LOGINSekar bahagia.Buncahan perasaan itu terpancar dari setiap inci dirinya. Begitulah dia di pagi hari, duduk di meja makan, tersenyum lebar memandang roti panggang pertama yang dia buatkan untuk suaminya. “Foto dulu ah. Kenang-kenangan. Paling enggak selama jadi istri aku pernah nyiapin sarapan buat suami.” Cengiran lebar tergambar di wajah Sekar waktu mengunggah foto roti panggang.Sambil menunggu Liam bangun, Sekar duduk bersandar di kursi meja makan sambil menekuk kedua lutut, santai membalas ucapan-ucapan selamat ulang tahun dari keluarga dan sahabatnya di ponsel.Begitu mendengar suara batuk-batuk sengaja di dekatnya, Sekar berhenti mengetik pesan. Suami yang seksi sekujur badan, yang dibuatkan sarapan, sudah bangun.“Hai, pagi.” Suara serak dan tangan Liam mengusap rambutnya lembut. Sekar baru saja berpikir apa tangan Liam mengandung sengatan listrik? Sebab tiap pria itu menyentuhnya, dia seperti tersengat ribuan volt.‘Dan semalam … I screamed his name, bilang aku suka dia!’ Se
‘So, let’s keep me in your heart, Liam. Karena aku juga bakalan menyimpan semua memori ini,’ gumam Sekar di hati terdalam begitu ciuman manis yang tak lama itu terlepas pelan-pelan.Saat tenggelam dalam tatapan Liam, Sekar melihat apa yang pria itu pernah tawarkan padanya. Beberapa pasang padan kata menari-nari di kepala: love, lust, suka, cinta. Dan Sekar tak tahu mana yang mewakili perasaannya.“Naik sepeda lagi yuk!”Sekar lagi-lagi enggan memikirkannya. Berlari sejauh yang dia bisa untuk tetap berada dalam zona nyaman. Dan bisa saja sorot mata pria itu berdusta. Apalagi kata-kata yang dipakai Liam selalu itu-itu saja: I want you; I need you—seperti kurang meyakinkan.Embusan angin mengayun-ayun daun-daun nyiur kelapa. Liam melipat selimut pantai, sementara Sekar memasukkan novelnya kembali ke dalam tas.“Mau ke mana kita? Cari kerang? Bikin istana pasir?” Liam menaruh selimut tipis bergaris ungu di keranjang sepeda Sekar.Si gadis ulang tahun menggelengkan kepala sambil bergumam-gu
Sepuluh menit sudah Sekar membuka mata dan menemukan kamar sudah terang benderang. Gorden yang terbuka lebar, cahaya matahari membias di lantai, dan pemandangan pantai membentang di depannya dari jendela.Dia berguling ke kiri, tersenyum lebar dengan perasaan membuncah seakan terbangun di surga. Dan hari ini hari ulang tahunnya yang ke-28. Dengan tambahan waktu sepuluh menit lagi menikmati pemandangan tepi pantai dari dalam kamar, hingga totalnya dua puluh menit, kejutan yang Sekar damba tak muncul-muncul juga.“Gila sih, aku berharap di-surprise-in sama Liam yang tiba-tiba masuk kamar bawa kue ulang tahun!” gumam Sekar, menarik selimut hingga ke ujung kepala.Dia lalu bangun. Masih berharap mungkin Liam sedang keluar, membeli cake kecil untuknya, lalu bilang: ‘Sori beli kuenya jauh! Surprise, happy birthday Sekar!’.Beberapa saat kemudian semesta mengabulkan harapannya. Tak serupa, malah lebih unik.“Hai, good morning. Udah bangun?” Liam berdiri di meja makan lipat yang menempel pada
Beberapa menit sebelumnya di toko kelontong.Dari jarak yang tak terlalu jauh itu Liam mengamati Sekar, tapi langsung berpaling saat sadar Sekar menatap ke arahnya. Dia tak tahu kenapa menepikan mobil di sini, atau sebelumnya malah memilih lurus alih-alih belok kiri seperti kata peta.‘Sekar suka cokelat,’ gumamnya dalam hati waktu menggeser pintu kulkas es krim.Liam memang ingin perjalanan agak lebih jauh sedikit. Agak lama supaya bisa menikmati waktu berdua dengan Sekar. Ingin melihat sunset di perjalanan, lalu berhenti sebentar memandang matahari tenggelam itu dengan segala kemagisannya.Di atas kap mobil, Sekar menantinya. Liam tak tahan untuk tersenyum waktu melihat ekspresi Sekar yang mengernyit. Dan makin mengernyit waktu Liam mengulurkan stik es krim rasa cokelat.“Ini kan es krim biasa yang di mana aja ada.”“Tapi kamu belum pernah kan makannya di pinggir jalan luar provinsi kayak gini, sama penculik ganteng kayak aku?” Liam tersenyum kecil, melompat naik ke atas kap mobil.
“Jadi kita jalan balik parkir trotoar lagi?”Sekar sebenarnya bertanya, tapi nadanya terdengar mirip keluhan. Jaraknya lumayan juga soalnya, apalagi dengan kondisi perut baru diisi, ditambah lagi jalanan aspal di gang sempit yang diapit tembok bata itu tidak rata dan berbatu.Liam menoleh, mengangguk. “Abis makan nggak ada salahnya jalan kaki sedikit, biar nggak terlalu ngantuk. Apalagi mesti nyetir lagi, kan?”“Kata siapa?”“Hm, ya pernah ada yang ngasih tau.”Sekar melirik, berusaha keras menyembunyikan ekspresi cemberut, sementara dalam hati yakin menduga. ‘Siapa lagi? Pasti mantannya yang ahli gizi itu.’“Fira yang kasih tau?” Tak tahan juga dia memendam prasangka. Dilontarkan saja ucapan tadi bulat-bulat.Mereka lihat-lihatan. “Kita nggak akan ngomongin soal itu, kan?” Liam memasukkan kedua tangan dalam saku.Sekar diam saja. Untung habis makan, jadi dia ada alasan mengipasi wajah yang memang mulai berkeringat di sekitar pelipis. Tapi rupanya rasa penasaran itu enggan pergi dari
“Ugh!”Hidung Sekar terantuk punggung lebar yang tiba-tiba mundur selangkah dari depan pintu apartemen. Untung saja ranselnya dia cangklong di sebelah bahu, kalau tidak, mungkin mood Sekar bisa hilang dan road trip ini gagal.Liam balik badan. “We’re going out now—”“Ya emang. Kenapa? Kamu mendadak males? Lupa matiin kompor?” Sekar ketus, mengusap hidung, memindai seisi ruangan apartemen, yakin tak ada yang tertinggal. Di daftarnya semua sudah terceklis. Tas yang dibawa Liam memang yang terakhir.Liam menjawabnya dengan gelengan kepala, merendahkan suaranya sedikit. “Kamu nggak pernah nanya kira-kira aku mau ajak jalan ke mana?”‘Oemji! Di last minute begini kamu baru nanyain aku? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin? Kenapa nggak pas abis aku bilang pengen ke pantai!’Dalam hati Sekar menjerit begitu sebenarnya. Dan sebagaimana seorang perempuan, dia pun ingin sekali misuh-misuh, tapi diurungkan. Dia memang sengaja tak ingin bertanya, ingin mewujudkan fantasi yang diam-diam pernah dikha







