แชร์

110. Kamu Tidak Bersalah

ผู้เขียน: Rosa Uchiyamana
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-25 23:03:22

Raven menyandarkan punggungnya di kursi kerja dengan kelopak mata terpejam.

Dia sulit berkonsentrasi sejak pagi. Setiap kali dia berusaha fokus pada pekerjaan, bayangan wajah Sera terus berlarian dalam benaknya.

Raven masih ingat dengan jelas bagaimana dadanya dipenuhi rasa takut dan khawatir ketika wanita itu hilang di hutan.

Saat itu Raven seolah tidak mengenali dirinya sendiri. Dia kehilangan kendali diri dan tak bisa menyembunyikan ketakutannya.

Ponsel Raven berdering, membuyarkan bayangan wajah Sera dari pikirannya.

Raven perlahan membuka kelopak matanya lalu meraih benda tipis itu dari samping laptop.

Keningnya berkerut samar kala melihat nama kepala keamanan di kediamannya, terpampang di layar.

“Ada apa?” tanya Raven tanpa basa-basi sesaat setelah menerima panggilan tersebut.

“Selamat siang, Pak Raven,” sapa Rio, “saya ingin menyampaikan sebuah kabar buruk. Bu Celine terjatuh di tangga.”

Kerutan di kening Raven semakin dalam mendengar kabar tersebut. Lalu mengembuskan napas ber
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Nur Lila
awas ya raven kalo sampe ga percaya sama sera ...
goodnovel comment avatar
Gita
Ishh selalu begini.
goodnovel comment avatar
fauziah Zie
Gasssss terus biar sera minggat dari Raven,, udh terlalu menyedihkan dia tuh ish
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   147. Pagi Yang Mendebarkan

    “I-Iya, pagi,” sahut Sera sambil menggenggam sprei dengan jari-jari tangannya yang tiba-tiba dingin.Bukan karena udara yang dingin di ruangan itu, tapi karena rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya.Sera merasakan kehangatan tubuh pria itu kini melingkupi punggungnya.“Bagaimana kondisimu sekarang?”“Sudah merasa lebih baik. Sepertinya efeknya sudah benar-benar hilang.”Sera seketika lupa bagaimana caranya bernapas saat Raven menciumi lehernya. Pria itu juga mengeratkan pelukannya, yang membuat Sera merasa sedikit sesak.Tetapi hati Sera terasa tenang dan dia tidak ingin memberontak.Sera selalu tahu apa yang mereka lakukan ini adalah salah, tetapi Sera tak bisa membohongi hatinya sendiri, bahwa dia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama pria itu.“Saya… harus bekerja,” gumam Sera ketika ditampar realita. “Sudah jam sembilan, saya harus cepat-cepat pergi. Tolong lepaskan saya.”Namun, alih-alih mendengarkan permintaan Sera, Raven malah mendekatkan wajahnya ke dekat wajah wanita

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   146. Sisa-Sisa Tadi Malam

    Kamar itu luas dan sunyi. Tetapi kini udara di dalamnya terasa memanas, sesak oleh gairah yang tak terucap.“Aaahhh… Pak Raven….”Sera semakin tak bisa menahan bibirnya untuk tidak mendesah.Tubuhnya bergetar saat dia merasakan sesuatu yang lembab dan dingin menyapu miliknya di bawah sana, bergerak memutar dengan rakus.Jari-jari lentik Sera terselip di sela-sela rambut Raven, menjambak rambutnya untuk melampiaskan perasaannya di sana.Dia menekan kepala pria itu seolah ingin Raven menguasainya lebih dalam. Kini, lidah itu melesak, lebih dalam dan lebih menggoda.Sera merasakan seluruh tubuhnya lumpuh. Tumit-tumit kakinya bergerak menendang sprei seolah hanya itu satu-satunya cara untuk melampiaskan kenikmatannya.“Pak Raven….”Nama itu terus keluar dari mulut Sera, merdu dan menggoda, terasa seperti cambuk yang membuat Raven semakin terpacu.Hingga beberapa detik berikutnya, rintihan Sera terdengar di kamar itu bersamaan dengan sesuatu yang meledak di dalam dirinya. Dia merasa tak me

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   145. Cara Lain

    Raven menerima satu setel pakaian wanita lengkap, dari David. Tadi Raven memang sempat menyuruh sekretarisnya itu agar membeli pakaian wanita.Raven juga mendapat laporan dari David mengenai pria yang memberi minuman pada Sera di club malam itu.Menurut penyelidikan David, pria itu tidak memiliki motif khusus. Dia hanya tertarik pada Sera. Dan itu membuat amarah Raven semakin besar.“Beri dia pelajaran,” titah Raven, tegas. “Dan buat dia menyesal.”David mengangguk. “Baik,” jawabnya patuh.Raven menutup pintu. Dia kembali ke dalam sambil menenteng paper bag berisi pakaian untuk Sera. Lalu menghampiri kamar yang ditempati wanita itu.Kemungkinan Sera sudah terlelap saat ini, tapi Raven akan tetap meletakkan pakaian itu di dalam. Supaya ketika Sera bangun besok pagi, wanita itu bisa langsung mengenakannya.Raven mendorong pintu hingga terbuka lebar.Seketika itu juga, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Sera berbaring di lantai tanpa sehelai benang pun.“Apa yang

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   144. Menghilangkan Penderitaan Sera

    Sera berusaha bersabar dengan kondisi tubuhnya. Namun, detik demi detik yang berlalu terasa bagai siksaan baginya.Dia bergerak-gerak, mencari posisi duduk yang nyaman. Tetapi dia tidak menemukan kenyamanan dalam posisi apapun.Belum pernah dia merasakan kegelisahan hebat sampai seperti ini.“Tolong,” lirih Sera lagi, berharap pria di sampingnya dapat mengeluarkannya dari penderitaan. “Ini… benar-benar menyiksa.”Raven mencengkeram kemudi dengan erat. Dia tidak ingin melihat Sera menderita lebih lama lagi.Akhirnya, Raven membelokkan kendaraannya ke hotel terdekat. Dia mereservasi sebuah kamar tipe presidential suite. Lalu membawa Sera ke ruangan tersebut.Di dalam lift yang hanya ditumpangi mereka berdua, Raven berdiri tegak dengan raut muka mengeras. Tapi sorot matanya menyiratkan kekhawatiran.Sementara itu, Sera semakin kehilangan kendali atas tubuhnya. Dia terlihat lemas seperti kehilangan tenaga. Napasnya pendek dan tidak teratur.Jemari Sera mencengkeram kemeja Raven, seolah me

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   143. Tersiksa

    “Wanita lain?” Raven mengerutkan keningnya. Lalu dia teringat dengan wanita yang disewanya tadi. “Kamu melihatnya?”“Bapak pikir saya tidak melihatnya?” tanya Sera seraya menatap Raven dengan tatapan kecewa.Sera hendak pergi. Tapi Raven tiba-tiba menarik Sera ke dalam pelukannya, membuat Sera terhenyak.Begitu lengan Raven melingkar di tubuhnya, reaksi tubuh Sera terasa terlalu aneh.Tubuh Sera bergetar, karena sentuhan Raven bagai aliran listrik yang melumpuhkan saraf-saraf di tubuhnya. Napas Sera kian memburu. Detak jantungnya semakin tak karuan.“Wanita itu bukan siapa-siapa,” ucap Raven dengan suara rendah. Dia merasa ingin menjelaskan hal itu pada Sera, agar tidak salah paham.“Saya membayarnya untuk membuat saya lupa padamu,” lanjut Raven, “tapi wanita itu gagal melakukannya. Saya tetap… merindukanmu. Dan malam ini saya berencana pulang ke rumah untuk menemuimu.”Sera seketika tertegun mendengarnya. Dia tahu, Raven bukan tipe pria yang akan mengatakan kalimat omong kosong.Dan

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   142. Reaksi Tubuh yang Berlebihan

    Raven mengembuskan napas kasar. Mungkin itu hanya mirip dengan suara Sera saja, pikirnya.Akhirnya Raven melanjutkan langkahnya lagi, berusaha untuk tidak peduli.“Aku bilang jangan menyentuhku! Lepaskan!” seru wanita itu lagi, yang membuat langkah kaki Raven kembali terhenti.Raven menoleh ke belakang, ke arah sumber suara.Seketika itu juga mata Raven melebar ketika melihat seorang wanita yang sedang digoda oleh seorang pria.Sera.Ya, Raven yakin sekali wanita itu adalah Sera.Tapi kenapa wanita itu ada di tempat seperti ini?Di sana, Sera sedang memberontak, berusaha melepaskan lengannya yang dicengkeram pria itu.Namun pria itu langsung memenjarakan Sera di dinding dan nyaris menciumnya. Sera dengan cepat memalingkan wajah ke arah lain, menghindari sentuhan itu. Pemandangan itu membuat darah di kepala Raven terasa mendidih. Rahangnya seketika berubah mengeras dengan sorot mata yang tajam dan berbahaya.“Mundur,” perintah Raven dengan suara rendah dan dingin, yang membuat Sera da

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status