Share

Bab 3

Author: Mrs.Jeon
last update Last Updated: 2025-05-14 01:04:11

Sesampainya dirumah, Tristan yang selesai mandi, mengenakan piyama abu-abu muda. Tangannya menyibak rambut yang setengah basah, sementara kerah bajunya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya dengan santai.

Tristan mengeringkan rambut dengan gerakan malas dan berkata datar, mengomentari Scarlett yang mengenakan pakaian tidur yang tipis, “Tidak perlu repot. Bahkan jika kamu tidak mengenakan pakaian sekalipun, tetap tidak ada gunanya.”

Nada sinis Tristan membuat sinar di mata Scarlett sedikit meredup. Dengan perlahan, ia mengangkat kain tipis yang dikenakannya dan berkata dengan suara tenang, “Tristan, aku mohon kerja samanya saat ini. Anggap ini tugas yang harus diselesaikan. Setelah itu, kamu bebas lakukan apa pun. Aku tidak akan ikut campur dalam hidupmu.”

Lalu ia menambahkan, dengan nada sedikit berubah, “Jika kamu benar-benar tidak bisa, kita bisa pertimbangkan inseminasi buatan.”

Begitu Scarlett selesai bicara, Tristan melempar handuk ke lantai dengan kesal, lalu mencengkeram dagu Scarlett sambil menyeringai dan berkata, “Scarlett, kamu pikir aku ini apa? Bank sperma berjalan?”

Scarlett menatap mata Tristan, ia tidak bisa berkata apa-apa.

Tatapan mereka bertemu, dan ketika ia melihat bayangan dirinya di mata Tristan, pria itu tiba-tiba mendekat—begitu dekat hingga nyaris menyentuh bibirnya.

Scarlett secara refleks menolak, dan di saat itulah Tristan seperti tersadar. Ia menarik diri, lalu berkata dengan suara sedingin es, “Scarlett, kamu pikir bisa naik kelas sosial dengan punya anak dariku?”

Ia diam sebentar sebelum menambahkan, “Kamu bahkan tidak layak.”

Ucapan itu menusuk hati Scarlett.

Tristan memang tidak menyukainya. Pernikahan mereka hanya hasil perjodohan orang tua, karena dua keluarga ingin menjalin aliansi. Jadi, tak ada cinta dari Tristan sedikit pun.

Kemudian, Tristan mengangkat tangan kanannya, mencengkeram tengkuk Scarlett, menariknya lebih dekat lagi, lalu menatapnya dalam-dalam sambil berkata, “Scarlett, kamu punya waktu satu tahun. Jika kamu tidak bisa menjadikan aku seorang ayah dalam waktu satu tahun, bereskan barangmu dan pergi dari hadapanku.”

Setelah berkata begitu, Tristan berjalan ke lemari, mengambil setelan jas gelap, mengenakan kacamata berbingkai emasnya, lalu menutup pintu kamar dengan keras.

Brak! Pintu tertutup keras, meninggalkan Scarlett yang jatuh lemas di atas ranjang, tangan kanannya memijat kening.

Ia tidak tahu bahwa Tristan menyukai Nicole. Kalau saja ia tahu lebih awal, Scarlett tidak akan pernah menerima lamaran dari ayah Tristan, Lucian—bahkan jika itu berarti ia takkan pernah punya anak atau menjadi seorang ibu.

Setelah duduk lama di pinggir ranjang, Scarlett akhirnya berdiri, berjalan ke lemari, dan mengambil setelan piyama lain.

Sudah terbiasa ditolak, Scarlett merasa runtuh sebagai seorang wanita setiap kali Tristan menjauh darinya. Ia sudah mencoba segalanya, tapi Tristan tak pernah sekalipun menyentuhnya. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan.

Keesokan paginya, Scarlett dibangunkan oleh panggilan dari Audrey. “Halo, Ibu.”

“Scarlett, bagaimana semalam dengan Tristan? Apa ada kemajuan?”

Pertanyaan Audrey hanya membuat Scarlett semakin merasa lelah. Selama dua tahun terakhir, desakan Audrey untuk segera punya cucu sudah nyaris membuatnya gila. Dalam hati, Scarlett berpikir, kalau memang Audrey menginginkan cucu begitu parah, kenapa dia tidak punya anak lebih banyak, bukan membebankan semua harapan pada Tristan?

Setelah terdiam cukup lama, Scarlett akhirnya menjawab dengan nada putus asa, “Dia pergi tak lama setelah pulang.”

Mendengar bahwa tidak ada “hasil” semalam, dan bahwa ia kembali kehilangan kesempatan untuk jadi nenek, hati Audrey terasa dingin. Ia menasihati, “Scarlett, kamu harus lebih agresif lagi menghadapi Tristan.”

Scarlett berpikir dalam hati, dirinya sudah hampir memohon-mohon agar Tristan mau kasihan dan tidur dengannya. Seaktif apa lagi dia harusnya bersikap?

Audrey di seberang telepon terdengar ragu, lalu menambahkan, “Kamu itu kurang inisiatif ke Tristan. Kamu antar makan siang ke kantornya. Agar orang lain tidak melihat kamu seperti istri yang lemah dan pasrah.”

Yang dimaksud Audrey dengan “orang lain” itu tak lain adalah Nicole—sekretaris Tristan di perusahaan.

Meski dalam hati keberatan, Scarlett tidak bisa menolak, setelah Audrey menelpon dan menyuruhnya pergi mengantar makanan ke kantor Tristan. Ia pun bersiap, membawa bekal makan siang yang disiapkan pelayan, lalu mengemudi ke kantor King International.

“Tristan, menurutmu revisi ini sudah cocok? Kalau kita ubah bagian ini...”

Di luar ruangan Tristan, Scarlett belum sempat mengetuk saat suara lembut Nicole terdengar dari dalam ruangan.

Pintu sedikit terbuka, dan Scarlett mengintip. Ia melihat Tristan memegang berkas sambil berbicara kepada Nicole yang membungkuk ke arahnya, “Angka-angka ini tidak masuk akal. Bisa menimbulkan masalah keamanan dalam proyek.”

“Dan untuk penempatan di sektor D,” lanjut Tristan, tiba-tiba mengalihkan topik, “Tarik kursi dan duduk sini.”

Mendengar nada perhatian Tristan, Nicole tersenyum dan langsung menarik kursi untuk duduk di sampingnya.

Di luar pintu, Scarlett hanya bisa memutar matanya diam-diam. Saat itu, ia tak yakin apakah interaksi Tristan dan Nicole masih wajar, atau memang sudah kelewat batas. Tapi satu hal yang pasti, sejak menikah, Tristan tak pernah sekalipun berbicara padanya dengan nada selembut itu. Ia tak pernah peduli apakah Scarlett berdiri atau duduk, berlutut atau tergeletak, hidup atau mati.

Tahun lalu, Scarlett sempat mengalami kecelakaan kecil. Saat dokter meminta tanda tangan dari anggota keluarga Scarlett, Tristan menutup teleponnya. Scarlett menghabiskan beberapa hari di rumah sakit—dan sampai sekarang, Tristan bahkan tak tahu apa-apa soal kejadian itu.

Setelah menunggu di depan pintu cukup lama dan melihat pembicaraan mereka belum juga selesai, Scarlett akhirnya berbalik dan pergi sambil membawa kotak makan siangnya.

Saat berkeliling di lantai bawah dan melewati apotek, ia teringat dengan nasihat Audrey. Ia pun menguatkan diri dan kembali ke ruangan Tristan.

Benar saja. Terlepas dari Tristan mengakuinya atau tidak, dia adalah istri sah Tristan. Kenapa dia harus bersembunyi? Dia tidak melakukan kesalahan apa pun.

Jadi, Scarlett kembali ke kantor Tristan, dan tanpa ragu, ia membuka pintu. Di dalam ruangan, Tristan dan Nicole yang mendengar suara pintu terbuka, langsung menoleh ke arahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 115

    Saat Scarlett kembali ke kota, Tristan sudah diliputi rasa jengkel. Pembicaraan tentang perceraian yang tak henti-hentinya, ditambah kemunculan anak secara tiba-tiba, benar-benar membuatnya muak. Karena itu, ketika Scarlett dengan tegas menyangkal identitas Nathan, Tristan sama sekali tidak berniat menyelidikinya lebih jauh. Lagipula, anak itu tampak belum genap setahun, dan Andrew juga telah menemukan jejak tentang mantan kekasih Scarlett di masa lalu.Namun, seiring waktu berlalu dan amarahnya perlahan mereda, kecurigaan mulai tumbuh di hati Tristan. Tanpa sadar, pandangannya terhadap Nathan berubah—lebih tajam, lebih penuh tanda tanya.Saat Tristan melontarkan pertanyaan yang bernada menyelidik, Bruce justru tertawa terbahak-bahak. Ia berhenti melangkah, berbalik menatap Tristan, lalu berkata santai, “Kalau kamu memang penasaran, kenapa tidak langsung saja bertanya pada Scarlett?”Bruce menepuk bahu Tristan sambil tersenyum tipis. “Aku kembali ke kantor dulu.” Setelah itu, ia melam

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 114

    Tiba-tiba, suasana di antara mereka menjadi samar dan mengundang salah tafsir.Saat Tristan condong mendekat, Scarlett dengan sigap mendorongnya menjauh, sikapnya tetap santai dan tanpa emosi. “Aku pulang dulu. Terima kasih atas tumpangannya.”Tanpa menunggu jawaban, ia membuka pintu mobil dan turun.Tristan berdiri di sana, menatap punggung Scarlett yang perlahan menghilang ditelan malam. Sorot matanya dipenuhi emosi yang tak mampu ia sembunyikan. Ia tak pernah membayangkan bahwa tiga tahun setelah perpisahan mereka, pertemuan kembali itu justru akan mengakhiri pernikahan mereka dengan cara seperti ini.Lama setelah sosok Scarlett benar-benar lenyap dari pandangan, barulah Tristan menyalakan mobil dan meninggalkan kediaman keluarga Wilson.---Kembali di Bougenville Residence, Tristan masih terjaga larut malam di ruang kerjanya. Tanpa sadar, ia membuka rekaman kamera pengawas dari tiga tahun lalu. Entah sudah berapa kali ia menontonnya—setiap kali tetap saja terasa seperti pisau yang

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 113

    Nicole memiliki kulit yang cerah dan tubuh yang mudah menarik perhatian. Namun, ada sebuah bekas luka bakar yang menutupi area cukup luas di sisi kanan perut hingga pinggangnya—jejak cedera parah yang tak mungkin dipulihkan. Biasanya, pakaiannya menutupi bekas luka itu, sehingga tak ada satu pun tanda trauma masa lalu yang terlihat.Saat Scarlett tanpa sengaja menumpahkan air teh ke blusnya, tangan kiri Nicole refleks menutup bagian kanan tubuhnya yang penuh bekas luka. Matanya langsung berkaca-kaca. “Bekas luka ini,” kata Nicole dengan suara bergetar, “terjadi saat aku menyelamatkan Tristan dan Helen. Ini seumur hidup, tidak bisa diperbaiki. Dan aku tidak akan pernah bisa punya anak sendiri, karena kondisi kulitku tidak memungkinkan.”Sambil berbicara, tangan Nicole gemetar di atas bekas luka itu. Air mata menetes ke lengan dan lantai. Ia menatap Scarlett dengan senyum pahit. “Jadi, Scarlett, sekarang kamu mengerti kenapa Tristan selalu memperhatikanku, kenapa dia tidak pernah memeca

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 112

    Keesokan malamnya, saat Scarlett makan malam bersama Nathan, Bruce, dan Zoe, Zoe langsung meledak begitu mendengar bahwa Scarlett menolak saham yang ditawarkan Tristan.“Ya ampun, apa kamu tahu berapa nilai King International? Setelah bertahun-tahun Tristan begitu pelit, akhirnya dia mau buka dompetnya saat perceraian, dan kamu malah tidak memanfaatkannya?” Zoe yang biasanya tenang kini tampak hampir frustrasi setengah mati.“Sudahlah,” Scarlett menghela napas. “Tidak ada yang namanya makan siang gratis. Kalau aku menerima saham itu, siapa tahu ada syarat atau ikatan tersembunyi di baliknya.”“Ini dari mana ceritanya makan siang gratis?” bantah Zoe. “Ini imbalan atas semua tahun yang sudah kamu jalani dan tanggung. Lagipula, demi Nathan juga…”Nada suara Zoe melunak, tetapi ia segera menambahkan, “Pokoknya, itu memang hakmu.”Sementara Zoe terus menyayangkan keputusan Scarlett menolak saham tersebut, Bruce melirik Scarlett lalu berkata, “Letty-ku hanya ingin memutus hubungan dengan te

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 111

    Audrey mengabarkan pada Scarlett bahwa Henry sudah kembali ke rumah, dan ia meminta Scarlett untuk datang menjenguk jika tidak sedang sibuk bekerja.Setelah pembicaraan selesai, Scarlett kembali ke mejanya dan menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen yang menantinya.---Tiga hari kemudian, Scarlett baru saja tiba di kantor, tiba-tiba ada sebuah panggilan dari Andrew masuk.“Nona Scarlett, Tuan Tristan sudah berada di kantor catatan sipil,” suara Andrew terdengar dari seberang telepon.Tanpa ragu, Scarlett menjawab, “Suruh dia menunggu. Aku akan tiba dalam 20 menit.”Makan bisa ditunda, tidur bisa dilewatkan, tetapi perceraian tidak boleh gagal.Setelah menutup telepon dengan Andrew, Scarlett bergegas menuju mobilnya dan melaju cepat ke kantor catatan sipil.“Nona Scarlett,” panggil Andrew saat Scarlett melangkah keluar ke area parkir kantor catatan sipil.Scarlett menoleh dan melihat mobil Tristan terparkir tidak jauh dari sana. Akhir dari kisah mereka berdua hanya tinggal beberapa

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 110

    Mendengar kata-kata Audrey, Tristan melepas kacamatanya. Jemarinya menekan pelipis, seolah beban di kepalanya semakin berat.Audrey melanjutkan dengan nada tegas namun sarat kepedulian, “Pikirkan baik-baik. Jika kamu sungguh ingin bersama Scarlett, maka kamu harus bicara serius dengannya. Tapi satu hal yang harus kamu lakukan—lepaskan masa lalu sepenuhnya dan terima anak itu sebagai anakmu sendiri.”Tristan terdiam lama. Suasana menjadi senyap, hingga akhirnya ia hanya mengeluarkan dengusan pelan, sebuah jawaban samar tanpa kepastian.Melihat putranya seperti itu, hati Audrey tersentuh. Di balik sikap kerasnya, naluri keibuannya tetap tak bisa dibohongi. Ia menepuk bahu Tristan dengan lembut.“Pulanglah dulu, Nak. Bibi-bibimu dan Ibu akan mengurus semuanya di sini.”Didorong oleh desakan sang ibu, Tristan akhirnya mengangguk dan berbalik pergi.Saat sosoknya semakin menjauh, Audrey sedikit berteriakl dari belakang, “Renungkan semuanya saat kamu sudah di rumah.”Tristan hanya melambaik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status