LOGIN"Ahhh! Juna, pelan ... ahh!" Bella memekik, tangannya meraba-raba batang pohon di depannya untuk mencari pegangan saat Juna mulai bergerak dengan ritme yang lebih liar dan cepat.Juna meraih kedua lengan Bella, menariknya ke belakang dengan kuat hingga dada Bella semakin membusung menekan batang pohon yang kasar. Menjadikan lengan Bella layaknya tali kekang kuda yang memberi Juna kendali penuh atas setiap gerak tubuh Bella."Juna ... ahh, enak ... nikmat," rancau Bella.Juna semakin menarik lengan Bella, memaksa pinggul gadis itu semakin menonjol ke belakang sementara ia kembali menghujamkan miliknya dengan ritme yang lebih bertenaga.Jleb! Jleb!Suara benturan kulit mereka terdengar semakin intens di bawah naungan pohon beringin yang sunyi.Bella tidak lagi bisa menahan suaranya, ia memekik sebebas-bebasnya, membiarkan rintihannya memenuhi udara di siang itu. Dirinya benar-benar dijinakkan, tunduk sepenuhnya pada Juna."J-juna ... aku ... tak bisa menahan lagi ... ahh!" Bella memekik
Suasana di bawah beringin tua itu mendadak pengap oleh ketegangan yang panas. Juna tidak memberikan ruang bagi Bella untuk berpikir, apalagi protes. Dengan satu gerakan mantap, ia berlutut. Tanah lembap di bawah mereka seolah ikut bergetar saat Juna menarik kaki kanan Bella, mengangkatnya tinggi hingga bertumpu di bahu kokohnya."Juna ... jangan di sini, nanti kalau ada yang—" Kalimat Bella terputus menjadi pekikan tertahan saat punggungnya menabrak kasar kulit pohon yang kasar."Nikmati saja, Sayang," bisik Juna, suaranya parau penuh tuntutan.Juna menatap lekat pusat diri Bella yang kini terekspos sepenuhnya di depan matanya. Jemari Juna yang panjang mulai bergerak perlahan, membelah lipatan halus di sana, menciptakan celah yang mengundang sensasi panas."Dingin ya?" gumam Juna, nafas panasnya menyapu kulit sensitif Bella hingga gadis itu merinding hebat.Lalu, serangan itu dimulai.Bukan dengan terburu-buru, melainkan dengan ritme yang menyiksa. Lidah Juna yang basah mendarat di sa
Juna membelah permukaan air yang tenang dengan gerakan yang efisien dan kuat. Ia menyelam ke dasar, berenang melintasi danau kecil itu dua kali putaran tanpa jeda, hanya sesekali muncul ke permukaan untuk meraup udara sebelum kembali hilang di balik riak air.Bagi Juna, danau ini adalah ruang pribadinya; tempat ia menempa tubuhnya agar tetap atletis dan bertenaga, jauh dari kebisingan kota yang ia tinggalkan.Ia kembali mengambil napas dalam, lalu memaksakan diri menyelam lebih dalam. Targetnya kali ini adalah melintasi lebar danau sebanyak tiga kali dalam satu tarikan napas. Namun, di tengah lintasan terakhir, paru-parunya mulai memprotes. Juna akhirnya menyerah dan menyentak tubuhnya ke atas.Saat kepalanya memecah permukaan tepat di tengah danau, ia mengibaskan rambutnya yang basah kuyup, membiarkan butiran air terkibas dari matanya. Namun, saat penglihatannya kembali jernih, sosok yang berdiri di kejauhan membuatnya meragukan matanya sendiri.Di sana, di tepian danau yang sunyi, B
Ibukota Arkapa.Di sebuah restoran privat paling eksklusif di jantung ibu kota, udara terasa dingin dan penuh tekanan. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan cahaya ke meja makan berlapis linen putih. Namun kemewahan itu sama sekali tidak mampu meredakan kegugupan Arnold dan Brenda.Keduanya duduk tegak, hampir terlalu tegak, seakan takut salah bergerak. Napas mereka tertahan ketika menatap dua sosok yang duduk di seberang meja.Di sana hadir Yudistira Raden—kepala keluarga Raden yang namanya disegani di seluruh negeri. Usianya memang tak lagi muda, rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih setajam elang pemburu. Di sisinya duduk Citra Dewi, putrinya, wanita elegan yang selama bertahun-tahun disebut sebagai lambang kecantikan.Yudistira meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu membuka percakapan.“Jadi ...,” suaranya rendah, berat, dan sarat wibawa. “Cucu kesayanganku, Juna, sudah melaporkan keadaan perkebunan kalian.”Arnold refleks menelan ludah. Jem
"Ahh ... enak ... ahh! Terus, Juna! Jangan berhenti!" lenguh Bella dahsyat, suaranya bersahutan dengan deru air terjun.Bella benar-benar kehilangan kendali, bergelantungan erat di tubuh Juna layaknya seekor koala yang tidak mau lepas dari batang pohon yang membuatnya nyaman. Kedua kakinya melingkar kuat di pinggang kekar Juna, sementara tangannya mencengkeram bahu pria itu, agar tak jatuh.Juna tidak memberi ampun. Dengan tumpuan kaki yang kokoh, ia terus menghujamkan pinggulnya, bergerak penuh tenaga dari bawah ke atas. Setiap sentakan yang diberikan Juna terasa begitu telak dan dalam.Bercinta dengan posisi berdiri dan tubuh yang terangkat membuat gravitasi bekerja sepenuhnya. Milik Juna terjepit lebih erat oleh otot-otot Bella, memungkinkan pria itu menghunjam hingga mentok menyentuh dinding rahim. Rasa sesak yang nikmat itu membuat Bella merasa seolah tubuhnya sedang dibelah dari dalam. "Ahh ... ini terlalu, da–lam!""Milikmu ... menjepit milikku dengan sangat kencang, Bella,"
Cahaya matahari siang menembus celah-celah pepohonan, menciptakan pendar keemasan di atas permukaan air yang jernih. Bella perlahan melepaskan pakaiannya, lalu melilitkan kain jarik tipis di tubuhnya yang elok sebelum melangkah masuk ke dalam air."Airnya dingin sekali!" pekik Bella sambil merapatkan lengannya ke dada, merasakan dinginnya air pegunungan hingga menusuk kulit.Juna, yang sudah lebih dulu berada di dalam air tanpa mengenakan atasan, menatap Bella tanpa berkedip. Air yang membasahi tubuh tegapnya membuat otot-otot Juna terlihat semakin tegas di bawah sinar mentari."Kau terlihat seperti bidadari yang baru saja turun dari kayangan untuk mandi di bumi," gumam Juna dengan suara rendah penuh godaan.Bella terkekeh, meski pipinya merona hebat. Ia mencoba memercikkan air ke arah Juna dengan genit. "Kalau aku bidadari, lalu kau siapa? Apa kau Jaka Tarub yang mencuri selendangku?" tanya Bella bercanda."Aku bukan Jaka Tarub yang licik, Bella," bisik Juna sambil menarik tubuh Bell







