LOGINBeberapa menit kemudian, seorang perawat keluar dan berkata, “Suaminya boleh masuk seka… rang”Raven langsung masuk tanpa menunggu kalimat perawat itu selesai. Dia membeku saat melihat Sera terbaring di ranjang pasien dengan napas terengah.Ketika melihat Raven, Sera seketika membulatkan matanya. “Mas?”Raven bergegas menghampiri Sera. “Kenapa kamu tidak menelponku?” tanyanya dengan wajah tegang, tapi suaranya tetap terdengar lembut.“Aku nggak mau mengganggu rapat Mas Raven.”“Kamu pikir rapat jauh lebih penting daripada kamu?”Sera tertegun. Tapi belum sempat dia menanggapi, gelombang rasa nyeri itu kembali menyerangnya. Sera meringis dan mencengkeram sprei kuat-kuat.Raven semakin menegang. “Apa yang terjadi?” Dia menatap perawat dengan ekspresi panik yang tidak disembunyikan.Perawat itu tersenyum sabar. “Itu kontraksi, Pak.”“Saya tahu itu kontraksi,” timpal Raven cepat. “Tapi kenapa dia sampai kesakitan seperti itu?”Sera masih menahan nyeri sambil tetap meringis. “Mas… kontraks
Sera meringis, menahan rasa nyeri di perutnya yang datang secara berkala. Perutnya mengeras seperti batu, membuatnya harus menahan napas beberapa detik sampai gelombang nyeri itu perlahan mereda.Sera menghela napas panjang, lalu tangannya terulur berusaha meraih ponsel dari atas meja. Tapi dia terlalu sulit menjangkaunya.Ratna yang sedang melintas menuju dapur, terkejut melihat pemandangan tersebut.Cepat-cepat Ratna mendekat dan membantu mengambilkan ponsel untuk Sera.“Bagaimana sekarang? Perutnya sakit lagi?” tanya Ratna dengan tatapan khawatir.“Iya, Mbak. Makin ke sini nyerinya makin sering. Tadi pagi sekitar tiga puluh menit sekali. Sekarang hampir tiap sepuluh menit.”Mata Ratna melebar. “Sera, sepertinya kamu benar-benar akan melahirkan. Lebih baik ke dokter sekarang. Saya antar kamu.”Sera mengerutkan keningnya, bingung. “Tapi kata dokter, hari perkiraan lahirnya minggu depan, Mbak.”“Itu ‘kan cuma perkiraan, bukan tanggal pasti. Kadang HPL itu suka meleset.” Ratna tampak c
“Kamu gugup?” tanya Raven lembut seraya menatap Sera dengan lekat.Sera mengangguk. Menatap pintu yang menjulang tinggi di hadapannya dengan perasaan tak menentu. Jari-jari tangannya terasa dingin.Berbagai pikiran negatif kini memenuhi benak Sera.Bagaimana jika orang-orang di dalam sana menghujatnya, melemparinya, dan menganggap dirinya sebagai wanita murahan?Sera masih ingat dengan jelas bagaimana dunia menyudutkannya di masa lalu.“Sayang,” panggil Raven seraya meremas tangan Sera dengan lembut, membuat Sera seketika keluar dari lamunannya. “Apa perlu kita kembali ke kamar?”Sontak Sera mendongak, menatap Raven gamang. “Acaranya akan segera dimulai,” gumamnya.Raven menggeleng pelan. “Kita bisa menundanya kalau kamu belum siap.”Selalu seperti itu. Raven selalu mengedepankan kenyamanan Sera. Hati Sera terenyuh. Dia tidak ingin membuat Raven kecewa.“Nggak, Mas.” Sera balas menggenggam tangan Raven erat. Menghela napas berat. “Kita masuk saja sekarang.”“Kamu yakin?” Raven menatap
Sera menatap pantulan dirinya di cermin. Terpana. Dia seolah tidak mengenali diri sendiri.Tubuhnya kini dibalut gaun pengantin putih berbentuk putri duyung. Bagian atas hingga pinggang dan pinggul dibuat ketat mengikuti lekuk tubuh. Lalu melebar mulai dari lutut ke bawah hingga membentuk ekor yang menjuntai di lantai.Bahunya berbentuk off shoulder, sehingga leher dan bahunya terbuka. Mahkota kecil menghiasi kepalanya. Rambutnya terurai bergelombang. Sementara veil tipis menjuntai jatuh ke belakang punggung.“Aku benar-benar nggak percaya kalau wanita di depanku ini adalah diriku,” gumam Sera.Seorang wanita yang sedang memasang sarung tangan tipis di tangan Sera, seketika terkekeh kecil. “Bu Sera terlihat cantik sekali.”Sera tersenyum kecil mendengar pujian itu. “Semua ini karena tangan ajaib kamu, Mbak. Make up-nya benar-benar bagus. Aku hampir nggak mengenali diriku sendiri.”“Pada dasarnya Bu Sera-nya yang sudah cantik.” Wanita itu tersenyum bangga. “Saya cuma perlu memoles sedi
Raven menuangkan air hangat ke dalam gelas yang telah terisi satu kantong teh melati. Lalu dia melangkah pelan menuju ruang keluarga sambil membawa gelas tersebut.“Aku buatkan teh untukmu,” kata Raven seraya menaruh teh di atas meja, di hadapan Sera. Kemudian duduk di sampingnya.Sera yang sejak tadi terdiam, kini menatap Raven perlahan dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Mas.”Sera meraih gelas tersebut dan meneguknya sejenak, lalu menangkupnya dengan kedua telapak tangan.Kehangatan dan aroma melati dari teh itu membuat perasaan Sera yang semula kacau, menjadi sedikit lebih baik.“Kenapa Mas pulang lagi?” tanya Sera akhirnya setelah beberapa saat terdiam.“Ada berkas penting yang tertinggal.” Raven menatap Sera lamat-lamat. “Tapi beruntung berkas itu ketinggalan. Kalau tidak, aku tidak akan tahu kejadian tadi.”Sera menghela napas panjang dan kembali terdiam. Apa yang Ririn katakan tadi membuat Sera sadar bahwa masa lalunya akan selalu melekat pada dirinya.Sera kembali merasa inse
“Rin, kenapa ada foto suamiku di handphone kamu?”Sera mengalihkan tatapannya dari foto Raven yang sedang duduk di ruang keluarga, di layar ponsel Ririn, ke arah Ririn dengan tatapan penuh tanya.Ririn terkesiap. Panik. “M-Maaf, Bu. Saya mengakui saya sudah lancang.” Lalu menunduk. “T-Tolong kembalikan handphone saya.”Sera tidak langsung memberikan ponsel itu. Dia kembali menatap layar dan menggesernya. Tertegun.Ternyata foto itu tidak hanya satu, melainkan ada beberapa.Foto Raven yang sedang berenang di kolam renang yang bertelanjang dada. Sepertinya Ririn mengambil foto itu diam-diam dari balkon lantai tiga.Foto Raven sedang menelepon di beranda dengan kancing kemeja terbuka.Foto Raven sedang tertidur di sofa.Dan foto Raven yang sedang tersenyum.Semua foto itu diambil secara diam-diam. Sera merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dadanya. Cemburu yang bercampur dengan perasaan kesal.“Ririn.” Sera menghela napas panjang dan menatap gadis itu. “Bisa kamu jelasin kenapa ka







