Se connecterSetelah orang tua Bastian datang, Sera pun memutuskan untuk pamit bersama adik-adiknya.Dia memulangkan Rania dan Salsa terlebih dulu. Setelah memastikan kedua adiknya naik ke dalam taksi, Sera lantas menyetop taksi yang lain untuk menuju ke Star Restaurant, tempat pertemuannya dengan Raven.Sepanjang perjalanan Sera merasa bersalah dan gelisah. Dia sudah sangat terlambat.Sera hanya bisa berharap Raven akan mengerti ketika dia memberi penjelasan nanti.Beberapa saat kemudian, Sera tiba di Star Restaurant. Dia bergegas turun dari taksi dan melangkah cepat menuju pintu masuk.Ada yang aneh, pikir Sera seraya memperhatikan bangunan dua tingkat yang berdinding kaca nan mewah itu. Suasana di sana tampak sepi. Sera tidak melihat ada pengunjung yang datang.Ketika tiba di depan pintu masuk, Sera tertegun saat melihat papan kecil bertanda CLOSED tergantung di pintu.“Restorannya sudah tutup?” gumam Sera sambil mencoba mendorong pintu itu. Terkunci.Lalu, Sera melihat papan nama restoran yang
Musik jazz romantis mengalun merdu di seluruh penjuru restoran.Lampu-lampu restoran diredupkan, hanya mengandalkan cahaya dari puluhan–atau bahkan ratusan, lilin yang berpendar di setiap meja dan lantai.Cahaya yang temaram membuat suasana restoran terasa romantis dan hangat.Raven melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul tujuh lebih dua puluh menit.Sera terlambat dua puluh menit, pikirnya.Namun, Raven sama sekali tidak terganggu. Pikirannya tetap tenang. Dia yakin, sebentar lagi wanita itu akan datang.Mengingat hal itu, Raven menegakkan punggungnya seketika. Tanpa sadar sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas dengan samar.Dan dia juga merasakan dadanya tiba-tiba berdebar cepat.Raven tidak pernah merasa gugup sampai seperti ini ketika akan bertemu seseorang, sekalipun orang itu adalah orang penting.Malam ini sengaja Raven mereservasi seluruh restoran, hanya agar dirinya dan Sera leluasa makan malam berdua.Raven berdehem pelan sekali. Dia ingin tahu bagaimana rea
Jari-jari Sera saling meremas karena gugup. Membayangkan malam ini dirinya akan bertemu Raven membuat jantungnya berdebar kencang.Ya, pada akhirnya Sera memutuskan untuk pergi memenuhi undangan Raven.Meski ini salah, dan meski masih ada luka yang belum sembuh, tapi malam ini Sera memilih untuk mengikuti kata hatinya.Sera berangkat dari kediaman Raven setelah matahari tenggelam.Dia mengenakan semua yang Raven berikan kemarin. Lalu melapisi tubuhnya dengan cardigan karena tak ingin terlalu mencolok di mata pekerja yang lain.Hari itu jam kerja berakhir lebih awal. Raven sengaja memberi keringanan pada semua pekerja agar istirahat lebih awal hari ini.Sera mengerti, alasan Raven melakukannya agar Sera bisa pergi dengan leluasa sehingga pekerja yang lain tidak menghakiminya yang pergi keluar pada jam kerja.Kini, Sera menumpangi taksi online, menuju Star Restaurant.Jari-jari tangan Sera terasa semakin dingin. Perasaannya tak karuan. Raven tengah menunggunya di sana, Sera tahu itu.Da
“Sera, kamu dapat paket,” kata Bima sambil menghampiri Sera dengan kotak cukup besar di pelukannya.“Aku gak pesan apa-apa, kok.” Sera menjawab sambil mengelap guci antik dengan hati-hati.“Tapi ini penerimanya atas nama kamu.”“Masa, sih?”“Lihat dulu deh.”Sera menjeda aktifitasnya, lalu menghampiri Bima dan melihat nama penerima dalam kotak tersebut.Benar.Nama dirinya dan nomor teleponnya tertera di sana. Itu kotak berwarna biru muda dan dihiasi pita merah muda di atasnya.“Mungkin hadiah dari seseorang yang kamu kenal,” ucap Bima kemudian. “Lihat dulu aja isinya apa. Yang jelas nggak mungkin isinya bom.”Sera terkekeh mendengar candaan Bima. Pada akhirnya Sera menerima kotak itu dengan penuh rasa penasaran.Lalu membawanya ke dalam kamarnya, dan dia buka kotak itu di sana.Seketika itu juga, Sera tertegun.Kotak itu berisi sebuah gaun berwarna ivory yang lembut, sling bag dan sepasang wedges berwarna senada dengan gaun.Lalu terdapat kotak kecil yang berisi sepasang anting mutia
Sera baru selesai menyapu ruang tamu ketika dia melihat David masuk sambil menelepon seseorang.“Saya sudah di rumah Anda, Pak. Baik. Bagaimana dengan makan siang Anda, Pak Raven? Ya? Anda akan melewatkan makan siang lagi?” David menghela napas pelan. “Oh. Ya. Baik. Saya akan mencari dokumennya sekarang.”Sera yang sejak tadi diam, akhirnya mendekat. “Pak Raven tidak makan siang?” tanyanya ragu.David memasukkan ponsel ke saku jasnya, lalu mengangguk. “Iya. Beliau terlalu sibuk akhir-akhir ini sampai melewatkan makan siangnya.”Sera menghela napas pelan. Tadi pagi pun Raven melewatkan sarapan karena harus buru-buru pergi ke kantor.“Aku mau ngambil dokumen di ruangan kerja Pak Raven,” kata David.Sera mengangguk, tapi pikirannya sudah melangkah jauh. Dia cepat-cepat bertanya saat David sudah melangkah pergi, “Berapa lama Pak David di sini?”“Sekitar….” David melirik arloji. “Dua puluh menit. Ada yang harus aku kerjakan dulu di atas.”Dua puluh menit.Sera seharusnya tidak peduli. Dan
“Sebenarnya…,” gumam Sera seraya mengeratkan cengkeramannya di lengan Raven. “Saya ini apa untuk Bapak?”Raven terdiam sesaat, tapi alih-alih langsung menjawab, Raven kembali mengecup bibir ranum wanita itu.Kemudian Raven menempelkan dahi mereka, dan ibu jarinya bergerak halus di garis rahang Sera.“Kamu… wanita yang ingin saya lindungi,” bisik Raven pada akhirnya setelah terdiam beberapa saat. “Kamu juga wanita yang membuat saya… takut kehilangan.”Sera seketika tertegun. Dadanya bergetar.Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara lantang. Namun karena kata-kata itu keluar dari mulut seorang Raven, Sera merasakan dadanya seolah diremas oleh sesuatu yang hangat sekaligus menyakitkan.Bukan sakit karena terluka. Tetapi karena Sera sadar bahwa yang mengatakannya adalah Raven. Pria yang memiliki dunia yang berbeda dengannya.“Kalau saya hilang dari hidup Bapak,” gumam Sera lagi dengan tenggorokan tercekat. “Apa Bapak akan berusaha menemukan saya kembali?”“Tidak,” jawab Raven, yang membu







