เข้าสู่ระบบSesampainya dirumah, Tristan yang selesai mandi, mengenakan piyama abu-abu muda. Tangannya menyibak rambut yang setengah basah, sementara kerah bajunya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya dengan santai.
Tristan mengeringkan rambut dengan gerakan malas dan berkata datar, mengomentari Scarlett yang mengenakan pakaian tidur yang tipis, “Tidak perlu repot. Bahkan jika kamu tidak mengenakan pakaian sekalipun, tetap tidak ada gunanya.” Nada sinis Tristan membuat sinar di mata Scarlett sedikit meredup. Dengan perlahan, ia mengangkat kain tipis yang dikenakannya dan berkata dengan suara tenang, “Tristan, aku mohon kerja samanya saat ini. Anggap ini tugas yang harus diselesaikan. Setelah itu, kamu bebas lakukan apa pun. Aku tidak akan ikut campur dalam hidupmu.” Lalu ia menambahkan, dengan nada sedikit berubah, “Jika kamu benar-benar tidak bisa, kita bisa pertimbangkan inseminasi buatan.” Begitu Scarlett selesai bicara, Tristan melempar handuk ke lantai dengan kesal, lalu mencengkeram dagu Scarlett sambil menyeringai dan berkata, “Scarlett, kamu pikir aku ini apa? Bank sperma berjalan?” Scarlett menatap mata Tristan, ia tidak bisa berkata apa-apa. Tatapan mereka bertemu, dan ketika ia melihat bayangan dirinya di mata Tristan, pria itu tiba-tiba mendekat—begitu dekat hingga nyaris menyentuh bibirnya. Scarlett secara refleks menolak, dan di saat itulah Tristan seperti tersadar. Ia menarik diri, lalu berkata dengan suara sedingin es, “Scarlett, kamu pikir bisa naik kelas sosial dengan punya anak dariku?” Ia diam sebentar sebelum menambahkan, “Kamu bahkan tidak layak.” Ucapan itu menusuk hati Scarlett. Tristan memang tidak menyukainya. Pernikahan mereka hanya hasil perjodohan orang tua, karena dua keluarga ingin menjalin aliansi. Jadi, tak ada cinta dari Tristan sedikit pun. Kemudian, Tristan mengangkat tangan kanannya, mencengkeram tengkuk Scarlett, menariknya lebih dekat lagi, lalu menatapnya dalam-dalam sambil berkata, “Scarlett, kamu punya waktu satu tahun. Jika kamu tidak bisa menjadikan aku seorang ayah dalam waktu satu tahun, bereskan barangmu dan pergi dari hadapanku.” Setelah berkata begitu, Tristan berjalan ke lemari, mengambil setelan jas gelap, mengenakan kacamata berbingkai emasnya, lalu menutup pintu kamar dengan keras. Brak! Pintu tertutup keras, meninggalkan Scarlett yang jatuh lemas di atas ranjang, tangan kanannya memijat kening. Ia tidak tahu bahwa Tristan menyukai Nicole. Kalau saja ia tahu lebih awal, Scarlett tidak akan pernah menerima lamaran dari ayah Tristan, Lucian—bahkan jika itu berarti ia takkan pernah punya anak atau menjadi seorang ibu. Setelah duduk lama di pinggir ranjang, Scarlett akhirnya berdiri, berjalan ke lemari, dan mengambil setelan piyama lain. Sudah terbiasa ditolak, Scarlett merasa runtuh sebagai seorang wanita setiap kali Tristan menjauh darinya. Ia sudah mencoba segalanya, tapi Tristan tak pernah sekalipun menyentuhnya. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Keesokan paginya, Scarlett dibangunkan oleh panggilan dari Audrey. “Halo, Ibu.” “Scarlett, bagaimana semalam dengan Tristan? Apa ada kemajuan?” Pertanyaan Audrey hanya membuat Scarlett semakin merasa lelah. Selama dua tahun terakhir, desakan Audrey untuk segera punya cucu sudah nyaris membuatnya gila. Dalam hati, Scarlett berpikir, kalau memang Audrey menginginkan cucu begitu parah, kenapa dia tidak punya anak lebih banyak, bukan membebankan semua harapan pada Tristan? Setelah terdiam cukup lama, Scarlett akhirnya menjawab dengan nada putus asa, “Dia pergi tak lama setelah pulang.” Mendengar bahwa tidak ada “hasil” semalam, dan bahwa ia kembali kehilangan kesempatan untuk jadi nenek, hati Audrey terasa dingin. Ia menasihati, “Scarlett, kamu harus lebih agresif lagi menghadapi Tristan.” Scarlett berpikir dalam hati, dirinya sudah hampir memohon-mohon agar Tristan mau kasihan dan tidur dengannya. Seaktif apa lagi dia harusnya bersikap? Audrey di seberang telepon terdengar ragu, lalu menambahkan, “Kamu itu kurang inisiatif ke Tristan. Kamu antar makan siang ke kantornya. Agar orang lain tidak melihat kamu seperti istri yang lemah dan pasrah.” Yang dimaksud Audrey dengan “orang lain” itu tak lain adalah Nicole—sekretaris Tristan di perusahaan. Meski dalam hati keberatan, Scarlett tidak bisa menolak, setelah Audrey menelpon dan menyuruhnya pergi mengantar makanan ke kantor Tristan. Ia pun bersiap, membawa bekal makan siang yang disiapkan pelayan, lalu mengemudi ke kantor King International. “Tristan, menurutmu revisi ini sudah cocok? Kalau kita ubah bagian ini...” Di luar ruangan Tristan, Scarlett belum sempat mengetuk saat suara lembut Nicole terdengar dari dalam ruangan. Pintu sedikit terbuka, dan Scarlett mengintip. Ia melihat Tristan memegang berkas sambil berbicara kepada Nicole yang membungkuk ke arahnya, “Angka-angka ini tidak masuk akal. Bisa menimbulkan masalah keamanan dalam proyek.” “Dan untuk penempatan di sektor D,” lanjut Tristan, tiba-tiba mengalihkan topik, “Tarik kursi dan duduk sini.” Mendengar nada perhatian Tristan, Nicole tersenyum dan langsung menarik kursi untuk duduk di sampingnya. Di luar pintu, Scarlett hanya bisa memutar matanya diam-diam. Saat itu, ia tak yakin apakah interaksi Tristan dan Nicole masih wajar, atau memang sudah kelewat batas. Tapi satu hal yang pasti, sejak menikah, Tristan tak pernah sekalipun berbicara padanya dengan nada selembut itu. Ia tak pernah peduli apakah Scarlett berdiri atau duduk, berlutut atau tergeletak, hidup atau mati. Tahun lalu, Scarlett sempat mengalami kecelakaan kecil. Saat dokter meminta tanda tangan dari anggota keluarga Scarlett, Tristan menutup teleponnya. Scarlett menghabiskan beberapa hari di rumah sakit—dan sampai sekarang, Tristan bahkan tak tahu apa-apa soal kejadian itu. Setelah menunggu di depan pintu cukup lama dan melihat pembicaraan mereka belum juga selesai, Scarlett akhirnya berbalik dan pergi sambil membawa kotak makan siangnya. Saat berkeliling di lantai bawah dan melewati apotek, ia teringat dengan nasihat Audrey. Ia pun menguatkan diri dan kembali ke ruangan Tristan. Benar saja. Terlepas dari Tristan mengakuinya atau tidak, dia adalah istri sah Tristan. Kenapa dia harus bersembunyi? Dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Jadi, Scarlett kembali ke kantor Tristan, dan tanpa ragu, ia membuka pintu. Di dalam ruangan, Tristan dan Nicole yang mendengar suara pintu terbuka, langsung menoleh ke arahnya.Sementara itu, Chris tetap menyambut para tamu. Di dalam hatinya, ia merasakan kehilangan yang sama, hanya saja ia tidak bisa menunjukkannya seterbuka Summer.Para asisten Tristan dan Chris sibuk mengarahkan para tamu menuju lokasi upacara, yang diadakan di taman pribadi baru milik Tristan, tempat yang khusus dipersiapkan untuk hari istimewa itu.Hamparan rumput luas dengan latar pohon ginkgo dan birch menciptakan suasana seperti dalam dongeng, ditambah arsitektur bergaya Eropa yang semakin menambah pesonanya.Setibanya di sana, para tamu disambut oleh rangkaian bunga segar dan hidangan prasmanan luar ruangan dengan berbagai jenis masakan yang dibuat oleh koki-koki terkenal dari hotel ternama.Menjelang upacara dimulai, tayangan slide berisi foto-foto Scarlett dan Tristan diputar. Nathan, Chris, Summer, Lucian, Audrey, Zoe, Bruce, dan Jake juga muncul di dalamnya, menjadi saksi perjalanan panjang hubungan pasangan itu.Upacara pun dimulai dengan pi
Dua rintangan pertama berhasil dilewati hanya dengan sedikit “hujan uang”. Namun rintangan ketiga, yang dijaga Zoe dan Sandy, tak bisa ditembus hanya dengan uang. Mereka menginginkan ketulusan yang nyata.Saat para pengiring pria mulai naik ke lantai atas, Zoe buru-buru menyuruh anak-anak menjaga pintu sambil berkata penuh semangat, “Scarlett, mereka sudah datang! Mereka sudah sampai!”Scarlett hanya bisa tertawa melihat antusiasme sahabatnya.Dengan orang dewasa dan anak-anak memenuhi ruangan, tempat itu terasa sangat ramai. Untungnya ruangannya cukup luas untuk menampung semua orang.“Sayang, aku datang menjemputmu.”Baru saja Zoe mengatur anak-anak di depan pintu, suara Tristan sudah terdengar dari luar.Nathan langsung menoleh ke arah Scarlett dan berseru, “Ibu, Ayah datang! Ayah datang!”Sandy segera memberi isyarat agar Nathan diam.“Nathan, jangan buka pintunya dulu.”Nathan mengangguk kuat-kuat, lalu berteriak ke
Saat Nathan menyelesaikan ucapannya, para perias langsung tertawa bersama, lalu salah satu dari mereka berkata, “Sepertinya semua anak di dunia punya mimpi yang sama.”“Aku juga mau cantik,” gumam Jesse pelan, penuh iri sambil menatap Scarlett.Keduanya mendekat, lalu tak lama beberapa anak lain ikut bergabung, mengelilingi Scarlett sambil memuji kecantikannya dan berharap bisa tumbuh menjadi seperti dirinya.Scarlett tak bisa berhenti tersenyum melihat tingkah manis mereka.“Baiklah, semuanya berkumpul di sini. Jangan terlalu berdesakan, pengantin wanita masih harus bersiap!” Sandy bertepuk tangan, seketika menarik perhatian anak-anak itu.Meski sehari-harinya bekerja sebagai pengacara, Sandy memang sangat pandai menghadapi anak-anak.Tak lama kemudian, tiara Scarlett pun telah terpasang. Melihat itu, Zoe tak bisa menahan kagumnya.“Ya ampun, Scarlett! Kamu benar-benar cantik sekali. Tristan benar-benar beruntung.”Mata Summer
Sifat ceria dan suka bercanda Scarlett adalah salah satu hal yang paling Tristan sukai darinya. Karena itu, Tristan sering kali memilih membiarkan tingkah usil Scarlett begitu saja. Keterlibatan Scarlett di United Laws LLP pun berjalan lancar berkat pengertian Logan. Ia sengaja memastikan beban kerja Scarlett tetap ringan, mengingat kehamilan yang sedang dijalaninya. Scarlett sendiri memang bukan tipe orang yang bisa diam terlalu lama. Dengan cekatan, ia mampu menyeimbangkan keluarganya yang semakin besar dengan kariernya.Semakin dekat hari pernikahan, perut Scarlett pun semakin membesar. Kediaman keluarga Wilson dipenuhi suasana antusias. Summer bahkan mempekerjakan tim tukang kebun untuk merapikan halaman, memastikan semuanya tampak sempurna untuk hari besar itu.Tiga hari sebelum upacara, rumah mereka telah berubah menjadi lautan kebahagiaan, dipenuhi dekorasi dan simbol-simbol keberuntungan. Kerabat dari keluarga Wilson dan King berdatangan. Keith dan Amber tingga
Setelah selesai mandi, Scarlett tak bisa menahan diri untuk mengagumi tubuh Tristan. Hal itu membuat Tristan buru-buru mengencangkan jubah mandinya sambil bercanda, “Apa yang sedang kamu pikirkan?”Scarlett, yang memang selalu blak-blakan, menjawab, “Seharian di rumah bosan sekali. Wajar kalau aku memanfaatkanmu sedikit.”Candaan seperti itu adalah salah satu hal yang membuat Tristan begitu mencintainya.Duduk di samping Scarlett, Tristan menggoda, “Kalau begitu, coba ceritakan, sebenarnya apa yang ada di pikiranmu?”Percakapan penuh godaan seperti itu sudah menjadi bagian dari keseharian mereka, bumbu kecil dalam hidup yang selalu Tristan nikmati.Setelah bersenda gurau, Scarlett berkata, “Minerva datang tadi siang. Waktu itu aku sedang tidur, jadi ibu yang menyambutnya. Dia membawa banyak perlengkapan bayi dan pakaian untuk Nathan.”Mendengar Minerva datang, senyum Tristan sedikit memudar.Sambil memeluk Scarlett lebih erat, ia berk
Suatu sore, sesaat setelah bangun dari tidur siangnya, Scarlett kedatangan Sandy yang membawa banyak makanan kesukaan Scarlett. Sandy baru saja pulang setelah memenangkan sebuah kasus baru di pengadilan."Lihat siapa yang datang!" sambut Summer dengan senyum lebar, sebelum pergi menjemput Nathan dari taman kanak-kanak.Setelah Summer pergi, Scarlett dan Sandy duduk santai di ruang keluarga sambil mengobrol hangat, membicarakan keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Scarlett selalu memiliki rasa sayang khusus terhadap Sandy, meskipun Sandy sendiri tidak begitu memahami alasannya. Namun Scarlett tahu, itu karena hubungan mereka lebih dari sekadar persahabatan—mereka sudah seperti keluarga.Pembicaraan mereka kemudian beralih pada persiapan pernikahan."Oh, Letty, kemarin aku sudah mengecek gaun pengantinmu. Hampir selesai. Para pengrajin yakin gaun itu akan selesai tepat waktu untuk hari besarmu," kata Sandy. Mengingat hari pernikahan yang se
Setelah selesai pergulatan panas, Tristan menyandarkan kepala pada tangannya dan berbaring miring, menatap Scarlett dengan penuh kekaguman. Bagi Tristan, rona kemerahan di wajah Scarlett tampak sangat mempesona.Menyadari tatapan itu, Scarlett membuka matanya dan membalas pandangan Tristan dengan e
Scarlett menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan masuk ke kamar rawat inap Tristan.Begitu berada di dalam, pandangan Scarlett langsung tertuju pada perban yang menutupi wajah Tristan. Jika lukanya cukup dalam, bekasnya akan sulit dihilangkan.Menyadari Scarlett masuk, Tristan berkata, “Hany
Saat itu, Scarlett menangkap tatapan Tristan yang ternyata sudah lebih dulu memperhatikannya.Mata mereka saling terkunci, dan dengan tenang Scarlett berkata, “Jawab saja.”Jantung Tristan berdegup kencang, rasa gugupnya makin menjadi. Tapi, karena tatapan tegas Scarlett tak bisa ditolak, akhirnya
Bruce terus berbicara tanpa henti layaknya senapan mesin, dan setiap kali Scarlett mencoba menyela, ia langsung memotongnya.Tristan memutar lehernya dan berkata dengan nada mengancam, “Bruce, kamu ingin mengakhiri hidupmu dengan cara seperti apa? Pilih sendiri.”Bruce tampak seperti baru saja dice







