Share

115. Membencinya

Penulis: Rosa Uchiyamana
last update Tanggal publikasi: 2025-12-28 20:29:40

“Sera, kenapa makanannya nggak dimakan lagi?” Ratna menghela napas pelan melihat makanan di atas nampan masih utuh, tak tersentuh sedikit pun.

“Aku nggak lapar,” gumam Sera, yang tengah duduk memeluk lutut sambil bersandar pada salah satu rak. Tatapannya menerawang jauh.

“Tapi kamu harus makan. Kamu bisa sakit kalau nggak makan,” ujar Ratna, khawatir. “Dari kemarin kamu belum makan sedikit pun.”

Sera tidak menjawab.

Sudah dua hari Sera dikurung di gudang itu, tapi tidak ada satu suap pun makana
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Valenka Lamsiam
raven egoisnya keterlaluan. gak adil rasanya kalo kak ocha ngasih karma yang tanggung² buat raven. raven harus menanggung rasa sakit hati seumur hidupnya. dan sera, kamu jangan lagi mudah luluh oleh sikap baik raven.
goodnovel comment avatar
Nurul Akmar
sikit lagi sera..lps tu pergi jauh² ya sama adik² :,(
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 3

    “Mas, jangan ganggu mereka terus,” tegur Sera setengah berbisik.Namun Raven tidak menghiraukannya. Raven tetap memandangi kedua bayinya yang terlelap sambil menekan-nekan lembut pipi tembem atau sesekali mencolek hidung mancung mereka.Seolah-olah Raven ingin meyakinkan diri bahwa dua bayi mungil di hadapannya itu nyata. Bukan hanya sekadar ilusi.Padahal ini sudah hari ke delapan bayi kembar itu lahir ke dunia. Tapi Raven masih belum percaya bahwa kini dia benar-benar sudah menjadi seorang ayah.“Sayang,” ucap Raven pelan seraya mengambil selembar foto seorang bayi yang sejak tadi terletak di samping bayi kembar itu.Sera yang sedang bersandar di headboard ranjang sambil makan buah, menoleh. “Kenapa, Mas?”“Louis dan Leon benar-benar mirip aku.” Raven mendekat dan menunjukkan foto tersebut pada Sera. “Saat aku melihat mereka, aku seperti melihat diri sendiri waktu masih bayi.”Sera menatap foto Raven ketika masih bayi–yang sebenarnya sudah sering dia lihat sejak Raven menunjukkannya

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 2

    Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar dan berkata, “Suaminya boleh masuk seka… rang”Raven langsung masuk tanpa menunggu kalimat perawat itu selesai. Dia membeku saat melihat Sera terbaring di ranjang pasien dengan napas terengah.Ketika melihat Raven, Sera seketika membulatkan matanya. “Mas?”Raven bergegas menghampiri Sera. “Kenapa kamu tidak menelponku?” tanyanya dengan wajah tegang, tapi suaranya tetap terdengar lembut.“Aku nggak mau mengganggu rapat Mas Raven.”“Kamu pikir rapat jauh lebih penting daripada kamu?”Sera tertegun. Tapi belum sempat dia menanggapi, gelombang rasa nyeri itu kembali menyerangnya. Sera meringis dan mencengkeram sprei kuat-kuat.Raven semakin menegang. “Apa yang terjadi?” Dia menatap perawat dengan ekspresi panik yang tidak disembunyikan.Perawat itu tersenyum sabar. “Itu kontraksi, Pak.”“Saya tahu itu kontraksi,” timpal Raven cepat. “Tapi kenapa dia sampai kesakitan seperti itu?”Sera masih menahan nyeri sambil tetap meringis. “Mas… kontraks

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 1

    Sera meringis, menahan rasa nyeri di perutnya yang datang secara berkala. Perutnya mengeras seperti batu, membuatnya harus menahan napas beberapa detik sampai gelombang nyeri itu perlahan mereda.Sera menghela napas panjang, lalu tangannya terulur berusaha meraih ponsel dari atas meja. Tapi dia terlalu sulit menjangkaunya.Ratna yang sedang melintas menuju dapur, terkejut melihat pemandangan tersebut.Cepat-cepat Ratna mendekat dan membantu mengambilkan ponsel untuk Sera.“Bagaimana sekarang? Perutnya sakit lagi?” tanya Ratna dengan tatapan khawatir.“Iya, Mbak. Makin ke sini nyerinya makin sering. Tadi pagi sekitar tiga puluh menit sekali. Sekarang hampir tiap sepuluh menit.”Mata Ratna melebar. “Sera, sepertinya kamu benar-benar akan melahirkan. Lebih baik ke dokter sekarang. Saya antar kamu.”Sera mengerutkan keningnya, bingung. “Tapi kata dokter, hari perkiraan lahirnya minggu depan, Mbak.”“Itu ‘kan cuma perkiraan, bukan tanggal pasti. Kadang HPL itu suka meleset.” Ratna tampak c

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   270. Ending

    “Kamu gugup?” tanya Raven lembut seraya menatap Sera dengan lekat.Sera mengangguk. Menatap pintu yang menjulang tinggi di hadapannya dengan perasaan tak menentu. Jari-jari tangannya terasa dingin.Berbagai pikiran negatif kini memenuhi benak Sera.Bagaimana jika orang-orang di dalam sana menghujatnya, melemparinya, dan menganggap dirinya sebagai wanita murahan?Sera masih ingat dengan jelas bagaimana dunia menyudutkannya di masa lalu.“Sayang,” panggil Raven seraya meremas tangan Sera dengan lembut, membuat Sera seketika keluar dari lamunannya. “Apa perlu kita kembali ke kamar?”Sontak Sera mendongak, menatap Raven gamang. “Acaranya akan segera dimulai,” gumamnya.Raven menggeleng pelan. “Kita bisa menundanya kalau kamu belum siap.”Selalu seperti itu. Raven selalu mengedepankan kenyamanan Sera. Hati Sera terenyuh. Dia tidak ingin membuat Raven kecewa.“Nggak, Mas.” Sera balas menggenggam tangan Raven erat. Menghela napas berat. “Kita masuk saja sekarang.”“Kamu yakin?” Raven menatap

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   269. Pesta Pernikahan

    Sera menatap pantulan dirinya di cermin. Terpana. Dia seolah tidak mengenali diri sendiri.Tubuhnya kini dibalut gaun pengantin putih berbentuk putri duyung. Bagian atas hingga pinggang dan pinggul dibuat ketat mengikuti lekuk tubuh. Lalu melebar mulai dari lutut ke bawah hingga membentuk ekor yang menjuntai di lantai.Bahunya berbentuk off shoulder, sehingga leher dan bahunya terbuka. Mahkota kecil menghiasi kepalanya. Rambutnya terurai bergelombang. Sementara veil tipis menjuntai jatuh ke belakang punggung.“Aku benar-benar nggak percaya kalau wanita di depanku ini adalah diriku,” gumam Sera.Seorang wanita yang sedang memasang sarung tangan tipis di tangan Sera, seketika terkekeh kecil. “Bu Sera terlihat cantik sekali.”Sera tersenyum kecil mendengar pujian itu. “Semua ini karena tangan ajaib kamu, Mbak. Make up-nya benar-benar bagus. Aku hampir nggak mengenali diriku sendiri.”“Pada dasarnya Bu Sera-nya yang sudah cantik.” Wanita itu tersenyum bangga. “Saya cuma perlu memoles sedi

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   268. Aku yang Memilihmu

    Raven menuangkan air hangat ke dalam gelas yang telah terisi satu kantong teh melati. Lalu dia melangkah pelan menuju ruang keluarga sambil membawa gelas tersebut.“Aku buatkan teh untukmu,” kata Raven seraya menaruh teh di atas meja, di hadapan Sera. Kemudian duduk di sampingnya.Sera yang sejak tadi terdiam, kini menatap Raven perlahan dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Mas.”Sera meraih gelas tersebut dan meneguknya sejenak, lalu menangkupnya dengan kedua telapak tangan.Kehangatan dan aroma melati dari teh itu membuat perasaan Sera yang semula kacau, menjadi sedikit lebih baik.“Kenapa Mas pulang lagi?” tanya Sera akhirnya setelah beberapa saat terdiam.“Ada berkas penting yang tertinggal.” Raven menatap Sera lamat-lamat. “Tapi beruntung berkas itu ketinggalan. Kalau tidak, aku tidak akan tahu kejadian tadi.”Sera menghela napas panjang dan kembali terdiam. Apa yang Ririn katakan tadi membuat Sera sadar bahwa masa lalunya akan selalu melekat pada dirinya.Sera kembali merasa inse

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   7. Dia Adalah Milikku

    Keempat pasang mata di meja itu serentak menoleh, tapi pandangan Raven hanya tertuju pada genggaman tangan Dimas di pergelangan Sera.Sera menatap Raven dengan heran, tapi tatapan Raven yang dingin dan tajam, yang kini sekilas menyambar ke arahnya, seolah menyalahkannya atas situasi itu, membuat Se

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   15. Menjodohkan Sera

    Tentu saja Raven mengerti. Itu artinya, jika Raven tidak memiliki anak dari Celine, maka Maheswara Corp akan jatuh ke tangan cucu Prabu yang lain. Dan Raven akan kehilangan jabatan serta hak warisnya.“Aku dan Celine belum memikirkan anak. Kami masih sama-sama menikmati masa pernikahan kami berdua,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   17. Dia Yang Baik dan Hangat

    Sera membalas senyuman Bastian dengan sama hangatnya. “Selamat sore, Dokter.”“Sore. Kamu libur hari ini?” tanya Bastian sembari berjalan mendekat dan berdiri di samping Sera.“Iya, Dok.”“Baiklah. Sekarang aku akan periksa dulu pasienku yang selalu rewel ini.” Bastian mengalihkan tatapannya ke ara

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   16. Penolakan

    Sera keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Lalu duduk di tepian kasur dan termenung ketika kata-kata Raven beberapa saat yang lalu kembali terngiang.‘Apa aku tidak pantas mendapatkan laki-laki yang baik?’ batinnya.Sera menghela napas berat. Sepertinya Raven benar, piki

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status