LOGIN"Bu," suara Juna memecah kesunyian saat perjalanan menuju gedung kantor. "Sampai kapan Ibu akan membiarkan Wisnu terus-terusan menginjak harga diri kita? Aku lihat dia semakin berani, bersikap seenaknya di depan kakek." Citra Dewi menoleh perlahan ke arah jendela, menatap pemandangan kota yang melintas cepat. "Apa maksudmu, Arjuna?" "Ibu tahu maksudku," Juna mencengkeram kemudi lebih erat. "Hubungan Ibu dan Wisnu ... itu tidak sehat. Mengapa Ibu masih bertahan dengannya? Jika Ibu merasa tertekan, aku sudah ditunjuk sebagai pewaris, aku bisa membantu mengurus semuanya. Kita tidak perlu lagi tunduk pada orang seperti dia." Citra Dewi menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti beban bertahun-tahun yang tertahan. Ia memejamkan mata sejenak sebelum menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Arjuna, hidup Ibu tidak sesederhana itu," ucap Citra Dewi pelan. "Kamu tahu bukan, masa-masa sulit saat perusahaan The Raden yang hampir saja dinyatakan bangkrut? Sa
"Ahhh ... Paman ... lebihhh dalam ... ahh!" rintih Beatrice dengan mata yang terpejam erat, menyerahkan seluruh tubuhnya pada ritme panas yang diciptakan oleh pria paruh baya itu. Mendengar rintihan yang begitu pasrah, Wisnu menggeram rendah. Untuk semakin memperdalam sentuhannya, ia menyusupkan satu tangannya ke bawah lutut Beatrice, lalu mengangkat satu kaki wanita itu tinggi-tinggi hingga bersandar di bahunya. Posisi yang semakin terbuka lebar itu membuat Wisnu leluasa melakukan hentakan yang jauh lebih dalam, menembus langsung ke pusat kehangatan Beatrice yang paling sensitif. "Milikmu sangat menjepit," ucap Wisnu terengah-engah. Hentakan yang semakin dalam dan cepat itu membuat Beatrice memekik keras, tangannya mencakar punggung Wisnu saat sensasi penuh yang mendesak di dalam dirinya membawa mereka berdua semakin dekat menuju puncak pelepasan yang tak tertahankan. Beatrice bisa merasakan otot-otot di lengan Wisnu menegang hebat, bahkan gemetar karena usaha pria itu men
Wisnu terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat dingin dan penuh kuasa. Tanpa peringatan lebih lanjut, ia mencengkeram bahu Beatrice dan mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh telentang di atas sofa beludru mewah yang terletak di sudut ruang kerja. Beatrice tersentak, rambutnya yang tergerai berantakan di atas bantalan sofa yang lembut. Alih-alih takut, ia justru menatap Wisnu dengan pandangan mata yang semakin berani dan menantang, membiarkan gaun tidur satin merah itu semakin tersingkap tinggi mengekspos paha dan lekuk tubuhnya. Wisnu berdiri tegap di tepi sofa, bersedekap dada sambil menatap ke bawah. Sepasang matanya yang haus akan gairah yang lama terpendam kini mengunci sosok Beatrice yang hampir telanjang bulat. "Mainkan milikmu di depanku," perintah Wisnu dengan nada suara yang berat, tidak menerima bantahan. Beatrice terkekeh manja, ia justru sengaja membuka kedua pahanya lebar-lebar di atas sofa beludru, mengekspos segalanya dengan begitu berani ke hadapan p
Cekrek.Beatrice menutup pintu. Sambil tersenyum licik, ia berjalan mendekati pria yang masih sibuk membelakanginya itu. Tanpa ragu lagi, Beatrice langsung menghambur maju dan memeluk erat punggung tegap itu dari belakang. Ia menempelkan dadanya yang sintal dengan sengaja, meraba bidang punggung yang kokoh itu di balik kain piyama. "Sayang ... sudah lama aku menginginkanmu," bisik Beatrice dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesah manja dan serak basah tepat di tengkuknya. Kedua tangan Beatrice tidak tinggal diam. Dengan gerakan yang sangat lancang dan berani, jemarinya perlahan turun, mengusap perut pria itu lalu meraba turun ke bawah hingga menyentuh bagian pangkal paha. Namun, di luar dugaan Beatrice, tubuh pria itu mendadak menegang kaku seperti batu. Sentuhan lembut Beatrice tidak disambut dengan belaian balik, melainkan sebuah cengkeraman yang luar biasa kasar dan kuat pada kedua pergelangan tangannya. Srett! Pria itu menyentakkan tangan Beatrice dengan sangat
Suasana di meja makan yang megah itu mendadak berubah menjadi sangat kaku dan dingin setelah Wisnu bergabung. Bunyi dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring, memecah keheningan yang mencekam. Kakek Yudhistira makan dengan wajah datar tanpa ekspresi, sementara Citra Dewi hanya mengaduk-aduk makanannya dengan pandangan kosong. Juna sendiri fokus menyuapi Danendra yang duduk di kursi khusus balita di sampingnya, sama sekali tidak sudi melirik ke arah Wisnu. Beatrice, yang duduk di sebelah Bella, memperhatikan interaksi dingin itu dengan mata yang bergerak lincah. Rasa penasarannya sudah di ujung tanduk. Mengabaikan ketegangan yang ada, ia sedikit condong ke arah Bella lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan. "Siapa paman itu?" tanya Beatrice, matanya melirik sekilas ke arah Wisnu yang duduk di ujung meja. Bella agak ragu untuk menjawab. Tenggorokannya terasa tercekat melihat aura permusuhan di meja makan ini. Ia menelan ludahnya
Di saat suasana sedang tegang-tegangnya dan Beatrice masih menangis meraung-raung, Citra Dewi tiba-tiba melangkah maju. Beliau berjalan mendekati kakek Yudhistira, lalu mengusap lengan ayahnya itu dengan lembut untuk menenangkan. "Sudahlah, Ayah ... jangan sedih dan marah-marah. Tidak baik untuk kesehatan Ayah," ucap Citra Dewi dengan nada suara yang sangat tenang dan menyejukkan. Kemudian ia menoleh menatap Bella dengan senyuman hangat. "Aku tahu betul bagaimana Bella. Anak ini tidak mungkin sejahat atau seceroboh itu sampai meracuni tanaman kesayangan Ayah." Mendengar pembelaan dari anak perempuannya, sisa-sisa amarah di wajah Kakek Yudhistira sedikit mereda, meski bibirnya masih cemberut karena kehilangan anggrek kesayangannya. Citra Dewi kembali membujuk sang ayah dengan senyuman manis. "Nanti kita beli lagi saja Anggrek Hitam yang baru. Bahkan, Citra sudah memesan tanaman langka lain dari Amazon untuk dihadiahkan kepada Ayah sebagai gantinya. Ayah pasti suka."Seketika it







