Share

Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku
Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku
Author: Crispy Coco

Bab 1

Author: Crispy Coco
Tiga hari sebelum pernikahanku, undangan itu tiba. Lokasinya bukan di kediaman milik keluargaku di Silia. Melainkan di pulau yang dibeli tunanganku untuk peliharaan kecilnya, Clara.

Ponselku menyala. Unggahan baru dari Clara.

Dia memajang foto-foto persiapan pernikahan di pulau itu. Satu foto dirinya bersama Maxim. Dia mengenakan gaun putih seksi, menggandeng lengannya. Maxim tampak rapi dalam setelan jas, wajahnya sangat tampan. Dia menulis deskripsi di foto itu.

[ Merencanakan pernikahan impian. Sangat bahagia. ]

Mereka tampak seperti pasangan bahagia, siap menjalani sisa hidup bersama.

Hidungku terasa perih. Amarahku membara.

Aku jatuh cinta pada Maxim sejak pertama kali melihatnya. Enam tahun lalu, di sebuah lelang. Aku mengejarnya selama setahun, tetapi dia tak bergeming.

Kemudian, ayahku meninggal mendadak. Aku mengambil alih keluarga, jalur pelayaran kami, dan bisnis kami yang sebenarnya.

Tiba-tiba, dia menginginkanku. Keesokan harinya, dia mengumumkan pertunangan kami.

Aku tak peduli. Selama aku bisa bersamanya, apa masalahnya? Bahkan jika dia hanya menginginkanku karena nilai keluargaku.

Hidup bersama Maxim tidak buruk. Dia berkelas, tampan, dan dermawan. Bahkan di ranjang, kami sangat "menyala". Namun, dia sama dermawannya pada Clara. Setelah dia membelikannya sebuah pulau, aku yakin kalau Clara meminta bulan, Maxim akan membangun roket untuk meraihnya.

Aku cemburu dan aku kecewa, tetapi bodohnya aku selalu memaafkannya setiap kail.

Aku seorang pecandu. Maxim adalah canduku.

Saat dia melamarku, aku mengajukan satu syarat. Itu adalah permintaan terakhir ayahku. Menikah di kediaman Keluarga Rasman di Silia. Di sanalah keluarga kami bermula, di sanalah ayahku dimakamkan.

Sekarang, Maxim malah menghancurkannya.

Aku tak tahan lagi. Aku langsung menyetir menemui Maxim. Aku harus tahu apa sebenarnya yang dia pikirkan.

Saat tiba di kantornya, aku mendengar tangan kanannya berbicara. "Bos, kamu mengubah lokasi di undangan tanpa sepengetahuan Bu Rosa. Kamu yakin dia nggak bakal ngamuk?"

Maxim hanya tertawa santai dan ringan. "Dia sudah terobsesi padaku bertahun-tahun. Dia tak sabar menjeritkan namaku sepanjang malam. Lagian, keluarganya sudah berantakan. Tinggal dia seorang. Dia tak punya pilihan selain bertahan denganku."

Tanganku mengepal. Mataku menahan perih, aku mendorong pintu hingga terbuka. Senyumnya goyah, hanya sedetik, lalu "topeng" angkuh itu kembali terpasang.

"Kamu sudah berjanji padaku acaranya harus diadakan di Silia," kataku.

Suaraku datar. Dia melangkah mendekat, melingkarkan satu lengan di pinggangku.

"Aku ingin memberimu kejutan. Nikah di pulau bukannya lebih romantis?"

"Romantis?" Suaraku mulai bergetar. "Kamu tahu itu permintaan terakhir ayahku. Tradisi keluarga kami ...."

"Tradisi bisa berubah." Dia menurunkan lengannya dan kehangatan di matanya menghilang. Mata cokelat yang dulu kucintai kini dingin, tak sabar. "Clara sering kena serangan panik. Dia nggak bisa berada di ruang tertutup. Pulau itu terbuka. Ini untuk dia."

Clara. Selalu nama sialan itu.

"Dia bukan orang yang akan menikah denganmu, Maxim. Tapi aku."

"Tapi dia temanku." Dia berjalan ke bar. "Dan dia sudah bekerja keras merencanakan pernikahan ini."

Aku melihatnya menuang wiski. Rasanya seperti pisau tumpul berputar di perutku. Dia pasti merasakannya, karena dia menoleh, nadanya seperti sedang berbicara pada anak kecil.

"Rosa. Yang hidup lebih penting daripada yang sudah mati. Berhenti bersikap dramatis." Tatapannya menyimpan rasa iba yang membuat kulitku merinding. "Undangan sudah tersebar. Semuanya sudah diputuskan. Ingat posisimu, calon Nyonya Chandra."

Saat itu juga, ponselnya berdering. Nada dering khusus untuk Clara.

Dia langsung mengangkatnya. "Clara? Ada apa?" Suaranya melembut. "Apa? Mimpi buruk lagi? Oke, oke. Aku segera ke sana."

Dia meraih mantelnya dan berjalan melewatiku tanpa melirik sedikit pun. "Rosa. Pastikan para tamumu tahu soal perubahan lokasi."

Maxim pun pergi, meninggalkanku sendirian dalam keheningan yang menekan. Hanya bunyi kayu yang terbakar di perapian.

Aku menoleh dan melihat kotak-kotak bertumpuk di ruang tamu. Isinya ikon-ikon suci dan dekorasi altar untuk rumah besar itu. Aku yang memilih setiap bagiannya. Masing-masing adalah potongan dari harapanku untuk pernikahan ini.

Sekarang, semuanya hanya barang rongsokan yang ditinggalkan.

Tunggu. Ada yang hilang. Lilin-lilin pemberian nenekku. Aku membongkar kotak-kotak itu. Lilin-lilin itu tidak ada.

Saat aku hendak memanggil pengurus rumah untuk memastikan semua kotak sudah sampai, Maxim kembali. Dia lupa sesuatu.

"Ah, iya," katanya sambil mengambil kunci mobil dari meja. Dia bahkan tak menatapku. "Lilin-lilin itu. Kata Clara, di pulau akan terlalu berangin. Jadi aku menyuruh orang membuangnya."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 9

    Sudut Pandang Rosa:Malam itu adalah malam terbesar dunia bawah Kota Nawera. Gala amal tahunan. Sebuah malam ketika dosa-dosa dicuci dengan sampanye dan setiap transaksi kotor "dibersihkan" terang-terangan.Daya tarik utama malam ini adalah mahkota kebanggaan Keluarga Chandra. Menara Keluarga Chandra yang ikonik di Manha.Itu simbol kekuasaan keluarga mereka, warisan terakhir yang ditinggalkan ayah Maxim. Malam ini, kepemilikannya akan berpindah tangan.Aku memasuki aula sambil menggandeng lengan Niko. Lampu sorot langsung mengarah ke kami. Setiap mata di ruangan memancarkan campuran rasa takut dan hormat."Pak Niko, Bu Rosa, silakan ke sini."Seorang pelayan mengantar kami ke balkon utama di tengah ruangan. Dulu tempat itu milik Maxim. Sekarang sudah menjadi milik kami.Saat aku duduk, sosok yang familier tertangkap di sudut mataku. Maxim.Dia mengenakan setelan lama, jelas kebesaran untuk tubuhnya sekarang. Kerahnya sudah usang. Dia duduk di kursi murah. Sendirian. Tanpa pengawal."D

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 8

    Sudut Pandang Rosa:Maxim berubah menjadi lelucon terbesar di Kota Nawera. Video "Pernikahan Pulau Tanpa Pengantin" dan "Ratu di Gereja" viral di media sosial. Semua orang melihat Kepala Keluarga Chandra diusir dari gereja. Mereka juga menyaksikan kekasih kecilnya yang "polos" mengamuk, berguling-guling di lantai.Dia berusaha menghilangkan pemberitaan itu, tetapi dia lupa bahwa server yang mengendalikan media kini milik suamiku. Tanpa tiga jalur pencucian uang Keluarga Rasman, uang ilegal Keluarga Chandra tak lebih dari tumpukan kertas. Kontainer pengirimannya disita bea cukai. Kasino-kasinonya digerebek. Bahkan kompleks tua keluarganya di Silia ikut "tak sengaja" disapu polisi setempat.Sedangkan aku? Aku duduk di kantor mewah Niko di Manha."Kamu lagi lihat apa?" Niko memelukku dari belakang. Dia menyandarkan dagunya di bahuku, napas hangatnya menyentuh telingaku."Menonton anjing liar mengemis," jawabku, menunjuk sosok yang berdiri di bawah hujan deras. Dia sudah di sana tiga jam.

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 7

    Sudut Pandang Rosa:"Apa? Aku nggak pernah memilih Clara!" Maxim menggeleng panik. "Rosa, kamu nggak mengerti, dia itu cuma ....""Cuma apa?" Aku memotongnya. "Lebih penting dariku?""Nggak! Aku mencintaimu!"Cinta? Aku tak bisa menahan tawa."Kamu mencintaiku?" Aku berlutut hingga kami sejajar mata dengan mata. "Kalau begitu, kenapa kamu membiarkannya memakai pusaka keluargaku?"Wajah Maxim langsung pucat."Kenapa kamu memindahkan lokasi pernikahan ke pulau miliknya?""Kenapa kamu membuang lilin-lilin yang ditinggalkan nenekku?""Kenapa kamu membiarkannya merobek veil ibuku?"Mulut Maxim terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Dia tahu. Tidak ada alasan."Rosa ...." Suaranya bergetar. "Beri aku kesempatan. Aku bisa menebus semuanya ....""Menebusnya?" Aku berdiri. "Dengan apa? Dengan kebohonganmu? Pengkhianatanmu? Atau dengan keluarga menyedihkanmu yang sudah hampir jadi debu?""Rosa ...." Suaranya gemetar. "Ini cuma lelucon, 'kan? Kamu marah karena aku mengganti lokasi acara? Aku

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 6

    Sudut Pandang Rosa:"Dengan ini, kamu resmi menjadi suami dan istri."Begitu pastor menyelesaikan ucapannya, gereja langsung dipenuhi oleh tepuk tangan yang menggelegar.Aku berhasil. Aku akhirnya lolos dari "penjara" Maxim.Niko menoleh padaku. Ada kilatan kelembutan di mata birunya yang dalam, sesuatu yang tak pernah kulihat pada pria sepertinya. "Istriku," katanya pelan, lalu mengecup punggung tanganku.Tiba-tiba, dia berlutut dengan satu lutut.Seluruh gereja terdiam. Setiap tamu menahan napas.Niko mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari balik jasnya. Di dalamnya ada cincin berlian hitam besar, dikelilingi lingkaran berlian-berlian kecil. Kilauannya berpendar di bawah cahaya jendela kaca patri."Rosa Valgana." Suaranya penuh khidmat. "Sebagai hadiah pernikahan," katanya tegas, "aku memberimu setengah wilayahku di Kota Nawera."Setengah wilayahnya? Itu bernilai triliunan.Desahan terkejut menggema di seluruh gereja.Di dunia kami, perasaan adalah kelemahan. Keuntungan adalah s

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 5

    Sudut Pandang Maxim:Pulau itu sunyi senyap.Tablet di tanganku bergetar. Di layar, Rosa berdiri di samping psikopat Rasia itu."Nggak, ini nggak mungkin ...." Aku mencengkeram tablet lebih erat. "Ini pasti tipu daya. Efek khusus. Editan!""Maxim, siapa itu?" Clara yang tak tahu apa-apa seperti biasa, ikut mendekat. "Siapa pria itu? Dia lebih tinggi darimu ... dan gaun Rosa ... kelihatannya lebih mahal dari punyaku.""Diam."Aku mendesis, tak sanggup lagi mendengar rengekannya sedetik pun.Kemudian, suara pastor menggema dari gereja tua itu."Apakah kamu, Rosa Rasman, menerima pria ini, Niko Valgana, sebagai suamimu?"Aku menahan napas.Rosa pasti akan bilang tidak. Dia mencintaiku selama lima tahun. Dia tak mungkin menikahi bajingan itu.Namun di layar, Rosa mengangkat dagunya. Suaranya tegas dan sedingin es. "Aku bersedia."Duniaku seketika hancur."Nggak!" Aku berteriak, menghantamkan tablet ke pasir. "Ini nggak mungkin!"Namun, layar itu tidak pecah. Siaran langsung pernikahan itu

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 4

    Malam sebelum pernikahan, aku sendirian di rumah besar itu.Maxim dan Clara sudah pergi sejak pagi. "Pengecekan terakhir di pulau," katanya.Koperku tergeletak di atas ranjang. Di dalamnya hanya beberapa pakaian sederhana dan veil yang robek. Aku membawanya bersamaku. Sebuah kenang-kenangan dari lima tahun kebohongan.Ponselku berdering. Dari Maxim."Rosa, kamu sudah tidur?" Nadanya terdengar ceria. "Aku dan Clara sudah di pulau. Semuanya sempurna.""Oh ya?""Matahari terbenam di sini luar biasa. Besok kamu pasti menyukainya." Dia berhenti sejenak, suaranya melembut. "Helikopter akan menjemputmu jam sepuluh pagi. Jangan terlambat."Pukul sepuluh pagi. Dia masih hidup di dunia mimpinya."Maxim," kataku."Ya?""Kamu bersemangat untuk besok?""Tentu saja." Dia tertawa. "Ini akan jadi pernikahan terbesar di Kota Nawera. Seluruh dunia akan melihat betapa bahagianya kita."Bahagia. Lelucon yang luar biasa."Bagus," kataku sambil tersenyum dingin.Aku menutup panggilan dan mematikan ponsel. A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status