LOGINDi sebuah pondok kecil di tengah sawah, Juleha dan Arul sedang duduk berdekatan. Tangan mereka saling menggenggam, tubuh mereka beradu hangat di bawah sinar matahari siang.
Tak berselang lama, bibir mereka bertemu dalam ciuman panjang, diselingi desahan yang membuat milik Arul terasa tegang. Aroma harum rambut Juleha membuatnya semakin sulit menahan diri. Juleha menatap matanya, bibirnya melengkung nakal. “Kalau Mas terus begini, nanti bisa lupa makan siang loh. Jadi sia-sia adek masakin makan siang buat Mas,” godanya sambil menempelkan dagunya ke bahu Arul. Arul tersenyum, satu tangannya mulai mengarah ke kemben Juleha. “Eh … tunggu—” pekik Juleha, suara dibuat-buat gemetar, “Mas, jangan nakal, ah...” Arul terkekeh. “Gak ada siapa-siapa, Dek. Sejujurnya aku lebih pilih makan kamu dulu… Adik kecilku di bawah sarung udah bangun, Dek.” “Idih, ini masih siang loh, Mas!” “Sebentar saja Dek ... Mas janji, 15 menit selesai diluar, dijamin aman Dek," bujuknya. Juleha melirik ke kanan dan kiri, memastikan tak ada siapa pun di sekitaran mereka, “Ya sudah Mas … Bener yah cuma sebentar saja Mas,” Juleha akhirnya setuju, karena dia juga menginginkannya. Juleha mulai membuka pakaiannya perlahan, memperlihatkan dua gundukan kenyal. Mata Arul langsung berbinar, lidahnya melet-melet, menatap calon istri yang sebentar lagi, tepatnya sebulan lagi, baru akan resmi, sah menjadi miliknya. Arul pun mulai membuka sarungnya, Juleha mengigit bibir bawahnya, saat melihat burung kecil Arul. Ia pun mencondongkan tubuhnya, naik ke pangkuan Arul. Dalam sekejap tubuh mereka pun menyatu, gerakan mereka mulai seirama, menikmati kehangatan satu sama lain ditengah sawah. "Ahh ... enak Mas, lebih cepat lagi." "Iya, Dek ...." "Aahh ... Ahh!" Namun tepat ketika permainan mereka hampir mencapai puncaknya, suara lantang dari kejauhan membuyarkan semuanya. “JULE!!!” Juleha langsung menjerit, menutupi dirinya, dan Arul hampir tersedak karena terkejut. Mereka menoleh ke arah suara itu muncul, dilihatnya Bella sedang berjalan kearah mereka. "Astaga, si Bella! Ngapain dia kesini!" protes Juleha, merasa terganggu. Momen “panas” itu pun sirna, digantikan gelak canggung mereka sendiri—dan rasa kecewa yang kocak. “Loh, kalian belum makan siang?” tanya Bella sambil menatap rantang yang masih penuh, tak tersentuh sedikit pun. Juleha buru-buru menutupi dirinya, rambutnya sedikit acak-acakan, pakaiannya berantakan karena tergesa-gesa. “Eh … hmm … kita … baru aja … eh ….” Sementara itu, Arul membelakangi mereka. Ia berdiri di sudut pondok, membetulkan sarungnya dengan gerakan kikuk. Wajahnya memerah, pandangannya sengaja dihindarkan dari Bella. “I–iya … Nona Bella, kami baru … baru saja hendak mulai makan siang,” gumamnya terbata, suaranya nyaris tak terdengar. “Tumben sekali, Bella … siang bolong begini kamu mencariku?” Juleha bertanya cepat, nada herannya jelas terdengar. Bella menarik napas sejenak sebelum berkata pelan, "Aku butuh bantuanmu, Jule." Sebelum Bella sempat melanjutkan ucapannya, Arul mengangkat tangan dengan sopan. “Permisi, saya makan siang di pinggir sana dulu,” katanya sambil menunduk, memberi ruang bagi percakapan dua perempuan itu. Beberapa saat, Bella menatap Juleha dengan wajah serius. Sorot matanya penuh permohonan. "Jule. Aku punya masalah dengan seorang pekerja di kebun ayahku … dan aku sudah kehabisan cara menghadapi orang itu.” Juleha mengernyitkan dahi, ekspresinya langsung waspada. Bella pun menceritakan semua masalahnya dengan Junaidi. Karena dari semua temannya di desa, hanya Juleha yang terpikir olehnya. Temannya sejak SMP, kembang desa yang tak pernah kekurangan perhatian lelaki—dan, sayangnya, terlalu berpengalaman dalam urusan yang tak pernah Bella pahami. Jika ada seseorang yang bisa membantunya menghadapi Junaidi, Bella rasa orang itu adalah Juleha. Namun Juleha menolak ide gila Bella. “Maafkan aku, Bella. Kamu tahu kan, sebulan lagi aku akan menikah dengan Mas Arul. Jadi mana mungkin aku menggoda pria lain? Bisa berantakan rencana pernikahanku nanti.” Bella mengepalkan jemarinya. “Lalu aku harus bagaimana, Jule? Katakan satu cara saja… apa pun, asalkan aku bisa mengusir pria arogan itu dari hidupku.” desaknya. Juleha terdiam. Pandangannya beralih ke sawah, lalu kembali ke wajah Bella. “Ya ampun, Bella… bahkan kalau aku yang menggoda lalu memfitnah Junaidi telah melecehkan aku, ayahmu tidak akan peduli, juga." ujarnya lirih. “Kecuali—” “Kecuali apa?” potong Bella cepat. Juleha menghela napas, tampak ragu untuk mengatakannya. “Ah, sudahlah. Kurasa utu ide buruk. Tidak pantas buatmu.” Bella langsung meraih tangan Juleha. “Katakan saja, Jule. Tolong,” pintanya, hampir memohon. Juleha menatapnya lama, lalu tiba-tiba terkekeh kecil, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang lain. “Menurutku, lebih baik kamu saja yang jadi umpan.” Bella membeku, seperkian detik. “Maksudmu … aku yang harus menggoda si Junaidi itu?” pekik Bella, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Juleha mengangguk. Wajah Bella langsung memerah—antara marah dan tersinggung. "Jangan bercanda, Jule. Aku tidak sudi melakukan hal serendah itu. Kalau perlu, aku bisa bayar perempuan lain. Biarkan mereka yang menjebaknya.” katanya tajam. Juleha menghela napas panjang. Senyum tipis di bibirnya menghilang, digantikan ekspresi serius yang jarang Bella lihat. “Kamu pikir ayahmu akan peduli kalau perempuan lain mengaku dilecehkan si Junaidi?” tanyanya pelan. Bella terdiam. “Justru kamu yang akan disalahkan kalau perempuan yang kamu sewa buka mulut,” lanjut Juleha. “Dibilang cari sensasi, cari uang, atau malah dituduh menjatuhkan nama baik keluarga Hartman.” Bella menelan ludah. “Tapi kalau kamu yang jadi korban,” Juleha menatapnya lurus, tanpa ragu, “Kalau putri tuan tanah Hartman sendiri yang terluka—atau bahkan terancam—ayahmu tidak akan berpikir dua kali.” Bella menggeleng cepat. “Itu gila. Ayah bisa murka padaku.” “Iya,” sahut Juleha pelan. “Tapi murkanya akan jatuh ke Junaidi.” Hening kembali menyelimuti pondok. Angin sawah berdesir pelan, seolah ikut menyimak percakapan mereka. “Kalau Junaidi berani macam-macam denganmu. Kurasa ayahmu tak hanya akan mengusirnya. Perjanjian dengan Pak Bambang akan dianggap batal.” Bella menunduk. Apa yang dikatakan Juleha masuk akal—terlalu masuk akal untuk diabaikan. Jika dirinya yang mengaku dilecehkan, ayahnya takkan ragu menghancurkan Junaidi, menghapus lelaki itu dari perkebunan seolah tak pernah ada. "Sebenarnya, Bella,” lanjut Juleha cepat, seolah membaca kegelisahan sahabatnya, “kamu hanya perlu membuat Junaidi berpikir bahwa kamu memberi celah. Sisanya … naluri laki-laki akan bekerja sendiri.” “Tapi bagaimana kalau dia tidak mau melakukan apa-apa? Kami selalu bertengkar. Dia pasti tidak akan tertarik padaku.” Tanya Bella Lirih. Juleha terkekeh. “Justru itu. Laki-laki seperti dia tidak terpancing oleh perempuan yang manis. Mereka terpancing oleh perempuan yang menantang.” Bella terdiam. Dadanya berdebar tak menentu—antara takut dan penasaran. Entah kenapa, rencana kotor yang semula terasa mustahil itu, kini berubah menjadi kemungkinan yang sulit diabaikan. Dan Bella sadar, begitu dirinya terjerumus … tak akan ada jalan kembali.Kriettt ... Suara derit engsel pintu kayu yang tua itu memecah kesunyian malam di tengah perkebunan. Dengan hati-hati, Bella mendorong daun pintu yang tidak terkunci itu, meraba dinding bilik kayu yang kasar untuk mencari saklar lampu gantung. Begitu jarinya menemukan tombol plastik kecil dan menekannya, pijar lampu kuning hangat langsung menerangi seluruh isi ruangan yang sempit itu. Bella mengerjap, lalu terperanjat hebat hingga napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya nyaris copot dari tempatnya. Di sudut ruangan, tepat di atas ranjang kayu kecil berbalut tikar pandan, sosok pria tengah duduk dengan sangat santai. Juna melipat kedua tangannya di dada, mengenakan kaus polos hitam dan celana bahan kasual. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang luar biasa menyebalkan, tapi sukses membuat perut Bella mendadak mulas. "Sudah puas bermain-main sendiri, istri nakal?" suara bariton Juna mengalun rendah, memecah keheningan malam dengan nada penuh intimidasi terselubung. Bella
"Membangun rumah? Di sini, di desa?" tanya Brenda tak percaya, matanya membelalak lebar. "Bella, kamu tidak sedang bercanda, kan? Kamu, seorang direktur perusahaan besar dan istri dari CEO The Raden Group, mau tinggal di desa kecil seperti ini?" "Bella serius, Bu," jawab Bella mantap, sorot matanya menyiratkan ketulusan yang mendalam. "Kemarin malam, Uttari menangis sejadi-jadinya. Dia bilang kalau orang tuanya tidak punya waktu untuk mereka. Bella sadar, selama ini kita terlalu sibuk mengejar kesempurnaan dunia luar sampai mengabaikan kebahagiaan anak-anak yang sesungguhnya." Arnold terdiam, menatap putrinya dengan pandangan penuh bangga sekaligus haru. Pria paruh baya itu mengelus jenggot tipisnya, lalu tersenyum tipis. "Suamimu, Juna ... apakah dia tahu rencana sebesar ini? Kamu tahu sendiri suamimu itu punya andil besar di perusahaan dan sangat terikat dengan ritme kehidupan dikota besar." Bella mendengus pelan, mengingat perdebatan sengit mereka semalam sebelum ia nekat kab
"Masuki aku, Sayang ... sekarang!" rintih Bella dengan suara serak yang sangat menggoda. Sembari mengucapkan kalimat itu, Bella dengan berani menarik kedua lututnya ke atas, membuka lebar-lebar paha dan liang hangatnya yang masih berkedut sensitif. Juna tidak perlu diminta dua kali. Pria itu menegang sempurna, urat-urat di leher dan lengannya menonjol akibat gairah yang sudah berada di ubun-ubun. Dengan satu gerakan posesif, Juna memosisikan dirinya di antara kedua paha istrinya, mengarahkan tongkat kebanggaannya yang sudah mengeras maksimal tepat di bibir liang yang menganga pasrah. Jlesss... Tanpa ragu dan dalam satu hentakan yang dalam, Juna langsung memasukkan seluruh miliknya, menghujam hingga ke dasar rahim Bella. Penyusupan yang begitu mendadak dan padat itu seketika menyumbat jalan keluar cairan di dalam sana. Akibatnya, cairan percintaan yang tadinya mengalir deras langsung muncrat ke sekeliling sprei. "AAAHHH!" jerit Bella tertahan, matanya terbelalak sesaat seb
"Apa? Pindah ke desa?!" pekik Juna, nada suaranya meninggi setengah oktaf karena terkejut. Juna yang sedang berbaring sambil santai diatas ranjang, menegakkan duduknya. Ia menatap sang istri seolah Bella baru saja menyarankan mereka untuk pindah ke planet Mars. "Iya. Aku serius," jawab Bella dengan suara mantap, meski sorot matanya menyiratkan beban pikiran yang berat. "Aku berencana memboyong Danendra dan Uttari tinggal di desa untuk sementara waktu. Kasihan Uttari ...," Juna mendengus tidak percaya, menatap tajam ke arah istrinya. "Desa mana maksudmu, Bella? Wirata? Kamu mau bawa anak-anak ninggalin Arkapa? Kamu sadar nggak apa yang kamu omongin? Perusahaan logistik global sedang ekspansi besar-besaran, posisiku sebagai CEO dan posisimu sebagai Direktur Rantai Pasok dibutuhkan di kantor pusat!" "Kantor pusat, kantor pusat terus!" potong Bella, emosinya yang sejak tadi ditahan akhirnya ikut terpancing. Ia bangkit dari tepian ranjang, berdiri tegak menghadapi suaminya. "Asal kamu
Sore mulai bergeser menuju malam ketika mobil yang membawa Bella akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Raden. Rumah besar itu masih sama seperti biasanya. Megah, tenang, dan terlalu luas untuk disebut sekadar rumah. Begitu Bella turun dari mobil, ia langsung menyerahkan tasnya kepada seorang pelayan yang sudah siap siaga menunggu di depan pintu. Ia baru saja melangkah beberapa meter ketika suara tangisan terdengar dari dalam rumah. “Mamaaa!” Dari arah ruang keluarga, seorang anak perempuan kecil berlari ke arahnya dengan rambut ikal yang tergerai berantakan. Rambut itu sangat mirip dengan rambut Bella ketika masih kecil. “Uttari?” Bella langsung berjongkok melebarkan tangan, menyambut pelukan hangat dari anak keduanya itu. Isak tangis kecil langsung meredam begitu wajah basah Uttari menelusup ke ceruk leher sang ibu. "Ada apa, sayang? Kenapa nangis hmm?" tanya Bella lembut, mengusap punggung kecil putrinya dengan penuh kasih sayang. Belum sempat Uttari menjawab,
Deru halus mesin Rolls-Royce Phantom hitam berhenti tepat di depan lobby utama hotel bintang tujuh paling eksklusif di jantung ibu kota. Seorang petugas valet segera berlari menghampiri dan membukakan pintu, menyambut kedatangan salah satu wanita paling berpengaruh di lingkaran bisnis Jakarta."Selamat datang, nyonya Raden," ucap sopan penuh hormat, seorang petugas."Selamat pagi, Nyonya Besar. Suatu kehormatan besar bagi kami dapat menyambut Anda kembali di hotel ini," ucap sang General Manager membungkuk hormat, memberikan gestur mempersilakan dengan tangan terbuka.Bella turun dengan gaya anggun. Gaun tweed pastel rancangan Chanel membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara kacamata hitam besar bertabur permata menutupi sebagian wajahnya yang dipoles tanpa cela. Bella mengangguk, senyum penuh wibawa terukir di bibirnya. Langkah kakinya yang mengenakan stiletto Jimmy Choo berketukan anggun di atas lantai marmer putih bersih, meninggalkan jejak aura kekuasaan yang membuat setiap p
Setan apa yang membuatku mengatakan itu?Junaidi mengumpat dalam hati.Ia hanya ingin melihat pipi Bella memerah—sekilas saja, tanda bahwa gadis itu tak selalu sedingin nada bicaranya. Sialnya, yang ia dapat justru tatapan melotot penuh amarah.Bella pantas marah. Pria macam apa yang berani melonta
"Ya Tuhan, apakah kau pernah melihat pria setampan dan segagah itu?”Bisikan kagum itu mengalir dari bibir ke bibir beberapa gadis, janda, dan emak-emak desa yang berkumpul di tepi lahan perkebunan Hartman.Berbondong-bondong mereka membawa rantang dan air minum, mata mereka tak lepas dari seorang
“Juna! Buka pintunya!”DOK! DOK! DOK!Juna dan Ray saling berpandangan tanpa suara, kepanikan jelas terbaca di mata masing-masing. Setiap ketukan Di pintu terdengar seperti hitungan mundur—penanda bahwa waktu mereka kian menipis.“Buat apa dia datang malam-malam begini …,” gumam Juna panik, sambil
“Aku sungguh tidak paham,” ujar Arnold sambil menatap surat di tangannya, “Kenapa Pak Bambang bersikeras agar aku menyembunyikanmu di perkebunan ini.” Ia duduk di balik meja kerjanya, sorot matanya serius.Surat yang ditangannya itu berasal dari mantan mandor kepercayaannya—puluhan tahun mengabdi,







