Home / Romansa / Pemalu di Luar, Liar di Dalam / Bab 28. Anggur Muscat, Ceri, dan Sampanye

Share

Bab 28. Anggur Muscat, Ceri, dan Sampanye

Author: Spika
last update publish date: 2026-08-08 23:01:22
Semestinya begitulah malam pertama sepasang pengantin baru.

Semestinya begitulah foreplay menuju malam bercinta sepasang pengantin baru seperti petunjuk Gita.

“Mmh, sial!”

Sekar duduk merosot di balik pintu kamar mandi. Tergesa melarikan diri dari sentuhan Liam yang mungkin hanya seujung kuku di punggung dan bahunya tadi, membuatnya lupa mengambil bathrobe atau baju ganti dari koper.

Dia terpaksa balik lagi ke luar kamar mandi. Liam yang berdiri di balkon entah sedang apa, menoleh. Ekspresi hera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Artsy
Aw aw! Modus amat Sekar pengen champagne segala!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pemalu di Luar, Liar di Dalam   Bab 88. Tolong Jangan Terlalu Perhatian!

    Liam kembali ke kursinya. “Well, berteman setelah pisah. Ya, bisa. Yang ada anak aja, mereka bisa apa tuh namanya?”“Co-parenting?” Sekar juga kembali ke kursinya, camberut mendapati es stik sudah mulai mencair.“Menurut kamu, kita bisa begitu?”Sekar menoleh, meraih kantong plastik berisi es stik. “Temenan abis divorce? Bisa aja. Why not?”“Ya, asal nggak jatuh cinta, kan?” Liam berdiri, “esnya mau di bawa ke mana?”Sekar membeku sesaat. “Masukin freezer. Udah cair!” Lalu dia balik badan, “sering-sering berantem kalau gitu. Biar kita saling sebel, kesal, benci.”“Buat apa?” Liam menutup pintu balkon.“Biar nggak jatuh cinta. Kita saling kesel aja gitu Kayak yang nggak mungkin lah kamu tahan sama sikap aku yang ngeselin itu!” Sekar membuka pintu kulkas, memasukkan semua es stik ke dalam freezer.Liam memandangnya dari pintu balkon, bertanya dalam hati, apa yang bisa membuatnya membenci Sekar?“Oh, ya Sekar?” Liam teringat sesuatu. “Kamu kerjanya mulai besok?”Sekar mengiyakan dari bal

  • Pemalu di Luar, Liar di Dalam   Bab 87. Friends with Benefit yang Menikah

    ‘Apa boleh aku meminta tiba-tiba sekarang ada gempa bumi? Supaya nggak perlu dengerin cerita Liam, nggak perlu sok kuat kayak gini. Supaya aku sama Liam juga langsung mati.’Sayangnya semesta tak mengabulkannya secepat itu. Sayangnya Sekar mesti tetap mendengar, mesti tetap sok kuat. Lagipula bukankah dirinya sendiri yang mau belajar untuk tak cemburu?Jadi, Sekar harus menghadapi, mendengarkan apa pun pengakuan Liam tentang apa yang terjadi di kota SB itu dengan Fira.“Lama?” Dilepaskannya tangan Liam.“Apanya?”“Ciumannya.” Sekar tak mau berkedip, menunggu lanjutan ucapan Liam.Liam mengangguk. “Lumayan.”Mereka saling menatap. Lama, dalam, tak ada yang bicara. Hanya ada embusan suara napas keduanya dan angin malam, serta tetangga sebelah yang baru mereka ketahui memasang lagu tempo dulu tentang metafora sungai bulan.“You, drunk?” kata Sekar usai lagu usai, sebab ingin mendengarkannya sampai habis, mencegahnya meneteskan air mata.“Enggak. Baru seteguk waktu itu.”Suara Liam terden

  • Pemalu di Luar, Liar di Dalam   Bab 86. She’s Electric

    Meski kecupan di keningnya sudah berlalu beberapa menit yang lalu, tapi campuran aroma tembakau dan es rasa anggur masih tertinggal di wajah Sekar. Dia merasa angin malam itu juga tak mau menghilangkan jejaknya begitu saja.“Gimana ceritanya? Si Pak Andi Kunang-kunang emangnya beneran butuh pegawai?” Liam tak sabaran, menarik kursi plastik yang tadi di dudukinya ke hadapan sekar.Sekar ngakak sampai menunduk memegangi perut. “Kocak banget sih, kamu suka nambah-nambahin nama orang.”Liam ikut tertawa. “Aku penasaran nih, gimana? Gajinya berapa?”“Ehm ….” Sekar pura-pura berpikir sambil mengemut es stik perlahan, “katanya boleh aja. Dia nggak nyari karyawan sebetulnya. Malah kaget aku dateng ngelamar kerja.”Di kursinya, Liam duduk menopang satu kaki. Menyimak cerita Sekar kata demi kata.“I see. Terus?” Kilap basah tipis tertinggal di istrinya, sejenak dia salah fokus.“Pak Andi bilang emang kadang dia suka bingung, kalau dia mau keluar sebentar ada urusan, toko bukunya nggak ada yang

  • Pemalu di Luar, Liar di Dalam   Bab 85. Zona Nyaman

    Setelah merasa cukup menjadi pusat perhatian selama beberapa saat di kafe, Sekar menarik-narik lengan kemeja Liam, mengajak keluar dari sana sambil tetap mempertahankan senyum seadanya pada orang-orang di sana.Sejak beberapa bulan lalu sampai barusan, mereka selalu bikin kehebohan. Bedanya kali ini Sekar dan LIam tidak diusir keluar kafe, malahan dapat gratis dua potong cake. Hadiah pernikahan, kata si barista kumisan tadi.“Take away aja. Aku nggak sanggup diliatin orang-orang! Ayo, cepet!” bisik Sekar di telinga Liam yang tampak tak selesai-selesai diberi selamat para staf kafe dan beberapa pengunjung.Setelah akhirnya salam-salaman itu usai, mereka baru bisa keluar kafe. Liam langsung menuju ke tempat pencucian mobil, sementara Sekar menunggu di kursi depan.Dia baru menyadari kalau ternyata kedai kopi berlogo putri duyung ini memiliki penampilan baru yang agak bergaya klasik. Beberapa meja kursi terhampar di atas trotoar berbatu halaman kafe.Meski sudah pasti jadi area merokok,

  • Pemalu di Luar, Liar di Dalam   Bab 84. Masa Probation

    “Eh—”“Hai—”Sekar dan Liam bertubrukan tepat saat Sekar membuka pintu kamarnya dan Liam yang hendak mengetuk. Si pria yang sudah rapi harum mewangi diyakini Sekar akan segera pergi ke kantor. Sementara dirinya benar-benar baru bangun tidur dengan penampilan yang tentu saja berbanding terbalik.“Aku jalan dulu ….” Liam berdiri saja di depan kosen pintu.Sekar mengangguk sambil mundur selangkah, berpikir mungkin Liam akan menciumnya, atau mengharap dicium tangan atau lebih sedikit dari itu. “Hm, itu ….” Liam menoleh dan menunjuk ke arah dapur.Sekar melongok ke arah yang sama, lalu balik memandang Liam, berhati-hati membuka mulut, takut napas baru bangun tidurnya itu membuat Liam pingsan.“Kenapa?”“Ada lontong sayur, sama ….” Liam menarik napas, pipinya agak merah jambu, “celanamu yang semalam itu udah aku taro di ruang cuci!” lanjutnya cepat.Keduanya bertatapan. Sedetik kemudian, Sekar mengucap kata terima kasih tanpa suara dan langsung menunduk, tangannya meremas ujung piyama. Ada

  • Pemalu di Luar, Liar di Dalam   Bab 83. Maukah Kamu?

    Suhu AC di dalam sedan hitam itu beradu dengan panas tubuh dua manusia yang terkulai lemas, membeku dalam dekapan dengan napas berkejaran di udara. Liam membelai-belai kepala tengkuk Sekar, menikmati sisa getaran nikmat di sekujur badan.“Orang-orang ada yang lihat mobil ini goyang nggak?” Sekar masih bersandar di bahu Liam.“Nggak tau. Paling entar didatengin satpam. Atau manager dojang yang kamu sebelin itu.” Liam tertawa kecil.Sekar mendongak, bibirnya membuka, melahap dagu suaminya. “Ehm, jok mobil kamu …”“Kenapa?”“Basah.” Sekar berpaling kembali menunduk malu.Keduanya tertawa. Liam mengaitkan kembali bra Sekar, merapikan kaus hitamnya. Sekar lalu menaikkan pinggul, waktunya berpisah dengan milik Liam.“Pelan, Sayang. Masih enak,” goda Liam, membuat Sekar merajuk manja.Saat Liam hendak meraih kotak tisu dari atas dasbor, sambil tersipu Sekar bilang kalau di tasnya ada tisu basah khusus. Bagai suami penurut, Liam menggapai tote bag Sekar, mencari-cari benda yang dimaksud istri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status