemangi. Ia lalu mencoba tempe. "Renyah." Lalu kangkung. Bu Dinda ikut mengunyah kangkung."Kangkungnya tidak lembek."Chef Rudy menatap Nurul."Kenapa kamu memilih menu ini?""Karena bisa matang dalam waktu 45 menit," jawab Nurul jujur. "Saya bisa saja mencoba menu seperti rendang atau yang lainnya yang mungkin lebih mencerminkan masakan seorang chef. Tapi saya harus realistis. Waktunya tidak akan cukup. Makanya saya memilih menu sederhana ini, tapi tetap mencerminkan rasa Nusantara."Ia lalu menambahkan pelan. "Masakan yang tampak sederhana itu sebenarnya juga riskan, Chef. Karena kalau salah sedikit saja, pasti langsung terasa."Chef Rudy meng

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   7. Asa Baru.

    Hotel Putra Mulia berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lampu gantung kristal di lobi. Nurul merasa langkahnya mengecil begitu melewati pintu putar.Saat ini ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam formal. Rambutnya disanggul rendah. Tidak berlebihan namun profesional. Map cokelat berisi CV dan foto-foto plating rendang, rawon, dan sate lilit ia genggam erat.Seorang perempuan berusia 40-an dengan blazer hitam berdiri dari balik meja resepsionis ketika melihatnya. Tante Dinda. Nurul masih mengenalinya meski dulu hanya beberapa kali bertemu. "Nurul Hidayah?" sapanya ramah namun tegas. "Iya, Bu." Nurul mengangguk sopan. "Kamu tidak berubah banyak. Saya Dinda. Tante Niken. Di sini kamu bisa memanggil saya Bu Dinda."Nurul langsung menyalami dengan sopan. "Terima kasih, Bu Dinda. Ibu juga tidak berubah. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau memberi saya kesempatan."Bu Dinda menatapnya dari atas sampai bawah. Bukan menilai penampilan, tapi membaca kesiapan."Kita

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   6. Memulai Hidup Baru.

    "Sumpeh! Lo mau cereme dari si Erland?"Mata Niken membelalak sempurna, hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nurul."Iya," jawab Nurul tenang. Kontras dengan tangannya yang sibuk mengaduk jus jambu merah di hadapannya. Ia kemudian menceritakan secara singkat penyebab dirinya meminta cerai.“Muke gile si Erland. Gue pikir pernikahan lo bakalan langgeng karena dulu dia ngejar-ngejar lo sampe segitunya. Eh ternyata bajingan juga!" Niken menggebrak meja.Gelas-gelas bergetar, sedikit jus tumpah. Beberapa pengunjung kafe menoleh tajam.Niken nyengir kaku sambil mengangkat tangan. "Maaf, maaf…""Kalem, Nik. Kita di tempat umum,” tegur Nurul pelan."Iye… iye… gue tahu. Namanya juga emosi." Niken mendecakkan lidah. Ia lalu menatap Nurul prihatin. "Terus sekarang lo tinggal di mana? Anak lo?""Sama orang tua gue lah. Mau ke mana lagi?" Nurul mengedikkan bahu pasrah. "Adik lo si Daffa udah tamat kuliah?" Nurul menggeleng. "Belum. Lagi ngerjain skripsi. Tapi seka

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   5. Harapan Baru.

    Begitu Nurul turun dari taksi sambil menggendong Alfi yang tertidur, pintu rumah sudah terbuka. Ibunya berdiri di ambang, wajahnya cemas sekaligus lega. Di belakangnya, sopir taksi membawakan dua koper besar dan satu tas besar serbaguna berisi mainan edukasi Alfi. Ia memang pulang ke rumah dulu untuk mengambil perlengkapan, baru pulang ke rumah orang tuanya."Nurul… ayo masuk." Ibunya membuka pintu lebar-lebar. Ayahnya yang rambutnya semakin memutih, melansir koper-koper yang ditinggalkan sopir taksi di teras. Membawanya masuk ke dalam rumah. "Daffa mana, Bu? Kok Ayah yang mengangkat koper?" Nawang mencari keberadaan adik semata wayangnya. "Daffa menginap di rumah temannya. Mau tugas kuliah bersama katanya," jawab ibunya singkat."Tidurkan dulu Alfi di kamar lamamu. Ibu tadi sudah membersihkannya," ujar Bu Nafisah lagi.Nurul menurut. Ia membawa putranya ke ranjang. Membaringkannya hati-hati serta menyelimutinya. Setelahnya ia menemui kedua orangnya di ruang tamu. "Yah, Bu. Sepert

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   4. Sampai Jadi Debu.

    Nurul menenangkan dirinya sejenak sebelum menanggapi pernyataan Erland."Mendengarmu berargumen seperti ini, aku jadi tidak percaya kalau kamu seorang sarjana S2, Mas," ujar Nurul dengan senyum tipis."Aku tahu teorinya. Jangan menganggapku bodoh!" desis Erland murka. Ia paling anti dijengkali. Apalagi oleh istri sendiri."Berarti Mas tau dong kalau down syndrome pada sebagian besar kasus adalah Trisomi 21. Yang terjadi akibat nondisjunction pada saat pembelahan sel. Itu peristiwa biologis acak, Mas. Sembilan puluh lima persen terjadi tanpa faktor keturunan. Tanpa 'kesalahan' siapa pun." Nurul mengeja setiap suku katanya. Erland diam. Ia mendengar namun tidak mengiyakan."Jadi, memiliki satu anak dengan Trisomi 21 tidak berarti semua anak berikutnya akan sama. Risiko berulangnya kecil, Mas. Secara statistik, peluang melahirkan anak dengan kromosom normal tetap jauh lebih besar.""Tapi tetap ada kemungkinan kan?" sela Erland cepat."Tentu saja ada," Nurul mengiyakan. "Seperti pada sem

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   3. Mari Kita Bercerai.

    "Maaf ya… kalau kedatangan kami mengejutkan. Mas Erland bilang mau memberi surprise pada Ibu. Tolong kuenya diletakkan di meja, Rin."Tasya memberikan kue kepada Rina sambil tersenyum tipis. Ia terlihat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya.Kami.Nurul mencebik. Satu kata, berjuta makna.Tidak perlu penjelasan lagi. Dari bahasa tubuh Erland yang protektif dan keakraban Tasya dengan keluarga ini, Nurul sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Erland kembali menjalin hubungan dengan Tasya. Dan ayah dari bayi yang dikandungnya pasti Erland."Nurul… aku bisa menjelaskan," Erland akhirnya bersuara. Sikapnya tampak serba salah."Kami sudah menikah siri, ya, Nurul," ungkap Tasya tanpa tedeng aling-aling. "Jadi anak kami ini bukan anak haram. Ibu dan keluarga besar Atmodjo adalah saksinya." Tasya langsung mengamankan posisinya."Mas Erland tidak pernah meminta izin padaku untuk melakukan poligami. Ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku tidak punya urusan denganmu," sahut Nurul datar."Tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status