LOGINZoe bersantai di sofa dengan satu kaki disilangkan, lalu ia memecah keheningan. “Scarlett, pria itu jelas-jelas naksir berat sama kamu. Jangan sia-siakan sikap romantisnya. Tidak ada gunanya menolak rezeki yang datang.”
Begitu Zoe selesai bicara, Tristan tersadar kembali, lalu tertawa dingin dan mengejek. “Haus perhatian, ya? Mungkin sudah waktunya kamu cari pria untuk mendapat sedikit rasa cinta.” Mendengar itu, Scarlett berdiri dengan penuh pesona, lalu tertawa lepas dan berkata, “Sepertinya pasangan terbaikku sudah bicara. Aku pergi dulu, ya, aku akan menikmati mencari sedikit cinta. Kalian habiskan malam indah kalian.” Ia menoleh ke pria muda di sampingnya dan menggoda, “Bagaimana, tampan? Ayo, kita ke kamar.” “Siap!” jawab si pria, lalu ia membisikkan sesuatu ke telinganya. “Oh ya? Kalau begitu nanti aku nilai sendiri kemampuanmu,” goda Scarlett sambil tersenyum. Ruangan langsung hening. Melihat kesempatan itu, Zoe pun ikut pergi bersama seorang pria muda lainnya. Di dalam ruangan, sisi kalem dan intelektual Tristan runtuh. Ia menendang kursi hingga terlempar ke tembok hotel, lalu membalik meja sampai kartu-kartu di atasnya berserakan ke lantai. Nicole berdiri di sampingnya, wajahnya pucat ketakutan. Ia memegang lengan Tristan sambil memanggil, “Tristan.” Tristan tidak menggubris panggilannya, Nicole terkejut saat Nicholas mengatakan bahwa tempat itu bukan untuknya, lalu seseorang dikirim untuk mengantar Nicole pulang. Di ambang pintu, Scarlett bahkan tidak menoleh ke belakang saat ia bertanya-tanya soal keahlian para pria, posisi favorit mereka, dan apakah pekerjaan itu dibayar dengan baik. Zoe melirik ke belakang dengan senyum mengejek, merasa puas. Tak lama kemudian, Scarlett mendekati pintu kamar suite mewah lainnya sambil memegang kartu kamar, tepat saat Tristan datang dengan wajah sedingin badai musim dingin. Gagasan bahwa Scarlett akan tidur dengan pria lain benar-benar tidak bisa diterima. Tak seorang pun boleh menyentuh milik Tristan. Saat melihat Tristan, Scarlett menyapanya hangat seolah bertemu teman lama. “Wah, kebetulan sekali, kamu juga check-in? Mana Nicole? Kenapa tidak ajak dia ke sini?” Tanpa menunggu Tristan bicara, Scarlett menggoda, “Kita ini adalah suami istri. Meskipun aku tidak bisa memilikimu, setidaknya izinkan aku lihat sendiri kehebatanmu di ranjang. Jika nanti setelah cerai, dan orang bertanya bagaimana kemampuan mantan suamiku, aku bisa menjawab.” Zoe, yang sedari tadi memperhatikan, tertawa sambil memeluk perutnya sendiri karena kelucuan Scarlett. Tristan menyembur marah, “Scarlett, kamu menyedihkan.” Scarlett tetap tersenyum santai. “Menyedihkan? Kalau iya, mana mungkin aku bisa menikah denganmu dan tidur satu tempat tidur?” Pernikahan mereka – hanya sebatas selembar surat tanpa upacara – selalu jadi ganjalan bagi Scarlett. Karena itu, tak banyak orang yang tahu jika mereka pernah menikah. Ketika Tristan mulai mendekat dan menyudutkan Scarlett, pria muda yang bersamanya maju dan mencoba mencegah, “Hei, mungkin kamu harus—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tendangan Tristan menghantam dadanya. Pria itu terhuyung, wajahnya pucat, lalu ambruk dengan suara keras. Scarlett akhirnya melepaskan sikap ramahnya. “Cukup, Tristan!” Tristan meraih wajah Scarlett hendak membawanya keluar kamar. Scarlett menarik lengannya sambil membalas tajam, “Lepaskan aku! Kamu bersenang-senang dengan caramu, aku dengan caraku. Adil, kan?” Cengkeramannya makin erat. Wajah Tristan mengeras saat tangannya merayap ke leher Scarlett. Scarlett tercekik, wajahnya memerah. Melihat itu, Zoe buru-buru turun tangan. “Tristan, kamu sudah keterlaluan.” Ucapan Zoe langsung memanggil Nicholas dan Gary, yang segera menarik Tristan menjauh dari Scarlett. Mereka juga cepat-cepat menyuruh si pria muda dan temannya pergi sebelum situasinya semakin kacau. Begitu bisa bernapas lagi, Scarlett tanpa sepatah kata pun langsung menendang perut Tristan dengan keras. Wajah Tristan langsung pucat, dan Nicholas serta yang lainnya hanya bisa terpaku kaget. Scarlett menatap tajam ke arah Tristan, suaranya dingin. “Coba sentuh aku lagi kalau berani.” Tatapan penuh benci dari Scarlett membuat dada Tristan terasa sesak. Menyadari tindakannya yang terlalu jauh, Tristan menunduk memandangi Scarlett, lalu membuang muka diam-diam, kedua tangan masuk ke saku celana. Gary pun maju menyela. “Sudah cukup dramanya malam ini. Selesaikan ini di rumah.” Gary memisahkan mereka, dan dengan enggan, Tristan menggiring Scarlett keluar dengan memegang tengkuknya seperti anak kucing. Di parkiran bawah, Scarlett duduk di kursi penumpang dan memalingkan wajah menatap ke luar jendela. Suasana di dalam mobil hening, hanya terdengar suara korek api saat Tristan menyalakan rokok di jendela yang terbuka. Ia menghembuskan asap dalam bentuk lingkaran sebelum berkata, “Kamu tidur dengan siapa saja. Tidak takut terkena penyakit?” Scarlett menjawab santai, “Aku pakai pengaman.” Wajah Tristan langsung berubah kelam. “Pengaman? Kamu pikir kamu itu laki-laki? Kamu punya ‘alat’ untuk dipakai?” Saat mereka masih beradu argumen, ponsel Scarlett berdering. Ternyata Audrey yang menelepon. Scarlett menghela napas lelah sebelum mengangkatnya. “Halo.” Suara panik Audrey langsung terdengar. “Scarlett, kamu sudah bertemu Tristan?” Dengan satu tangan di kening dan satu lagi memegang ponsel, Scarlett menjawab lemas, “Sudah. Saat ini kami sedang di perjalanan pulang.” Ia sama sekali tidak menyebut soal pertengkaran di hotel. Begitu tahu Tristan bersamanya, Audrey langsung mendorong, “Scarlett, manfaatkan malam ini. Sudah dua tahun loh. Kamu dan Tristan harus punya anak. Kalau dia minta cerai tahun depan, kamu tidak punya pegangan sama sekali.” Omelan Audrey bikin kepala Scarlett makin sakit. Selama dua tahun, kata-katanya selalu sama – Audrey terus mendorongnya untuk punya anak, sementara Tristan selalu menolak. Scarlett merasa dirinya hampir kehilangan kewarasan.Saat Scarlett kembali ke kota, Tristan sudah diliputi rasa jengkel. Pembicaraan tentang perceraian yang tak henti-hentinya, ditambah kemunculan anak secara tiba-tiba, benar-benar membuatnya muak. Karena itu, ketika Scarlett dengan tegas menyangkal identitas Nathan, Tristan sama sekali tidak berniat menyelidikinya lebih jauh. Lagipula, anak itu tampak belum genap setahun, dan Andrew juga telah menemukan jejak tentang mantan kekasih Scarlett di masa lalu.Namun, seiring waktu berlalu dan amarahnya perlahan mereda, kecurigaan mulai tumbuh di hati Tristan. Tanpa sadar, pandangannya terhadap Nathan berubah—lebih tajam, lebih penuh tanda tanya.Saat Tristan melontarkan pertanyaan yang bernada menyelidik, Bruce justru tertawa terbahak-bahak. Ia berhenti melangkah, berbalik menatap Tristan, lalu berkata santai, “Kalau kamu memang penasaran, kenapa tidak langsung saja bertanya pada Scarlett?”Bruce menepuk bahu Tristan sambil tersenyum tipis. “Aku kembali ke kantor dulu.” Setelah itu, ia melam
Tiba-tiba, suasana di antara mereka menjadi samar dan mengundang salah tafsir.Saat Tristan condong mendekat, Scarlett dengan sigap mendorongnya menjauh, sikapnya tetap santai dan tanpa emosi. “Aku pulang dulu. Terima kasih atas tumpangannya.”Tanpa menunggu jawaban, ia membuka pintu mobil dan turun.Tristan berdiri di sana, menatap punggung Scarlett yang perlahan menghilang ditelan malam. Sorot matanya dipenuhi emosi yang tak mampu ia sembunyikan. Ia tak pernah membayangkan bahwa tiga tahun setelah perpisahan mereka, pertemuan kembali itu justru akan mengakhiri pernikahan mereka dengan cara seperti ini.Lama setelah sosok Scarlett benar-benar lenyap dari pandangan, barulah Tristan menyalakan mobil dan meninggalkan kediaman keluarga Wilson.---Kembali di Bougenville Residence, Tristan masih terjaga larut malam di ruang kerjanya. Tanpa sadar, ia membuka rekaman kamera pengawas dari tiga tahun lalu. Entah sudah berapa kali ia menontonnya—setiap kali tetap saja terasa seperti pisau yang
Nicole memiliki kulit yang cerah dan tubuh yang mudah menarik perhatian. Namun, ada sebuah bekas luka bakar yang menutupi area cukup luas di sisi kanan perut hingga pinggangnya—jejak cedera parah yang tak mungkin dipulihkan. Biasanya, pakaiannya menutupi bekas luka itu, sehingga tak ada satu pun tanda trauma masa lalu yang terlihat.Saat Scarlett tanpa sengaja menumpahkan air teh ke blusnya, tangan kiri Nicole refleks menutup bagian kanan tubuhnya yang penuh bekas luka. Matanya langsung berkaca-kaca. “Bekas luka ini,” kata Nicole dengan suara bergetar, “terjadi saat aku menyelamatkan Tristan dan Helen. Ini seumur hidup, tidak bisa diperbaiki. Dan aku tidak akan pernah bisa punya anak sendiri, karena kondisi kulitku tidak memungkinkan.”Sambil berbicara, tangan Nicole gemetar di atas bekas luka itu. Air mata menetes ke lengan dan lantai. Ia menatap Scarlett dengan senyum pahit. “Jadi, Scarlett, sekarang kamu mengerti kenapa Tristan selalu memperhatikanku, kenapa dia tidak pernah memeca
Keesokan malamnya, saat Scarlett makan malam bersama Nathan, Bruce, dan Zoe, Zoe langsung meledak begitu mendengar bahwa Scarlett menolak saham yang ditawarkan Tristan.“Ya ampun, apa kamu tahu berapa nilai King International? Setelah bertahun-tahun Tristan begitu pelit, akhirnya dia mau buka dompetnya saat perceraian, dan kamu malah tidak memanfaatkannya?” Zoe yang biasanya tenang kini tampak hampir frustrasi setengah mati.“Sudahlah,” Scarlett menghela napas. “Tidak ada yang namanya makan siang gratis. Kalau aku menerima saham itu, siapa tahu ada syarat atau ikatan tersembunyi di baliknya.”“Ini dari mana ceritanya makan siang gratis?” bantah Zoe. “Ini imbalan atas semua tahun yang sudah kamu jalani dan tanggung. Lagipula, demi Nathan juga…”Nada suara Zoe melunak, tetapi ia segera menambahkan, “Pokoknya, itu memang hakmu.”Sementara Zoe terus menyayangkan keputusan Scarlett menolak saham tersebut, Bruce melirik Scarlett lalu berkata, “Letty-ku hanya ingin memutus hubungan dengan te
Audrey mengabarkan pada Scarlett bahwa Henry sudah kembali ke rumah, dan ia meminta Scarlett untuk datang menjenguk jika tidak sedang sibuk bekerja.Setelah pembicaraan selesai, Scarlett kembali ke mejanya dan menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen yang menantinya.---Tiga hari kemudian, Scarlett baru saja tiba di kantor, tiba-tiba ada sebuah panggilan dari Andrew masuk.“Nona Scarlett, Tuan Tristan sudah berada di kantor catatan sipil,” suara Andrew terdengar dari seberang telepon.Tanpa ragu, Scarlett menjawab, “Suruh dia menunggu. Aku akan tiba dalam 20 menit.”Makan bisa ditunda, tidur bisa dilewatkan, tetapi perceraian tidak boleh gagal.Setelah menutup telepon dengan Andrew, Scarlett bergegas menuju mobilnya dan melaju cepat ke kantor catatan sipil.“Nona Scarlett,” panggil Andrew saat Scarlett melangkah keluar ke area parkir kantor catatan sipil.Scarlett menoleh dan melihat mobil Tristan terparkir tidak jauh dari sana. Akhir dari kisah mereka berdua hanya tinggal beberapa
Mendengar kata-kata Audrey, Tristan melepas kacamatanya. Jemarinya menekan pelipis, seolah beban di kepalanya semakin berat.Audrey melanjutkan dengan nada tegas namun sarat kepedulian, “Pikirkan baik-baik. Jika kamu sungguh ingin bersama Scarlett, maka kamu harus bicara serius dengannya. Tapi satu hal yang harus kamu lakukan—lepaskan masa lalu sepenuhnya dan terima anak itu sebagai anakmu sendiri.”Tristan terdiam lama. Suasana menjadi senyap, hingga akhirnya ia hanya mengeluarkan dengusan pelan, sebuah jawaban samar tanpa kepastian.Melihat putranya seperti itu, hati Audrey tersentuh. Di balik sikap kerasnya, naluri keibuannya tetap tak bisa dibohongi. Ia menepuk bahu Tristan dengan lembut.“Pulanglah dulu, Nak. Bibi-bibimu dan Ibu akan mengurus semuanya di sini.”Didorong oleh desakan sang ibu, Tristan akhirnya mengangguk dan berbalik pergi.Saat sosoknya semakin menjauh, Audrey sedikit berteriakl dari belakang, “Renungkan semuanya saat kamu sudah di rumah.”Tristan hanya melambaik







