LOGIN“Tidak bisa! Urusan pemecatan, ayah yang mengatur.” kata Arnold dengan tegas.
“Tapi, Ayah—” Bella melangkah maju, menahan emosi. "Tidak! Pokoknya tidak boleh!" “Apa Ayah tidak lihat, berapa pohon yang sudah dibuat botak oleh si Junaidi? Cara kerjanya berantakan. Menanam padi saja tidak presisi. Benar-benar kacau!” Arnold menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Ayah sudah berjanji pada pamannya, Pak Bambang.” “Janji apa?” tanya Bella cepat. “Junaidi akan bekerja di perkebunan ini selama satu tahun sebagai pengganti Pak Bambang yang pensiun,” jawab Arnold tenang. “Selama masa itu, dia akan belajar dan bertanggung jawab penuh atas pekerjaannya.” Bella mengepalkan tangan. “Dengan cara kerja sekacau itu, lama-lama pohon-pohon di kebun Ayah bisa habis!” Tatapan Arnold mengeras, tapi suaranya tetap tenang. “Ayah tahu apa yang ayah lakukan, Bella. Dan untuk urusan Junaidi, itu keputusan ayah, sudah final!" "Iihhhss!" dengus Bella kesal. Jelas terlihat ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu—dan nama Junaidi ada tepat di tengah rahasia itu. Keheningan sempat menggantung lama. Bella hanya menatap ayahnya, lalu bergumam kesal, “Apa Ayah tidak melihat sikap arogannya? Aku ingin Junaidi benar-benar diusir dari sini.” "Sayang sekali, ayah tidak akan melakukannya," "Tentu saja. Ayah bisa! Kirim saja dia kembali ketempat asalnya, Aku rasa, dia pun tidak betah bekerja di perkebunan kita." Arnold, melipat kedua tangannya di dada, sambil menggelengkan kepalanya. "Memangnya seberapa sulit mencari penggantinya? Kalau Ayah tidak mau, biar aku sendiri yang mencarinya. Orang desa mana pun pasti bekerja lebih rapi daripada cara berpikirnya,” Bella terus mengoceh, tekadnya untuk menyingkirkan Junaidi sudah bulat dan tak tergoyahkan. Namun tekad Arnold mempertahankan Junaidi, tak kalah keras dari putri bungsunya. "Kau tidak bisa melakukannya, dan aku tidak akan mengusir pria itu, jadi lupakan saja." "Ayah?" Bella merajuk, dengan nada suaranya berubah menjadi rengek manja—cara lama yang biasanya selalu berhasil membuat ayahnya luluh. Tapi Arnold lebih dulu angkat bicara—memotong niatnya tanpa ragu. “Sudah cukup Bella,” potongnya tegas. “Daripada kau terus berkutat soal Junaidi, lebih baik kamu mulai mempersiapkan dirimu sebagai seorang istri.” Bella tertegun. “Ayah!” Cekrek. Pintu ruang kerja Arnold terbuka. Brenda masuk dengan ekspresi serius. “Apa yang dikatakan ayahmu itu benar, Bella,” ujarnya tegas. “Lihat kulitmu—sudah mulai gelap dan kasar. Tidak sehalus dulu.” Pandangan Brenda melembut sesaat, lalu kembali mengeras. “Ibu rasa sudah waktunya kamu lebih merawat diri. Bukan berpanas-panasan setiap hari di kebun seperti itu.” Bella mengepalkan jemarinya pelan. Kata-kata itu terasa lebih menusuk daripada kemarahannya pada Junaidi. Perjodohan yang diputuskan orang tuanya dengan pria yang belum pernah ia temui membuat Bella perlahan menjauh dari dunia yang paling ia cintai—alam pedesaan.” Kesal pada kedua orang tuanya yang selalu mengatur hidupnya, Bella pamit singkat lalu keluar dari ruang kerja ayahnya. Baru beberapa langkah menyusuri lorong, tubuhnya tiba-tiba menabrak sesuatu yang keras. BRUK! Bukan dinding. Bukan tiang rumah. Bella mendongak—dan langsung membeku. “Tiang” itu adalah Junaidi. Pria yang ia benci, sedang berdiri tegap tepat dihadapannya, tubuhnya kokoh memenuhi lorong sempit. Tatapan mata itu turun perlahan ke arahnya, tampak tenang seperti biasa, seolah pertemuan mereka di tempat ini bukan kebetulan sama sekali. Jarak mereka terlalu dekat. Tangan Bella tanpa sadar terangkat, mencengkram kemeja putih pria itu. Jari-jarinya menyentuh tonjolan otot di bawah kain, dan pipinya mendadak panas, meski sentuhan itu sama sekali tidak disengaja. Reflek Bella melompat mundur, namun karena terlalu bergerak cepat, ia tersandung, membuat tubuhnya nyaris tak seimbang dan terjatuh ke lantai. Bruk! Alih-alih menolong, Junaidi justru terkekeh pelan. “Wanita sering kali jatuh di bawah kakiku,” katanya santai. “Tapi biasanya bukan karena berusaha kabur dariku.” Bella mendecak kesal. Ia segera bangkit, menepis debu di pakaiannya, menolak terlihat memalukan di hadapan pria yang paling ingin ia hindari. “Tak heran,” balasnya dingin sambil menatap Junaidi penuh tantangan. “Mereka jatuh di depanmu, karena sikapmu yang arogan dan menyebalkan.” Junaidi menyeringai tipis, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. “Kalau niatnya menyingkirkanku, setidaknya lakukan dengan lebih rapi, Nona,” sindirnya tenang. Bella terbelalak. “Beraninya kau menguping di depan pintu!” “Lorong ini bukan pintu kamarmu,” jawab Junaidi datar. “Dan suara Nona… terlalu keras untuk tidak terdengar.” Bella tak mampu berkata apa-apa. Wajahnya memerah—entah karena marah atau karena tersinggung. Ia pun memilih melewati Junaidi begitu saja sambil mendengus kesal. Namun langkahnya terhenti saat suara itu kembali terdengar. “Sayang sekali, kamu terlihat cantik dengan warna pink.” ucap Junaidi santai. Bella berbalik tajam. “Aku pakai baju kuning, apa kau buta warna!” hardiknya. Warna bunga matahari di gaunnya jelas tak mungkin tertukar. Junaidi tersenyum tipis. Ia mengangkat tangan, lalu menunjuk pipinya sendiri, memberi isyarat pelan. “Yang itu,” katanya sambil cengengesan. Bella membeku. Baru ia sadari—warna pink yang dimaksud Junaidi bukanlah gaunnya, melainkan pipinya yang merah merona. Bella refleks menutup pipinya dengan telapak tangan. “Kurang ajar!” desisnya, tapi suaranya terdengar lebih goyah daripada yang ia inginkan. Junaidi tertawa pelan, kali ini tanpa menyembunyikannya. “Aku cuma jujur, Nona. Marahmu itu… Sangat lucu.” Bella menatapnya tajam, ingin membalas dengan kata-kata yang lebih kejam, tapi lidahnya kelu. Ada detik aneh ketika lorong itu terasa terlalu sempit, udara terlalu dekat, dan jarak di antara mereka terlalu berbahaya. “Aku tidak butuh penilaianmu! Apalagi dari seorang tukang kebun,” pekik Bella. Junaidi mencondongkan kepala sedikit, tatapannya mengunci wajah Bella. “Dan aku tidak butuh belas kasihanmu. Tapi anehnya, Nona yang selalu terlihat paling terusik setiap kali bertemu denganku.” balasnya pelan. Bella menahan napas. Ada sesuatu dalam nada suara itu—tenang, yakin, seolah ia memegang kendali. Ia membenci perasaan itu. “Jangan terlalu percaya diri, hanya karena kamu keponakan Pak Bambang." ucap Bella tajam. “Aku bisa membuatmu pergi kapan saja.” Senyum Junaidi tak luntur. Justru semakin lebar. “Kita lihat saja. Biasanya, yang paling ingin menyingkirkan … justru yang paling sulit melepaskan.” godanya. Bella berbalik cepat, melangkah menjauh sebelum jantungnya benar-benar mengkhianatinya. Ia tak melihat Junaidi yang menatap punggungnya lama—seolah sudah tahu, permainan ini baru saja dimulai. Bajingan! Aku harus menyingkirkan dia. Secepatnya. Pikir Bella, sambil memutar otak—mencari cara kotor yang cukup rapi untuk menjebak Junaidi dan mengusirnya dari perkebunan milik ayahnya.Kriettt ... Suara derit engsel pintu kayu yang tua itu memecah kesunyian malam di tengah perkebunan. Dengan hati-hati, Bella mendorong daun pintu yang tidak terkunci itu, meraba dinding bilik kayu yang kasar untuk mencari saklar lampu gantung. Begitu jarinya menemukan tombol plastik kecil dan menekannya, pijar lampu kuning hangat langsung menerangi seluruh isi ruangan yang sempit itu. Bella mengerjap, lalu terperanjat hebat hingga napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya nyaris copot dari tempatnya. Di sudut ruangan, tepat di atas ranjang kayu kecil berbalut tikar pandan, sosok pria tengah duduk dengan sangat santai. Juna melipat kedua tangannya di dada, mengenakan kaus polos hitam dan celana bahan kasual. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang luar biasa menyebalkan, tapi sukses membuat perut Bella mendadak mulas. "Sudah puas bermain-main sendiri, istri nakal?" suara bariton Juna mengalun rendah, memecah keheningan malam dengan nada penuh intimidasi terselubung. Bella
"Membangun rumah? Di sini, di desa?" tanya Brenda tak percaya, matanya membelalak lebar. "Bella, kamu tidak sedang bercanda, kan? Kamu, seorang direktur perusahaan besar dan istri dari CEO The Raden Group, mau tinggal di desa kecil seperti ini?" "Bella serius, Bu," jawab Bella mantap, sorot matanya menyiratkan ketulusan yang mendalam. "Kemarin malam, Uttari menangis sejadi-jadinya. Dia bilang kalau orang tuanya tidak punya waktu untuk mereka. Bella sadar, selama ini kita terlalu sibuk mengejar kesempurnaan dunia luar sampai mengabaikan kebahagiaan anak-anak yang sesungguhnya." Arnold terdiam, menatap putrinya dengan pandangan penuh bangga sekaligus haru. Pria paruh baya itu mengelus jenggot tipisnya, lalu tersenyum tipis. "Suamimu, Juna ... apakah dia tahu rencana sebesar ini? Kamu tahu sendiri suamimu itu punya andil besar di perusahaan dan sangat terikat dengan ritme kehidupan dikota besar." Bella mendengus pelan, mengingat perdebatan sengit mereka semalam sebelum ia nekat kab
"Masuki aku, Sayang ... sekarang!" rintih Bella dengan suara serak yang sangat menggoda. Sembari mengucapkan kalimat itu, Bella dengan berani menarik kedua lututnya ke atas, membuka lebar-lebar paha dan liang hangatnya yang masih berkedut sensitif. Juna tidak perlu diminta dua kali. Pria itu menegang sempurna, urat-urat di leher dan lengannya menonjol akibat gairah yang sudah berada di ubun-ubun. Dengan satu gerakan posesif, Juna memosisikan dirinya di antara kedua paha istrinya, mengarahkan tongkat kebanggaannya yang sudah mengeras maksimal tepat di bibir liang yang menganga pasrah. Jlesss... Tanpa ragu dan dalam satu hentakan yang dalam, Juna langsung memasukkan seluruh miliknya, menghujam hingga ke dasar rahim Bella. Penyusupan yang begitu mendadak dan padat itu seketika menyumbat jalan keluar cairan di dalam sana. Akibatnya, cairan percintaan yang tadinya mengalir deras langsung muncrat ke sekeliling sprei. "AAAHHH!" jerit Bella tertahan, matanya terbelalak sesaat seb
"Apa? Pindah ke desa?!" pekik Juna, nada suaranya meninggi setengah oktaf karena terkejut. Juna yang sedang berbaring sambil santai diatas ranjang, menegakkan duduknya. Ia menatap sang istri seolah Bella baru saja menyarankan mereka untuk pindah ke planet Mars. "Iya. Aku serius," jawab Bella dengan suara mantap, meski sorot matanya menyiratkan beban pikiran yang berat. "Aku berencana memboyong Danendra dan Uttari tinggal di desa untuk sementara waktu. Kasihan Uttari ...," Juna mendengus tidak percaya, menatap tajam ke arah istrinya. "Desa mana maksudmu, Bella? Wirata? Kamu mau bawa anak-anak ninggalin Arkapa? Kamu sadar nggak apa yang kamu omongin? Perusahaan logistik global sedang ekspansi besar-besaran, posisiku sebagai CEO dan posisimu sebagai Direktur Rantai Pasok dibutuhkan di kantor pusat!" "Kantor pusat, kantor pusat terus!" potong Bella, emosinya yang sejak tadi ditahan akhirnya ikut terpancing. Ia bangkit dari tepian ranjang, berdiri tegak menghadapi suaminya. "Asal kamu
Sore mulai bergeser menuju malam ketika mobil yang membawa Bella akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Raden. Rumah besar itu masih sama seperti biasanya. Megah, tenang, dan terlalu luas untuk disebut sekadar rumah. Begitu Bella turun dari mobil, ia langsung menyerahkan tasnya kepada seorang pelayan yang sudah siap siaga menunggu di depan pintu. Ia baru saja melangkah beberapa meter ketika suara tangisan terdengar dari dalam rumah. “Mamaaa!” Dari arah ruang keluarga, seorang anak perempuan kecil berlari ke arahnya dengan rambut ikal yang tergerai berantakan. Rambut itu sangat mirip dengan rambut Bella ketika masih kecil. “Uttari?” Bella langsung berjongkok melebarkan tangan, menyambut pelukan hangat dari anak keduanya itu. Isak tangis kecil langsung meredam begitu wajah basah Uttari menelusup ke ceruk leher sang ibu. "Ada apa, sayang? Kenapa nangis hmm?" tanya Bella lembut, mengusap punggung kecil putrinya dengan penuh kasih sayang. Belum sempat Uttari menjawab,
Deru halus mesin Rolls-Royce Phantom hitam berhenti tepat di depan lobby utama hotel bintang tujuh paling eksklusif di jantung ibu kota. Seorang petugas valet segera berlari menghampiri dan membukakan pintu, menyambut kedatangan salah satu wanita paling berpengaruh di lingkaran bisnis Jakarta."Selamat datang, nyonya Raden," ucap sopan penuh hormat, seorang petugas."Selamat pagi, Nyonya Besar. Suatu kehormatan besar bagi kami dapat menyambut Anda kembali di hotel ini," ucap sang General Manager membungkuk hormat, memberikan gestur mempersilakan dengan tangan terbuka.Bella turun dengan gaya anggun. Gaun tweed pastel rancangan Chanel membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara kacamata hitam besar bertabur permata menutupi sebagian wajahnya yang dipoles tanpa cela. Bella mengangguk, senyum penuh wibawa terukir di bibirnya. Langkah kakinya yang mengenakan stiletto Jimmy Choo berketukan anggun di atas lantai marmer putih bersih, meninggalkan jejak aura kekuasaan yang membuat setiap p
Setan apa yang membuatku mengatakan itu?Junaidi mengumpat dalam hati.Ia hanya ingin melihat pipi Bella memerah—sekilas saja, tanda bahwa gadis itu tak selalu sedingin nada bicaranya. Sialnya, yang ia dapat justru tatapan melotot penuh amarah.Bella pantas marah. Pria macam apa yang berani melonta
"Ya Tuhan, apakah kau pernah melihat pria setampan dan segagah itu?”Bisikan kagum itu mengalir dari bibir ke bibir beberapa gadis, janda, dan emak-emak desa yang berkumpul di tepi lahan perkebunan Hartman.Berbondong-bondong mereka membawa rantang dan air minum, mata mereka tak lepas dari seorang
“Juna! Buka pintunya!”DOK! DOK! DOK!Juna dan Ray saling berpandangan tanpa suara, kepanikan jelas terbaca di mata masing-masing. Setiap ketukan Di pintu terdengar seperti hitungan mundur—penanda bahwa waktu mereka kian menipis.“Buat apa dia datang malam-malam begini …,” gumam Juna panik, sambil
“Aku sungguh tidak paham,” ujar Arnold sambil menatap surat di tangannya, “Kenapa Pak Bambang bersikeras agar aku menyembunyikanmu di perkebunan ini.” Ia duduk di balik meja kerjanya, sorot matanya serius.Surat yang ditangannya itu berasal dari mantan mandor kepercayaannya—puluhan tahun mengabdi,







