LOGINSera baru selesai menyapu ruang tamu ketika dia melihat David masuk sambil menelepon seseorang.“Saya sudah di rumah Anda, Pak. Baik. Bagaimana dengan makan siang Anda, Pak Raven? Ya? Anda akan melewatkan makan siang lagi?” David menghela napas pelan. “Oh. Ya. Baik. Saya akan mencari dokumennya sekarang.”Sera yang sejak tadi diam, akhirnya mendekat. “Pak Raven tidak makan siang?” tanyanya ragu.David memasukkan ponsel ke saku jasnya, lalu mengangguk. “Iya. Beliau terlalu sibuk akhir-akhir ini sampai melewatkan makan siangnya.”Sera menghela napas pelan. Tadi pagi pun Raven melewatkan sarapan karena harus buru-buru pergi ke kantor.“Aku mau ngambil dokumen di ruangan kerja Pak Raven,” kata David.Sera mengangguk, tapi pikirannya sudah melangkah jauh. Dia cepat-cepat bertanya saat David sudah melangkah pergi, “Berapa lama Pak David di sini?”“Sekitar….” David melirik arloji. “Dua puluh menit. Ada yang harus aku kerjakan dulu di atas.”Dua puluh menit.Sera seharusnya tidak peduli. Dan
“Sebenarnya…,” gumam Sera seraya mengeratkan cengkeramannya di lengan Raven. “Saya ini apa untuk Bapak?”Raven terdiam sesaat, tapi alih-alih langsung menjawab, Raven kembali mengecup bibir ranum wanita itu.Kemudian Raven menempelkan dahi mereka, dan ibu jarinya bergerak halus di garis rahang Sera.“Kamu… wanita yang ingin saya lindungi,” bisik Raven pada akhirnya setelah terdiam beberapa saat. “Kamu juga wanita yang membuat saya… takut kehilangan.”Sera seketika tertegun. Dadanya bergetar.Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara lantang. Namun karena kata-kata itu keluar dari mulut seorang Raven, Sera merasakan dadanya seolah diremas oleh sesuatu yang hangat sekaligus menyakitkan.Bukan sakit karena terluka. Tetapi karena Sera sadar bahwa yang mengatakannya adalah Raven. Pria yang memiliki dunia yang berbeda dengannya.“Kalau saya hilang dari hidup Bapak,” gumam Sera lagi dengan tenggorokan tercekat. “Apa Bapak akan berusaha menemukan saya kembali?”“Tidak,” jawab Raven, yang membu
“Ya?” Sera menatap Raven penuh tanya sambil berusaha meredakan tawanya. Dia tidak mendengar ucapan pria itu barusan. “Bapak bilang apa?”“Tidak.” Raven memalingkan wajahnya ke arah lain dengan cepat. “Lupakan.”Sera mengerjap. Tapi belum sempat dia bertanya lebih jauh, Raven sudah pergi.Raven melangkah cepat dan lebar, dengan rahang mengeras.Bagaimana bisa tadi dia mengatakan ingin melihat tawa wanita itu selamanya?Raven mengembuskan napas kasar. Sepertinya dirinya sudah benar-benar gila.Sementara itu, Sera langsung menyusul Raven sambil mengeluarkan ponsel lalu memotret pemandangan di sekitarnya.Sera bergerak memutar, berhenti berjalan. Setelah puas mendapatkan beberapa foto, dia melanjutkan langkahnya lagi tapi dirinya sudah kehilangan jejak Raven.“Kemana dia?” gumam Sera sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tetapi sosok Raven tak kunjung terlihat.Ketika Sera sedang sibuk mencari, tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan es krim rasa stroberi ke arahnya.Sera tertegun, p
“Pak, tolong lepaskan tangan saya,” pinta Sera sambil berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Raven.Namun, Raven tidak menghiraukan permintaan Sera. Dia tetap berjalan sembari mengeratkan genggaman tangan mereka.“Ini tempat umum. Bagaimana kalau ada yang mengenali Bapak?”“Mereka tidak akan mengenali saya, kecuali kalau kamu bersikap mencurigakan seperti ini,” jawab Raven tenang.Sera seketika mengatupkan bibirnya.Kalau dipikir-pikir, sikapnya saat ini memang cukup mencurigakan. Sera berusaha melepaskan diri dari Raven, itu membuat Raven terlihat seperti sedang memaksanya di mata orang yang melihat mereka.Pada akhirnya Sera memilih berjalan di samping pria itu.Hangatnya genggaman tangan Raven membuat Sera harus berulang kali menarik napas dalam-dalam.Ketika di loket, Raven memilih membeli tiket reguler alih-alih tiket premium.Padahal dia jauh dari kata mampu untuk membeli tiket premium yang memiliki akses eksklusif dan tanpa antre.Namun, justru hal itu yang membuat Sera tere
Sera menunduk, menyirami beberapa tanaman stroberi miliknya di dalam pot berwarna hitam. Beberapa sudah berbuah tapi belum matang.Hari ini hari liburnya, jadi Sera memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan berkegiatan di rumahnya sendiri.Ini kesempatan yang baik untuk melupakan pria itu sejenak, pikirnya.Tiba-tiba Sera mendengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya.Sera seketika terdiam.Dia merasa sangat hapal dengan suara mesin yang sangat halus itu.Lalu, Sera menggeleng cepat.Tidak. Tidak.Itu pasti hanya mobil yang sama dengan milik majikannya.Beberapa detik setelahnya, Sera mendengar bunyi pintu mobil yang ditutup. Kemudian disusul oleh suara derap langkah seseorang yang teratur dan halus.Wajah Sera langsung menegang. Derap langkah itu… milik Raven. Sera bisa mengenalinya meski tidak melihatnya.Sera kembali menyirami tanaman dan berpura-pura tidak menyadari kedatangan seseorang.Sampai akhirnya derap langkah kaki itu berhenti tepat di belakangnya.“Tanamanmu b
Raven menenteng paper bag sambil melangkah lebar memasuki kediamannya. Tidak ada yang tahu kalau paper bag itu berisi seikat bunga mawar merah.Dia langsung menghampiri beranda samping, seolah tahu jadwal pekerjaan Sera. Wanita itu tidak menyambutnya, karena Raven memang pulang lebih awal.Setibanya di beranda, Raven melihat Sera sedang menyiram tanaman. Dia menatap punggung rapuh wanita itu dengan sorot mata sulit diartikan.Raven mendekat tanpa menimbulkan suara. Lalu menatap bunga dalam paper bag.Tiba-tiba Raven merasa tindakannya terlalu berlebihan. Tidak seharusnya dia mendengarkan kata-kata David.Lalu, Raven berbalik, hendak pergi.Namun langkahnya tertahan. Terjadi pergolakan di dalam batinnya, antara memberikan bunga itu atau membuangnya saja.Sial. Raven tak pernah bimbang seperti ini sebelumnya. Apalagi hanya gara-gara seikat bunga.Tapi pada akhirnya ego Raven kalah. Kakinya lebih dulu mendekati Sera dibanding pergi.Dia berdehem, membuat Sera sedikit berjengit.Saat itu







