INICIAR SESIÓNSatu minggu kemudian. Aroma menenangkan dari teh melati hangat perlahan mengikis bayangan kelam hutan timur yang selama tiga minggu ini masih sering membayangi benak Juna. Di dalam kamar perawatan Perkebunan Hartman yang luas dan nyaman, Juna duduk bersandar di ranjangnya. Ia menatap ke bawah, menggerakkan sepuluh jari kakinya secara bergantian. Berkat kombinasi perawatan medis intensif dan sisa khasiat ramuan herbal ajaib dari si pak tua, Juna kini sudah bisa menggerakkan kakinya dengan normal, meski belum diizinkan untuk berjalan terlalu jauh oleh dokter. Cekrek. Pintu kamar terbuka perlahan. Bella masuk sambil membawa nampan berisi bubur hangat dan buah-buahan segar. Wajahnya yang sempat pias dan kuyu tiga minggu lalu, kini sudah kembali segar dan memancarkan rona kebahagiaan. "Bagaimana perasaanmu hari ini? Masih ada yang kaku?" tanya Bella lembut, meletakkan nampan di meja nakas lalu duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Juna. Juna tersenyum, mengecup punggung
Di balik pohon raksasa, para polisi bergerak terus membalas tembakan dari empat anak buah Sadewa yang berada diluar pondok. Desingan peluru menyalak, mengoyak kulit-kulit pohon dan menerbangkan dedaunan. Di balik garis aman, Rey mengintip ke arah pondok yang mulai bolong-bolong akibat peluru nyasar. Wajahnya pucat. "Gawat! Tuan Juna dan pria tua itu ada di dalam pondok! Mereka bisa tertembak!" "Serahkan padaku, aku akan pastikan keadaan mereka," sahut Annie. Tanpa ragu, ia memeriksa isi peluru di senjatanya. Bripda Bagas menoleh cepat di sela-sela baku tembak. "Kami akan mengalihkan perhatian mereka! Kau jemput Tuan Juna dan pria tua itu melalui jalur belakang! Cepat!" serunya memberi komando. Annie mengangguk dan segera pergi berlari kearah lain. DOR! DOR! Dua tembakan beruntun diluncurkan para polisi untuk menekan posisi musuh. Bersamaan dengan itu, Bagas langsung menekan tombol alat komunikasi yang menempel di seragamnya. "Halo! Kode merah di sektor timur hutan! Kami
Di tengah rasa gelisah, keadaan tiba-tiba berubah. Pak tua itu mendadak menghentikan ucapannya. Wajah yang sejak tadi tampak tenang perlahan mengeras. Kedua lubang hidungnya mengembang dan mengempis perlahan, seolah sedang mengendus sesuatu yang terbawa angin dari luar pondok. Tatapannya yang semula hangat berubah tajam. Pelan-pelan ia mengalihkan pandangan ke arah dinding-dinding kayu yang dipenuhi celah kecil, seperti sedang memastikan sesuatu di balik sana. Glek! Juna menelan ludah. Entah kenapa, perubahan sikap itu membuat dadanya semakin sesak. "Orang tua ini ... mau apa?" Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pak tua itu bangkit dari bangku kayunya. Langkahnya begitu ringan hingga lantai kayu yang reyot nyaris tak mengeluarkan bunyi. Ia menghampiri pintu depan, lalu menyilangkan sebatang balok kayu tebal pada pengait pintu hingga terdengar bunyi pelan. Tak! Pintu pondok dikunci rapat. Pak tua itu berbalik. Tatapannya bertemu dengan mata Juna. Perlahan ia mengangkat
"Tunggu, Annie! Berhenti memukulnya!" seru Rey sambil menangkap pergelangan tangan Annie yang karena panik memukuli tubuh kekar kuda itu. Rey menyipitkan mata, di punggung kuda jantan hitam itu terpasang pelana kulit berkualitas tinggi lengkap dan masih berkilau, jelas bukan kuda liar. "Kuda ini pasti peliharaan seseorang. Sepertinya dia sedang berusaha menunjukkan jalan kepada kita," ujar Rey. Apollo kembali menarik jaketnya, kali ini sedikit lebih kuat. "Ayo ... kita ikuti saja." Annie menelan ludah. Meski rasa takut masih menguasai dirinya, ia akhirnya mengangguk pelan dan mengikuti Rey dari belakang sambil mencengkeram erat ujung kaus pemuda itu. Apollo segera berbalik, lalu memimpin mereka menerobos semak belukar yang semakin rapat menuju bagian lembah yang lebih terbuka. Sementara itu, hanya beberapa puluh meter di depan, tiga orang polisi telah mengambil posisi tempur. Mereka berlutut dan membidik ke arah semak-semak yang berguncang semakin keras. "Jam dua!" bis
"Arul, coba lihat ini." Arnold membentangkan peta topografi di atas pelana kudanya. Jemarinya menyusuri garis-garis kontur yang mulai lembap terkena embun hutan. "Sekarang kita ada di sebelah mana? Apa kita sudah masuk ke lembah timur yang tadi kamu bilang berbahaya itu?" Arul menghentikan kudanya di samping Arnold. Tatapannya berkeliling menyapu pepohonan raksasa yang menjulang tinggi hingga menutupi langit. "Iya, Tuan Arnold," jawabnya pelan. "Kita sudah melewati batasnya." Ia mengangkat dagu ke arah rimbunnya kanopi hutan. "Lihat saja. Padahal baru jam dua siang, tapi cahaya matahari hampir tidak bisa menembus dedauan pohon yang rimbun. Di bawah sini rasanya seperti sudah menjelang magrib." Di tengah rimbunnya hutan pegunungan Wirata, Arnold dan Arul memimpin rombongan di barisan depan, sementara tiga personel polisi bersenjata lengkap mengikuti beberapa meter di belakang dengan menunggangi kuda masing-masing. Udara terasa lembap dan menusuk tulang. Kabut tipis menggant
"Bella ...." Sebuah sapaan lirih memecah keheningan ruang tamu. Bella yang sedang duduk termenung langsung menoleh, melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Ia mendengus, matanya menatap sinis dari ujung kaki hingga ujung kepala wanita yang menyapanya itu. Penampilan Juleha kini berubah drastis, dulu ia sering memamerkan tas-tas branded dan perhiasan setiap kali mereka bertemu. Namun, sekarang, Juleha datang memakai daster rumahan. Wajahnya tanpa riasan, dan perutnya membesar karena sedang hamil. Melihat Bella yang membuang muka dan bersikap teramat acuh, Juleha menelan ludahnya susah payah. Ia melangkah ragu dengan jemari yang saling bertautan cemas. "Mau apa lagi kamu ke sini?" ketus Bella tanpa basa-basi. Suaranya dingin, tak ada sedikit pun kehangatan tersisa untuk mantan sahabatnya itu. "Belum puas mengacaukan hidupku?" Juleha gemetar. Air matanya langsung luruh, ia terpaksa menjilat ludahnya sendiri demi mendapatkan simpati dari wanita yang dulu sering ia rendahkan.
Bella merangkak di sepanjang garis pantai yang basah. Jari-jemarinya yang gemetar menancapkan batu-batu karang ke dalam pasir, sementara napasnya tersengal akibat kelelahan yang terus menggerogoti tubuhnya. Sejak terdampar di pulau itu, ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya berjalan, mencari c
Setan apa yang membuatku mengatakan itu?Junaidi mengumpat dalam hati.Ia hanya ingin melihat pipi Bella memerah—sekilas saja, tanda bahwa gadis itu tak selalu sedingin nada bicaranya. Sialnya, yang ia dapat justru tatapan melotot penuh amarah.Bella pantas marah. Pria macam apa yang berani melonta
"Ya Tuhan, apakah kau pernah melihat pria setampan dan segagah itu?”Bisikan kagum itu mengalir dari bibir ke bibir beberapa gadis, janda, dan emak-emak desa yang berkumpul di tepi lahan perkebunan Hartman.Berbondong-bondong mereka membawa rantang dan air minum, mata mereka tak lepas dari seorang
“Juna! Buka pintunya!”DOK! DOK! DOK!Juna dan Ray saling berpandangan tanpa suara, kepanikan jelas terbaca di mata masing-masing. Setiap ketukan Di pintu terdengar seperti hitungan mundur—penanda bahwa waktu mereka kian menipis.“Buat apa dia datang malam-malam begini …,” gumam Juna panik, sambil







