MasukKetika membuka mata keesokan paginya, Sekar menoleh pada Liam. Pria itu berbaring miring menghadapnya dengan lengan terjulur di bawah kepala Sekar yang telentang.“Tidur lagi aja.”Sekar mendengar suara berat berbisik di telinganya, lalu kening dan pipinya dijalari rasa hangat. Kecupan Liam kemudian berhenti di atas bahu Sekar.“Jam berapa?”Sekar memiringkan tubuh, membenamkan wajah di dada Liam. Beberapa ratus hari lagi mungkin dirinya dan Liam tak akan begini lagi. Tiba-tiba saja sepagi itu dia ingin menabung kenangan; aroma citrus Liam yang memanjakan indranya.“Setengah enam.” Liam memainkan helaian rambut Sekar, melilitkan di jarinya. “Ngomong-ngomong semalam kamu jadi makan lagi?”Tangan mungil Sekar refleks meraba perut. Terasa lebih rata dari biasanya plus keroncongan. “Lupa,” sahutnya, kembali telentang.“Aku nungguin sebenernya. Sambil main game. Tapi kayaknya kamu langsung tidur. Aku ketuk-ketuk pintunya, nggak ada suara, dikunci.”Sebenarnya Sekar mendengar sayup-sayup su
Waktu Liam tiba di unit apartemen, Sekar sedang goleran di karpet menonton serial dokter forensik kesukaannya sambil bersandar pada kaki sofa, tangan kanan di dalam stoples keripik dan tangan kiri memegang remote.Perempuan yang fotonya baru saja Liam pajang di meja kerja kantor menanti kepulangan suami dengan cara yang baginya absurd, tapi dia suka.“Hai!” sapa Sekar pendek begitu sadar Liam sedang memperhatikannya.Sejujurnya Sekar ogah beranjak dari zona nyaman seakan tubuhnya meminta hak beristirahat setelah liburan lima hari.“Kamu udah makan?” Sekar menegakkan tubuh tetap duduk di lantai.Liam bergabung, duduk selonjoran di karpet. “Belum. Kamu udah?”Sekar menggeleng.Liam nyengir, memandang stoples bening yang didekap Sekar. “Tapi udah ngemil. Hampir setoples, pula.”“Kan nungguin suami pulang. Pas lagi nonton ini kayak laper gitu.” Sekar menunjuk layar televisi.“Oh, that is sweet.” Liam mengelus rambut Sekar.Sekar bisa melihat binar-binar di mata Liam, ingin berinisiatif me
“Wah! Terima kasih banyak Sekar!” Pak Andi berseri-seri menerima sekotak kue bolu khas dari Sekar. “Merepotkan jadinya. Kalian kan sedang bulan madu.”Sekar nyengir, menyalakan komputer lama toko buku bekas Kunang-kunang. Layar selebar 14 inchi itu masih menggunakan sistem operasi jadul. Dia jadi teringat kembali kalau sempat berpikir untuk minta bantuan Liam soal ini.“Nggak repot Pak. Bukan bulan madu kok, cuma jalan-jalan aja.”Pak Andi terkekeh, membuka kotak kue sedikit sekadar mengintip, menghidu aromanya.“Ah, sama saja. Apalagi hanya berdua; suami istri pergi liburan, ya agendanya apalagi selain memadu kasih?”“Astaga Pak Andi, bahasannya memadu kasih.” Sekar ketawa menepuk-nepuk sedikit monitor komputer yang mati nyala. “Lagipula kan nggak memadu kasih terus-terusan, Pak! Capek!” lanjut Sekar lugu.Tawa si pemilik toko buku pecah. Begitu mereda, sembari memasukkan kembali boks kue ke dalam paper bag, beliau bilang, “Nikmatilah Sekar. Cherish every moment together. Buatlah ken
“Oh, itu kayak yang Gita suka baca deh.” Sekar memutar otak. Bukan hanya untuk jawaban, tapi juga supaya terlihat tenang.Dia tahu kalau sekarang banyak kaum pria yang menonton drama-drama pendek romantis di internet sehingga cukup memudahkannya di situasi terdesak begini.Liam membuka tenda selimut, berbaring di samping Sekar. Tak lama kemudian dia mengangguk-angguk.“Hm, emang trennya. Anak-anak kantor juga gitu.” Dia melirik Sekar sekilas. “Aku pernah lihat temenku yang credit manager nonton drama short pas lagi lunch.”Sekar terduduk, menarik selimut menutupi dada. Senyum tipis terkembang di bibirnya.“Iya kan? Kayaknya hampir semua orang hiburannya nonton yang pendek-pendek gitu.” Sekar jadi lebih semangat, “Kamu tau nggak, waktu kapan Gita — dia malahan sampai pernah ngikutin salah satu adegan di ….”Dia berhenti sejenak, sebab Liam melirik penuh selidik. Logikanya mengingatkan supaya berhati-hati, jangan sampai terpancing hingga jadi oversharing, dan rahasianya terbongkar.“Di
“Tungguin! Jangan cepet-cepet larinya!”“Come on!” Liam menoleh ke arah Sekar, megeratkan tautan jemari.Kaki-kaki yang melangkah tergesa, cepat lalu berlari kecil. Sekar melihat tangannya yang terentang, jemari bertaut, ditarik Liam untuk mengikuti langkah panjang kakinya.Tiba di cottage, keduanya melepas pakaian yang basah oleh keringat karena berlari dari bukit kebun teh. Sekar masuk duluan ke dalam kamar mandi.Sewaktu sedang memutar-mutar keran air hangat, Liam menyusul, memeluk tubuh polos Sekar yang masih terbalut pakaian dalam. Seketika rasa hangat menjalar, kecupan-kecupan kecil menyerbu titi-titik sensitif Sekar.Tangan Liam menumpuk di atas tangan Sekar, bersama-sama memutar keran hingga tetesan air hangat jatuh perlahan lalu deras menyirami mereka. Sementara Sekar terus-terusan mendesah, merasakan ngilu yang mendamba di area feminimnya.“Tadi itu kita lari berapa kilometer?” Liam mendekap Sekar posesif, menyandarkan dagu di bahunya.“Nggak tahu. Nggak jauh sih tapinya.”Se
Di ranjang kamar berdinding kayu warna madu, Sekar memandang Liam yang terlelap pulas memunggunginya. Lalu seinci demi seinci Sekar merapat, mendekatkan wajahnya mengecup bahu liam di balik kaus.‘Thank you, Liam, untuk selama hampir seratus hari kita sama-sama.’Sekar memejamkan mata, merasa bisa menumpahkan sepercik afeksi saat pria itu tidur. Menyandarkan hidung sambil menggosok-gosokkannya lembut di punggung seraya menghidu aroma citrus dari tubuh suaminya. Lantas bergerak makin erat, tenang memeluk lengan, mengecup sayang permukaan bahu Liam.Helaian-helaian rambut yang tergerai di wajah Sekar perlahan jatuh, menggelitik kulit pria yang lalu mengedikkan bahu dalam lelapnya. Waktu Sekar mengusap-usap dan mengecup punggungnya, Liam merasa napasnya terhela lebih teratur.Namun, Liam tak tahan menikmati diam-diam. Akhirnya mendesah pelan agar Sekar tak terkejut. Agar Sekar tak melepaskan semua ini. Dia merasa diinginkan, disayang.“Hai …” Sekar berbisik di telinga Liam.Liam berbalik







