Share

104. Takut Kehilangan

last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-22 19:00:28

Raven berdiri di depan jendela besar. Menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca. Di luar, langit sudah berubah gelap.

Kedua tangan Raven tersembunyi di saku celana dengan rahang mengeras.

Percakapannya dengan Sera tadi terus memenuhi pikirannya.

Raut muka Sera yang tiba-tiba berubah sendu dengan sorot mata terluka saat pergi, membuat dada Raven terasa sesak dan nyeri.

Memang benar, Sera dan kedua adiknya berada di resort ini karena skenario yang Raven ciptakan.

Raven ingin memberikan kemewahan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Nur Lila
ka ko blm update?
goodnovel comment avatar
fauziah Zie
gak ada update ka ocha?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 4

    “Biar aku yang memakaikan baju mereka. Kamu duduk saja,” ucap Raven lembut sambil memegangi bahu Sera dan mendudukkannya di tepian ranjang.Sera tidak menolak. Dia selalu merasa senang setiap kali Raven mengambil alih tugasnya.“Louis pakai yang biru ya, Mas. Leon yang putih.”Raven mengangguk. “Aku tahu.”Lalu pria itu menundukkan badan di hadapan kedua bayinya yang baru selesai dimandikan. Raven mengambil popok terlebih dulu.Sera hanya duduk sambil memperhatikan pemandangan di hadapannya yang membuat hatinya terasa penuh. Dia melihat Raven yang begitu hati-hati dan lembut saat memakaikan pakaian di tubuh Louise.Wajah Raven tampak serius. Namun sorot matanya terlihat lembut dan hangat.Tapi ada yang aneh. Sera mengerutkan keningnya. Lalu detik berikutnya Sera mengulum senyum.“Mas?”“Hm?” sahut Raven yang tetap fokus pada bayinya.“Mas salah pasang popoknya,” ucap Sera sambil terkekeh geli.Kening Raven berkerut dan tangannya berhenti bergerak. “Tidak. Aku benar,” timpalnya dengan

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 3

    “Mas, jangan ganggu mereka terus,” tegur Sera setengah berbisik.Namun Raven tidak menghiraukannya. Raven tetap memandangi kedua bayinya yang terlelap sambil menekan-nekan lembut pipi tembem atau sesekali mencolek hidung mancung mereka.Seolah-olah Raven ingin meyakinkan diri bahwa dua bayi mungil di hadapannya itu nyata. Bukan hanya sekadar ilusi.Padahal ini sudah hari ke delapan bayi kembar itu lahir ke dunia. Tapi Raven masih belum percaya bahwa kini dia benar-benar sudah menjadi seorang ayah.“Sayang,” ucap Raven pelan seraya mengambil selembar foto seorang bayi yang sejak tadi terletak di samping bayi kembar itu.Sera yang sedang bersandar di headboard ranjang sambil makan buah, menoleh. “Kenapa, Mas?”“Louis dan Leon benar-benar mirip aku.” Raven mendekat dan menunjukkan foto tersebut pada Sera. “Saat aku melihat mereka, aku seperti melihat diri sendiri waktu masih bayi.”Sera menatap foto Raven ketika masih bayi–yang sebenarnya sudah sering dia lihat sejak Raven menunjukkannya

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 2

    Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar dan berkata, “Suaminya boleh masuk seka… rang”Raven langsung masuk tanpa menunggu kalimat perawat itu selesai. Dia membeku saat melihat Sera terbaring di ranjang pasien dengan napas terengah.Ketika melihat Raven, Sera seketika membulatkan matanya. “Mas?”Raven bergegas menghampiri Sera. “Kenapa kamu tidak menelponku?” tanyanya dengan wajah tegang, tapi suaranya tetap terdengar lembut.“Aku nggak mau mengganggu rapat Mas Raven.”“Kamu pikir rapat jauh lebih penting daripada kamu?”Sera tertegun. Tapi belum sempat dia menanggapi, gelombang rasa nyeri itu kembali menyerangnya. Sera meringis dan mencengkeram sprei kuat-kuat.Raven semakin menegang. “Apa yang terjadi?” Dia menatap perawat dengan ekspresi panik yang tidak disembunyikan.Perawat itu tersenyum sabar. “Itu kontraksi, Pak.”“Saya tahu itu kontraksi,” timpal Raven cepat. “Tapi kenapa dia sampai kesakitan seperti itu?”Sera masih menahan nyeri sambil tetap meringis. “Mas… kontraks

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 1

    Sera meringis, menahan rasa nyeri di perutnya yang datang secara berkala. Perutnya mengeras seperti batu, membuatnya harus menahan napas beberapa detik sampai gelombang nyeri itu perlahan mereda.Sera menghela napas panjang, lalu tangannya terulur berusaha meraih ponsel dari atas meja. Tapi dia terlalu sulit menjangkaunya.Ratna yang sedang melintas menuju dapur, terkejut melihat pemandangan tersebut.Cepat-cepat Ratna mendekat dan membantu mengambilkan ponsel untuk Sera.“Bagaimana sekarang? Perutnya sakit lagi?” tanya Ratna dengan tatapan khawatir.“Iya, Mbak. Makin ke sini nyerinya makin sering. Tadi pagi sekitar tiga puluh menit sekali. Sekarang hampir tiap sepuluh menit.”Mata Ratna melebar. “Sera, sepertinya kamu benar-benar akan melahirkan. Lebih baik ke dokter sekarang. Saya antar kamu.”Sera mengerutkan keningnya, bingung. “Tapi kata dokter, hari perkiraan lahirnya minggu depan, Mbak.”“Itu ‘kan cuma perkiraan, bukan tanggal pasti. Kadang HPL itu suka meleset.” Ratna tampak c

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   270. Ending

    “Kamu gugup?” tanya Raven lembut seraya menatap Sera dengan lekat.Sera mengangguk. Menatap pintu yang menjulang tinggi di hadapannya dengan perasaan tak menentu. Jari-jari tangannya terasa dingin.Berbagai pikiran negatif kini memenuhi benak Sera.Bagaimana jika orang-orang di dalam sana menghujatnya, melemparinya, dan menganggap dirinya sebagai wanita murahan?Sera masih ingat dengan jelas bagaimana dunia menyudutkannya di masa lalu.“Sayang,” panggil Raven seraya meremas tangan Sera dengan lembut, membuat Sera seketika keluar dari lamunannya. “Apa perlu kita kembali ke kamar?”Sontak Sera mendongak, menatap Raven gamang. “Acaranya akan segera dimulai,” gumamnya.Raven menggeleng pelan. “Kita bisa menundanya kalau kamu belum siap.”Selalu seperti itu. Raven selalu mengedepankan kenyamanan Sera. Hati Sera terenyuh. Dia tidak ingin membuat Raven kecewa.“Nggak, Mas.” Sera balas menggenggam tangan Raven erat. Menghela napas berat. “Kita masuk saja sekarang.”“Kamu yakin?” Raven menatap

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   269. Pesta Pernikahan

    Sera menatap pantulan dirinya di cermin. Terpana. Dia seolah tidak mengenali diri sendiri.Tubuhnya kini dibalut gaun pengantin putih berbentuk putri duyung. Bagian atas hingga pinggang dan pinggul dibuat ketat mengikuti lekuk tubuh. Lalu melebar mulai dari lutut ke bawah hingga membentuk ekor yang menjuntai di lantai.Bahunya berbentuk off shoulder, sehingga leher dan bahunya terbuka. Mahkota kecil menghiasi kepalanya. Rambutnya terurai bergelombang. Sementara veil tipis menjuntai jatuh ke belakang punggung.“Aku benar-benar nggak percaya kalau wanita di depanku ini adalah diriku,” gumam Sera.Seorang wanita yang sedang memasang sarung tangan tipis di tangan Sera, seketika terkekeh kecil. “Bu Sera terlihat cantik sekali.”Sera tersenyum kecil mendengar pujian itu. “Semua ini karena tangan ajaib kamu, Mbak. Make up-nya benar-benar bagus. Aku hampir nggak mengenali diriku sendiri.”“Pada dasarnya Bu Sera-nya yang sudah cantik.” Wanita itu tersenyum bangga. “Saya cuma perlu memoles sedi

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   37. Teguran Raven

    “Mi, sudahlah. Dia pasti tidak sengaja,” ucap Arga. Berusaha menenangkan istrinya. “Pi, Papi tahu ‘kan kalau firasat Mami itu nggak pernah salah. Sejak lihat wanita ini firasat Mami nggak enak. Ternyata benar, bekerja saja dia gak becus.” “Mami….” Kini Celine yang menenangkan Puspa. Celine meliri

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   41. Hilang Kesabaran

    “Seluruh vendor sudah dihubungi, Pak. Lighting, catering dan musik tinggal konfirmasi akhir. Persiapan sudah sembilan puluh persen,” ujar David yang tengah berdiri di hadapan Raven. Dia menjeda ucapannya, menunggu tanggapan dari sang CEO. Namun, Raven tidak memberi respons apa pun. Pria itu hanya

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   18. Datang Sesuka Hati

    “Sera!” Sera yang akan memasuki gerbang rumah Raven seketika menghentikan langkah. Dia berbalik, menatap Bastian yang belum masuk kembali ke dalam mobilnya. “Kenapa, Bastian?” Bastian bersedekap dada. “Sebagai teman yang sudah berteman sejak lima belas tahun yang lalu, rasanya nggak adil kalau a

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   26. Butuh Uang

    Kemeja hitam yang terbentang di atas meja setrika, membuat denyut jantung Sera mendadak cepat.Meski sudah melewati proses pencucian, tetapi parfum pria itu masih menempel di sana.Aroma lembutnya mengingatkan Sera pada malam-malam menggairahkan, sekaligus malam yang menghancurkan hatinya. Sera me

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status