LOGIN
Sudut Pandang Rosa:Malam itu adalah malam terbesar dunia bawah Kota Nawera. Gala amal tahunan. Sebuah malam ketika dosa-dosa dicuci dengan sampanye dan setiap transaksi kotor "dibersihkan" terang-terangan.Daya tarik utama malam ini adalah mahkota kebanggaan Keluarga Chandra. Menara Keluarga Chandra yang ikonik di Manha.Itu simbol kekuasaan keluarga mereka, warisan terakhir yang ditinggalkan ayah Maxim. Malam ini, kepemilikannya akan berpindah tangan.Aku memasuki aula sambil menggandeng lengan Niko. Lampu sorot langsung mengarah ke kami. Setiap mata di ruangan memancarkan campuran rasa takut dan hormat."Pak Niko, Bu Rosa, silakan ke sini."Seorang pelayan mengantar kami ke balkon utama di tengah ruangan. Dulu tempat itu milik Maxim. Sekarang sudah menjadi milik kami.Saat aku duduk, sosok yang familier tertangkap di sudut mataku. Maxim.Dia mengenakan setelan lama, jelas kebesaran untuk tubuhnya sekarang. Kerahnya sudah usang. Dia duduk di kursi murah. Sendirian. Tanpa pengawal."D
Sudut Pandang Rosa:Maxim berubah menjadi lelucon terbesar di Kota Nawera. Video "Pernikahan Pulau Tanpa Pengantin" dan "Ratu di Gereja" viral di media sosial. Semua orang melihat Kepala Keluarga Chandra diusir dari gereja. Mereka juga menyaksikan kekasih kecilnya yang "polos" mengamuk, berguling-guling di lantai.Dia berusaha menghilangkan pemberitaan itu, tetapi dia lupa bahwa server yang mengendalikan media kini milik suamiku. Tanpa tiga jalur pencucian uang Keluarga Rasman, uang ilegal Keluarga Chandra tak lebih dari tumpukan kertas. Kontainer pengirimannya disita bea cukai. Kasino-kasinonya digerebek. Bahkan kompleks tua keluarganya di Silia ikut "tak sengaja" disapu polisi setempat.Sedangkan aku? Aku duduk di kantor mewah Niko di Manha."Kamu lagi lihat apa?" Niko memelukku dari belakang. Dia menyandarkan dagunya di bahuku, napas hangatnya menyentuh telingaku."Menonton anjing liar mengemis," jawabku, menunjuk sosok yang berdiri di bawah hujan deras. Dia sudah di sana tiga jam.
Sudut Pandang Rosa:"Apa? Aku nggak pernah memilih Clara!" Maxim menggeleng panik. "Rosa, kamu nggak mengerti, dia itu cuma ....""Cuma apa?" Aku memotongnya. "Lebih penting dariku?""Nggak! Aku mencintaimu!"Cinta? Aku tak bisa menahan tawa."Kamu mencintaiku?" Aku berlutut hingga kami sejajar mata dengan mata. "Kalau begitu, kenapa kamu membiarkannya memakai pusaka keluargaku?"Wajah Maxim langsung pucat."Kenapa kamu memindahkan lokasi pernikahan ke pulau miliknya?""Kenapa kamu membuang lilin-lilin yang ditinggalkan nenekku?""Kenapa kamu membiarkannya merobek veil ibuku?"Mulut Maxim terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Dia tahu. Tidak ada alasan."Rosa ...." Suaranya bergetar. "Beri aku kesempatan. Aku bisa menebus semuanya ....""Menebusnya?" Aku berdiri. "Dengan apa? Dengan kebohonganmu? Pengkhianatanmu? Atau dengan keluarga menyedihkanmu yang sudah hampir jadi debu?""Rosa ...." Suaranya gemetar. "Ini cuma lelucon, 'kan? Kamu marah karena aku mengganti lokasi acara? Aku
Sudut Pandang Rosa:"Dengan ini, kamu resmi menjadi suami dan istri."Begitu pastor menyelesaikan ucapannya, gereja langsung dipenuhi oleh tepuk tangan yang menggelegar.Aku berhasil. Aku akhirnya lolos dari "penjara" Maxim.Niko menoleh padaku. Ada kilatan kelembutan di mata birunya yang dalam, sesuatu yang tak pernah kulihat pada pria sepertinya. "Istriku," katanya pelan, lalu mengecup punggung tanganku.Tiba-tiba, dia berlutut dengan satu lutut.Seluruh gereja terdiam. Setiap tamu menahan napas.Niko mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari balik jasnya. Di dalamnya ada cincin berlian hitam besar, dikelilingi lingkaran berlian-berlian kecil. Kilauannya berpendar di bawah cahaya jendela kaca patri."Rosa Valgana." Suaranya penuh khidmat. "Sebagai hadiah pernikahan," katanya tegas, "aku memberimu setengah wilayahku di Kota Nawera."Setengah wilayahnya? Itu bernilai triliunan.Desahan terkejut menggema di seluruh gereja.Di dunia kami, perasaan adalah kelemahan. Keuntungan adalah s
Sudut Pandang Maxim:Pulau itu sunyi senyap.Tablet di tanganku bergetar. Di layar, Rosa berdiri di samping psikopat Rasia itu."Nggak, ini nggak mungkin ...." Aku mencengkeram tablet lebih erat. "Ini pasti tipu daya. Efek khusus. Editan!""Maxim, siapa itu?" Clara yang tak tahu apa-apa seperti biasa, ikut mendekat. "Siapa pria itu? Dia lebih tinggi darimu ... dan gaun Rosa ... kelihatannya lebih mahal dari punyaku.""Diam."Aku mendesis, tak sanggup lagi mendengar rengekannya sedetik pun.Kemudian, suara pastor menggema dari gereja tua itu."Apakah kamu, Rosa Rasman, menerima pria ini, Niko Valgana, sebagai suamimu?"Aku menahan napas.Rosa pasti akan bilang tidak. Dia mencintaiku selama lima tahun. Dia tak mungkin menikahi bajingan itu.Namun di layar, Rosa mengangkat dagunya. Suaranya tegas dan sedingin es. "Aku bersedia."Duniaku seketika hancur."Nggak!" Aku berteriak, menghantamkan tablet ke pasir. "Ini nggak mungkin!"Namun, layar itu tidak pecah. Siaran langsung pernikahan itu
Malam sebelum pernikahan, aku sendirian di rumah besar itu.Maxim dan Clara sudah pergi sejak pagi. "Pengecekan terakhir di pulau," katanya.Koperku tergeletak di atas ranjang. Di dalamnya hanya beberapa pakaian sederhana dan veil yang robek. Aku membawanya bersamaku. Sebuah kenang-kenangan dari lima tahun kebohongan.Ponselku berdering. Dari Maxim."Rosa, kamu sudah tidur?" Nadanya terdengar ceria. "Aku dan Clara sudah di pulau. Semuanya sempurna.""Oh ya?""Matahari terbenam di sini luar biasa. Besok kamu pasti menyukainya." Dia berhenti sejenak, suaranya melembut. "Helikopter akan menjemputmu jam sepuluh pagi. Jangan terlambat."Pukul sepuluh pagi. Dia masih hidup di dunia mimpinya."Maxim," kataku."Ya?""Kamu bersemangat untuk besok?""Tentu saja." Dia tertawa. "Ini akan jadi pernikahan terbesar di Kota Nawera. Seluruh dunia akan melihat betapa bahagianya kita."Bahagia. Lelucon yang luar biasa."Bagus," kataku sambil tersenyum dingin.Aku menutup panggilan dan mematikan ponsel. A






