Compartir

Bab 4

Autor: Yu.Az.
last update Fecha de publicación: 2026-10-14 16:13:43

Ketika membuka mata, Kinara mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang sama sekali asing.

Di hadapannya terbentang pemandangan yang indah. Sebuah sungai dengan air jernih mengalir tenang di antara bebatuan, sementara pepohonan hijau tumbuh subur di sekelilingnya.

Tidak jauh dari sungai itu, berdiri sebuah rumah kecil yang tampak sederhana.

Kinara tertegun cukup lama sebelum akhirnya menoleh ke kanan dan kiri.

“Di mana ini?”

Tentu saja, tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

Ia memandangi sekelilingnya dengan waspada, berusaha memastikan apakah dirinya sedang bermimpi atau benar-benar berada di tempat asing tersebut.

“Bukankah tadi aku masih berada di rumah sakit?” gumamnya. “Bagaimana bisa tiba-tiba berada di sini?”

Kinara mencubit lengannya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Rasa sakit yang muncul membuatnya mengerutkan kening.

“Ini bukan mimpi?”

Ia kembali menatap cincin di jarinya. Cahaya yang sebelumnya menyilaukan kini telah menghilang, membuat benda itu tampak seperti cincin biasa.

“Jangan-jangan, semua ini ada hubungannya denganmu?”

Sayangnya, cincin itu tetap diam tanpa memberikan jawaban.

Kinara akhirnya memutuskan untuk memeriksa tempat tersebut. Ia berjalan mendekati sungai dengan mengantongi botol infusnya, lalu berjongkok di tepinya untuk mengamati air yang mengalir begitu jernih.

Air itu tampak bersih, bahkan dasar sungainya terlihat jelas. Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, Kinara menangkupkan kedua tangannya dan meminum air tersebut.

“Segar sekali,” gumamnya.

Setelah beberapa detik kemudian, ia merasakan perubahan aneh pada tubuhnya.

Rasa sakit yang sejak tadi mengganggu tubuhnya perlahan menghilang. Luka-luka akibat kecelakaan yang sebelumnya masih terasa nyeri juga pulih, seolah-olah tidak pernah ada.

Kinara langsung menegakkan tubuhnya dengan mata membelalak.

“Apa yang terjadi?”

Ia memeriksa tangannya, lalu menyentuh bagian tubuhnya yang sebelumnya terasa sakit. Tidak ada lagi rasa nyeri yang mengganggu, bahkan tubuhnya terasa jauh lebih ringan daripada sebelumnya.

“Tidak mungkin ... Aku baru saja meminum air sungai ini, lalu tubuhku langsung pulih?”

Kinara menatap air di hadapannya dengan perasaan tidak percaya. Ia tidak tahu apakah air tersebut memang memiliki khasiat khusus atau ada sesuatu yang lebih misterius di tempat itu.

Belum sempat ia memahami apa yang sedang terjadi, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil namanya.

“Kinara!”

Tubuh Kinara langsung menegang.

Ia buru-buru menoleh ke segala arah, tetapi tidak menemukan siapa pun di dekatnya.

“Siapa itu?” tanyanya dengan suara waspada.

Suara itu kembali terdengar, membuat Kinara semakin panik. Ia segera berdiri dan melangkah mundur, tidak tahu apakah orang yang memanggilnya berada di dalam rumah kecil atau bersembunyi di antara pepohonan.

“Itu seperti suara Damian! Gawat bagaimana caranya aku keluar?”

Kinara menggenggam cincin di jarinya erat-erat. Ia mulai menyadari bahwa tempat ini bukanlah tempat biasa, dan ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara kembali ke rumah sakit.

Sementara itu, di kamar rawat inap Kinara, seseorang baru saja datang berkunjung.

Pria itu adalah Damian. Ia masuk dengan langkah tenang, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tapu ketika mendapati ranjang rumah sakit kosong, Damian langsung mengerutkan kening.

“Kinara?”

Ia berjalan mendekati ranjang dan memeriksa sekelilingnya. Tidak ada Kinara di sana, sementara selimut yang sebelumnya menutupi tubuh gadis itu tampak sedikit berantakan.

Damian mengerutkan kening semakin dalam. “Ke mana dia pergi?”

Ia segera menoleh ke arah pintu, berharap Kinara hanya sedang keluar sebentar. Akan tetapi, setelah beberapa saat menunggu, gadis itu tetap tidak muncul.

Wajah Damian berubah serius. “Jangan-jangan terjadi sesuatu?”

Ia mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi seseorang untuk mencari tahu keberadaan Kinara

Bab 4 — Sikap Kinara yang Berubah

Damian baru saja hendak menekan nomor seseorang di ponselnya ketika tiba-tiba terdengar suara dari arah toilet. Pintu toilet terbuka lebar, menampilkan Kinara yang berjalan keluar sambil membawa botol infusnya.

“Ada apa?”

Suara dingin itu membuat Damian tersentak. Ia segera menoleh dan mendapati Kinara berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, seolah-olah tidak menyadari bahwa pria itu baru saja kebingungan mencarinya.

Damian mengerutkan kening. “Kau dari mana saja?”

“Toilet.”

Kinara menjawab singkat tanpa sedikit pun menunjukkan keinginan untuk berbasa-basi. Ia bahkan tidak melirik Damian lagi, melainkan sibuk mengatur posisi botol infus di tangannya agar tidak mengganggu langkahnya.

Dalam hati Kinara menghela napasnya karena berhasil keluar dari ruang dimensi itu tepat waktu.

Jawaban singkat itu membuat Damian mendengus tidak senang. “Jangan besar kepala hanya karena aku datang menjengukmu. Aku datang ke sini atas perintah ibuku, bukan karena ingin bertemu denganmu.”

Kinara hanya mengangguk kecil.

“Begitu.”

Setelah menjawab, ia berjalan perlahan menuju ranjangnya. Gerakannya masih sedikit kaku karena baru pulih dari kecelakaan, tetapi ia berusaha mengurus dirinya sendiri tanpa meminta bantuan Damian.

Sikap itu justru membuat Damian semakin bingung.

Biasanya, Kinara akan langsung tersenyum lebar begitu melihat kedatangannya. Gadis itu bahkan bisa mengajukan berbagai pertanyaan hanya untuk memperpanjang waktu kebersamaan mereka, meskipun Damian sering kali menjawab dengan dingin.

Tapi hari ini semuanya berbeda. Kinara bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegembiraan saat melihatnya.

Ketika Kinara hampir mencapai ranjang, Damian tiba-tiba mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya yang tidak terpasang jarum infus.

“Berhenti dulu!”

Kinara terpaksa menghentikan langkahnya. Ia menunduk menatap tangan Damian yang mencengkeram tangannya, kemudian perlahan mengangkat wajah.

“Ada apa denganmu?” tanya Damian sambil mengamati wajahnya. “Sejak tadi kau bersikap aneh. Apa kau sedang marah kepadaku?”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 9

    Hari pernikahan yang telah ditentukan akhirnya tiba.Di mansion keluarga Huang, suasana terasa sunyi meskipun upacara pernikahan sedang berlangsung. Tidak ada senyum bahagia maupun ucapan selamat yang meriah. Para tamu hanya menunjukkan wajah muram, seolah-olah mereka sedang menghadiri acara yang tidak diinginkan.Di hadapan semua orang, Kinara berdiri mengenakan gaun hitam sederhana. Di sampingnya, Alexander Huang terbaring di atas ranjang khusus, tidak menunjukkan reaksi sedikit pun akibat kondisinya yang vegetatif.Kinara melirik pria itu sekilas. ‘Jadi, inilah pria yang akan menjadi suamiku.’ Ia tidak mengenal Alexander secara pribadi, tetapi tahu bahwa pria tersebut menjadi korban tindakan gegabah Kania. Dalam kehidupan sebelumnya, Kinara hanya tahu jika Alexander Huang tidak akan pernah bangun dari tidurnya. Sementara itu, keluarga Huang memandang pengantin wanita dengan ekspresi muram dan marah. Sebagian merasa sedih melihat keadaan Alexander, sedangkan yang lain masih menyim

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 8

    “Ingat! Harta warisan itu berupa perhiasan serta harta bawaan milik mendiang orang tua Nona Kinara. Pastikan semuanya disiapkan dengan lengkap. Sedangkan untuk saham perusahaan, enam puluh persen sudah siap diserahkan sesuai hak Nona Kinara,” ujar Tuan Harto dengan tegas.Pria paruh baya itu berdiri di ruang tamu mansion keluarga Wang, menatap Melin dan Jason yang sejak tadi terus berusaha mencari alasan untuk menunda penyerahan warisan tersebut. Di samping mereka, Kania juga duduk dengan wajah muram, jelas tidak menyukai kedatangan pengacara kepercayaan keluarga Wang itu.Setelah menemui Kinara di rumah sakit, Tuan Harto langsung bergegas menuju mansion keluarga Wang untuk menyelesaikan urusan warisan. Ia tidak ingin menunda-nunda lagi, terlebih setelah Kinara sendiri yang memintanya memastikan seluruh hak miliknya segera dipersiapkan.Melin berusaha mempertahankan senyumnya, meskipun jemarinya sudah mengepal di balik gaun yang dikenakannya.“Tuan Harto, bukankah usia Kinara belum c

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 7

    Tuan Harto terkejut mendengarnya. “Mahar pernikahan?” Ia mengerutkan kening. “Nona akan menikah dengan siapa?”Kinara tidak berniat menyembunyikannya. “Dengan Alexander Huang, putra sulung keluarga Huang.”Tuan Harto spontan berdiri dari kursinya. “Apa?! Nona akan menikah dengan Tuan Muda Alexander Huang?”Melihat keterkejutannya, Kinara tetap duduk dengan tenang. “Benar, Paman.”“Nona, apakah Anda sudah mempertimbangkannya dengan matang?” Tuan Harto tampak gelisah. “Paman tidak bermaksud meremehkan Tuan Muda Huang, tetapi bukankah Nona Kania seharusnya menikah dengan pria itu?”Ia menghela napas panjang. “Bagaimanapun juga, kecelakaan itu disebabkan oleh Kania. Seharusnya dialah yang bertanggung jawab, bukan Nona. Mengapa Nona justru bersedia mengambil alih pernikahan ini?”Kinara menatap Tuan Harto tanpa mengubah ekspresinya.“Paman tidak perlu khawatir. Keluarga Huang adalah keluarga yang bisa diandalkan. Mereka memiliki kekuatan dan pengaruh yang cukup untuk membantuku melindungi

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 6

    Damian tiba di mansion keluarga Zhao dengan wajah muram. Sejak meninggalkan rumah sakit, pikirannya terusik oleh sikap Kinara yang mendadak berubah dingin, bahkan berani mengusirnya dari kamar rawat inap.Begitu memasuki ruang utama mansion, langkah Damian terhenti. Ia melihat, ibunya, sedang sibuk mengarahkan para pelayan yang membawa berbagai kotak perhiasan, kain mahal, serta barang-barang berharga lainnya.“Ibu, apa yang sedang Ibu lakukan?” tanya Damian dengan kening berkerut.Maya menoleh. Begitu melihat putranya, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.“Kau sudah pulang, Damian? Kebetulan sekali. Ibu sedang mempersiapkan mahar pernikahanmu dengan Kinara.”Damian terdiam sejenak. “Mahar pernikahan?”“Benar.” Maya mengangguk antusias. “Tadi keluarga Wang sudah menghubungi kita dan mengonfirmasi bahwa pernikahan kalian akan dilaksanakan seminggu lagi, tepat setelah Kinara keluar dari rumah sakit.”Bukannya merasa senang, Damian justru tertawa sinis.“Cih! Jadi, begitu rupanya.”

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 5

    Tatapan Kinara seketika berubah tajam. Pria yang berdiri di hadapannya adalah Damian, laki-laki yang pernah sangat ia cintai. Pria yang dahulu selalu ia bela, bahkan ketika semua orang memperingatkannya agar tidak terlalu bergantung pada cinta seseorang.Tapi pria yang sama juga telah menghancurkan hidupnya.Ingatan tentang kehidupan sebelumnya tiba-tiba menyerbu pikirannya. Ia masih mengingat bagaimana Damian dengan kejam menyuruh dokter menggugurkan kandungannya demi kepentingan Kania.Saat itu, bayi mereka berusia enam bulan dan tumbuh dengan sehat di dalam rahimnya, putranya yaitu Ethan.Bayi yang bahkan belum sempat ia peluk, tetapi sudah direnggut dari kehidupannya oleh pria yang dahulu ia percaya akan menjadi pelindungnya.Napas Kinara mendadak terasa sesak. Jemarinya mulai gemetar, sementara wajahnya perlahan kehilangan warna.Tidak, ia tidak boleh melupakan apa yang telah dilakukan pria ini.Ia tidak boleh kembali menjadi Kinara yang sama, gadis bodoh yang rela mengorbankan

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 4

    Ketika membuka mata, Kinara mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang sama sekali asing.Di hadapannya terbentang pemandangan yang indah. Sebuah sungai dengan air jernih mengalir tenang di antara bebatuan, sementara pepohonan hijau tumbuh subur di sekelilingnya.Tidak jauh dari sungai itu, berdiri sebuah rumah kecil yang tampak sederhana.Kinara tertegun cukup lama sebelum akhirnya menoleh ke kanan dan kiri.“Di mana ini?”Tentu saja, tidak ada yang menjawab pertanyaannya.Ia memandangi sekelilingnya dengan waspada, berusaha memastikan apakah dirinya sedang bermimpi atau benar-benar berada di tempat asing tersebut.“Bukankah tadi aku masih berada di rumah sakit?” gumamnya. “Bagaimana bisa tiba-tiba berada di sini?”Kinara mencubit lengannya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Rasa sakit yang muncul membuatnya mengerutkan kening.“Ini bukan mimpi?”Ia kembali menatap cincin di jarinya. Cahaya yang sebelumnya menyilaukan kini telah menghilang, membuat benda it

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status