Mag-log inBella melangkah masuk ke dalam rumah mungil yang kini menjadi tempat peraduan barunya. Begitu pintu kayu di depannya tertutup, ia mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa haru yang masih tertinggal akibat segelas jus jeruk di kafe tadi.Ia menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan. Rumah ini memang sederhana, mungil, dan minimalis dengan dominasi unsur kayu yang hangat.Namun, semakin lama Bella tinggal di sini, semakin banyak hal yang membuatnya terheran-heran. Juna bilang rumah ini hanya rumah sewaan biasa di pesisir, tapi kenyataannya, tempat ini lebih mirip rumah masa depan yang disamarkan.Bella mendekati pintu depan dan menyentuh gagang pintunya. Pintu dengan kunci otomatis itu mengunci sendiri dengan bunyi klik yang halus, hanya dengan sekali sentuh."Juna bilang dia menyewa rumah murah, tapi mana ada rumah nelayan yang lampunya menyala otomatis saat aku melangkah masuk?" gumam Bella pelan.Ia berjalan ke arah dapur. Di sana, berjajar peralatan yang bahkan jarang ia t
Aroma roti panggang yang harum memenuhi udara kafe, Annie meletakkan piring porselen putih di depan Bella. Di atasnya, tersaji Sandwich Salmon dengan potongan daging ikan yang segar, sayuran organik yang renyah, dan saus krim yang tampak sangat menggugah selera.Di sampingnya, segelas susu almond hangat dengan taburan kayu manis mengeluarkan aroma yang menenangkan."Silakan dinikmati, Nyonya. Ini menu spesial 'Permintaan Maaf' dari kami," ucap Annie dengan senyum ramah yang sempurna.Bella menyesap susu almondnya lebih dulu, lalu menggigit sandwich tersebut. Matanya seketika terpejam. Tekstur salmonnya begitu lembut, menyatu dengan bumbu yang kaya rasa rempah namun tidak membuat mual."Ini sandwich paling enak yang pernah kumakan ...," gumam Bella takjub. "Bagaimana bisa rasanya seenak ini? Rasanya luar biasa."Annie tersenyum simpul sambil merapikan letak sendok di meja."Tentu saja enak. Yang memasaknya adalah Chef kepala dari hotel bintang lima yang sengaja diculik Tuan Juna ke dap
"Jangan terlalu banyak pikiran ya, Nyonya Bella. Di trimester pertama ini, ketenangan batin sang ibu adalah kunci utama bagi si kecil," ujar dr. Sarah lembut sembari mematikan layar monitor USG yang baru saja menampilkan titik kecil kehidupan di rahim Bella.Dua suster yang berdiri di sampingnya tersenyum ramah, salah satunya menyerahkan tisu dengan gerakan yang sangat sopan untuk membersihkan sisa gel di perut Bella."Tapi Dok, akhir-akhir ini nafsu makan saya agak aneh. Kadang mau sekali makan ikan bakar pedas, tapi setelah mencium baunya, saya malah mual," keluh Bella sambil merapikan pakaiannya.Dokter Sarah tertawa, suara khas wanita paruh baya yang sudah makan asam garam di dunia medis. "Itu namanya dinamika hormon, Sayang. Tubuhmu sedang menyesuaikan diri untuk menjaga calon pewaris ... eh! Maksud saya, calon bayi Anda. Makanlah dalam porsi kecil tapi sering. Dan karena kita berada di Pandawa, manfaatkan udara laut pagi hari untuk berjalan santai ditepi pantai. Itu bagus untuk
Setelah menempuh perjalanan panjang selama lima jam, pemandangan di balik jendela SUV itu mulai berubah. Mereka resmi memasuki kawasan Kota Pandawa.Kota ini tidak kalah megah dari ibu kota Arkapa, tapi memiliki jiwa yang berbeda. Jika Arkapa adalah hutan beton yang dingin dengan pusat bisnis internasional, Pandawa adalah perpaduan eksotis antara kemajuan zaman dan keajaiban alam.Pantai yang membentang luas, hutan yang rimbun, hingga deretan pegunungan dan sawah hijau menjadi pemandangan yang menyegarkan mata.Hari ini adalah pertama kalinya Bella menginjakkan kaki di Pandawa, kota yang sering ia dengar namanya sebagai destinasi liburan impian bagi wisatawan mancanegara."Hidup baruku bersama Juna akan dimulai di sini," batin Bella sambil mengusap lembut perutnya yang masih rata. Ada secercah harapan yang tumbuh di tengah rasa bimbang yang menyelimutinya.Tak lama kemudian, Ray membelokkan kemudi memasuki sebuah kawasan perumahan yang sangat elit.Bella terpaku. Ini bukan sekadar per
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di balik celah gorden 'Presidential Suite', menyentuh bahu polos Bella yang hanya tertutup separuh oleh selimut sutera.Di atas ranjang yang masih berantakan dengan sisa-basi kelopak mawar semalam, Bella duduk terdiam. Tubuhnya yang tanpa busana di balik balutan kain halus itu terasa dingin, kontras dengan hangatnya mentari yang mulai naik.Ia menatap cakrawala Kota Arkapa yang mulai sibuk, tetapi tatapan matanya kosong. Perlahan, sesak yang sedari tadi ia tahan sejak kemarin, mulai membuncah. Bayangan wajah ayahnya yang tegas dan senyum ibunya tiba-tiba melintas, membuat ulu hatinya terasa seperti diremas.Satu tetes air mata jatuh, disusul isakan kecil yang makin lama makin dalam.Juna terbangun karena merasakan getaran di atas kasur dan suara tangis yang tertahan. Ia membuka mata, melihat punggung cantik istrinya yang bergetar.Dengan sigap, Juna bangkit dan memeluk Bella dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Bella sambil menarik seli
Selesai dari catatan sipil dan pemberkatan, Juna membawa Bella menuju sebuah hotel mewah yang letaknya di atas bukit. Dari ketinggian itu, kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit di ibukota Arkapa tampak seperti hamparan permata yang tumpah di atas beludru hitam.Begitu mobil berhenti di depan lobi, langkah Bella mendadak kaku. Ia menatap pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi dan lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit lobi. Desainnya, aromanya, bahkan suasana megahnya terasa begitu familier di ingatannya."Ada apa, Sayang? Kamu merasa tidak enak badan lagi?" tanya Juna lembut, merangkul pinggang Bella untuk menopang tubuhnya yang tampak goyah.Bella menoleh ke arah Juna dengan tatapan sangsi. "Hmm ... Juna, apakah kita salah masuk hotel?"Juna terkekeh, "Tentu saja tidak. Kenapa?""Tapi hotel ini ... maksudku, ini terlalu mewah. Desainnya hampir mirip dengan hotel yang didatangi Ayah dan Ibu saat pesta topeng dulu," bisik Bella cemas, ia melirik pakaian mereka y







